<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Aduide Media</title>
	<atom:link href="https://aduide.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://aduide.id</link>
	<description>Township Youth Media</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Sep 2026 00:46:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/cropped-favicon-32x32.png</url>
	<title>Aduide Media</title>
	<link>https://aduide.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">246255001</site>	<item>
		<title>Kuningan 528: Melesat Ngudag Jaman, Tapi ke Mana Industri Kreatif Kuningan?</title>
		<link>https://aduide.id/2026/09/01/kuningan-528-melesat-ngudag-jaman-tapi-ke-mana-industri-kreatif-kuningan/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/09/01/kuningan-528-melesat-ngudag-jaman-tapi-ke-mana-industri-kreatif-kuningan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Azhar N. Ahdiyat]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2026 10:10:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Art]]></category>
		<category><![CDATA[Design]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[Ekraf]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Jadi ke-528 Kuningan]]></category>
		<category><![CDATA[Kuningan]]></category>
		<category><![CDATA[music]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=2268</guid>

					<description><![CDATA[Catatan santai (tapi agak keras kepala) di usia 528 tahun, dari orang yang cari nafkah dari kreativitas di kabupaten ini. Setiap 1 September, Kuningan ulang tahun. Tahun ini yang ke-528, dengan tema &#8220;Melesat Ngudag Jaman, Ngakar Kuat Purwadaksi&#8221;, artinya melesat mengejar zaman, berakar kuat pada asal-usul. Purwadaksi sendiri kira-kira berarti &#8220;dari awal sampai akhir&#8221;, asal-usul [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><em>Catatan santai (tapi agak keras kepala) di usia 528 tahun, dari orang yang cari nafkah dari kreativitas di kabupaten ini.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap 1 September, Kuningan ulang tahun. Tahun ini yang ke-528, dengan tema <strong>&#8220;Melesat Ngudag Jaman, Ngakar Kuat Purwadaksi&#8221;</strong>, artinya melesat mengejar zaman, berakar kuat pada asal-usul. <em>Purwadaksi</em> sendiri kira-kira berarti &#8220;dari awal sampai akhir&#8221;, asal-usul yang menuntun tujuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya tidak akan mengkritik temanya. Bukan karena saya penakut, tapi karena saya kebetulan tahu tema itu tidak jatuh dari langit: ia hasil godokan Pemda bersama Dewan Kebudayaan, dan saya ada di ruangan itu. Yang menurut saya jauh lebih menarik untuk diperdebatkan bukan bunyinya, melainkan <strong>bagaimana ia dimaknai</strong>, dan siapa yang berani mengukurnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--11">Satu Contoh Kecil sebagai Argumen</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Izinkan saya mulai dari pengalaman yang paling dekat. Tahun ini logo Hari Jadi Kuningan tidak dibuat dengan cara lama: tidak ditunjuk diam-diam, tidak pula dilempar jadi sayembara terbuka yang menuntut ratusan desainer bekerja gratis lalu satu orang menang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Skemanya diadaptasi dari praktik pengembangan identitas visual di tingkat nasional: penyusunan <em>design brief</em> (dokumen berisi arahan dan batasan desain), <em>open call</em> portofolio, kurasi berdasarkan rekam jejak, pengembangan konsep oleh finalis terpilih, presentasi di hadapan panel lintas disiplin (pemerintah, akademisi, praktisi desain, budayawan, pelaku ekraf), lalu <em>public online voting</em> dengan bobot 40% suara publik dan 60% penilaian panelis. Hasilnya, Logo 01 karya Ligar Fajar Maulana ditetapkan sebagai identitas visual resmi.</p>



<figure class="wp-block-image size-large has-custom-border"><a href="https://aduide.id/2026/07/31/lewati-kurasi-dan-voting-publik-logo-karya-ligar-resmi-jadi-identitas-hari-jadi-ke-528-kuningan/" target="_blank" rel=" noopener"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="595" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/Screenshot-2026-07-31-180334-1024x595.png" alt="Logo Hari Jadi ke-528 Kuningan" class="wp-image-1372" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/Screenshot-2026-07-31-180334-1024x595.png 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/Screenshot-2026-07-31-180334-300x174.png 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/Screenshot-2026-07-31-180334-768x446.png 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/Screenshot-2026-07-31-180334.png 1260w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kenapa saya ceritakan? Bukan untuk pamer. Tapi karena kasus kecil ini menunjukkan satu hal yang sering luput: <strong>ekonomi kreatif tumbuh bukan karena ada acara, melainkan karena ada mekanisme.</strong> Desainer muda Kuningan tidak butuh dimotivasi. Mereka butuh proses yang jelas, penilaian yang bisa dipertanggungjawabkan, dan hasil kerja yang dihargai sebagai pekerjaan profesional, bukan partisipasi sukarela.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu logo berhasil dikerjakan begitu. Pertanyaannya: yang lainnya bagaimana?</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--12">Angka yang Membuat Kita Terlalu Cepat Senang</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di atas kertas, Kuningan mungkin sedang bagus. Laju pertumbuhan ekonomi Triwulan II 2025 menembus 10,41%, tertinggi di Jawa Barat, di atas Majalengka dan Kabupaten Cirebon (Pemerintah Kabupaten Kuningan, 2025a). Kemiskinan turun ke 10,74% pada Maret 2025, terendah dalam beberapa tahun terakhir, dan Tingkat Pengangguran Terbuka di angka 7,78% (Pemerintah Kabupaten Kuningan, 2025b).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di level nasional lebih memikat lagi. Ekonomi kreatif menyumbang Rp1.611,2 triliun atau 7,28% terhadap PDB 2024, menyerap 27,4 juta pekerja pada 2025, dan lebih dari separuhnya berusia di bawah 40 tahun (Badan Pusat Statistik, 2025). Cakupannya pun diperluas dari 17 menjadi 21 subsektor lewat Rindekraf 2026–2045 (Kementerian Ekonomi Kreatif, 2026).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua angka itu mungkin benar. Semua angka itu juga tidak otomatis membuat seorang ilustrator di Cigugur sanggup mencicil tablet grafisnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di situ persoalannya. Pertumbuhan makro dan keberlangsungan hidup pelaku kreatif bisa tinggal di kabupaten yang sama tanpa pernah saling menyapa.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--13">Membaca Ulang &#8220;Melesat&#8221; dan &#8220;Ngakar&#8221;</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, ke sini saya mau menagih tema kita sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Melesat</strong> itu soal kecepatan. Tapi kecepatan tanpa arah namanya ngebut, dan ngebut tanpa mesin namanya turunan. Kalau ekonomi kreatif Kuningan mau melesat, mesinnya harus disebut jelas: pasar, pembiayaan, dan mekanisme kerja yang adil. Bukan jumlah pelatihan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ngakar kuat purwadaksi</strong> biasanya diterjemahkan jadi &#8220;jangan lupakan budaya&#8221;. Menurut saya itu terlalu sopan dan terlalu dekoratif. Akar, dalam ekonomi kreatif, bukan ornamen. Ia <strong>bahan baku</strong>. Motif, cerita rakyat, kopi lereng Ciremai, kuda kuningan, bahasa Sunda dialek lokal: itu semua aset yang bisa jadi kekayaan intelektual, bukan sekadar tema kostum karnaval yang dilipat lagi ke gudang tanggal tiga hari setelahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bedanya besar</strong>. Akar sebagai ornamen menghasilkan foto bagus. Akar sebagai bahan baku membuahkan penghasilan.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--14">Kita Masih Punya Kalender, Belum Punya Ekosistem</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Rangkaian Hari Jadi tahun ini digarap lebih serius: Karnaval Budaya bertema sejarah Kuningan dari masa ke masa, Seba Sapton dan Babarit, Ciremai Coffee Culture yang mengangkat kopi Kuningan (produksinya 1.157 ton pada 2025, terbesar kedua di Jawa Barat untuk robusta), sampai diskon 10–70% di toko, kafe, dan hotel (Voxpopuli, 2026).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya ikut senang. Saya juga ikut kebagian rezekinya, mungkin. Tapi mari sebut namanya dengan jujur: <strong>yang kita punya sekarang adalah festivalisasi</strong>, yaitu kecenderungan mengurus sektor kreatif lewat acara demi acara, bukan industrialisasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kajian kebijakan budaya sudah lama curiga pada pola ini. McRobbie (2016) menunjukkan bagaimana ajakan &#8220;jadilah kreatif&#8221; memanggil anak muda masuk ke pekerjaan berisiko tinggi berupah rendah, lalu menyebut ketidakstabilan itu sebagai kebebasan. Oakley dan O&#8217;Connor (2015) mencatat sektor kreatif kerap dipakai melegitimasi pertumbuhan daerah, sementara kondisi kerja di dalamnya justru makin <strong>prekariat</strong>, istilah untuk pekerja yang penghasilannya tidak pasti, tanpa kontrak jelas dan tanpa jaring pengaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terjemahan lokalnya sederhana: <em>panggung dibongkar esok pagi, dan ekosistemnya ikut dibongkar. Fotografer pulang bawa portofolio tanpa kontrak. Desainer dapat ucapan terima kasih, plus kalimat abadi itu: &#8220;anggarannya menyusul, ya.&#8221;</em></p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--15">Dari Ruang Kelas: Kita Melatih Talenta untuk Kota Lain</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ini bagian yang bikin saya diam beberapa detik sebelum menjawab pertanyaan mahasiswa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiap tahun kami meluluskan desainer, ilustrator, videografer, animator, dan sebagainya. Mereka kompeten. Lalu sebagian besar pergi ke Bandung, Jakarta, atau kerja <em>remote</em> untuk klien luar negeri sambil tetap tinggal di rumah orang tua, dan tidak pernah tercatat sebagai pelaku ekonomi kreatif Kuningan oleh siapa pun.</p>



<figure class="wp-block-image size-large has-custom-border"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/06/Finex-6-19-1024x683.jpg" alt="Finex 6 - 19" class="wp-image-1233" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/06/Finex-6-19-1024x683.jpg 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/06/Finex-6-19-300x200.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/06/Finex-6-19-768x512.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/06/Finex-6-19-1536x1024.jpg 1536w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/06/Finex-6-19-2048x1365.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kita sedang mengekspor SDM unggulan, dengan bangga, tanpa bea keluar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka pergi bukan karena tidak cinta Kuningan, tapi karena Kuningan belum jadi <strong>pasar</strong>. Kampus sudah menyediakan sisi pasokan. Yang belum dibangun serius adalah <strong>sisi permintaan</strong>.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--16">Dari Ruang Redaksi: Distribusi Itu Infrastruktur</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Mengelola media kecil mengajarkan saya satu hal keras kepala: <em><strong>karya yang tidak terdistribusi tidak pernah benar-benar ada.</strong></em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ekonomi kreatif jarang mati karena kurang karya. Ia mati karena karyanya tidak punya jalur: tidak ada kanal, kurasi, arsip, atau kritik. Band lokal manggung sekali lalu senyap. Pameran ilustrasi digelar, tak ada yang menuliskannya, lima tahun kemudian tak ada bukti peristiwa itu pernah terjadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Media, arsip, dan kurasi bukan pelengkap acara. Mereka infrastruktur, sama pentingnya dengan jalan, hanya jauh lebih murah dan jauh lebih sering dilupakan.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--17">Empat PR yang Membosankan, Tapi Menentukan</h2>



<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa39025&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa39025" class="wp-block-image size-large has-custom-border wp-lightbox-container"><img decoding="async" width="1024" height="604" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/09/infografis-empat-pr-industri-kreatif-kuningan-1024x604.png" alt="empat PR Industri Kreatif Kuningan" class="has-border-color has-custom-color-5-border-color wp-image-2275" style="border-width:1px;border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/09/infografis-empat-pr-industri-kreatif-kuningan-1024x604.png 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/09/infografis-empat-pr-industri-kreatif-kuningan-768x453.png 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/09/infografis-empat-pr-industri-kreatif-kuningan-300x177.png 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/09/infografis-empat-pr-industri-kreatif-kuningan.png 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button></figure>



<p class="is-style-default wp-block-paragraph"><strong>1) data.</strong> Berapa pelaku kreatif Kuningan, di subsektor apa, omzet berapa? Sensus Ekonomi 2026 rasanya terlalu mahal untuk dilewatkan.</p>



<p class="is-style-default wp-block-paragraph"><strong>2) infrastruktur produksi bersama.</strong> Alat produksi film, foto, dan audio milik daerah yang dikelola bersama komite dan bisa dipinjam. Satu ruang kerja yang benar-benar berfungsi lebih berdampak daripada sepuluh seminar motivasi.</p>



<p class="is-style-default wp-block-paragraph"><strong>3) belanja daerah untuk karya lokal dan perlindungan kekayaan intelektual.</strong> Kopi Ciremai sudah menunjukkan jalannya lewat skema indikasi geografis, yaitu perlindungan hukum atas produk khas suatu wilayah (Pikiran Rakyat Kuningan, 2026). Logikanya bisa diperluas ke kriya, musik, desain.</p>



<p class="is-style-default wp-block-paragraph"><strong>4) mekanisme yang berumur lebih panjang dari masa jabatan.</strong> Kuningan punya Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah sejak 2019. Dokumennya ada. Pertanyaannya, kapan terakhir ia dibaca, bahkan dipakai sebagai rujukan anggaran, bukan sekadar lampiran?</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--18">Ukuran untuk Tahun Depan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi begini usul saya untuk Hari Jadi ke-529. Jangan ukur keberhasilan dari jumlah penonton, panjang helaran, atau berapa artis nasional yang datang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ukurlah dari satu angka yang jauh lebih sulit:</p>



<p class="is-style-text-lead-2 is-style-text-lead-2--19 wp-block-paragraph"><strong>berapa banyak pelaku kreatif Kuningan yang tahun depan masih bisa hidup dari karyanya, di Kuningan.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau angka itu naik, kita memang melesat. Kalau tidak, kita cuma lari di tempat, dengan kostum yang sangat bagus.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Dirgahayu, Kuningan. Semoga kita bukan cuma panjang umur, tapi juga panjang akal.</em></p>



<div class="wp-block-group adu-related has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<p class="adu-related__label wp-block-paragraph">Baca Juga</p>



<div class="wp-block-query adu-related__query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="adu-related__list wp-block-post-template is-layout-flow wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-2229 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-culture category-film tag-aduopini tag-budaya tag-film tag-nayla-arifani tag-stigma-sosial">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-08-17T12:58:00+07:00">17 August 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/08/17/udah-gede-kok-masih-nonton-kartun-ketika-kedewasaan-diukur-dari-selera-tontonan/" target="_blank" >Udah Gede Kok Masih Nonton Kartun?: Ketika Kedewasaan Diukur dari Selera Tontonan</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-2174 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-culture category-lifestyle tag-aduopini tag-messi tag-mochammad-zawaid-malja tag-ronaldo tag-sepak-bola">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-08-08T10:00:00+07:00">8 August 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/08/08/absurditas-perdebatan-soal-ronaldo-vs-messi-yang-tak-kunjung-usai/" target="_blank" >Absurditas Perdebatan Soal Ronaldo vs Messi yang Tak Kunjung Usai</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-1271 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-art-design category-culture tag-adukabar tag-design tag-hari-jadi-ke-528-kuningan tag-identitas-visual tag-kuningan tag-logo">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-07-07T14:34:22+07:00">7 July 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/07/07/tiga-finalis-kurasi-portofolio-desain-identitas-visual-hari-jadi-ke-528-kuningan-resmi-diumumkan/" target="_blank" >Tiga Finalis Kurasi Portofolio Desain Identitas Visual Hari Jadi ke-528 Kuningan Resmi Diumumkan</a></h3>
</li></ul>

</div>



<style>
.adu-related{
  --maroon:#871338;
  --berry:#BC3862;
  --ink:#111111;
  --muted:#696969;
  --line:#DDDDDD;
  margin:clamp(34px,4.5vw,54px) 0;
  padding:20px 0 22px;
  border-top:1px solid var(--maroon);
  border-bottom:1px solid var(--maroon);
}

/* label kecil "Baca Juga" */
.adu-related__label{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:14px!important;font-weight:700;letter-spacing:.16em;text-transform:uppercase;
  color:var(--maroon);margin:0;display:flex;align-items:center;gap:10px;line-height:1;
}
.adu-related__label::before{
  content:"";width:22px;height:2px;background:var(--berry);flex:0 0 auto;
}

/* daftar */
.adu-related__list{list-style:none!important;margin:0!important;padding:0!important}
.adu-related__list > li{
  display:flex;flex-direction:column;margin:0;padding:0 0 2px;
  transition:padding-left .3s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover{padding-left:8px}

/* tanggal di kanan atas, sekaligus jadi garis pemisah */
.adu-related__date{
  order:1;width:100%;text-align:right;
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:11px;font-weight:700;letter-spacing:.14em;text-transform:uppercase;
  color:var(--muted);margin:0;padding:12px 0 9px;
  border-bottom:1px solid var(--line);
  transition:border-color .3s ease,color .3s ease;
}
.adu-related__list > li:first-child .adu-related__date{padding-top:4px}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__date{border-bottom-color:var(--maroon);color:var(--maroon)}

/* judul */
.adu-related__post-title{
  order:2;
  font-family:'Unbounded',system-ui,sans-serif;
  font-size:clamp(15px,1.6vw,17.5px)!important;font-weight:400;letter-spacing:0em;line-height:1.35;
  margin:13px 0 0;
}
.adu-related__post-title a{
  color:var(--ink);text-decoration:none;transition:color .25s ease;
  display:inline-flex;align-items:baseline;gap:8px;
}
.adu-related__post-title a::after{
  content:"\2197";font-family:system-ui,sans-serif;font-size:.8em;font-weight:400;
  color:var(--berry);opacity:0;transform:translate(-4px,3px);
  transition:opacity .28s ease,transform .28s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a{color:var(--maroon)}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a::after{opacity:1;transform:translate(0,0)}

.adu-related__empty{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;color:var(--muted);font-size:15px;margin:14px 0 0;
}

@media(max-width:520px){
  .adu-related__post-title{font-size:15px!important}
  .adu-related__list > li:hover{padding-left:0}
}
@media(prefers-reduced-motion:reduce){
  .adu-related *{transition-duration:.001ms!important}
}
</style>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--20">Referensi</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Aduide Media. (2026a, 7 Juli). <em>Tiga finalis kurasi portofolio desain identitas visual Hari Jadi ke-528 Kuningan resmi diumumkan</em>. <a href="https://aduide.id/2026/07/07/tiga-finalis-kurasi-portofolio-desain-identitas-visual-hari-jadi-ke-528-kuningan-resmi-diumumkan/">https://aduide.id/2026/07/07/tiga-finalis-kurasi-portofolio-desain-identitas-visual-hari-jadi-ke-528-kuningan-resmi-diumumkan/</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Aduide Media. (2026b, 31 Juli). <em>Lewati kurasi dan voting publik, logo karya Ligar resmi jadi identitas Hari Jadi ke-528 Kuningan</em>. <a href="https://aduide.id/2026/07/31/lewati-kurasi-dan-voting-publik-logo-karya-ligar-resmi-jadi-identitas-hari-jadi-ke-528-kuningan/">https://aduide.id/2026/07/31/lewati-kurasi-dan-voting-publik-logo-karya-ligar-resmi-jadi-identitas-hari-jadi-ke-528-kuningan/</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Aduide Media. (2026c, 7 Agustus). <em>Subsektor ekraf bertambah, daerah siap sambut atau masih sibuk dengan event seremonial?</em> <a href="https://aduide.id/2026/08/07/subsektor-ekraf-bertambah-daerah-siap-sambut-atau-masih-sibuk-dengan-event-seremonial/">https://aduide.id/2026/08/07/subsektor-ekraf-bertambah-daerah-siap-sambut-atau-masih-sibuk-dengan-event-seremonial/</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Badan Pusat Statistik. (2025, 17 November). <em>BPS: Ekonomi kreatif serap tenaga kerja 27,4 juta tahun 2025</em>. <a href="https://www.bps.go.id/id/news/2025/11/17/805/bps--ekonomi-kreatif-serap-tenaga-kerja-27-4-juta-tahun-2025.html">https://www.bps.go.id/id/news/2025/11/17/805/bps&#8211;ekonomi-kreatif-serap-tenaga-kerja-27-4-juta-tahun-2025.html</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kementerian Ekonomi Kreatif. (2026, 10 Juli). <em>Rindekraf perluas cakupan ekraf menjadi 21 subsektor</em>. <a href="https://ekraf.go.id/news/rindekraf-perluas-cakupan-ekraf-menjadi">https://ekraf.go.id/news/rindekraf-perluas-cakupan-ekraf-menjadi</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">McRobbie, A. (2016). <em>Be creative: Making a living in the new culture industries</em>. Polity Press.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oakley, K., &amp; O&#8217;Connor, J. (Eds.). (2015). <em>The Routledge companion to the cultural industries</em>. Routledge.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah Kabupaten Kuningan. (2025a, 16 November). <em>Sekda Jabar puji Kuningan, pertumbuhan ekonominya terbaik di Jawa Barat dan Pulau Jawa</em>. <a href="https://kuningankab.go.id/home/sekda-jabar-puji-kuningan-pertumbuhan-ekonominya-terbaik-di-jawa-barat-dan-pulau-jawa/">https://kuningankab.go.id/home/sekda-jabar-puji-kuningan-pertumbuhan-ekonominya-terbaik-di-jawa-barat-dan-pulau-jawa/</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah Kabupaten Kuningan. (2025b, 4 Desember). <em>Kuningan bukan kabupaten termiskin di Jawa Barat, data resmi tunjukkan perbaikan signifikan dan pertumbuhan ekonomi tertinggi se-Pulau Jawa</em>. <a href="https://kuningankab.go.id/home/kuningan-bukan-kabupaten-termiskin-di-jawa-barat-data-resmi-tunjukkan-perbaikan-signifikan-dan-pertumbuhan-ekonomi-tertinggi-se-pulau-jawa/">https://kuningankab.go.id/home/kuningan-bukan-kabupaten-termiskin-di-jawa-barat-data-resmi-tunjukkan-perbaikan-signifikan-dan-pertumbuhan-ekonomi-tertinggi-se-pulau-jawa/</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pikiran Rakyat Kuningan. (2026, 20 April). <em>Kuningan panen! Kopi lereng Gunung Ciremai bakal mejeng di pameran bergengsi World of Coffee Asia 2026</em>. <a href="https://kuningan.pikiran-rakyat.com/ekbis/pr-5310151791/">https://kuningan.pikiran-rakyat.com/ekbis/pr-5310151791/</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Voxpopuli. (2026, 30 Agustus). <em>Banyak sentuhan baru! Sekda bicara Hari Jadi ke-528 Kuningan spektakuler</em>. <a href="https://voxpopuli.co.id/banyak-sentuhan-baru-sekda-bicara-hari-jadi-ke-528-kuningan-spektakuler/">https://voxpopuli.co.id/banyak-sentuhan-baru-sekda-bicara-hari-jadi-ke-528-kuningan-spektakuler/</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/09/01/kuningan-528-melesat-ngudag-jaman-tapi-ke-mana-industri-kreatif-kuningan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2268</post-id>	</item>
		<item>
		<title>(mem)Bangun dari Tanah: Membaca Kembali Jejak Gerabah Sitiwinangun lewat Seni Kontemporer</title>
		<link>https://aduide.id/2026/08/31/membangun-dari-tanah-membaca-kembali-jejak-gerabah-sitiwinangun-lewat-seni-kontemporer/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/08/31/membangun-dari-tanah-membaca-kembali-jejak-gerabah-sitiwinangun-lewat-seni-kontemporer/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2026 03:29:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduKabar]]></category>
		<category><![CDATA[Art & Design]]></category>
		<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Art]]></category>
		<category><![CDATA[Cirebon]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Gerabah]]></category>
		<category><![CDATA[Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Sanggar Ikhtiar]]></category>
		<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[Sitiwinangun]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=2254</guid>

					<description><![CDATA[Sanggar Ikhtiar, Desa Kasugengan Kidul, Kabupaten Cirebon, menjadi ruang pertemuan antara seni, tanah, ingatan, dan kebudayaan melalui pembukaan pameran seni “(mem)Bangun dari Tanah” pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Pameran yang berlangsung hingga 20 September 2026 ini menghadirkan sejumlah karya yang berangkat dari narasi serta praktik olah tanah Sitiwinangun. Pembukaan pameran diisi dengan sejumlah agenda yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.instagram.com/sanggar_ikhtiar/" target="_blank" rel="noopener">Sanggar Ikhtiar</a>, Desa Kasugengan Kidul, Kabupaten Cirebon, menjadi ruang pertemuan antara seni, tanah, ingatan, dan kebudayaan melalui pembukaan pameran seni <strong>“(mem)Bangun dari Tanah”</strong> pada Sabtu, 15 Agustus 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pameran yang berlangsung hingga <strong>20 September 2026</strong> ini menghadirkan sejumlah karya yang berangkat dari narasi serta praktik olah tanah Sitiwinangun. Pembukaan pameran diisi dengan sejumlah agenda yang mempertemukan seni rupa, pertunjukan, diskusi, dan musik dalam satu rangkaian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Acara dibuka melalui sambutan dari <strong>Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, R. Moh. Albana, S.Pd.I., M.Pd.I.</strong>, serta <strong>Izhar Fathurrohim Wijaya</strong> selaku kurator pameran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah sesi pembukaan, pengunjung diajak masuk ke dalam pengalaman artistik melalui pertunjukan <strong>“Luru(h) Lema(h)”</strong> yang dibawakan oleh <strong>Kressafanya Oktavianada</strong>, dengan musik oleh <strong>Dimas Abdul Rahman</strong>. Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari pembacaan awal terhadap hubungan manusia, tanah, dan proses membangun kembali ingatan melalui tubuh serta praktik kesenian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rangkaian pembukaan kemudian berlanjut dengan <strong>Diskusi Budaya Tanah</strong> bersama <strong>Ismal Muntaha dari Jatiwangi Art Factory</strong>. Diskusi ini membuka ruang percakapan mengenai tanah sebagai material, ruang hidup, sekaligus bagian dari lanskap kebudayaan masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Topik tersebut menjadi relevan ketika ditempatkan dalam konteks <strong>Sitiwinangun</strong>, salah satu sentra tradisi gerabah di Kabupaten Cirebon. Dalam dokumentasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia, tradisi pembuatan gerabah Sitiwinangun tercatat dalam domain keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional. Nama Sitiwinangun sendiri memiliki makna yang berkaitan dengan tanah dan proses membentuk atau membangun. Tradisi gerabah di wilayah ini juga dikenal dengan teknik pembentukan tradisional seperti tatap-pelandas serta penggunaan teknik pembakaran terbuka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konteks tersebut membuat tanah dalam pameran <strong>“(mem)Bangun dari Tanah”</strong> tidak berhenti sebagai material untuk menghasilkan objek seni. Tanah menjadi pintu masuk untuk membicarakan ingatan, keterampilan, perubahan, dan keberlanjutan sebuah kebudayaan.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--24">Menelusuri Karya dan Ingatan tentang Tanah</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah diskusi, pengunjung mengikuti <strong>tur pameran bersama seniman</strong>, yakni <strong>Iftikhar A. Rajwie</strong> dan <strong>M. Hasbi Ariobimo</strong>. Tur menjadi kesempatan untuk melihat karya secara lebih dekat sekaligus memahami gagasan yang berada di balik praktik masing-masing seniman.</p>



<figure data-wp-context="{&quot;galleryId&quot;:&quot;6a9795fa44911&quot;}" data-wp-interactive="core/gallery" class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-25 is-layout-flex wp-container-core-gallery-is-layout-4e18e77c wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa44cd1&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa44cd1" class="wp-block-image size-large has-custom-border wp-lightbox-container"><img loading="lazy" decoding="async" width="768" height="1024" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" data-id="2261" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-1-768x1024-1.jpg" alt="(mem)Bangun dari Tanah - weekendphotoclub - 1" class="wp-image-2261" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-1-768x1024-1.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-1-225x300.jpg 225w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-1-1152x1536.jpg 1152w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-1-1536x2048.jpg 1536w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-1-scaled.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button></figure>



<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa4525d&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa4525d" class="wp-block-image size-large has-custom-border wp-lightbox-container"><img loading="lazy" decoding="async" width="768" height="1024" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" data-id="2259" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-2-768x1024-1.jpg" alt="(mem)Bangun dari Tanah - weekendphotoclub - 2" class="wp-image-2259" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-2-768x1024-1.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-2-225x300.jpg 225w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-2-1152x1536.jpg 1152w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-2-1536x2048.jpg 1536w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-2-scaled.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button></figure>



<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa457ad&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa457ad" class="wp-block-image size-large has-custom-border wp-lightbox-container"><img loading="lazy" decoding="async" width="768" height="1024" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" data-id="2258" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-3-768x1024.jpg" alt="(mem)Bangun dari Tanah - weekendphotoclub - 3" class="wp-image-2258" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-3-768x1024-1.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-3-225x300.jpg 225w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-3-1536x2048.jpg 1536w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-3-1152x1536.jpg 1152w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-3-scaled.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button></figure>



<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa45c96&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa45c96" class="wp-block-image size-large has-custom-border wp-lightbox-container"><img loading="lazy" decoding="async" width="768" height="1024" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" data-id="2262" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-4-768x1024-1.jpg" alt="(mem)Bangun dari Tanah - weekendphotoclub - 4" class="wp-image-2262" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-4-768x1024-1.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-4-225x300.jpg 225w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-4-1536x2048.jpg 1536w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-4-1152x1536.jpg 1152w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-4-scaled.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button></figure>



<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa46176&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa46176" class="wp-block-image size-large has-custom-border wp-lightbox-container"><img loading="lazy" decoding="async" width="768" height="1024" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" data-id="2257" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-5-768x1024.jpg" alt="(mem)Bangun dari Tanah - weekendphotoclub - 5" class="wp-image-2257" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-5-768x1024-1.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-5-225x300.jpg 225w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-5-1152x1536.jpg 1152w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-5-1536x2048-1.jpg 1536w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-5-scaled.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button></figure>



<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa466d2&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa466d2" class="wp-block-image size-large has-custom-border wp-lightbox-container"><img loading="lazy" decoding="async" width="768" height="1024" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" data-id="2260" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-6-768x1024-1.jpg" alt="(mem)Bangun dari Tanah - weekendphotoclub - 6" class="wp-image-2260" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-6-768x1024-1.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-6-225x300.jpg 225w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-6-1152x1536.jpg 1152w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-6-1536x2048.jpg 1536w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/memBangun-dari-Tanah-weekendphotoclub-6-scaled.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 768px) 100vw, 768px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button></figure>
<figcaption class="blocks-gallery-caption wp-element-caption"><strong>Sumber Foto:</strong> <a href="https://www.instagram.com/weekendphotoclub/?hl=en">@weekendphotoclub</a></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Pameran ini menghadirkan karya dari sejumlah seniman dan sumber arsip, yaitu <strong>Adi Riyanto, Arsip Keluarga Bonzan Eddy R.A, Iftikhar A. Rajwie, M. Hasbi Ariobimo, Radi Arwinda &amp; Ramdan Kurnia, serta SPPG Sitiwinangun (Satoean Pemoeda Pemboeat Gerabah)</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keberagaman nama dan pendekatan tersebut membuat pameran memiliki perspektif yang tidak tunggal. Narasi mengenai tanah dapat dibaca melalui praktik seni, arsip keluarga, pengalaman komunitas, hingga keberlanjutan tradisi gerabah yang hidup di tengah perubahan zaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks ekosistem seni Cirebon, kehadiran Sanggar Ikhtiar juga bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ruang ini sebelumnya terlibat dalam berbagai kegiatan seni dan pengembangan ekosistem kesenian lokal, termasuk Cirebon Art &amp; Zine Fest 2024 yang mempertemukan pameran, diskusi, lokakarya, pertunjukan, dan berbagai praktik kreatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembukaan pameran kemudian ditutup dengan suasana yang lebih santai melalui <strong>live tunes dari Dwiki Ilham</strong>, yang menemani pengunjung menikmati ruang pamer dan karya-karya yang ditampilkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--26">Tanah sebagai Ruang Ingatan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika gerabah selama ini lebih mudah dipahami sebagai produk kerajinan, <strong>“(mem)Bangun dari Tanah”</strong> menawarkan kemungkinan pembacaan yang lebih luas. Tanah dapat dilihat sebagai material sekaligus arsip hidup yang menyimpan hubungan antara manusia, lingkungan, keterampilan, dan sejarah lokal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini penting terutama karena tradisi gerabah Sitiwinangun menghadapi tantangan keberlanjutan. Dokumentasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencatat bahwa jumlah perajin gerabah di Sitiwinangun mengalami penurunan signifikan dibandingkan masa sebelumnya dan tradisinya berada dalam kondisi yang perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, pameran ini menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai agenda seni rupa, melainkan sebagai salah satu ruang untuk <strong>mengalami kembali hubungan dengan tanah dan kebudayaan Sitiwinangun</strong> melalui perspektif seni kontemporer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya, pameran ini masih dapat dikunjungi hingga <strong>20 September 2026</strong>. Pengunjung dapat datang langsung dan mengalami karya, arsip, pertunjukan, serta narasi tentang olah tanah Sitiwinangun yang dihadirkan di dalam ruang Sanggar Ikhtiar.</p>



<div class="wp-block-group adu-related has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<p class="adu-related__label wp-block-paragraph">Baca Juga</p>



<div class="wp-block-query adu-related__query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="adu-related__list wp-block-post-template is-layout-flow wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-2123 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-culture category-literature tag-aduopini tag-aliya-nur-sahira tag-literature tag-novel">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-08-07T10:11:21+07:00">7 August 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/08/07/perempuan-baik-menurut-siapa-membaca-firdaus-dengan-derrida/" target="_blank" >Perempuan Baik Menurut Siapa? Membaca Firdaus dengan Derrida</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-1199 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-art-design tag-adukabar tag-art tag-design tag-dkv-uniku tag-exhibition tag-luminexus">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-06-25T13:20:40+07:00">25 June 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/06/25/luminexus-2026-ruang-bertemunya-kreativitas-portofolio-dan-masa-depan-mahasiswa-dkv-uniku/" target="_blank" >Luminexus 2026: Ruang Bertemunya Kreativitas, Portofolio, dan Masa Depan Mahasiswa DKV Uniku</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-1061 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-art-design category-music tag-adukabar tag-art tag-exhibition tag-kuningan tag-music tag-pameran tag-teater tag-teater-sado">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-01-19T09:50:24+07:00">19 January 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/01/19/teater-sado-rayakan-ingatan-kolektif-lewat-pameran-milestone/" target="_blank" >Teater Sado Rayakan Ingatan Kolektif Lewat Pameran Milestone</a></h3>
</li></ul>

</div>



<style>
.adu-related{
  --maroon:#871338;
  --berry:#BC3862;
  --ink:#111111;
  --muted:#696969;
  --line:#DDDDDD;
  margin:clamp(34px,4.5vw,54px) 0;
  padding:20px 0 22px;
  border-top:1px solid var(--maroon);
  border-bottom:1px solid var(--maroon);
}

/* label kecil "Baca Juga" */
.adu-related__label{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:14px!important;font-weight:700;letter-spacing:.16em;text-transform:uppercase;
  color:var(--maroon);margin:0;display:flex;align-items:center;gap:10px;line-height:1;
}
.adu-related__label::before{
  content:"";width:22px;height:2px;background:var(--berry);flex:0 0 auto;
}

/* daftar */
.adu-related__list{list-style:none!important;margin:0!important;padding:0!important}
.adu-related__list > li{
  display:flex;flex-direction:column;margin:0;padding:0 0 2px;
  transition:padding-left .3s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover{padding-left:8px}

/* tanggal di kanan atas, sekaligus jadi garis pemisah */
.adu-related__date{
  order:1;width:100%;text-align:right;
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:11px;font-weight:700;letter-spacing:.14em;text-transform:uppercase;
  color:var(--muted);margin:0;padding:12px 0 9px;
  border-bottom:1px solid var(--line);
  transition:border-color .3s ease,color .3s ease;
}
.adu-related__list > li:first-child .adu-related__date{padding-top:4px}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__date{border-bottom-color:var(--maroon);color:var(--maroon)}

/* judul */
.adu-related__post-title{
  order:2;
  font-family:'Unbounded',system-ui,sans-serif;
  font-size:clamp(15px,1.6vw,17.5px)!important;font-weight:400;letter-spacing:0em;line-height:1.35;
  margin:13px 0 0;
}
.adu-related__post-title a{
  color:var(--ink);text-decoration:none;transition:color .25s ease;
  display:inline-flex;align-items:baseline;gap:8px;
}
.adu-related__post-title a::after{
  content:"\2197";font-family:system-ui,sans-serif;font-size:.8em;font-weight:400;
  color:var(--berry);opacity:0;transform:translate(-4px,3px);
  transition:opacity .28s ease,transform .28s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a{color:var(--maroon)}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a::after{opacity:1;transform:translate(0,0)}

.adu-related__empty{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;color:var(--muted);font-size:15px;margin:14px 0 0;
}

@media(max-width:520px){
  .adu-related__post-title{font-size:15px!important}
  .adu-related__list > li:hover{padding-left:0}
}
@media(prefers-reduced-motion:reduce){
  .adu-related *{transition-duration:.001ms!important}
}
</style>
</div>



<h3 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--27">“(mem)Bangun dari Tanah”</h3>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Periode Pameran:</strong> 15 Agustus – 20 September 2026<br><strong>Lokasi:</strong> <a href="https://www.instagram.com/sanggar_ikhtiar/" target="_blank" rel="noopener">Sanggar Ikhtiar</a><br><strong>Alamat:</strong> <a href="https://maps.app.goo.gl/vfQCMkVjoGr1BxqM7" target="_blank" rel="noopener">Jl. Aryasalingsingan No. 6, Desa Kasugengan Kidul, Kec. Depok, Kab. Cirebon</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Seniman:</strong><br>Adi Riyanto | Arsip Keluarga Bonzan Eddy R.A | Iftikhar A. Rajwie | M. Hasbi Ariobimo | Radi Arwinda &amp; Ramdan Kurnia | SPPG Sitiwinangun (Satoean Pemoeda Pemboeat Gerabah)</p>



<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa4c2e0&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa4c2e0" class="wp-block-image size-large has-custom-border wp-lightbox-container"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Poster-Membangun-dari-tanah-819x1024.jpg" alt="poster (mem)Bangun dari Tanah" class="wp-image-2266" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Poster-Membangun-dari-tanah-819x1024.jpg 819w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Poster-Membangun-dari-tanah-768x960.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Poster-Membangun-dari-tanah-240x300.jpg 240w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Poster-Membangun-dari-tanah.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button></figure>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/08/31/membangun-dari-tanah-membaca-kembali-jejak-gerabah-sitiwinangun-lewat-seni-kontemporer/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2254</post-id>	</item>
		<item>
		<title>JALANJALAN Rayakan Kebebasan Masa Muda Lewat Single Terbaru “BEBAS”</title>
		<link>https://aduide.id/2026/08/28/jalanjalan-rayakan-kebebasan-masa-muda-lewat-single-terbaru-bebas/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/08/28/jalanjalan-rayakan-kebebasan-masa-muda-lewat-single-terbaru-bebas/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2026 06:52:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[NewRelease]]></category>
		<category><![CDATA[BEBAS]]></category>
		<category><![CDATA[Cirebon]]></category>
		<category><![CDATA[JALANJALAN]]></category>
		<category><![CDATA[music]]></category>
		<category><![CDATA[Opikstones]]></category>
		<category><![CDATA[Rock]]></category>
		<category><![CDATA[single]]></category>
		<category><![CDATA[Sony Kertaatmajdja]]></category>
		<category><![CDATA[Yuda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=2247</guid>

					<description><![CDATA[Skena musik Cirebon kembali kedatangan rilisan baru. Trio rock and roll JALANJALAN resmi merilis single terbaru mereka, “BEBAS”, pada Senin, 24 Agustus 2026. Lagu ini menjadi pernyataan awal JALANJALAN dalam membawa kembali energi rock and roll dengan sentuhan yang lebih modern dan segar. “BEBAS” lahir dari semangat untuk menikmati hidup tanpa terlalu sibuk memikirkan omongan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Skena musik Cirebon kembali kedatangan rilisan baru. Trio rock and roll <strong>JALANJALAN</strong> resmi merilis single terbaru mereka, <strong>“BEBAS”</strong>, pada Senin, 24 Agustus 2026. Lagu ini menjadi pernyataan awal JALANJALAN dalam membawa kembali energi rock and roll dengan sentuhan yang lebih modern dan segar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“BEBAS” lahir dari semangat untuk menikmati hidup tanpa terlalu sibuk memikirkan omongan orang. Lagu ini sekaligus menjadi respons terhadap rutinitas yang membosankan dan anggapan bahwa musik rock identik dengan sesuatu yang tidak enak didengar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan durasi 2 menit 51 detik, JALANJALAN meramu <strong>distorsi gitar yang kasar namun catchy</strong>, ketukan drum yang adiktif, serta karakter vokal yang agresif dan mengajak pendengarnya bergerak. Secara keseluruhan, “BEBAS” dibangun dengan atmosfer yang raw, edgy, sekaligus tetap memiliki sisi estetik.</p>



<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa51ebc&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa51ebc" class="wp-block-image aligncenter size-full is-resized has-custom-border wp-lightbox-container"><img loading="lazy" decoding="async" width="800" height="800" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/6.-ARTWORK-SINGLE-.png" alt="JALANJALAN - BEBAS" class="has-border-color has-custom-color-5-border-color wp-image-2250" style="border-width:1px;border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px;width:392px;height:auto" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/6.-ARTWORK-SINGLE-.png 800w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/6.-ARTWORK-SINGLE-150x150-1.png 150w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/6.-ARTWORK-SINGLE-300x300-1.png 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/6.-ARTWORK-SINGLE-768x768-1.png 768w" sizes="auto, (max-width: 800px) 100vw, 800px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button></figure>



<h3 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--32">Tentang Menikmati Hidup dan Berkarya Tanpa Takut Omongan Orang</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Sony Kertaatmadja selaku penulis lagu, “BEBAS” memiliki gagasan yang cukup sederhana: menikmati hidup dan berkarya tanpa terus-menerus dibatasi oleh penilaian orang lain.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Lagu ini adalah tentang bagaimana kita menikmati hidup tanpa peduli omongan orang serta berkarya dengan sepenuh hati tanpa terganggu dengan cibiran dan omongan minus.”</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Sony juga ingin energi dalam lagu ini merepresentasikan karakter anak muda yang liar, tetapi tetap memiliki sisi estetik dan berani menjadi dirinya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semangat tersebut terasa relevan dengan karakter musik JALANJALAN yang banyak bermain di wilayah rock dengan energi yang lepas dan tidak terlalu banyak basa-basi. “BEBAS” kemudian menjadi medium bagi mereka untuk menyuarakan sikap tersebut melalui riff gitar, pukulan drum, dan vokal yang penuh tenaga.</p>



<h3 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--33">Berawal dari Lagu yang Ditulis pada 2022</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, “BEBAS” sebenarnya bukan lagu yang baru ditulis pada 2026. Lagu ini sudah ditulis oleh <strong>Sony Kertaatmadja</strong> pada 2022 dan kemudian disempurnakan bersama mendiang <strong>Ivan Scooter</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Proyek tersebut sempat tertunda karena Sony masih mencari karakter yang tepat agar lagu ini memiliki identitas yang orisinal. Prosesnya kemudian menemukan bentuk baru ketika Sony bertemu dengan <strong>Opikstones</strong>, yang turut mengisi vokal dan bass.</p>



<div class="wp-block-group adu-related has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<p class="adu-related__label wp-block-paragraph">Baca Juga</p>



<div class="wp-block-query adu-related__query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="adu-related__list wp-block-post-template is-layout-flow wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-164 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-music category-newrelease tag-inheritors tag-music tag-newrelease tag-single">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2025-03-25T19:18:00+07:00">25 March 2025</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2025/03/25/inheritors-lepas-single-kedua-pestilence-wabah-baru-dari-bawah-tanah/" target="_blank" >Inheritors Lepas Single Kedua “Pestilence”: Wabah Baru dari Bawah Tanah</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-660 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-music category-newrelease tag-air-bir tag-kuningan tag-music tag-newrelease tag-pelantun-lirih tag-sastra">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2025-11-03T10:25:28+07:00">3 November 2025</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2025/11/03/pelantun-lirih-mars-para-pemimpi-dari-air-bir/" target="_blank" >Pelantun Lirih: Mars Para Pemimpi dari Air &amp; Bir</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-2155 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-music category-newrelease tag-lagu tag-music tag-muzzkipper tag-newrelease tag-rock tag-single">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-08-07T14:13:32+07:00">7 August 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/08/07/muzzkipper-resmi-debut-lewat-single-23-30-hadirkan-napas-rock-70-an-untuk-pendengar-masa-kini/" target="_blank" >Muzzkipper Resmi Debut Lewat Single &#8220;23.30&#8221;, Hadirkan Napas Rock 70-an untuk Pendengar Masa Kini</a></h3>
</li></ul>

</div>



<style>
.adu-related{
  --maroon:#871338;
  --berry:#BC3862;
  --ink:#111111;
  --muted:#696969;
  --line:#DDDDDD;
  margin:clamp(34px,4.5vw,54px) 0;
  padding:20px 0 22px;
  border-top:1px solid var(--maroon);
  border-bottom:1px solid var(--maroon);
}

/* label kecil "Baca Juga" */
.adu-related__label{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:14px!important;font-weight:700;letter-spacing:.16em;text-transform:uppercase;
  color:var(--maroon);margin:0;display:flex;align-items:center;gap:10px;line-height:1;
}
.adu-related__label::before{
  content:"";width:22px;height:2px;background:var(--berry);flex:0 0 auto;
}

/* daftar */
.adu-related__list{list-style:none!important;margin:0!important;padding:0!important}
.adu-related__list > li{
  display:flex;flex-direction:column;margin:0;padding:0 0 2px;
  transition:padding-left .3s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover{padding-left:8px}

/* tanggal di kanan atas, sekaligus jadi garis pemisah */
.adu-related__date{
  order:1;width:100%;text-align:right;
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:11px;font-weight:700;letter-spacing:.14em;text-transform:uppercase;
  color:var(--muted);margin:0;padding:12px 0 9px;
  border-bottom:1px solid var(--line);
  transition:border-color .3s ease,color .3s ease;
}
.adu-related__list > li:first-child .adu-related__date{padding-top:4px}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__date{border-bottom-color:var(--maroon);color:var(--maroon)}

/* judul */
.adu-related__post-title{
  order:2;
  font-family:'Unbounded',system-ui,sans-serif;
  font-size:clamp(15px,1.6vw,17.5px)!important;font-weight:400;letter-spacing:0em;line-height:1.35;
  margin:13px 0 0;
}
.adu-related__post-title a{
  color:var(--ink);text-decoration:none;transition:color .25s ease;
  display:inline-flex;align-items:baseline;gap:8px;
}
.adu-related__post-title a::after{
  content:"\2197";font-family:system-ui,sans-serif;font-size:.8em;font-weight:400;
  color:var(--berry);opacity:0;transform:translate(-4px,3px);
  transition:opacity .28s ease,transform .28s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a{color:var(--maroon)}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a::after{opacity:1;transform:translate(0,0)}

.adu-related__empty{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;color:var(--muted);font-size:15px;margin:14px 0 0;
}

@media(max-width:520px){
  .adu-related__post-title{font-size:15px!important}
  .adu-related__list > li:hover{padding-left:0}
}
@media(prefers-reduced-motion:reduce){
  .adu-related *{transition-duration:.001ms!important}
}
</style>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">Seiring proses penggarapan tersebut, Sony kemudian mengajak <strong>Yuda</strong> untuk mengisi drum dan memberikan warna beat yang kasar sekaligus penuh gairah. Formasi tersebut akhirnya menjadi fondasi JALANJALAN dalam menghidupkan kembali “BEBAS” sebagai sebuah rilisan utuh.</p>



<h3 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--34">Direkam di Sound-I Recording dan Joe Studio Record</h3>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sisi produksi, proses rekaman “BEBAS” dilakukan di <strong>Sound-I Recording</strong>, sementara bagian drum direkam di <strong>Joe Studio Record</strong>. Sony Kertaatmadja bertindak sebagai produser.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tahap mixing dan mastering kemudian dikerjakan oleh Sound-I Recording. Produksi tersebut diarahkan untuk mempertahankan esensi rock and roll klasik, sembari memberikan karakter suara yang lebih segar untuk pendengar masa kini. Sementara itu, artwork single “BEBAS” dibuat oleh <strong>Yuda Nugros</strong>.</p>



<h3 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--35">JALANJALAN dan Energi Rock dari Cirebon</h3>



<p class="wp-block-paragraph">JALANJALAN terbentuk pada <strong>29 Maret 2026</strong> dan hadir sebagai trio rock asal Cirebon. Formasinya terdiri dari <strong>Sony Kertaatmadja</strong> pada gitar, <strong>Opikstones</strong> pada vokal dan bass, serta <strong>Yuda</strong> pada drum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara musikal, mereka terinspirasi oleh kultur distorsi 1990-an dan nuansa retro yang kemudian dipadukan dengan karakter personal masing-masing personel. JALANJALAN menyebut pendekatan mereka sebagai energi <strong>psycorock and roll</strong>, dengan lirik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. 1. PRESS RELEASE JALANJALAN_BEBAS 2026.docx..docxDOCX</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lewat “BEBAS”, JALANJALAN kini membuka babak baru perjalanan mereka. Lagu ini menjadi perkenalan terhadap karakter musik yang ingin mereka bawa: distorsi yang berani, energi rock and roll yang lepas, dan pesan sederhana untuk tetap menikmati hidup serta berkarya tanpa terlalu terpengaruh suara-suara dari luar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buat yang penasaran dengan gebrakan baru dari skena rock Cirebon, <strong>“BEBAS” dari JALANJALAN sudah dirilis pada 24 Agustus 2026</strong>.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-rich is-provider-spotify wp-block-embed-spotify wp-embed-aspect-21-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Spotify Embed: Bebas" style="border-radius: 12px" width="100%" height="352" frameborder="0" allowfullscreen allow="autoplay; clipboard-write; encrypted-media; fullscreen; picture-in-picture" loading="lazy" src="https://open.spotify.com/embed/album/6hIFa5QLhia5c9ygEGvONS?si=152g3rckTluhoop47Uqgtg&amp;utm_source=oembed"></iframe>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/08/28/jalanjalan-rayakan-kebebasan-masa-muda-lewat-single-terbaru-bebas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2247</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Udah Gede Kok Masih Nonton Kartun?: Ketika Kedewasaan Diukur dari Selera Tontonan</title>
		<link>https://aduide.id/2026/08/17/udah-gede-kok-masih-nonton-kartun-ketika-kedewasaan-diukur-dari-selera-tontonan/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/08/17/udah-gede-kok-masih-nonton-kartun-ketika-kedewasaan-diukur-dari-selera-tontonan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2026 05:58:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Nayla Arifani]]></category>
		<category><![CDATA[stigma sosial]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=2229</guid>

					<description><![CDATA[Di tengah masyarakat yang mengaku semakin terbuka terhadap keberagaman selera dan identitas, stigma bahwa kartun hanya pantas dinikmati anak-anak masih bertahan sebagai standar tidak tertulis tentang seperti apa orang dewasa seharusnya bersikap. “Udah jadi mahasiswa tontonannya masih Upin &#38; Ipin?” Kalimat itu terdengar ringan. Biasanya diikuti tawa kecil atau komentar yang lebih menghakimi. Lucunya, komentar [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Di tengah masyarakat yang mengaku semakin terbuka terhadap keberagaman selera dan identitas, stigma bahwa kartun hanya pantas dinikmati anak-anak masih bertahan sebagai standar tidak tertulis tentang seperti apa orang dewasa seharusnya bersikap.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Udah jadi mahasiswa tontonannya masih Upin &amp; Ipin?”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalimat itu terdengar ringan. Biasanya diikuti tawa kecil atau komentar yang lebih menghakimi. Lucunya, komentar semacam itu sering datang dari orang-orang terdekat, seolah semua orang sepakat bahwa kedewasaan memiliki daftar syarat yang harus dipenuhi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya mulai menyadari ada yang aneh ketika sedang menonton film animasi di rumah, lalu orang tua saya berkomentar, <em>“Udah kuliah kok masih nonton kartun? Nanti kelihatan kayak anak kecil terus.”</em> Kalimat itu mungkin terdengar biasa, bahkan dilontarkan tanpa maksud buruk. Namun, sejak saat itu saya bertanya-tanya: mengapa kesukaan terhadap kartun begitu mudah dikaitkan dengan ketidakdewasaan? Mengapa menikmati Upin &amp; Ipin, SpongeBob SquarePants, Chibi Maruko-chan, atau film-film Studio Ghibli seolah menjadi sesuatu yang perlu dibenarkan ketika usia sudah tidak lagi dianggap sebagai usia anak-anak?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, jika dipikir-pikir, apa sebenarnya yang membuat kartun dianggap hanya pantas untuk anak-anak? Bukankah yang menentukan kedewasaan seseorang adalah cara ia bersikap, bukan daftar tontonan di YouTube atau televisi?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan itu membuat saya mulai memperhatikan bahwa anggapan serupa ternyata tidak hanya datang dari keluarga. Saya beberapa kali mendengar teman yang sebelum memutar kartun saat makan berkata sambil tertawa canggung, <em>“Maaf ya, aku kalau makan suka nonton Upin &amp; Ipin.”</em> Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyiratkan adanya kekhawatiran akan penilaian orang lain. Seolah-olah menikmati kartun di hadapan orang lain perlu didahului dengan penjelasan agar tidak dianggap kekanak-kanakan atau dihakimi karena selera tontonan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena semacam ini ternyata bukan hanya pengalaman pribadi. Penelitian Chandi dan Trehan (2023) mengenai penggemar anime di India menunjukkan adanya fenomena <em>infantilization</em>, yaitu ketika orang dewasa diperlakukan seolah-olah belum dewasa karena kesukaan mereka terhadap animasi. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anggapan “animasi adalah tontonan anak-anak” dapat menjadi stereotip yang begitu kuat hingga memengaruhi cara masyarakat memandang para penggemarnya. Meskipun konteks penelitian tersebut berada di India dan berfokus pada anime, fenomenanya terasa cukup dekat dengan pengalaman sehari-hari: seseorang bisa dianggap kekanak-kanakan bahkan sebelum orang lain mengetahui alasan atau makna di balik tontonan yang ia sukai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, stigma ini tetap bertahan meskipun industri animasi telah berkembang jauh melampaui citranya sebagai hiburan anak-anak. Film-film seperti <em>Inside Out</em>, karya-karya Studio Ghibli, hingga serial seperti <em>Bluey</em> dan <em>Arcane</em> mengangkat tema kesehatan mental, kehilangan, keluarga, identitas, bahkan persoalan sosial yang dapat dinikmati dan dimaknai oleh berbagai kelompok usia. Perubahan isi cerita tersebut menunjukkan bahwa animasi sebenarnya tidak memiliki batas usia yang sesederhana “anak-anak” dan “orang dewasa”. Namun, perubahan pada isi cerita ternyata tidak selalu diikuti perubahan cara masyarakat memandang medianya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena tersebut mengingatkan saya pada pemikiran filsuf Prancis, Jean Baudrillard. Dalam <em>For a Critique of the Political Economy of the Sign</em> (1981), Baudrillard membahas bagaimana sebuah objek tidak hanya memiliki fungsi, tetapi juga dapat memiliki makna sebagai tanda (<em>sign value</em>). Artinya, sesuatu dapat dinilai bukan hanya berdasarkan kegunaan atau sifat sebenarnya, tetapi juga berdasarkan makna sosial yang melekat padanya (Baudrillard, 1981). Buku tersebut memang secara khusus membahas hubungan antara objek, tanda, konsumsi, dan makna sosial dalam masyarakat modern.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika gagasan tersebut ditarik ke persoalan kartun, kartun tidak lagi dipahami hanya sebagai medium yang dapat memuat berbagai jenis cerita untuk berbagai kelompok usia. Kartun telah berubah menjadi simbol masa kanak-kanak. Akibatnya, ketika orang dewasa masih menikmatinya, yang dipersoalkan bukan kualitas ceritanya, melainkan simbol yang dianggap tidak sesuai dengan identitas “orang dewasa”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika ditarik lebih jauh, bukan lagi kartunnya yang menjadi persoalan, melainkan makna yang selama ini kita lekatkan padanya. Selama bertahun-tahun, televisi, keluarga, dan budaya populer terus mengulang anggapan bahwa kartun adalah tontonan anak-anak. Pengulangan tersebut perlahan diterima sebagai sebuah kebenaran, meskipun realitas industri animasi telah banyak berubah. Pada titik inilah pemikiran Baudrillard tentang <em>hyperreality</em> menjadi relevan: representasi atau gambaran yang terus diproduksi dapat terasa lebih nyata daripada realitas itu sendiri (Baudrillard, 1994). Kita akhirnya lebih percaya pada label “kartun untuk anak-anak” daripada kenyataan bahwa animasi dapat dinikmati oleh berbagai kelompok usia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, persoalannya tidak berhenti pada stigma sosial. Bagi sebagian orang, khususnya saya sendiri, kartun bukan sekadar hiburan, melainkan ruang untuk beristirahat sejenak dari tuntutan kehidupan dewasa. Warna-warna yang cerah, cerita yang sederhana, dan karakter yang sudah akrab sejak kecil menghadirkan rasa nyaman tersendiri yang kini sudah sulit ditemukan dalam rutinitas sehari-hari sebagai orang yang telah beranjak dari usia anak-anak.</p>



<div class="wp-block-group adu-related has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<p class="adu-related__label wp-block-paragraph">Baca Juga</p>



<div class="wp-block-query adu-related__query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="adu-related__list wp-block-post-template is-layout-flow wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-1186 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-culture tag-adukabar tag-art tag-gedung-kesenian-raksa-wacana tag-kuningan tag-mbg tag-menu-budaya-gembira tag-teater">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-04-19T18:01:45+07:00">19 April 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/04/19/menu-budaya-gembira-mbg-pertunjukan-seni-yang-hadirkan-asupan-gizi-batin-bagi-masyarakat/" target="_blank" >Menu Budaya Gembira (MBG): Pertunjukan Seni yang Hadirkan “Asupan Gizi Batin” bagi Masyarakat</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-824 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-film tag-adukabar tag-aktor tag-epy-kusnandar tag-film tag-kabar-duka tag-preman-pensiun">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2025-12-04T10:57:59+07:00">4 December 2025</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2025/12/04/epy-kusnandar-tutup-usia-dunia-seni-peran-kembali-kehilangan-sosok-inspiratif/" target="_blank" >Epy Kusnandar Tutup Usia, Dunia Seni Peran Kembali Kehilangan Sosok Inspiratif</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-2123 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-culture category-literature tag-aduopini tag-aliya-nur-sahira tag-literature tag-novel">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-08-07T10:11:21+07:00">7 August 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/08/07/perempuan-baik-menurut-siapa-membaca-firdaus-dengan-derrida/" target="_blank" >Perempuan Baik Menurut Siapa? Membaca Firdaus dengan Derrida</a></h3>
</li></ul>

</div>



<style>
.adu-related{
  --maroon:#871338;
  --berry:#BC3862;
  --ink:#111111;
  --muted:#696969;
  --line:#DDDDDD;
  margin:clamp(34px,4.5vw,54px) 0;
  padding:20px 0 22px;
  border-top:1px solid var(--maroon);
  border-bottom:1px solid var(--maroon);
}

/* label kecil "Baca Juga" */
.adu-related__label{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:14px!important;font-weight:700;letter-spacing:.16em;text-transform:uppercase;
  color:var(--maroon);margin:0;display:flex;align-items:center;gap:10px;line-height:1;
}
.adu-related__label::before{
  content:"";width:22px;height:2px;background:var(--berry);flex:0 0 auto;
}

/* daftar */
.adu-related__list{list-style:none!important;margin:0!important;padding:0!important}
.adu-related__list > li{
  display:flex;flex-direction:column;margin:0;padding:0 0 2px;
  transition:padding-left .3s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover{padding-left:8px}

/* tanggal di kanan atas, sekaligus jadi garis pemisah */
.adu-related__date{
  order:1;width:100%;text-align:right;
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:11px;font-weight:700;letter-spacing:.14em;text-transform:uppercase;
  color:var(--muted);margin:0;padding:12px 0 9px;
  border-bottom:1px solid var(--line);
  transition:border-color .3s ease,color .3s ease;
}
.adu-related__list > li:first-child .adu-related__date{padding-top:4px}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__date{border-bottom-color:var(--maroon);color:var(--maroon)}

/* judul */
.adu-related__post-title{
  order:2;
  font-family:'Unbounded',system-ui,sans-serif;
  font-size:clamp(15px,1.6vw,17.5px)!important;font-weight:400;letter-spacing:0em;line-height:1.35;
  margin:13px 0 0;
}
.adu-related__post-title a{
  color:var(--ink);text-decoration:none;transition:color .25s ease;
  display:inline-flex;align-items:baseline;gap:8px;
}
.adu-related__post-title a::after{
  content:"\2197";font-family:system-ui,sans-serif;font-size:.8em;font-weight:400;
  color:var(--berry);opacity:0;transform:translate(-4px,3px);
  transition:opacity .28s ease,transform .28s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a{color:var(--maroon)}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a::after{opacity:1;transform:translate(0,0)}

.adu-related__empty{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;color:var(--muted);font-size:15px;margin:14px 0 0;
}

@media(max-width:520px){
  .adu-related__post-title{font-size:15px!important}
  .adu-related__list > li:hover{padding-left:0}
}
@media(prefers-reduced-motion:reduce){
  .adu-related *{transition-duration:.001ms!important}
}
</style>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">Perasaan nyaman tersebut juga dapat dilihat melalui konsep nostalgia. Wildschut, Sedikides, Arndt, dan Routledge (2006) menemukan bahwa pengalaman nostalgia umumnya berkaitan dengan emosi positif dan dapat memiliki fungsi psikologis yang membantu seseorang menghadapi kondisi emosional tertentu. Dengan kata lain, mengingat atau kembali menikmati sesuatu yang memiliki hubungan dengan masa lalu tidak selalu berarti seseorang ingin kembali menjadi anak-anak. Pengalaman tersebut justru dapat menjadi sumber kenyamanan ketika seseorang sedang menghadapi perubahan atau tekanan dalam kehidupannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, aktivitas menonton kartun bagi orang dewasa bukan semata-mata bentuk dari ketidakdewasaan, melainkan bisa menjadi cara sederhana untuk kembali menemukan rasa nyaman di tengah kompleksitas kehidupan yang semakin bertambah seiring bertambahnya usia. Ada kalanya kita memang hanya ingin makan sambil menonton Upin &amp; Ipin, tertawa melihat tingkah SpongeBob, atau kembali menikmati film yang sudah berkali-kali ditonton. Tidak semua hal yang membuat kita nyaman harus memiliki alasan yang rumit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Barangkali, yang perlu kita tinggalkan bukanlah kebiasaan menonton kartun, melainkan cara pandang yang terlalu sempit dalam memaknai kedewasaan. Sebab, menjadi dewasa bukan berarti menghapus semua hal yang pernah membawa kita bahagia, melainkan mampu bertanggung jawab atas pilihan hidup tanpa harus kehilangan sisi manusiawi dalam diri. Jika seseorang masih bisa menjalankan kewajibannya, menghargai orang lain, dan terus bertumbuh, mengapa selera tontonannya harus dijadikan ukuran kedewasaan?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Referensi:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Baudrillard, J. (1981). <em>For a critique of the political economy of the sign</em>. Telos Press.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baudrillard, J. (1994). <em>Simulacra and simulation</em> (S. F. Glaser, Trans.). University of Michigan Press. (Original work published 1981)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wildschut, T., Sedikides, C., Arndt, J., &amp; Routledge, C. (2006). Nostalgia: Content, triggers, functions. <em>Journal of Personality and Social Psychology, 91</em>(5), 975–993.<a href="https://doi.org/10.1037/0022-3514.91.5.975"> https://doi.org/10.1037/0022-3514.91.5.975</a></p>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:33.33%">
<figure class="wp-block-image size-full is-style-rounded"><img loading="lazy" decoding="async" width="572" height="572" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Foto-Profil-Nayla-Arifani.jpeg" alt="" class="wp-image-2232" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Foto-Profil-Nayla-Arifani.jpeg 572w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Foto-Profil-Nayla-Arifani-300x300.jpeg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Foto-Profil-Nayla-Arifani-150x150.jpeg 150w" sizes="auto, (max-width: 572px) 100vw, 572px" /></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:66.66%">
<p class="wp-block-paragraph">Ditulis oleh:</p>



<p class="is-style-text-label is-style-text-label--37 wp-block-paragraph"><strong>Nayla Arifani</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Nayla Arifani merupakan mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia. Menaruh perhatian pada isu feminisme dan cara masyarakat memaknai berbagai fenomena dalam kehidupan sehari-hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">email: <strong>naylaarifany@gmail.com</strong>  <br>instagram: <a href="https://instagram.com/naylrfnyy_" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@naylrfnyy_</a></p>
</div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/08/17/udah-gede-kok-masih-nonton-kartun-ketika-kedewasaan-diukur-dari-selera-tontonan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2229</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Panggung Teater untuk Disabilitas: Arah Humanisme dan Ruang Sosial Bagi Mereka</title>
		<link>https://aduide.id/2026/08/17/panggung-teater-untuk-disabilitas-arah-humanisme-dan-ruang-sosial-bagi-mereka/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/08/17/panggung-teater-untuk-disabilitas-arah-humanisme-dan-ruang-sosial-bagi-mereka/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2026 04:47:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduKabar]]></category>
		<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Arip Hidayat]]></category>
		<category><![CDATA[BEEK]]></category>
		<category><![CDATA[Disabilitas]]></category>
		<category><![CDATA[Graha Wangi]]></category>
		<category><![CDATA[Kuningan]]></category>
		<category><![CDATA[Teater]]></category>
		<category><![CDATA[Teater Pecut]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=2235</guid>

					<description><![CDATA[Karya Arip Hidayat Lampu sorot utama di Gedung Graha Wangi perlahan-lahan meredup, menyisakan pendar keemasan yang hangat di atas lantai pertunjukan. Namun, gemuruh tepuk tangan dan helatan napas kagum dari ratusan pasang mata yang memadati ruangan pada 14–15 Agustus 2026 itu belum juga surut. Di atas panggung bersejarah tersebut, sebuah tatanan dan batas tak kasat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--47">Karya Arip Hidayat</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Lampu sorot utama di Gedung Graha Wangi perlahan-lahan meredup, menyisakan pendar keemasan yang hangat di atas lantai pertunjukan. Namun, gemuruh tepuk tangan dan helatan napas kagum dari ratusan pasang mata yang memadati ruangan pada 14–15 Agustus 2026 itu belum juga surut. Di atas panggung bersejarah tersebut, sebuah tatanan dan batas tak kasat mata baru saja diruntuhkan dengan begitu anggun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Teater tidak lagi sekadar menjadi tontonan estetis yang menyajikan keindahan visual semata, melainkan telah berhasil bertransformasi menjadi sebuah manifesto humanisme yang lugas serta ruang sosial yang sungguh inklusif bagi kelompok disabilitas melalui karya monumental persembahan Arip Hidayat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pementasan yang berlangsung selama dua hari tersebut menyajikan sebuah potret baru dalam konstelasi seni pertunjukan Indonesia. Mengambil ruang di Gedung Graha Wangi, bangunan cagar budaya yang kini berdenyut sebagai laboratorium kreatif di bawah naungan Balai Edukasi dan Ekosistem Kuningan (BEEK), pertunjukan ini tidak hanya menghidupkan kembali nilai estetika fisik bangunan, tetapi juga menyuntikkan ruh kemanusiaan yang amat dalam ke setiap sudut ruangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Arip Hidayat sebagai kreator berhasil meramu setiap dialog, gerak, dan kesunyian menjadi sebuah medium reflektif yang menantang tatanan sosial masyarakat dalam memandang disabilitas.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--48">Kolaborasi Teater Pecut, SLB C YPALB Perwari, dan Sekolah Linimasa</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Keberhasilan kolosal pementasan ini merupakan buah manis dari sinergi lintas komunitas dan lembaga inklusif yang saling melengkapi. Pertunjukan teater ini terwujud atas kolaborasi erat antara Teater Pecut, SLB C YPALB Perwari, dan Sekolah Linimasa, yang secara bersama-sama mengolah potensi dan daya cipta para pemeran disabilitas menjadi sebuah karya pertunjukan yang matang dan bermakna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah besar ini kian kokoh karena seluruh rangkaian program &#8220;Panggung Teater untuk Disabilitas&#8221; mendapatkan dukungan penuh dan didanai oleh Dana Indonesiana Tahun Anggaran 2025. Dukungan pendanaan negara ini menegaskan bahwa kebudayaan inklusif kini mendapatkan tempat terhormat dalam agenda pemajuan kebudayaan nasional, memfasilitasi proses kreativitas yang berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--49">Ketika Disabilitas Menjadi Subjek Seni, Bukan Objek Simpati</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Secara historis, dunia seni pertunjukan dan masyarakat pada umumnya sering kali menempatkan penyandang disabilitas dalam posisi yang sangat terbatas. Mereka kerap dihadirkan sebagai objek simpati, narasi pelengkap yang membangkitkan rasa iba, atau sekadar metafora kemalangan untuk memperkuat posisi karakter non-disabilitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Panggung teater tradisional cenderung mengunci partisipasi disabilitas dalam sekat-sekat eksklusi, di mana keaktoran mereka diukur berdasarkan standar fisik normatif yang dibentuk oleh mayoritas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, pementasan karya Arip Hidayat di Gedung Graha Wangi tampil sebagai hantaman keras terhadap konvensi lama yang melanggengkan stigma tersebut. Pendekatan naratif yang dibawakan Arip sama sekali menolak untuk menjual rasa iba atau mengeskploitasi keterbatasan fisik dan mental para aktornya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, karya ini mengeksplorasi kedalaman ekspresi, keunikan artikulasi seni, dan keagenan para pemainnya sebagai individu yang utuh, berdaulat, dan setara di atas panggung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pementasan ini memperlihatkan secara gamblang bagaimana keterbatasan fisik bukan lagi sebuah hambatan, melainkan sebuah instrumen estetika yang kaya. Bahasa tubuh yang tak lazim, penggunaan bahasa isyarat yang terintegrasi secara dramatis dalam koreografi, serta pemanfaatan tempo dan ritme suara yang unik menciptakan sebuah bahasa teater baru yang segar dan memikat.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--50">Teater Inklusif sebagai Ruang Sosial dan Instrumen Advokasi</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika dalam pendekatan konvensional disabilitas dipandang sebagai objek simpati yang pasif dengan akses ruang yang sangat terbatas dan fokus cerita yang selalu berkutat pada penderitaan, karya Arip Hidayat justru menghadirkan perbandingan yang bertolak belakang secara radikal.</p>



<figure data-wp-context="{&quot;galleryId&quot;:&quot;6a9795fa6c875&quot;}" data-wp-interactive="core/gallery" class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-51 is-layout-flex wp-container-core-gallery-is-layout-4e18e77c wp-block-gallery-is-layout-flex" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px">
<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa6ccf0&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa6ccf0" class="wp-block-image size-large has-custom-border wp-lightbox-container"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" data-id="2240" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-1-1024x768.jpg" alt="" class="wp-image-2240" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-1-1024x768.jpg 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-1-300x225.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-1-768x576.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-1.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button></figure>



<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa6d257&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa6d257" class="wp-block-image size-large has-custom-border wp-lightbox-container"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" data-id="2241" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-2-1024x768.jpg" alt="" class="wp-image-2241" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-2-1024x768.jpg 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-2-300x225.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-2-768x576.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-2.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button></figure>



<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa6d76a&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa6d76a" class="wp-block-image size-large has-custom-border wp-lightbox-container"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" data-id="2239" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-6-1024x768.jpg" alt="" class="wp-image-2239" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-6-1024x768.jpg 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-6-300x225.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-6-768x576.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-6.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button></figure>
</figure>



<p class="wp-block-paragraph">Di bawah arahannya bersama sinergi Teater Pecut, SLB C YPALB Perwari, dan Sekolah Linimasa, para pemain disabilitas berdiri tegak sebagai subjek seni yang mandiri, di mana tubuh dan keterbatasan mereka diolah menjadi warna ekspresi yang kaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ruang pertunjukan dibuka seluas-luasnya sebagai wadah interaksi sosial yang setara, sementara narasi cerita digeser dari tragisme keterbatasan menuju manifesto humanisme yang merayakan eksistensi, daya juang, dan kompleksitas manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Teater tidak lagi berfungsi sebagai hiburan pasif belaka, melainkan bertindak sebagai ruang katarsis sekaligus instrumen advokasi sosial yang menggugah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keunggulan karya ini terletak pada keberaniannya menggeser fokus teater dari sekadar penampilan visual menuju pengalaman kemanusiaan, menjadikan Gedung Graha Wangi sebagai laboratorium sosial di mana empati dan kesetaraan dipraktikkan secara nyata.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--52">Diskusi Publik Membahas Masa Depan Seni dan Pendidikan Inklusif</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Keberhasilan pementasan selama dua hari tersebut tidak berhenti saat tirai panggung ditutup. Sebagai wujud komitmen nyata untuk menerjemahkan pesan estetis di atas panggung menjadi aksi konkret di tengah masyarakat, rangkaian acara ini diakhiri dengan sebuah diskusi publik yang sangat krusial.</p>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-53 is-layout-flex wp-container-core-gallery-is-layout-4e18e77c wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large has-custom-border"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" data-id="2242" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-4-1024x768.jpg" alt="Diskusi Panggung Teater untuk Disabilitas" class="wp-image-2242" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-4-1024x768.jpg 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-4-300x225.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-4-768x576.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-4.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large has-custom-border"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" data-id="2243" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-5-1024x768.jpg" alt="Diskusi Panggung Teater untuk Disabilitas" class="wp-image-2243" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-5-1024x768.jpg 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-5-300x225.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-5-768x576.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-5.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</figure>



<p class="wp-block-paragraph">Forum yang dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan akademisi, seniman, pegiat sosial, hingga masyarakat umum ini menghadirkan tiga pilar tokoh penting: Kadis Pendidikan Kabupaten Kuningan Dr. Carlan, M.M.Pd., Ketua Dewan Kebudayaan Dr. Bias Lintang Dialog, M.Kn., dan Manager BEEK Graha Wangi Agung M. Abul, S.Pd.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diskusi ini secara khusus membedah arah kebijakan, ruang ekspresi, dan ekosistem kebudayaan bagi kaum disabilitas di bidang pendidikan dan kesenian ke depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam sesi pemaparannya, Dr. Carlan, M.M.Pd. menegaskan bahwa pencapaian teater karya Arip Hidayat harus dijadikan momentum untuk merombak cara pandang dunia pendidikan terhadap anak-anak penyandang disabilitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama ini, pendidikan inklusif di sekolah sering kali hanya berfokus pada ketercapaian akademik formal, sementara ruang pengembangan bakat, kreativitas, dan rasa percaya diri melalui seni masih sangat minim.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dr. Carlan menyampaikan bahwa seni teater yang disajikan dua hari tersebut membuka mata semua pihak bahwa anak-anak disabilitas memiliki kedalaman rasa dan potensi ekspresi yang luar biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan berkomitmen untuk tidak lagi memandang pendidikan inklusif sekadar formalitas ketersediaan bangku di kelas, melainkan akan mendorong integrasi kurikulum seni pertunjukan yang inklusif di Sekolah Luar Biasa (SLB) maupun sekolah inklusi arus utama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seni dinilai sebagai instrumen terbaik untuk membangun rasa percaya diri, mengasah daya kritis, dan memulihkan harkat kemanusiaan mereka, sehingga pihak kedinasan berencana menginisiasi program pelatihan seni peran dan ekspresi bagi para pendidik agar potensi tersebut terwadahi sejak dini.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--54">Dewan Kebudayaan Dorong Infrastruktur Seni yang Ramah Disabilitas</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Melengkapi pandangan pendidikan tersebut, Dr. Bias Lintang Dialog, M.Kn. menyoroti pentingnya penjaminan hak-hak kebudayaan dan penyediaan infrastruktur kebudayaan yang berperspektif disabilitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beliau menekankan bahwa kesenian tidak boleh menjadi menara gading yang hanya bisa dinikmati atau dipraktikkan oleh kelompok masyarakat tertentu, karena kebudayaan adalah milik seluruh warga tanpa terkecuali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pencapaian Arip Hidayat di panggung Graha Wangi dinilai sebagai bentuk nyata dari pengoperasian nilai-nilai humanisme dalam budaya lokal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dewan Kebudayaan akan mendorong lahirnya regulasi dan kebijakan daerah yang menjamin ruang-ruang kebudayaan di Kabupaten Kuningan, mulai dari gedung kesenian, sanggar, hingga festival budaya, wajib memiliki standar aksesibilitas bagi disabilitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih dari itu, pengalokasian ruang dan anggaran pertunjukan yang secara konsisten menampilkan karya-karya dari seniman disabilitas harus diprioritaskan, sebab mereka bukanlah penonton pasif dalam kebudayaan, melainkan pelaku dan pemilik kebudayaan itu sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--55">Gedung Graha Wangi sebagai Ruang Kreatif Inklusif</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sudut pandang pengoperasian ruang dan keberlanjutan ekosistem, Agung M. Abul, S.Pd. menyampaikan bahwa kesuksesan pentas teater ini menjadi bukti nyata bahwa gedung cagar budaya seperti Graha Wangi memiliki fungsi strategis sebagai ruang aman dan tempat bertemunya berbagai gagasan progresif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gedung Graha Wangi dan BEEK berkomitmen penuh untuk menjadi rumah yang ramah, terbuka, dan berkelanjutan bagi seluruh komunitas, khususnya rekan-rekan disabilitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Agung M. Abul menegaskan bahwa pertunjukan ini tidak boleh menjadi peristiwa sekali selesai yang kemudian dilupakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ke depan, BEEK siap membuka program residensi seni, lokakarya teater berkala, dan ruang pameran yang secara khusus dirancang agar mudah diakses oleh teman-teman disabilitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">BEEK siap bersinergi dengan Dinas Pendidikan dan Dewan Kebudayaan untuk menjadikan tempat ini sebagai laboratorium kreatif, tempat di mana ide-ide inklusif diuji, bakat-bakat baru diasah, dan kesetaraan benar-benar dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--56">Panggung Teater untuk Disabilitas Menjadi Awal Gerakan Humanisme</h2>



<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa72b4d&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa72b4d" class="wp-block-image size-large has-custom-border wp-lightbox-container"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-7-1024x768.jpg" alt="Panggung Teater untuk Disabilitas" class="wp-image-2244" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-7-1024x768.jpg 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-7-300x225.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-7-768x576.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Panggung-Teater-untuk-Disabilitas-7.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Diskusi publik yang berlangsung hangat dan interaktif tersebut pada akhirnya mempertegas bahwa pementasan teater karya Arip Hidayat pada 14–15 Agustus 2026 di Gedung Graha Wangi bukan sekadar puncak perayaan estetika, melainkan sebuah titik mula dari gerakan sosial yang lebih besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seni teater pada hakikatnya adalah cermin dari kehidupan manusia, dan ketika panggung teater memberi ruang yang setara bagi kaum disabilitas, saat itulah masyarakat sedang belajar menjadi manusia yang lebih utuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karya Arip Hidayat bersama Teater Pecut, SLB C YPALB Perwari, dan Sekolah Linimasa serta sokongan Dana Indonesiana 2025 telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah batasan bagi daya cipta manusia.</p>



<div class="wp-block-group adu-related has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<p class="adu-related__label wp-block-paragraph">Baca Juga</p>



<div class="wp-block-query adu-related__query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="adu-related__list wp-block-post-template is-layout-flow wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-1306 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-culture tag-aduopini tag-gema-ganeswara tag-gender tag-lgbt tag-sosial-politik">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-07-16T11:25:13+07:00">16 July 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/07/16/dari-perlindungan-menuju-pengambilalihan-makna/" target="_blank" >Dari Perlindungan Menuju Pengambilalihan Makna</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-2268 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-culture tag-aduopini tag-art tag-culture tag-design tag-ekonomi-kreatif tag-ekraf tag-film tag-hari-jadi-ke-528-kuningan tag-kuningan tag-music">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-09-01T17:10:15+07:00">1 September 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/09/01/kuningan-528-melesat-ngudag-jaman-tapi-ke-mana-industri-kreatif-kuningan/" target="_blank" >Kuningan 528: Melesat Ngudag Jaman, Tapi ke Mana Industri Kreatif Kuningan?</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-2254 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-art-design category-culture tag-adukabar tag-art tag-cirebon tag-exhibition tag-gerabah tag-kontemporer tag-sanggar-ikhtiar tag-seni tag-sitiwinangun">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-08-31T10:29:02+07:00">31 August 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/08/31/membangun-dari-tanah-membaca-kembali-jejak-gerabah-sitiwinangun-lewat-seni-kontemporer/" target="_blank" >(mem)Bangun dari Tanah: Membaca Kembali Jejak Gerabah Sitiwinangun lewat Seni Kontemporer</a></h3>
</li></ul>

</div>



<style>
.adu-related{
  --maroon:#871338;
  --berry:#BC3862;
  --ink:#111111;
  --muted:#696969;
  --line:#DDDDDD;
  margin:clamp(34px,4.5vw,54px) 0;
  padding:20px 0 22px;
  border-top:1px solid var(--maroon);
  border-bottom:1px solid var(--maroon);
}

/* label kecil "Baca Juga" */
.adu-related__label{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:14px!important;font-weight:700;letter-spacing:.16em;text-transform:uppercase;
  color:var(--maroon);margin:0;display:flex;align-items:center;gap:10px;line-height:1;
}
.adu-related__label::before{
  content:"";width:22px;height:2px;background:var(--berry);flex:0 0 auto;
}

/* daftar */
.adu-related__list{list-style:none!important;margin:0!important;padding:0!important}
.adu-related__list > li{
  display:flex;flex-direction:column;margin:0;padding:0 0 2px;
  transition:padding-left .3s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover{padding-left:8px}

/* tanggal di kanan atas, sekaligus jadi garis pemisah */
.adu-related__date{
  order:1;width:100%;text-align:right;
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:11px;font-weight:700;letter-spacing:.14em;text-transform:uppercase;
  color:var(--muted);margin:0;padding:12px 0 9px;
  border-bottom:1px solid var(--line);
  transition:border-color .3s ease,color .3s ease;
}
.adu-related__list > li:first-child .adu-related__date{padding-top:4px}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__date{border-bottom-color:var(--maroon);color:var(--maroon)}

/* judul */
.adu-related__post-title{
  order:2;
  font-family:'Unbounded',system-ui,sans-serif;
  font-size:clamp(15px,1.6vw,17.5px)!important;font-weight:400;letter-spacing:0em;line-height:1.35;
  margin:13px 0 0;
}
.adu-related__post-title a{
  color:var(--ink);text-decoration:none;transition:color .25s ease;
  display:inline-flex;align-items:baseline;gap:8px;
}
.adu-related__post-title a::after{
  content:"\2197";font-family:system-ui,sans-serif;font-size:.8em;font-weight:400;
  color:var(--berry);opacity:0;transform:translate(-4px,3px);
  transition:opacity .28s ease,transform .28s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a{color:var(--maroon)}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a::after{opacity:1;transform:translate(0,0)}

.adu-related__empty{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;color:var(--muted);font-size:15px;margin:14px 0 0;
}

@media(max-width:520px){
  .adu-related__post-title{font-size:15px!important}
  .adu-related__list > li:hover{padding-left:0}
}
@media(prefers-reduced-motion:reduce){
  .adu-related *{transition-duration:.001ms!important}
}
</style>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui sinergi antara karya seni yang berkualitas, komitmen dunia pendidikan, perlindungan lembaga kebudayaan, dan penyediaan ruang kreatif yang inklusif, arah baru humanisme di Kabupaten Kuningan kini bukan lagi sebatas wacana, melainkan sebuah kenyataan yang sedang dibangun bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gedung Graha Wangi telah menjadi saksi bisu bahwa di bawah cahaya lampu panggung yang sama, setiap jiwa memiliki porsi dan hak yang setara untuk bersuara, berkarya, dan diakui keberadaannya sebagai manusia.</p>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:33.33%">
<figure class="wp-block-image size-full is-style-rounded"><img loading="lazy" decoding="async" width="385" height="385" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/12/Andriyana.jpeg" alt="Andriyana" class="wp-image-854" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/12/Andriyana.jpeg 385w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/12/Andriyana-300x300.jpeg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/12/Andriyana-150x150.jpeg 150w" sizes="auto, (max-width: 385px) 100vw, 385px" /></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:66.66%">
<p class="wp-block-paragraph">Ditulis oleh:</p>



<p class="is-style-text-label is-style-text-label--57 wp-block-paragraph"><strong>Andriyana</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dosen Bahasa di <a href="https://uniku.ac.id">Universitas Kuningan</a><br>IG, Tiktok, Thread, Medium: <strong>andriyana03</strong></p>
</div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/08/17/panggung-teater-untuk-disabilitas-arah-humanisme-dan-ruang-sosial-bagi-mereka/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2235</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Memangnya Indie Itu Apa?</title>
		<link>https://aduide.id/2026/08/17/memangnya-indie-itu-apa/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/08/17/memangnya-indie-itu-apa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2026 03:26:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[Gema Ganeswara]]></category>
		<category><![CDATA[music]]></category>
		<category><![CDATA[musisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=2220</guid>

					<description><![CDATA[Aku masih ingat wawancara Otong Koil di Majalah&#160;Rolling Stone. Aku kurang lebih menyimpulkan dari wawancara tersebut bahwa&#160;industri musik di Indonesia selalu terlambat dalam membaca peta. Artinya, menurut Otong, dari dulu musisi selalu lebih maju daripada industrinya. Ia lalu memberikan contoh: jika satu band sales-nya bagus, maka label akan mencari atau bahkan dengan sengaja membentuk band [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Aku masih ingat wawancara Otong Koil di Majalah&nbsp;<em>Rolling Stone</em>. Aku kurang lebih menyimpulkan dari wawancara tersebut bahwa&nbsp;<strong>industri musik di Indonesia selalu terlambat dalam membaca peta</strong>. Artinya, menurut Otong, dari dulu musisi selalu lebih maju daripada industrinya. Ia lalu memberikan contoh: jika satu band sales-nya bagus, maka label akan mencari atau bahkan dengan sengaja membentuk band yang serupa. Alih-alih menjadi&nbsp;<em>talent scout</em>&nbsp;dan menginvestasikan resources untuk mencari, memelihara, dan mengembangkan talent, label mengambil&nbsp;<em>shortcut</em>&nbsp;dalam memandang potensi musisi. Mereka menunggu sesuatu berhasil terlebih dahulu, baru kemudian mencari formula untuk mengulang keberhasilan yang sama.&nbsp;<strong>Dengan kata lain, industri cenderung mengenali kemungkinan artistik setelah kemungkinan tersebut terbukti memiliki nilai ekonomi.</strong></p>



<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa7cadb&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa7cadb" class="wp-block-image size-large has-custom-border wp-lightbox-container"><img loading="lazy" decoding="async" width="814" height="1024" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-3-e1786936825539-814x1024.png" alt="" class="has-border-color has-custom-color-5-border-color wp-image-2223" style="border-width:1px;border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-3-e1786936825539-814x1024.png 814w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-3-e1786936825539-238x300.png 238w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-3-e1786936825539-768x966.png 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-3-e1786936825539.png 938w" sizes="auto, (max-width: 814px) 100vw, 814px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button><figcaption class="wp-element-caption">Sumber: Instagram @melodi.alam.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Cara memandang industri seperti ini&nbsp;<strong>rasanya masih bisa ditemukan dalam praktik major label hari ini</strong>, sementara industrinya sendiri sudah semakin lentur dalam percakapan kontemporer. Batas antara major dan indie secara praktik bahkan semakin cair dan bias: distribusi, publisher maupun aggregator, sampai musisi yang mengelola produksinya sendiri tetapi menggunakan jaringan perusahaan-perusahaan kapital. Karena itu, percakapan tentang kategori tersebut memang tidak lagi sesederhana dulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, kalau&nbsp;<em>indie</em>&nbsp;dimaknai melalui&nbsp;<strong>spirit DIY, otonomi, dan visi artistik</strong>, menurutku istilah itu masih berguna. Di sana kita bisa membicarakan seberapa jauh sebuah karya mengambil risiko, mempertahankan otonomi estetik, atau bernegosiasi, bahkan menolak, logika pasar tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara dalam konteks&nbsp;<strong>etalase industri</strong>, mungkin tidak lagi cukup hanya dengan melihat apakah seorang musisi berada di luar major label atau tidak. Hari ini musisi bisa mengelola produksinya sendiri tetapi tetap bekerja dengan distributor, publisher, aggregator, investor, platform, atau jaringan perusahaan kapital lainnya. Rasanya hampir mustahil membicarakan industri musik kontemporer seolah-olah independen berarti harus benar-benar terbebas dari semua jaringan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, yang lebih penting adalah&nbsp;<strong>siapa yang tetap memegang kendali</strong>. Hubungan dengan distributor, publisher, aggregator, investor, atau perusahaan lain tetap bisa berjalan sebagai bentuk kerja sama dan negosiasi. Selama keputusan-keputusan penting mengenai musik dan produksinya masih berada di tangan musisi, ya&nbsp;<strong>memang indie kok</strong>. Musiknya tidak harus melawan arus, bahkan tidak harus terdengar seperti apa yang selama ini kita bayangkan sebagai musik “indie”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Problemnya muncul ketika&nbsp;<strong>kategori ekonomi dianggap otomatis sebagai kategori estetika</strong>. Padahal musisi indie bisa sangat komersial. Lah, Hindia kurang komersial apa dalam konteks hari ini? Popularitas, besarnya audiens, tingginya konsumsi, atau keberadaan sebuah karya di ruang-ruang populer tidak serta-merta menghapus posisi independennya dalam struktur industri. Kalau yang sedang kita bicarakan adalah indie sebagai kategori industri, ukurannya ada pada&nbsp;<strong>bagaimana musik itu diproduksi dan diedarkan serta siapa yang mengambil keputusan di dalamnya</strong>. Eksperimentasi musikal atau seberapa jauh sebuah karya berada dari pasar adalah percakapan lain yang bisa kita lanjutkan setelahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maksudku, toh contohnya sudah ada di depan mata. Sun Eater, misalnya, label musik yang menaungi Hindia, .Feast, dan Lomba Sihir, lahir dari inisiatif musisi untuk musisi. Begitu pula dengan Greedy Dust, yang menaungi Dongker dan entitas lain seperti ZIP.</p>



<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa7d44b&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa7d44b" class="wp-block-image size-large has-custom-border wp-lightbox-container"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="613" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-4-1024x613.png" alt="" class="has-border-color has-custom-color-5-border-color wp-image-2224" style="border-width:1px;border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-4-1024x613.png 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-4-300x180.png 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-4-768x460.png 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-4.png 1100w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button><figcaption class="wp-element-caption">© Pop Hari Ini</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Here Comes The Sun:</strong>&nbsp;inisiasi label rekaman Sun Eater untuk merayakan seluruh artisnya dalam satu panggung. Jika dibandingkan dengan&nbsp;<strong>sejumlah pengalaman musisi dalam struktur&nbsp;<em>major label</em>&nbsp;di masa lampau</strong>, acara semacam ini setidaknya memperlihatkan cara berbeda dalam membayangkan sebuah label sebagai ekosistem. Sebab berada dalam satu rumah label tidak serta-merta menciptakan perasaan berada dalam ekosistem yang setara. Ketika satu artis tumbuh jauh lebih besar secara komersial, perhatian dan sumber daya label dapat bergeser mengikutinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam percakapan&nbsp;<em>major label</em>, kolaborasi antarmusisi dari label yang berbeda pun setidaknya pernah menjadi jauh lebih rumit.&nbsp;<strong>Sebuah rencana kolaborasi bisa urung terjadi karena dalam kondisi tertentu label dapat turut memiliki kuasa untuk menentukan dengan siapa seorang musisi boleh berkolaborasi.</strong>&nbsp;Hal ini dapat berbeda jika kita membandingkannya dengan&nbsp;<strong>sejumlah</strong>&nbsp;<strong><em>minor label</em></strong>&nbsp;yang cenderung lebih terbuka terhadap proses kolaborasi, salah satunya sebagai cara memperluas jangkauan pendengar, meskipun skala kapital dan jaringan distribusi yang mereka miliki mungkin tak sebesar&nbsp;<em>major label</em>.</p>



<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa7db17&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa7db17" class="wp-block-image size-large has-custom-border wp-lightbox-container"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="585" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-5-1024x585.png" alt="" class="has-border-color has-custom-color-5-border-color wp-image-2225" style="border-width:1px;border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-5-1024x585.png 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-5-300x171.png 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-5-768x438.png 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-5.png 1100w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button><figcaption class="wp-element-caption">© Pop Hari Ini</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dari cara mereka bekerja</strong>, kita bisa melihat bahwa cara memproduksi, mengelola, dan memasarkan musik hari ini sudah tidak bisa terus-menerus dimaknai hanya melalui cara kerja label-label besar. Bahkan dalam proses pencarian artis,&nbsp;<strong>jumlah</strong>&nbsp;<strong><em>followers</em></strong>&nbsp;<strong>dan besarnya audiens yang telah dibangun seorang musisi dapat menjadi salah satu indikator yang turut dibaca industri.</strong>&nbsp;Hal serupa dapat dilihat dari hubungan antara ajang pencarian bakat dan industri rekaman, di mana popularitas serta dukungan audiens sejak awal menjadi bagian penting dari mekanisme seleksi dan pembentukan artis. Sejumlah alumninya kemudian melanjutkan karier melalui jaringan&nbsp;<em>major label</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk membedakan posisi semacam ini, aku pikir term&nbsp;<em>indie</em>&nbsp;masih sah-sah saja digunakan, karena fondasi yang membentuknya memang datang dari musisi itu sendiri. Ia lahir dari bagaimana musisi menentukan cara bekerja, membangun ekosistem, mengambil keputusan artistik, dan menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang justru sering kali baru dibaca industri setelah terbukti berhasil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan di sinilah konteks menjadi penting. Hindia dan Dongker, misalnya, tentu tidak begitu saja kita taruh dalam kotak yang sama dengan KOTAK atau D’Masiv hanya karena hari ini nama-nama tersebut bisa berada di luar struktur major label. Perbedaannya ada pada&nbsp;<strong>sejarah pembentukan, cara produksi, ekosistem, serta relasi mereka dengan industri</strong>. Jadi, kategori yang sama belum tentu menerangkan posisi yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi sekadar&nbsp;<strong>siapa yang benar-benar indie</strong>, tetapi&nbsp;<strong>kapan, bagaimana, dan untuk kepentingan apa kita memakai definisi indie?</strong>&nbsp;Di toko musik, festival, platform, atau katalog industri, ia bisa menjadi kategori produksi dan distribusi. Batasnya memang semakin cair, tetapi justru karena itu term&nbsp;<em>indie</em>&nbsp;belum tentu kehilangan kegunaannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gampangnya begini: ketika D’Masiv dan KOTAK berada di luar major label, bukankah kita sah-sah saja mengajukan pertanyaan berikutnya:&nbsp;<strong>lantas bagaimana dengan penawaran musikalnya, terutama gagasannya?</strong>&nbsp;Apakah musik yang mereka hasilkan masih sama dengan ketika major label berada di dalam struktur produksinya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka tentu tidak harus tiba-tiba menjadi Dongker yang membicarakan agama dan negara dalam&nbsp;<strong>padanan lirik yang melankolis</strong>, atau mendadak membicarakan kesehatan mental dari sisi yang lebih manusiawi dan rapuh seperti yang dilakukan Baskara Putra di Hindia. Di sini persoalannya ada pada kata&nbsp;<em>independent</em>&nbsp;itu sendiri: ketika independensi atas entitas musikal sudah berada di tanganmu,&nbsp;<strong>independensi itu membawamu ke arah mana?</strong>&nbsp;Apakah ia memberimu kemungkinan untuk menemukan bahasa musikalmu sendiri, bahkan mungkin menuntunmu pada penemuan jati diri yang sebelumnya tidak punya cukup ruang untuk muncul?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik inilah persoalannya menjadi lebih menarik.&nbsp;<em>Indie</em>&nbsp;tidak lagi berhenti sebagai penanda posisi dalam industri, tetapi membuka pertanyaan tentang&nbsp;<strong>apa yang dilakukan musisi dengan independensi yang dimilikinya</strong>. Sebab memperoleh independensi dan mengetahui apa yang hendak dilakukan dengan independensi itu adalah dua perkara yang berbeda. Kita hanya perlu tahu&nbsp;<strong>indie yang sedang kita bicarakan itu indie dalam pengertian apa</strong>.</p>



<div class="wp-block-group adu-related has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<p class="adu-related__label wp-block-paragraph">Baca Juga</p>



<div class="wp-block-query adu-related__query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="adu-related__list wp-block-post-template is-layout-flow wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-1807 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-music tag-adukabar tag-graha-wangi tag-kuningan tag-music tag-sekolah-musik tag-swara-music-school">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-08-03T20:47:38+07:00">3 August 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/08/03/swara-music-school-hadir-di-kuningan-buka-kelas-musik-teratur-dan-menyenangkan/" target="_blank" >Swara Music School Hadir di Kuningan, Buka Kelas Musik Teratur dan Menyenangkan</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-182 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-music tag-adukabar tag-budaya tag-kopi-hawwu tag-music tag-orkestra tag-seni-pertunjukan tag-tradisi tag-wihendar">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2025-03-28T21:29:39+07:00">28 March 2025</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2025/03/28/orkestra-sisi-lembur-harmoni-tradisi-dan-modernitas-budaya-melalui-musik/" target="_blank" >Orkestra Sisi Lembur: Harmoni Tradisi dan Modernitas Budaya melalui Musik</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-1283 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-music category-newrelease tag-alternative tag-bandung tag-music tag-newrelease tag-single tag-sleepover">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-07-13T10:03:31+07:00">13 July 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/07/13/sleepover-rilis-debut-maxi-single-leave-me-quiet-tension-tawarkan-warna-baru-musik-alternatif/" target="_blank" >Sleepover Rilis Debut Maxi-Single “Leave Me / Quiet Tension”, Tawarkan Warna Baru Musik Alternatif</a></h3>
</li></ul>

</div>



<style>
.adu-related{
  --maroon:#871338;
  --berry:#BC3862;
  --ink:#111111;
  --muted:#696969;
  --line:#DDDDDD;
  margin:clamp(34px,4.5vw,54px) 0;
  padding:20px 0 22px;
  border-top:1px solid var(--maroon);
  border-bottom:1px solid var(--maroon);
}

/* label kecil "Baca Juga" */
.adu-related__label{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:14px!important;font-weight:700;letter-spacing:.16em;text-transform:uppercase;
  color:var(--maroon);margin:0;display:flex;align-items:center;gap:10px;line-height:1;
}
.adu-related__label::before{
  content:"";width:22px;height:2px;background:var(--berry);flex:0 0 auto;
}

/* daftar */
.adu-related__list{list-style:none!important;margin:0!important;padding:0!important}
.adu-related__list > li{
  display:flex;flex-direction:column;margin:0;padding:0 0 2px;
  transition:padding-left .3s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover{padding-left:8px}

/* tanggal di kanan atas, sekaligus jadi garis pemisah */
.adu-related__date{
  order:1;width:100%;text-align:right;
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:11px;font-weight:700;letter-spacing:.14em;text-transform:uppercase;
  color:var(--muted);margin:0;padding:12px 0 9px;
  border-bottom:1px solid var(--line);
  transition:border-color .3s ease,color .3s ease;
}
.adu-related__list > li:first-child .adu-related__date{padding-top:4px}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__date{border-bottom-color:var(--maroon);color:var(--maroon)}

/* judul */
.adu-related__post-title{
  order:2;
  font-family:'Unbounded',system-ui,sans-serif;
  font-size:clamp(15px,1.6vw,17.5px)!important;font-weight:400;letter-spacing:0em;line-height:1.35;
  margin:13px 0 0;
}
.adu-related__post-title a{
  color:var(--ink);text-decoration:none;transition:color .25s ease;
  display:inline-flex;align-items:baseline;gap:8px;
}
.adu-related__post-title a::after{
  content:"\2197";font-family:system-ui,sans-serif;font-size:.8em;font-weight:400;
  color:var(--berry);opacity:0;transform:translate(-4px,3px);
  transition:opacity .28s ease,transform .28s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a{color:var(--maroon)}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a::after{opacity:1;transform:translate(0,0)}

.adu-related__empty{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;color:var(--muted);font-size:15px;margin:14px 0 0;
}

@media(max-width:520px){
  .adu-related__post-title{font-size:15px!important}
  .adu-related__list > li:hover{padding-left:0}
}
@media(prefers-reduced-motion:reduce){
  .adu-related *{transition-duration:.001ms!important}
}
</style>
</div>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--60">Catatan Kontekstual</h2>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pengalaman industri musik Indonesia pada masa ketika</em>&nbsp;major label&nbsp;<em>masih mendominasi memperlihatkan bagaimana struktur label tidak selalu menghasilkan ekosistem yang memungkinkan para musisinya tumbuh bersama. Mantan bassist /rif, Iwan Onez, misalnya, pernah menceritakan dalam podcast RuangkreasiTV bagaimana, menurut pengalamannya, posisi /rif tidak lagi memperoleh prioritas yang setara ketika Sheila on 7 sedang mengalami pertumbuhan komersial yang sangat besar, meskipun keduanya berada di bawah label yang sama.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Beberapa tahun kemudian, ketika momentum komersial Sheila on 7 mulai berubah, The Changcuters muncul sebagai salah satu nama yang mencuri perhatian publik. Jika dibaca sebagai bagian dari dinamika industri pada periode tersebut, pergeseran semacam ini setidaknya memperlihatkan bagaimana</em>&nbsp;<strong><em>pola prioritas industri dapat berpindah mengikuti momentum komersial</em></strong>:&nbsp;<em>artis yang sedang tumbuh, memperoleh perhatian publik, dan dinilai memiliki potensi pasar lebih besar dapat menjadi pusat perhatian baru bagi industri. Pada tahap ini, posisi</em>&nbsp;major label&nbsp;<em>kemudian layak dipertanyakan:</em>&nbsp;<strong><em>sejauh mana ia menjadi mitra bagi musisinya, dan sejauh mana ia bekerja dengan mengikuti momentum komersial yang sedang terbentuk?</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Persoalan tersebut tidak hanya dapat dibaca melalui bagaimana label menentukan prioritas terhadap artis-artisnya, tetapi juga melalui sejauh mana struktur industri dapat memengaruhi kemungkinan artistik seorang musisi. Dalam konteks lain,</em>&nbsp;<strong><em>berdasarkan cerita mengenai proses pembuatan “Kesepian Kita”</em></strong>,&nbsp;<em>PAS Band pernah berencana mengajak Vonny Cornelia dari Bening untuk mengisi vokal lagu tersebut, tetapi kolaborasi itu tidak terwujud. Bagian vokal perempuan akhirnya diisi oleh Tere, yang berada di bawah naungan label yang sama dengan PAS Band. Pengalaman semacam ini memperlihatkan bahwa</em>&nbsp;<strong><em>relasi musisi dengan label</em></strong>&nbsp;<em>pada masa tertentu bukan hanya menyangkut distribusi dan produksi, tetapi juga dapat ikut menentukan kemungkinan hubungan artistik seorang musisi.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Persoalan lain muncul ketika pola industri tersebut dibaca melalui kemiripan atau perubahan musikal antarband. Di wilayah ini, hubungan sebab-akibat perlu ditempatkan secara lebih hati-hati. Klaim dari sumber Instagram @melodi.alam bahwa Peterpan memengaruhi Five Minutes, misalnya, perlu ditinjau kembali berdasarkan</em>&nbsp;timeline&nbsp;<em>historisnya. Five Minutes telah terbentuk sejak 1994, jauh sebelum Peterpan muncul pada 2000, bahkan telah memiliki identitas yang sangat khas melalui penampilan mereka dengan sarung.</em></p>



<figure data-wp-context="{&quot;imageId&quot;:&quot;6a9795fa821b3&quot;}" data-wp-interactive="core/image" data-wp-key="6a9795fa821b3" class="wp-block-image aligncenter size-full has-custom-border wp-lightbox-container"><img loading="lazy" decoding="async" width="363" height="550" data-wp-class--hide="state.isContentHidden" data-wp-class--show="state.isContentVisible" data-wp-init="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--click="actions.showLightbox" data-wp-on--load="callbacks.setButtonStyles" data-wp-on--pointerdown="actions.preloadImage" data-wp-on--pointerenter="actions.preloadImageWithDelay" data-wp-on--pointerleave="actions.cancelPreload" data-wp-on-window--resize="callbacks.setButtonStyles" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-6.png" alt="" class="has-border-color has-custom-color-5-border-color wp-image-2226" style="border-width:1px;border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-6.png 363w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/image-6-198x300.png 198w" sizes="auto, (max-width: 363px) 100vw, 363px" /><button
			class="lightbox-trigger"
			type="button"
			aria-haspopup="dialog"
			data-wp-bind--aria-label="state.thisImage.triggerButtonAriaLabel"
			data-wp-init="callbacks.initTriggerButton"
			data-wp-on--click="actions.showLightbox"
			data-wp-style--right="state.thisImage.buttonRight"
			data-wp-style--top="state.thisImage.buttonTop"
		>
			<svg xmlns="http://www.w3.org/2000/svg" width="12" height="12" fill="none" viewBox="0 0 12 12">
				<path fill="#fff" d="M2 0a2 2 0 0 0-2 2v2h1.5V2a.5.5 0 0 1 .5-.5h2V0H2Zm2 10.5H2a.5.5 0 0 1-.5-.5V8H0v2a2 2 0 0 0 2 2h2v-1.5ZM8 12v-1.5h2a.5.5 0 0 0 .5-.5V8H12v2a2 2 0 0 1-2 2H8Zm2-12a2 2 0 0 1 2 2v2h-1.5V2a.5.5 0 0 0-.5-.5H8V0h2Z" />
			</svg>
		</button><figcaption class="wp-element-caption">sumber:<a href="https://www.facebook.com/mamacerdaas/posts/band-era-90an-yang-saat-awal-kemunculannya-identik-dengan-sarung-five-minutes-me/619180530460314/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">https://www.facebook.com/mamacerdaas/posts/band-era-90an-yang-saat-awal-kemunculannya-identik-dengan-sarung-five-minutes-me/619180530460314/</a></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Namun, jika yang dimaksud adalah Five Minutes pada era 2000-an, khususnya setelah Richie bergabung sebagai vokalis dan</em>&nbsp;Rockmantic&nbsp;<em>dirilis pada 2007, kemungkinan pembacaan tersebut menjadi lebih masuk akal. Pada periode itu Peterpan telah menjadi salah satu kekuatan dominan dalam pop-rock Indonesia, sehingga bukan tidak mungkin keberhasilan mereka turut membentuk formula yang kemudian dibaca oleh industri maupun menjadi salah satu rujukan bagi band-band yang melakukan reposisi musikal. Meski demikian,</em>&nbsp;<strong><em>hubungan pengaruh langsung antara Peterpan dan Five Minutes tetap membutuhkan sumber yang lebih kuat daripada sekadar kemiripan musikal.</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Karena itu, contoh-contoh tersebut tidak harus dibaca sebagai bukti bahwa industri sepenuhnya menentukan arah musikal para musisinya. Ia lebih berguna untuk memperlihatkan sebuah kecenderungan: bahwa ketika kepentingan artistik bertemu dengan struktur industri,</em>&nbsp;<strong><em>prioritas, akses terhadap kolaborasi, dan pembacaan terhadap formula yang sedang berhasil secara komersial dapat ikut membentuk ruang gerak seorang musisi.</em></strong></p>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:33.33%">
<figure class="wp-block-image size-full is-style-rounded"><img loading="lazy" decoding="async" width="836" height="836" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Foto-Gema-Ganeswara-e1768813351322.webp" alt="" class="wp-image-1080" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Foto-Gema-Ganeswara-e1768813351322.webp 836w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Foto-Gema-Ganeswara-e1768813351322-300x300.webp 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Foto-Gema-Ganeswara-e1768813351322-150x150.webp 150w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Foto-Gema-Ganeswara-e1768813351322-768x768.webp 768w" sizes="auto, (max-width: 836px) 100vw, 836px" /></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:66.66%">
<p class="wp-block-paragraph">Ditulis oleh:</p>



<p class="is-style-text-label is-style-text-label--61 wp-block-paragraph"><strong>Gema Ganeswara</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Gema Ganeswara (lahir di Kuningan, Indonesia) adalah fotografer dan penulis yang mengeksplorasi ingatan, tempat, dan pengalaman batin melalui proyek jangka panjang yang memadukan fotografi dan teks. Praktiknya berangkat dari lanskap keseharian, pengamatan, dan pengalaman personal untuk merefleksikan ruang, tubuh, identitas, rasa memiliki, serta cara manusia membangun hubungan dengan tempat dan komunitas. Sebagai penulis, ia mengembangkan esai personal yang menghubungkan autobiografi dengan fotografi, musik, film, budaya populer, dan kehidupan sehari-hari. Di luar praktik personalnya, ia menginisiasi Selasa Lengang, ruang komunitas informal yang mendorong keterlibatan perlahan dan dialog terbuka seputar fotografi. Ia tinggal dan bekerja di Kuningan, Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Instagram: <a href="https://instagram.com/gema_ganeswara" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@gema_ganeswara</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Medium: <a href="https://medium.com/@zealphoto.management" target="_blank" rel="noreferrer noopener">https://medium.com/@zealphoto.management</a></p>
</div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/08/17/memangnya-indie-itu-apa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2220</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Menelisik Fenomena Terobsesi Menjadi Diri Sendiri berdasarkan Pemikiran Derrida</title>
		<link>https://aduide.id/2026/08/14/menelisik-fenomena-terobsesi-menjadi-diri-sendiri-berdasarkan-pemikiran-derrida/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/08/14/menelisik-fenomena-terobsesi-menjadi-diri-sendiri-berdasarkan-pemikiran-derrida/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2026 01:38:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Tech]]></category>
		<category><![CDATA[Anzani Yuna Putri]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Media Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=2215</guid>

					<description><![CDATA[Di media sosial, menjadi diri sendiri seolah-olah telah menjadi sebuah kewajiban. Kita diminta untuk tampil jujur, apa adanya, dan tidak terlalu banyak memodifikasi kehidupan. Muncullah berbagai bentuk konten yang menjual gagasan tentang keaslian, seperti vlog tanpa filter, video “real life”, unggahan tanpa riasan, hingga aplikasi yang dirancang untuk memperlihatkan kehidupan pengguna secara lebih spontan. Namun, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Di media sosial, menjadi diri sendiri seolah-olah telah menjadi sebuah kewajiban. Kita diminta untuk tampil jujur, apa adanya, dan tidak terlalu banyak memodifikasi kehidupan. Muncullah berbagai bentuk konten yang menjual gagasan tentang keaslian, seperti vlog tanpa filter, video “<em>real life</em>”, unggahan tanpa riasan, hingga aplikasi yang dirancang untuk memperlihatkan kehidupan pengguna secara lebih spontan. Namun, semakin keras kita berusaha menunjukkan diri yang sebenarnya, semakin besar pula kemungkinan bahwa diri tersebut justru dibentuk oleh bagaimana orang lain melihatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Barangkali keaslian di media sosial tidak pernah benar-benar bebas dari penonton. Kita mungkin mengunggah foto tanpa filter karena ingin menunjukkan wajah “sebenarnya”, tetapi keputusan untuk mengunggah foto tersebut sudah mengandaikan keberadaan orang lain yang akan melihat. Kita mungkin membuat vlog tentang rutinitas sehari-hari dengan tujuan memperlihatkan kehidupan apa adanya, tetapi kehidupan tersebut tetap dipilih, direkam, disunting, dan kemudian dipublikasikan. Bahkan ketika seseorang berusaha untuk tidak melakukan performa, ia tetap melakukan performa tentang “tidak melakukan performa”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini dapat dilihat dari sudut pandang filsuf Prancis, Jacques Derrida, terutama melalui konsep <em>différance</em> dan kritiknya terhadap gagasan tentang kehadiran <em>(presence)</em>. Melalui perspektif tersebut, keaslian bukan sesuatu yang sepenuhnya hadir dan dapat ditampilkan secara utuh. Identitas justru terus terbentuk melalui relasi dengan tanda, bahasa, konteks, dan terutama dengan keberadaan orang lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--68">Keaslian yang Selalu Membutuhkan Penonton</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu daya tarik utama media sosial saat ini adalah munculnya konten yang mengeklaim lebih autentik dibandingkan konten yang dianggap terlalu sempurna. Konten tersebut sering dimaknai sebagai perlawanan terhadap citra ideal yang selama ini mendominasi media sosial. Namun, siapa yang menentukan apa yang disebut autentik?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika seseorang memilih menunjukkan <em>bareface</em>, kamar yang berantakan, atau kegagalan dalam belajar, ia memang sedang menunjukkan sesuatu yang sebelumnya mungkin disembunyikan. Namun, pilihan untuk menunjukkan bagian tersebut tetap merupakan keputusan. Ada sesuatu yang dipilih untuk ditampilkan dan ada sesuatu yang tetap tidak ditampilkan. Kehidupan yang hadir di layar bukanlah keseluruhan kehidupan seseorang, melainkan representasi yang telah melalui proses seleksi. Dengan demikian, persoalannya bukan apakah konten tersebut “asli” atau “palsu”. Yang lebih penting dari itu ialah memahami setiap bentuk representasi akan selalu melibatkan konstruksi. Seseorang dapat benar-benar merasa dirinya autentik ketika membuat sebuah unggahan. Pada kenyataannya, perasaan autentik tersebut tidak menghilangkan fakta bahwa identitasnya sedang disampaikan dan ditujukan kepada orang lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--69">Derrida dan Masalah Kehadiran</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pemikiran Derrida dapat membantu menjelaskan mengapa keaslian sulit dipisahkan dari representasi. Dalam tradisi filsafat Barat, terdapat kecenderungan untuk mengistimewakan sesuatu yang dianggap hadir secara langsung. Kehadiran sering dipandang lebih asli daripada representasi dan suara lebih dekat dengan makna daripada tulisan. Derrida mempertanyakan hierarki tersebut. Baginya, kita tidak pernah memperoleh makna dalam bentuk yang sepenuhnya hadir dan final. Makna selalu terbentuk melalui hubungan dengan tanda-tanda lain. Sebuah kata memperoleh maknanya bukan karena memiliki esensi yang berdiri sendiri, tetapi karena berbeda dari kata-kata lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gagasan ini berkaitan dengan <em>différance</em>, istilah Derrida yang menggabungkan gagasan tentang perbedaan dan penundaan. Makna muncul melalui perbedaan dengan sesuatu yang lain, tetapi pada saat yang sama makna tersebut tidak pernah sepenuhnya selesai. Ia terus bergeser bergantung pada konteks dan relasi dengan tanda lainnya. Jika gagasan ini diterapkan pada identitas, maka diri yang autentik juga tidak dapat dipahami sebagai sesuatu yang sudah selesai dan tinggal ditunjukkan kepada publik. Identitas tidak berada di dalam diri sebagai benda utuh yang kemudian kita lemparkan ke media sosial, tetapi terus dibentuk melalui hubungan kita dengan lingkungan, bahasa, pengalaman, norma sosial, dan orang lain. Dengan kata lain, kita tidak sekadar menunjukkan siapa diri kita kepada orang lain, melainkan ikut membentuk siapa diri kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--70">“Aku Apa Adanya” Tetap Merupakan Sebuah Pernyataan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kita seringkali menggunakan istilah seperti “ini aku yang sebenarnya”. Terdengar sederhana, tapi sebenarnya mengandung asumsi besar, seolah-olah terdapat satu diri asli yang sudah ada sebelumnya, stabil, dan dapat ditemukan jika seluruh kepalsuan berhasil disingkirkan. Masalahnya, dari mana kita mengetahui bahwa versi tertentu dari diri kita adalah versi yang paling asli?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seseorang bisa menjadi pendiam di rumah, sangat aktif bersama teman, profesional di tempat kerja, dan ekspresif di media sosial. Apakah salah satunya palsu? Belum tentu. Bisa jadi semuanya merupakan bagian dari identitas orang tersebut yang muncul dalam konteks berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Derrida tidak sekadar membalikkan oposisi asli-palsu dengan mengatakan bahwa yang palsu sebenarnya lebih benar. Ia menunjukkan bahwa oposisi tersebut tidak sesederhana yang kita bayangkan. Konsep palsu diperlukan agar dapat dikenali sebagai asli. Keduanya tidak berdiri secara independen. Begitu pula dengan identitas digital. Kita mengatakan sebuah unggahan autentik karena membandingkannya dengan unggahan yang dianggap terlalu dibuat-buat. Tanpa kategori palsu, kategori asli kehilangan sebagian besar maknanya. Maka, keaslian di media sosial bukanlah keadaan yang sepenuhnya bebas dari konstruksi.</p>



<div class="wp-block-group adu-related has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<p class="adu-related__label wp-block-paragraph">Baca Juga</p>



<div class="wp-block-query adu-related__query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="adu-related__list wp-block-post-template is-layout-flow wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-470 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-culture category-tech tag-aduopini tag-digital tag-kkn tag-mahasiswa tag-media-sosial">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2025-07-22T17:01:19+07:00">22 July 2025</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2025/07/22/kkn-di-lini-masa-publikasi-positif-atau-banalitas-semata/" target="_blank" >KKN di Lini Masa: Publikasi Positif atau Banalitas Semata?</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-223 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-culinary category-lifestyle tag-adukabar tag-erion tag-kuningan tag-space">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2025-04-07T20:15:21+07:00">7 April 2025</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2025/04/07/erion-hadir-di-kuningan-kawasan-kuliner-futuristik-dengan-sentuhan-showbiz/" target="_blank" >Erion: Kawasan Kuliner Futuristik dengan Sentuhan Showbiz Baru Saja Mengudara di Kuningan</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-2174 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-culture category-lifestyle tag-aduopini tag-messi tag-mochammad-zawaid-malja tag-ronaldo tag-sepak-bola">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-08-08T10:00:00+07:00">8 August 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/08/08/absurditas-perdebatan-soal-ronaldo-vs-messi-yang-tak-kunjung-usai/" target="_blank" >Absurditas Perdebatan Soal Ronaldo vs Messi yang Tak Kunjung Usai</a></h3>
</li></ul>

</div>



<style>
.adu-related{
  --maroon:#871338;
  --berry:#BC3862;
  --ink:#111111;
  --muted:#696969;
  --line:#DDDDDD;
  margin:clamp(34px,4.5vw,54px) 0;
  padding:20px 0 22px;
  border-top:1px solid var(--maroon);
  border-bottom:1px solid var(--maroon);
}

/* label kecil "Baca Juga" */
.adu-related__label{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:14px!important;font-weight:700;letter-spacing:.16em;text-transform:uppercase;
  color:var(--maroon);margin:0;display:flex;align-items:center;gap:10px;line-height:1;
}
.adu-related__label::before{
  content:"";width:22px;height:2px;background:var(--berry);flex:0 0 auto;
}

/* daftar */
.adu-related__list{list-style:none!important;margin:0!important;padding:0!important}
.adu-related__list > li{
  display:flex;flex-direction:column;margin:0;padding:0 0 2px;
  transition:padding-left .3s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover{padding-left:8px}

/* tanggal di kanan atas, sekaligus jadi garis pemisah */
.adu-related__date{
  order:1;width:100%;text-align:right;
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:11px;font-weight:700;letter-spacing:.14em;text-transform:uppercase;
  color:var(--muted);margin:0;padding:12px 0 9px;
  border-bottom:1px solid var(--line);
  transition:border-color .3s ease,color .3s ease;
}
.adu-related__list > li:first-child .adu-related__date{padding-top:4px}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__date{border-bottom-color:var(--maroon);color:var(--maroon)}

/* judul */
.adu-related__post-title{
  order:2;
  font-family:'Unbounded',system-ui,sans-serif;
  font-size:clamp(15px,1.6vw,17.5px)!important;font-weight:400;letter-spacing:0em;line-height:1.35;
  margin:13px 0 0;
}
.adu-related__post-title a{
  color:var(--ink);text-decoration:none;transition:color .25s ease;
  display:inline-flex;align-items:baseline;gap:8px;
}
.adu-related__post-title a::after{
  content:"\2197";font-family:system-ui,sans-serif;font-size:.8em;font-weight:400;
  color:var(--berry);opacity:0;transform:translate(-4px,3px);
  transition:opacity .28s ease,transform .28s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a{color:var(--maroon)}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a::after{opacity:1;transform:translate(0,0)}

.adu-related__empty{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;color:var(--muted);font-size:15px;margin:14px 0 0;
}

@media(max-width:520px){
  .adu-related__post-title{font-size:15px!important}
  .adu-related__list > li:hover{padding-left:0}
}
@media(prefers-reduced-motion:reduce){
  .adu-related *{transition-duration:.001ms!important}
}
</style>
</div>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--71">Ketika Keaslian Menjadi Konten</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dulu, media sosial sering dikritik karena membuat orang terlalu banyak memamerkan kehidupan sempurna. Sekarang, ketidaksempurnaan pun dapat menjadi estetika. Konten <em>“real life”</em> memang dapat membantu mengurangi tekanan untuk selalu terlihat sempurna. Melihat orang lain gagal, lelah, atau memiliki kehidupan yang tidak selalu menyenangkan dapat membuat pengalaman manusia terasa lebih normal. Akan tetapi, ketidaksempurnaan tersebut menjadi masalah ketika dijadikan standar baru yang harus diikuti agar dianggap autentik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semakin kita mengejar keaslian di media sosial, semakin identitas kita dapat bergantung pada pengakuan orang lain. Bukan berarti setiap orang yang menggunakan media sosial adalah palsu. Seseorang dapat benar-benar jujur ketika mengunggah sesuatu. Ia dapat benar-benar merasa nyaman menjadi dirinya sendiri. Namun, keaslian tersebut tidak pernah sepenuhnya terlepas dari relasi sosial. Begitu sesuatu dipublikasikan, hal tersebut memasuki ruang yang dihuni oleh penilaian orang lain. Kita tidak lagi memiliki kendali penuh atas maknanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Unggahan yang dimaksudkan sebagai bentuk kerentanan dapat dianggap mencari perhatian. Seperti yang dimaksud Derrida, makna tidak sepenuhnya berada di tangan pembuat tanda, tetapi terus mengalami pergeseran melalui konteks dan hubungan dengan tanda-tanda lain. Identitas digital pun mengalami hal yang sama. Kita dapat mengontrol apa yang kita unggah, tetapi tidak sepenuhnya mengontrol bagaimana diri kita dimaknai.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--72">Mungkin Kita Tidak Perlu Terlalu Terobsesi Menjadi “Diri Sendiri”</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika demikian, apakah kita harus berhenti menggunakan media sosial dan kembali menjalani kehidupan tanpa kamera? Itu akan menjadi solusi yang terlalu sederhana untuk masalah yang jauh lebih kompleks. Manusia sudah lama membentuk identitas melalui pandangan orang lain, bahkan jauh sebelum internet diciptakan. Bukan penggunaan media sosial yang perlu dipertanyakan, melainkan obsesi kita terhadap gagasan bahwa ada satu versi diri yang benar-benar autentik dan harus berhasil kita tampilkan kepada dunia. Mungkin diri manusia memang tidak pernah sepenuhnya selesai. Kita berubah ketika berada dalam lingkungan yang berbeda, bertemu orang yang berbeda, dan mengalami sesuatu yang berbeda. Identitas bukan benda yang tersimpan di dalam diri dan menunggu ditemukan, tetapi proses yang terus berlangsung. Karena itu, menjadi autentik mungkin tidak berarti menemukan “aku yang sebenarnya” lalu mempertahankannya selamanya. Keaslian justru dapat dipahami sebagai kemampuan untuk mengakui bahwa diri kita selalu berada dalam proses menjadi.</p>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:33.33%">
<figure class="wp-block-image size-full is-style-rounded"><img loading="lazy" decoding="async" width="740" height="740" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2530.avif" alt="" class="wp-image-1355" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2530.avif 740w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2530-300x300.avif 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2530-150x150.avif 150w" sizes="auto, (max-width: 740px) 100vw, 740px" /></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:66.66%">
<p class="wp-block-paragraph">Ditulis oleh:</p>



<p class="is-style-text-label is-style-text-label--73 wp-block-paragraph"><strong>Anzani Yuna Putri</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia yang tertarik pada isu perempuan, psikologi, dan filsafat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Instagram <a href="https://instagram.com/anzanaza_" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@anzanaza_</a></p>
</div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/08/14/menelisik-fenomena-terobsesi-menjadi-diri-sendiri-berdasarkan-pemikiran-derrida/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2215</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Memilih Tak Punya Anak: Perlawanan Paling Rasional di Tengah Neraka Kapitalisme</title>
		<link>https://aduide.id/2026/08/14/memilih-tak-punya-anak-perlawanan-paling-rasional-di-tengah-neraka-kapitalisme/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/08/14/memilih-tak-punya-anak-perlawanan-paling-rasional-di-tengah-neraka-kapitalisme/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2026 00:30:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Other]]></category>
		<category><![CDATA[Elvina Meivania Dewi]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Marxisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=2208</guid>

					<description><![CDATA[Pernahkah kalian bertanya-tanya, kenapa belakangan ini timeline media sosial kita penuh dengan perdebatan soal childfree atau keluhan menjadi sandwich generation? Kalau kalian pikir ini cuma tren gaya hidup anak muda yang makin egois dan kebarat-baratan, mari duduk sebentar. Kita perlu bicara soal realitas ekonomi yang sukses merenggut mimpi anak bangsa. Data menunjukkan Total Fertility Rate [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Pernahkah kalian bertanya-tanya, kenapa belakangan ini timeline media sosial kita penuh dengan perdebatan soal <em>childfree</em> atau keluhan menjadi <em>sandwich generation</em>? Kalau kalian pikir ini cuma tren gaya hidup anak muda yang makin egois dan kebarat-baratan, mari duduk sebentar. Kita perlu bicara soal realitas ekonomi yang sukses merenggut mimpi anak bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Data menunjukkan Total Fertility Rate (TFR) alias angka kelahiran di Indonesia terus merosot. Dari 5,61 di tahun 1970, diproyeksikan nyungsep ke angka 2,13 pada tahun 2025. Di daerah dengan tingkat biaya hidup dan urbanisasi tinggi seperti DKI Jakarta, angkanya bahkan lebih melorot lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kenapa bisa begitu? Jawabannya sederhana: hidup sudah terlalu mahal, dan kita sudah terlalu lelah menjadi sapi perah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karl Marx sejak berabad-abad lalu sebenarnya sudah wanti-wanti soal fenomena ini. Dalam sistem kapitalisme, komodifikasi adalah syarat mutlak. Kita-kita ini, kaum proletar yang tidak punya akses pada alat-alat produksi, pada akhirnya terpaksa menjual satu-satunya hal yang kita miliki: tenaga kita, baik fisik maupun kognitif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Coba lihat institusi perguruan tinggi yang katanya menjadi kawah candradimuka bagi masa depan bangsa. Nyatanya? Masih banyak kampus-kampus di Indonesia dan lingkungan sosial kita seringkali tak lebih dari sekadar mesin yang fungsinya menyesuaikan akumulasi modal pasar. Mereka berlomba-lomba mencetak &#8220;stok tenaga kerja siap pakai&#8221; yang spesifikasinya sudah diatur sedemikian rupa agar pas dengan selera industri para borjuis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah lulus dengan embel-embel <em>cum laude</em>, kita masuk ke pasar kerja dan disambut oleh realitas yang brutal: jumlah pengangguran melimpah ruah. Kelimpahan ini bukan kebetulan, melainkan sistem yang memfasilitasi borjuis untuk dengan mudah menentukan syarat kerja dan menekan upah. Posisi tawar kita hancur lebur. Prinsipnya cuma satu: &#8220;Kalau kamu nggak mau digaji murah, pintu keluar ada di sebelah sana. Masih banyak yang antre dan <em>siap digantikan</em>.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik inilah alienasi terjadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam proses produksi, kita dipaksa menelan penderitaan yang mengikat. Bekerja yang hakikatnya harusnya menjadi sarana aktualisasi diri, direduksi sekadar menjadi fungsi mekanis. Nilai tambah dari dedikasi mental dan fisik kita dirampas. Parahnya lagi, sistem ini memaksa sesama pekerja untuk saling sikut dan berkompetisi memperebutkan posisi kerja yang sangat terbatas. Alih-alih bersolidaritas, kita malah saling injak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Generasi ini sedang didera apa yang disebut sebagai <em>Learned Helplessness, </em>sebuah kondisi ketidakberdayaan yang dipelajari. Mengirim ratusan lamaran pekerjaan tapi berujung terjebak dalam pekerjaan berupah minimum memanifestasikan kepasrahan sosial (defisit motivasi). Kita jadi kesulitan menyadari adanya peluang positif karena persepsi kita sudah dikurung oleh ketidakberdayaan (defisit kognitif). Ujung-ujungnya, kita dihajar oleh defisit emosional: depresi, kecemasan kronis, apatisme, hingga tekanan stres yang berkepanjangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Celakanya, di tengah kondisi pekerja yang babak belur ini, negara minim sekali mengambil peran sebagai pengaman sosial. Beban biaya reproduksi sosial dilemparkan sepenuhnya ke pundak keluarga-keluarga miskin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hasilnya bisa ditebak. Anak seringkali tak lagi dilihat sebagai anugerah, melainkan ditransformasikan menjadi investasi ekonomi atau &#8220;dana pensiun berjalan&#8221; bagi orang tua. Lahirlah spesies pekerja yang paling menderita di muka bumi: <em>Sandwich Generation</em>. Mereka terjepit keharusan membiayai orang tua di atas, dan menghidupi diri sendiri (serta anak) di bawah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka, kembali ke data penurunan TFR di awal tadi. Keengganan anak muda untuk bereproduksi saat ini tidak lagi dilihat sebagai fenomena kultural semata, melainkan sebuah perlawanan reproduktif pasif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika biaya pengasuhan, layanan kesehatan, dan pendidikan anak sudah melambung jauh di luar jangkauan upah minimum, membawa generasi baru ke dunia ini dipandang sebagai bentuk penambahan mata rantai eksploitasi. Logikanya masuk akal: <em>&#8220;Buat apa saya melahirkan anak, kalau pada akhirnya dia cuma akan jadi stok siap pakai pabrik kapitalis yang sama?&#8221;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, apa solusinya? Apakah kita cuma bisa <em>healing</em>, <em>mindfulness</em>, atau ikut seminar motivasi?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu tidak. Menyelesaikan masalah struktural dengan solusi individual adalah sebuah kebodohan. Yang kita butuhkan adalah transformasi struktural.</p>



<div class="wp-block-group adu-related has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<p class="adu-related__label wp-block-paragraph">Baca Juga</p>



<div class="wp-block-query adu-related__query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="adu-related__list wp-block-post-template is-layout-flow wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-583 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-other tag-adukabar tag-ciawigebang tag-cidulang tag-kemerdekaan tag-kuningan tag-youth">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2025-08-19T14:38:12+07:00">19 August 2025</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2025/08/19/warga-dusun-manis-cidulang-meriahkan-hut-ri-ke-80-lewat-phbn-2025-bertema-fokus/" target="_blank" >Warga Dusun Manis Cidulang Meriahkan HUT RI ke-80 Lewat PHBN 2025 Bertema “FOKUS”</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-1388 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-other tag-aduopini tag-ayah tag-eksistensialisme tag-reyhatussyadiyah-budiman">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-08-03T10:53:39+07:00">3 August 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/08/03/ketika-pencipta-makna-hilang-apa-yang-terjadi/" target="_blank" >Ketika Pencipta Makna Hilang, Apa yang Terjadi?</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-2200 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-culture category-tech tag-aduopini tag-childhood-trauma tag-filsafat tag-identitas tag-kanya-rahma-tresnabudi tag-kesehatan-mental tag-self-diagnosis tag-teknologi">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-08-12T16:49:19+07:00">12 August 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/08/12/kenapa-banyak-anak-muda-sekarang-gemar-self-diagnosis-di-media-sosial/" target="_blank" >Kenapa Banyak Anak Muda Sekarang Gemar Self-Diagnosis di Media Sosial?</a></h3>
</li></ul>

</div>



<style>
.adu-related{
  --maroon:#871338;
  --berry:#BC3862;
  --ink:#111111;
  --muted:#696969;
  --line:#DDDDDD;
  margin:clamp(34px,4.5vw,54px) 0;
  padding:20px 0 22px;
  border-top:1px solid var(--maroon);
  border-bottom:1px solid var(--maroon);
}

/* label kecil "Baca Juga" */
.adu-related__label{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:14px!important;font-weight:700;letter-spacing:.16em;text-transform:uppercase;
  color:var(--maroon);margin:0;display:flex;align-items:center;gap:10px;line-height:1;
}
.adu-related__label::before{
  content:"";width:22px;height:2px;background:var(--berry);flex:0 0 auto;
}

/* daftar */
.adu-related__list{list-style:none!important;margin:0!important;padding:0!important}
.adu-related__list > li{
  display:flex;flex-direction:column;margin:0;padding:0 0 2px;
  transition:padding-left .3s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover{padding-left:8px}

/* tanggal di kanan atas, sekaligus jadi garis pemisah */
.adu-related__date{
  order:1;width:100%;text-align:right;
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:11px;font-weight:700;letter-spacing:.14em;text-transform:uppercase;
  color:var(--muted);margin:0;padding:12px 0 9px;
  border-bottom:1px solid var(--line);
  transition:border-color .3s ease,color .3s ease;
}
.adu-related__list > li:first-child .adu-related__date{padding-top:4px}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__date{border-bottom-color:var(--maroon);color:var(--maroon)}

/* judul */
.adu-related__post-title{
  order:2;
  font-family:'Unbounded',system-ui,sans-serif;
  font-size:clamp(15px,1.6vw,17.5px)!important;font-weight:400;letter-spacing:0em;line-height:1.35;
  margin:13px 0 0;
}
.adu-related__post-title a{
  color:var(--ink);text-decoration:none;transition:color .25s ease;
  display:inline-flex;align-items:baseline;gap:8px;
}
.adu-related__post-title a::after{
  content:"\2197";font-family:system-ui,sans-serif;font-size:.8em;font-weight:400;
  color:var(--berry);opacity:0;transform:translate(-4px,3px);
  transition:opacity .28s ease,transform .28s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a{color:var(--maroon)}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a::after{opacity:1;transform:translate(0,0)}

.adu-related__empty{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;color:var(--muted);font-size:15px;margin:14px 0 0;
}

@media(max-width:520px){
  .adu-related__post-title{font-size:15px!important}
  .adu-related__list > li:hover{padding-left:0}
}
@media(prefers-reduced-motion:reduce){
  .adu-related *{transition-duration:.001ms!important}
}
</style>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">Negara tidak boleh lagi lepas tangan. Negara harus berani menjamin penyediaan akses pendidikan tinggi, layanan kesehatan, hingga <em>public childcare</em> (penitipan anak) secara gratis. Sistem pensiun dan jaminan sosial bagi seluruh masyarakat harus diintegrasikan agar kutukan <em>sandwich generation</em> bisa diputus selama-lamanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sektor tenaga kerja, praktik kerja fleksibel yang eksploitatif harus dihapus, diganti dengan standar upah yang benar-benar layak, bukan sekadar &#8220;layak untuk tidak mati kelaparan&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan dari mana uang untuk membiayai semua itu. Terapkan instrumen perpajakan progresif atas aset, warisan, dan akumulasi kekayaan para segelintir elite kaya raya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama ketimpangan ekonomi ini terus dipelihara, mimpi anak bangsa akan terus dirampas, dikomodifikasi, dan diobral murah di pasar tenaga kerja. Dan selama itu pula, memilih untuk tidak melahirkan generasi pekerja baru adalah perlawanan yang paling logis.</p>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:33.33%">
<figure class="wp-block-image size-full is-style-rounded"><img loading="lazy" decoding="async" width="1113" height="1113" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Elvina-Meivania-Dewi.jpg" alt="Elvina Meivania Dewi" class="wp-image-2212" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Elvina-Meivania-Dewi.jpg 1113w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Elvina-Meivania-Dewi-300x300.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Elvina-Meivania-Dewi-1024x1024.jpg 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Elvina-Meivania-Dewi-150x150.jpg 150w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Elvina-Meivania-Dewi-768x768.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 1113px) 100vw, 1113px" /></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:66.66%">
<p class="wp-block-paragraph">Ditulis oleh:</p>



<p class="is-style-text-label is-style-text-label--75 wp-block-paragraph"><strong>Elvina Meivania Dewi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang gemar menulis tentang psikologi, pendidikan, filsafat, serta isu perkembangan anak dan remaja. Senang merangkai esai reflektif yang memadukan perspektif ilmiah dengan cerita-cerita sederhana dari kehidupan sehari-hari.  |  Instagram <a href="https://instagram.com/vinnmd_" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@vinnmd_</a></p>
</div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/08/14/memilih-tak-punya-anak-perlawanan-paling-rasional-di-tengah-neraka-kapitalisme/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2208</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Kenapa Banyak Anak Muda Sekarang Gemar Self-Diagnosis di Media Sosial?</title>
		<link>https://aduide.id/2026/08/12/kenapa-banyak-anak-muda-sekarang-gemar-self-diagnosis-di-media-sosial/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/08/12/kenapa-banyak-anak-muda-sekarang-gemar-self-diagnosis-di-media-sosial/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2026 09:49:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Tech]]></category>
		<category><![CDATA[Childhood Trauma]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Identitas]]></category>
		<category><![CDATA[Kanya Rahma Tresnabudi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan Mental]]></category>
		<category><![CDATA[Self-Diagnosis]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=2200</guid>

					<description><![CDATA[Pernahkah Anda sedang scroll media sosial di sela-sela kesibukan, lalu menemukan video singkat dengan tulisan tegas di bagian atasnya: “Ciri-ciri kamu punya ADHD yang tidak terdiagnosis: sering lupa menaruh kunci dan susah fokus saat membaca”? Di kolom komentar, ratusan hingga ribuan orang mendadak mengangguk setuju. “Wah, ini benar-benar menggambarkan diri saya!” tulis salah satu warganet. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Pernahkah Anda sedang <em>scroll</em> media sosial di sela-sela kesibukan, lalu menemukan video singkat dengan tulisan tegas di bagian atasnya: <em>“Ciri-ciri kamu punya ADHD yang tidak terdiagnosis: sering lupa menaruh kunci dan susah fokus saat membaca”</em>?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di kolom komentar, ratusan hingga ribuan orang mendadak mengangguk setuju. <em>“Wah, ini benar-benar menggambarkan diri saya!”</em> tulis salah satu warganet. Hanya dalam hitungan detik, seseorang melompat dari sekadar merasa tidak fokus menjadi individu yang meyakini dirinya memiliki kondisi <em>neurodivergent</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena <em>self-diagnosis</em> atau mendiagnosis kondisi mental diri sendiri melalui media sosial kini telah menjelma menjadi bagian dari tren budaya populer. Istilah-istilah klinis yang mulanya terbatas pada ruang praktisi kedokteran dan psikologi, seperti <em>Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder</em> (ADHD), gangguan <em>bipolar</em>, <em>obsessive-compulsive disorder</em> (OCD), hingga <em>childhood trauma</em>, kini diucapkan secara kasual dalam percakapan sehari-hari. Namun, di balik maraknya percakapan ini, muncul sebuah pertanyaan mendasar: Mengapa manusia modern seolah begitu haus akan label psikologis?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Platform digital masa kini dirancang dengan algoritma presisi yang bertugas menangkap perhatian serta memvalidasi emosi penggunanya. Ketika sebuah kuis singkat atau video yang muncul di <em>FYP</em> (<em>For You Page</em>) menyajikan daftar gejala yang sejatinya bersifat umum, otak manusia secara alami terjebak dalam <em>confirmation bias</em>. Ini adalah kecenderungan psikologis ketika seseorang hanya mengumpulkan dan mengingat fakta yang sesuai dengan prasangkanya, sembari mengabaikan bukti penting lain yang bertolak belakang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peristiwa sederhana seperti lupa menaruh kunci rumah, menunda pekerjaan, atau melamun di tengah rapat pada dasarnya bisa dialami oleh siapa saja yang sedang mengalami kelelahan fisik, stres kerja, atau terlalu banyak menerima stimulasi layar (<em>overstimulated</em>). Sayangnya, penyajian konten di media sosial kerap menyederhanakan kompleksitas diagnosis psikiatri menjadi sekadar daftar periksa (<em>checklist</em>) yang dangkal dan cepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sudut pandang psikologi, kebiasaan melabeli diri secara sembarangan menyimpan bahaya nyata (<em>self-diagnosis hazards</em>). Selain risiko salah mengidentifikasi kondisi medis yang sebenarnya, seperti menganggap gangguan tiroid sebagai serangan cemas, tindakan ini kerap memicu fenomena <em>self-fulfilling prophecy</em>. Seseorang yang telanjur meyakini dirinya &#8220;sakit&#8221; akan mulai bertindak, berpikir, dan membatasi diri sesuai dengan bayangan atas label tersebut. Pada akhirnya, kondisi emosional yang mulanya merupakan dinamika wajar justru berkembang menjadi gangguan yang memberatkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, fenomena ini tidak berhenti pada urusan literasi kesehatan mental semata. Ada pencarian identitas yang jauh lebih mendalam di tingkat psikologis maupun filosofis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehidupan masyarakat modern bergerak dengan tempo yang teramat cepat, dipenuhi tuntutan produktivitas serta paparan standar pencapaian yang tiada habisnya. Dalam kondisi seperti ini, tidak sedikit orang yang merasa terasing dari dirinya sendiri. Proses pencarian identitas (<em>identity seeking</em>) berubah menjadi perjuangan psikologis yang melelahkan. Di sinilah label medis hadir menawarkan sebuah jawaban instan yang menenangkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika seseorang merasa gagal, bingung, atau tidak mampu memenuhi ekspektasi lingkungan sekitarnya, label medis memberikan kerangka penjelasan yang rapi dan objektif. Mengakui <em>&#8220;Saya kurang disiplin dan sering menunda pekerjaan&#8221;</em> terasa mengancam harga diri serta mendatangkan rasa bersalah. Sebaliknya, menyatakan <em>&#8220;Saya memiliki ADHD&#8221;</em> memberikan penjelasan otomatis yang terdengar ilmiah dan teruji secara klinis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Label tersebut lantas ditransformasikan menjadi sebuah identitas baru. Ia bukan lagi sekadar nama bagi suatu kondisi medis, melainkan sebuah ruang bernaung tempat seseorang bisa menemukan komunitas sefrekuensi yang siap memberikan validasi tanpa syarat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengapa kita seolah harus menunggu restu dari bahasa psikiatri hanya untuk memvalidasi bahwa kita sedang merasa tidak baik-baik saja?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Filsuf asal Prancis, Michel Foucault, memberikan kacamata kritis untuk membedah persoalan ini melalui konsep <em>Power/Knowledge</em> (Kekuasaan/Pengetahuan) dan medikalisasi masyarakat. Foucault menyoroti bagaimana wacana medis dan psikiatri modern telah bertransformasi menjadi institusi kekuasaan baru. Institusi inilah yang memegang kendali penuh untuk menentukan garis batas antara apa yang dianggap &#8220;normal&#8221; dan &#8220;tidak normal&#8221; dalam diri manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam tatanan masyarakat modern, penderitaan emosional manusia seakan-akan tidak dianggap sah sebelum dibubuhi stempel ilmiah oleh bahasa medis. Kita secara tidak sadar terdidik untuk percaya bahwa rasa cemas, duka atas kehilangan, atau kegagalan personal baru layak diakui apabila memiliki istilah psikiatri yang menaunginya. Kita merasa membutuhkan label klinis agar rasa sakit yang kita rasakan diakui secara sosial. Padahal, tidak semua kepedihan hidup merupakan bentuk gangguan jiwa; sebagian besar di antaranya hanyalah bagian dari respons alamiah manusia dalam menghadapi kerumitan hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika ditinjau dari sudut pandang eksistensialisme Jean-Paul Sartre, ada dimensi lain yang perlu dicermati dari tren pemakaian label ini, yaitu suatu dimensi yang berhubungan dengan ketakutan manusia akan kebebasannya sendiri. Sartre memperkenalkan istilah <em>Bad Faith</em> (<em>mauvaise foi</em>), yaitu sebuah kondisi psikologis ketika seseorang menipu dirinya sendiri demi melarikan diri dari kebebasan dan tanggung jawab moral atas tindakan hidupnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menempelkan label psikologis pada diri sendiri tanpa melalui prosedur klinis yang sah kerap kali menjadi tameng yang teramat nyaman. Ketika seseorang berpegang pada kalimat, <em>&#8220;Saya kan memiliki trauma masa kecil, jadi wajar kalau saya bertindak toksik dalam hubungan ini,&#8221;</em> atau <em>&#8220;Saya ini bipolar, makanya saya tidak bisa mengontrol amarah,&#8221;</em> tanpa ada upaya nyata untuk berkonsultasi maupun menjalani terapi, ia sebenarnya tengah bersembunyi di balik istilah tersebut.</p>



<div class="wp-block-group adu-related has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<p class="adu-related__label wp-block-paragraph">Baca Juga</p>



<div class="wp-block-query adu-related__query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="adu-related__list wp-block-post-template is-layout-flow wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-1094 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-art-design category-tech tag-adukabar tag-fkom tag-kerja-praktik tag-kuningan tag-uniku">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-01-23T16:46:10+07:00">23 January 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/01/23/libatkan-77-mitra-industri-fkom-uniku-sukses-gelar-program-kerja-praktik/" target="_blank" >Libatkan 77 Mitra Industri, FKOM Uniku Sukses Gelar Program Kerja Praktik</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-205 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-art-design category-tech tag-aduopini tag-ai tag-artificial-intelligence tag-contribute tag-esai tag-gema-ganeswara tag-photography tag-tech">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2025-04-05T17:47:11+07:00">5 April 2025</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2025/04/05/ai-dan-pengalaman-manusia-pertanyaan-dan-refleksi/" target="_blank" >AI dan Pengalaman Manusia: Pertanyaan dan Refleksi</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-311 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-art-design category-culture tag-aduopini tag-branding tag-public-policy tag-tourism">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2025-07-02T17:02:35+07:00">2 July 2025</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2025/07/02/bagai-mengecat-dinding-yang-belum-kering-sebuah-catatan-penting-untuk-tourism-branding/" target="_blank" >Bagai Mengecat Dinding yang Belum Kering: Sebuah Catatan Penting untuk Tourism Branding</a></h3>
</li></ul>

</div>



<style>
.adu-related{
  --maroon:#871338;
  --berry:#BC3862;
  --ink:#111111;
  --muted:#696969;
  --line:#DDDDDD;
  margin:clamp(34px,4.5vw,54px) 0;
  padding:20px 0 22px;
  border-top:1px solid var(--maroon);
  border-bottom:1px solid var(--maroon);
}

/* label kecil "Baca Juga" */
.adu-related__label{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:14px!important;font-weight:700;letter-spacing:.16em;text-transform:uppercase;
  color:var(--maroon);margin:0;display:flex;align-items:center;gap:10px;line-height:1;
}
.adu-related__label::before{
  content:"";width:22px;height:2px;background:var(--berry);flex:0 0 auto;
}

/* daftar */
.adu-related__list{list-style:none!important;margin:0!important;padding:0!important}
.adu-related__list > li{
  display:flex;flex-direction:column;margin:0;padding:0 0 2px;
  transition:padding-left .3s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover{padding-left:8px}

/* tanggal di kanan atas, sekaligus jadi garis pemisah */
.adu-related__date{
  order:1;width:100%;text-align:right;
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:11px;font-weight:700;letter-spacing:.14em;text-transform:uppercase;
  color:var(--muted);margin:0;padding:12px 0 9px;
  border-bottom:1px solid var(--line);
  transition:border-color .3s ease,color .3s ease;
}
.adu-related__list > li:first-child .adu-related__date{padding-top:4px}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__date{border-bottom-color:var(--maroon);color:var(--maroon)}

/* judul */
.adu-related__post-title{
  order:2;
  font-family:'Unbounded',system-ui,sans-serif;
  font-size:clamp(15px,1.6vw,17.5px)!important;font-weight:400;letter-spacing:0em;line-height:1.35;
  margin:13px 0 0;
}
.adu-related__post-title a{
  color:var(--ink);text-decoration:none;transition:color .25s ease;
  display:inline-flex;align-items:baseline;gap:8px;
}
.adu-related__post-title a::after{
  content:"\2197";font-family:system-ui,sans-serif;font-size:.8em;font-weight:400;
  color:var(--berry);opacity:0;transform:translate(-4px,3px);
  transition:opacity .28s ease,transform .28s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a{color:var(--maroon)}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a::after{opacity:1;transform:translate(0,0)}

.adu-related__empty{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;color:var(--muted);font-size:15px;margin:14px 0 0;
}

@media(max-width:520px){
  .adu-related__post-title{font-size:15px!important}
  .adu-related__list > li:hover{padding-left:0}
}
@media(prefers-reduced-motion:reduce){
  .adu-related *{transition-duration:.001ms!important}
}
</style>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">Sartre menyengat kesadaran kita dengan sebuah peringatan keras: dengan menjadikan label psikologis sebagai <em>excuse</em> atau alasan atas segala kelemahan, kita sedang mereduksi diri kita menjadi sekadar &#8220;objek&#8221; pasif yang tidak berdaya. Kita menanggalkan posisi kita sebagai subjek merdeka yang memiliki kehendak bebas untuk berubah, membenahi kesalahan, dan bertanggung jawab penuh atas jalan hidup yang kita pilih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesehatan mental adalah urusan fundamental yang membutuhkan penanganan cermat dari ahli yang berwenang, bukan sekadar identitas digital yang dapat dipasang di profil media sosial demi mendapatkan simpati. Merasakan kecemasan, ketidakpastian, atau penurunan konsentrasi adalah pengalaman universal yang sangat valid untuk dirasakan oleh siapa saja, tanpa perlu tergesa-gesa dibungkus dengan terminologi klinis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apabila seseorang benar-benar merasakan adanya hambatan emosional yang mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari, langkah yang bijaksana bukanlah membagikan hasil kuis internet di ruang publik, melainkan membuat janji dan duduk di ruang konsultasi profesional bersama psikolog atau psikiater.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita tidak memerlukan stempel medis hanya untuk mengizinkan diri kita merasa lelah atau terluka. Dan yang terpenting, kita tidak boleh membiarkan sebuah istilah klinis mencabut kebebasan serta keberanian kita untuk terus tumbuh sebagai manusia yang bertanggung jawab.</p>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:33.33%">
<figure class="wp-block-image size-full is-style-rounded"><img loading="lazy" decoding="async" width="575" height="575" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Foto-Identitas-Penulis.jpeg" alt="" class="wp-image-2203" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Foto-Identitas-Penulis.jpeg 575w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Foto-Identitas-Penulis-300x300.jpeg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Foto-Identitas-Penulis-150x150.jpeg 150w" sizes="auto, (max-width: 575px) 100vw, 575px" /></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:66.66%">
<p class="wp-block-paragraph">Ditulis oleh:</p>



<p class="is-style-text-label is-style-text-label--77 wp-block-paragraph"><strong>Kanya Rahma Tresnabudi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang menaruh minat pada kajian perilaku sosial, isu kesehatan mental, dan refleksi filosofis atas fenomena masyarakat modern.  |  Instagram <a href="https://instagram.com/knyrhm" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@knyrhm</a></p>
</div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/08/12/kenapa-banyak-anak-muda-sekarang-gemar-self-diagnosis-di-media-sosial/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2200</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Siapa yang Menulis Aturan Main? Dialog antara Marx dan Baepsae Karya BTS</title>
		<link>https://aduide.id/2026/08/12/siapa-yang-menulis-aturan-main-dialog-antara-marx-dan-baepsae-karya-bts/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/08/12/siapa-yang-menulis-aturan-main-dialog-antara-marx-dan-baepsae-karya-bts/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2026 00:27:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Other]]></category>
		<category><![CDATA[BTS Baepsae]]></category>
		<category><![CDATA[Kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[Marxisme]]></category>
		<category><![CDATA[Privilege Kekuasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Zahra Vindy Griyanti]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=2193</guid>

					<description><![CDATA[Tewas mengenaskan di bawah amukan massa. Begitulah akhir dari hidup seorang ayah berinisial KD di Tabanan, Bali. Ia diduga mencuri ayam aduan milik seorang warga di desa. Warga yang emosi karena maraknya kasus pencurian ternak langsung mengejarnya dan menghajarnya hingga tak bernyawa. Tubuhnya dihantam bertubi-tubi dengan kayu dan batu, sepeda motornya dibakar hingga hangus, meninggalkan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--81">Tewas mengenaskan di bawah amukan massa.</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Begitulah akhir dari hidup seorang ayah berinisial KD di Tabanan, Bali. Ia diduga mencuri ayam aduan milik seorang warga di desa. Warga yang emosi karena maraknya kasus pencurian ternak langsung mengejarnya dan menghajarnya hingga tak bernyawa. Tubuhnya dihantam bertubi-tubi dengan kayu dan batu, sepeda motornya dibakar hingga hangus, meninggalkan tangis pilu bagi sang anak saat jasad ayahnya tiba di rumah duka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">KD memang bukan orang baik-baik. Ia merupakan residivis pencurian sejak tahun 2018. Tapi naasnya belum sempat sampai ke meja pengadilan, ia sudah tidak bisa memberikan pembelaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di bawah langit yang sama, hanya berselang beberapa pekan, seorang mantan pejabat hukum tinggi keluar dari gedung pemeriksaan rutan komisi antirasuah. Namanya Febrie Adriansyah, mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus. Di rumahnya, penyidik menemukan tumpukan uang asing dan emas batangan seberat 74 kilogram yang diperoleh secara tidak sah. Namun saat berjalan menuju mobil tahanan, tidak ada borgol yang mengikat tangannya. Tidak ada pula rompi oranye yang biasa disampirkan pada tubuh pencuri kelas teri. Ia melenggang bebas, tenang, bahkan sempat melemparkan senyum tipis ke arah kamera sebelum masuk ke mobil yang nyaman.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--82">Hukum kita rupanya bertekuk lutut di hadapan kaum borjuis.</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ketimpangan sosial yang menyayat hati ini menguak satu kenyataan pahit. Keadilan adalah komoditas mewah yang harus dibayar dengan nyawa oleh rakyat kecil, sedangkan penguasa cukup menebusnya dengan selembar jaminan kuasa. Kita sedang menyaksikan bekerjanya sebuah mesin perusak bernama ketidakadilan sistemik.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kondisi ini disindir dengan sangat tajam dalam lagu Baepsae milik kelompok musik Korea Selatan, BTS. Melalui liriknya, mereka membongkar bagaimana aturan main dibuat oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaan, sementara kelas pekerja dipaksa menaatinya bak mesin tanpa jiwa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Ah, hyo-do-ga a-nya nopolet / A, hak-gyo-do a-nya nopolet / Rul bakkwo change change / Hwangsae-deureun wonhae wonhae maintain&#8221; (Ah, ini bukan sekadar usaha / Ah, ini bukan tentang sekolah / Ubah aturannya, ubah / Para bangau ingin mempertahankan posisi mereka)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para bangau pemegang kekuasaan menetapkan aturan sedemikian rupa agar harta dan posisi mereka terlindungi, sambil terus membius kelas bawah dengan dongeng tentang kerja keras. Bualan ini sering diceritakan kepada generasi muda. Kita diminta percaya bahwa dunia ini adil, bahwa siapa pun yang bekerja keras akan memetik hasilnya di akhir nanti. Begitu akrabnya dongeng ini di telinga kita bahwa jika kamu miskin, salahkan dirimu sendiri yang kurang giat berusaha.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pandangan ini bersumber dari cara berpikir eksistensialisme klasik. Jean Paul Sartre menulis bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Menurutnya, eksistensi manusia mendahului esensinya. Manusia terlahir tanpa kerangka nasib, melalui kebebasan memilih, manusia membangun siapa dirinya sebenarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, marxisme datang membawa pukulan telak bagi idealisme yang mengawang tersebut. Menurut Karl Marx, kesadaran manusia tidak menentukan keadaan sosial mereka, melainkan keadaan sosial yang membentuk kesadaran mereka. Kebebasan memilih adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Realitasnya, kemiskinan struktural memenjara manusia bahkan sebelum mereka sempat melangkah. Anak yang lahir di keluarga miskin tidak bisa begitu saja memilih menjadi sukses jika seluruh akses pendidikan dan sumber daya dikuasai oleh segelintir elit. Aturan mainnya sudah dirancang untuk memenangkan pihak tertentu sejak awal.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gugatan terhadap sistem ini digaungkan oleh BTS dengan menggunakan metafora burung gelatik berkaki pendek bernama Baepsae. Di sisi lain, ada Hwangsae yaitu burung bangau berkaki panjang yang melangkah jauh tanpa perlu memeras tenaga. Pepatah lama di Korea memperingatkan bahwa jika burung berkaki kecil mengikuti langkah sang bangau, maka kakinya akan patah.</p>



<figure class="wp-block-image size-full has-custom-border"><img loading="lazy" decoding="async" width="850" height="666" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Baepsae.jpg" alt="Baepsae" class="wp-image-2196" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Baepsae.jpg 850w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Baepsae-300x235.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Baepsae-768x602.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption">© Ki Soo Lee via <a href="https://wanderers.tistory.com/351">https://wanderers.tistory.com/351</a></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;They call me a try-hard / Our generation has had it hard / Hurry, chase &#8217;em / Thanks to those that came before us, I&#8217;m spread too thin.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lirik ini secara gamblang menyindir generasi tua yang mewariskan tatanan ekonomi rusak, namun terus menuntut anak muda bekerja tanpa batas waktu dengan modal semangat semata. BTS menulis lagu ini bukan dari menara tinggi yang nyaman. Mereka merintis jalan dari titik paling bawah dalam industri hiburan Korea Selatan yang terkenal kejam. Mereka tumbuh bersama agensi kecil bernama Big Hit Entertainment yang kala itu nyaris bangkrut dan tertimbun utang. Pada masa awal debut, penampilan mereka sering dipotong di stasiun televisi, diremehkan oleh media besar, dan harus berbagi kamar tidur yang sempit. Pengalaman mereka sebagai pihak terpinggirkan membuat mereka berani menggugat monopoli elit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak muda saat ini dituduh sebagai generasi rapuh dan mudah menyerah. Mereka dipaksa berlari dalam kompetisi yang tidak masuk akal, memeras kesehatan mental mereka hingga titik nadir demi mencapai standar sukses yang ditentukan oleh kelas atas. Namun, sekeras apa pun gelatik kecil mencoba memanjangkan kakinya untuk menyamai langkah lebar sang bangau, ia tidak akan pernah bisa menyusul. Kakinya justru akan patah karena kelelahan fisik dan mental yang luar biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kkum-eul ppaetgyeogan chae hyeobakdanghae / Hwangsaedeul deoge nan dariga jjijeojyeo.&#8221; (Mimpi kita dirampas, kita diancam / Berkat para bangau, kedua kakiku robek).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita harus menolak narasi yang menyederhanakan masalah dengan dalih kurangnya usaha. Kegagalan bertahan di tengah melambungnya harga kebutuhan hidup, tingginya biaya pendidikan, dan sempitnya lapangan pekerjaan bukanlah kesalahan pribadi, melainkan kenyataan pahit dari struktur yang sengaja dipelihara agar roda kekuasaan terus berputar di atas keringat kelas pekerja.</p>



<div class="wp-block-group adu-related has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<p class="adu-related__label wp-block-paragraph">Baca Juga</p>



<div class="wp-block-query adu-related__query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="adu-related__list wp-block-post-template is-layout-flow wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-545 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-other tag-adukabar tag-jawa-barat tag-kuningan tag-lkbb tag-paskibra tag-sman-1-kadugede">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2025-08-11T14:23:39+07:00">11 August 2025</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2025/08/11/wakili-kuningan-paskibra-sman-1-kadugede-raih-prestasi-lkbb-di-tingkat-provinsi/" target="_blank" >Wakili Kuningan, Paskibra SMAN 1 Kadugede Raih Prestasi LKBB di Tingkat Provinsi</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-1306 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-culture tag-aduopini tag-gema-ganeswara tag-gender tag-lgbt tag-sosial-politik">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-07-16T11:25:13+07:00">16 July 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/07/16/dari-perlindungan-menuju-pengambilalihan-makna/" target="_blank" >Dari Perlindungan Menuju Pengambilalihan Makna</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-169 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-other tag-adukabar tag-mahasiswa tag-uu-tni">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2025-03-24T19:31:26+07:00">24 March 2025</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2025/03/24/revisi-uu-tni-digugat-mahasiswa-fh-ui-layangkan-permohonan-ke-mk/" target="_blank" >Revisi UU TNI Digugat! Mahasiswa FH UI Layangkan Permohonan ke MK</a></h3>
</li></ul>

</div>



<style>
.adu-related{
  --maroon:#871338;
  --berry:#BC3862;
  --ink:#111111;
  --muted:#696969;
  --line:#DDDDDD;
  margin:clamp(34px,4.5vw,54px) 0;
  padding:20px 0 22px;
  border-top:1px solid var(--maroon);
  border-bottom:1px solid var(--maroon);
}

/* label kecil "Baca Juga" */
.adu-related__label{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:14px!important;font-weight:700;letter-spacing:.16em;text-transform:uppercase;
  color:var(--maroon);margin:0;display:flex;align-items:center;gap:10px;line-height:1;
}
.adu-related__label::before{
  content:"";width:22px;height:2px;background:var(--berry);flex:0 0 auto;
}

/* daftar */
.adu-related__list{list-style:none!important;margin:0!important;padding:0!important}
.adu-related__list > li{
  display:flex;flex-direction:column;margin:0;padding:0 0 2px;
  transition:padding-left .3s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover{padding-left:8px}

/* tanggal di kanan atas, sekaligus jadi garis pemisah */
.adu-related__date{
  order:1;width:100%;text-align:right;
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:11px;font-weight:700;letter-spacing:.14em;text-transform:uppercase;
  color:var(--muted);margin:0;padding:12px 0 9px;
  border-bottom:1px solid var(--line);
  transition:border-color .3s ease,color .3s ease;
}
.adu-related__list > li:first-child .adu-related__date{padding-top:4px}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__date{border-bottom-color:var(--maroon);color:var(--maroon)}

/* judul */
.adu-related__post-title{
  order:2;
  font-family:'Unbounded',system-ui,sans-serif;
  font-size:clamp(15px,1.6vw,17.5px)!important;font-weight:400;letter-spacing:0em;line-height:1.35;
  margin:13px 0 0;
}
.adu-related__post-title a{
  color:var(--ink);text-decoration:none;transition:color .25s ease;
  display:inline-flex;align-items:baseline;gap:8px;
}
.adu-related__post-title a::after{
  content:"\2197";font-family:system-ui,sans-serif;font-size:.8em;font-weight:400;
  color:var(--berry);opacity:0;transform:translate(-4px,3px);
  transition:opacity .28s ease,transform .28s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a{color:var(--maroon)}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a::after{opacity:1;transform:translate(0,0)}

.adu-related__empty{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;color:var(--muted);font-size:15px;margin:14px 0 0;
}

@media(max-width:520px){
  .adu-related__post-title{font-size:15px!important}
  .adu-related__list > li:hover{padding-left:0}
}
@media(prefers-reduced-motion:reduce){
  .adu-related *{transition-duration:.001ms!important}
}
</style>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">BTS menunjukkan bahwa jalan keluar dari ketertindasan ini bukanlah dengan menyesali nasib secara pasif. Mereka menanamkan kesadaran baru bahwa perubahan sejati hanya bisa diupayakan ketika kita berhenti menghukum diri sendiri atas kerusakan yang dibuat oleh sistem. Gelatik memang seekor burung kecil berkaki pendek dan rapuh jika berdiri sendirian. Namun, jika ribuan gelatik ini mulai menyadari ketidakadilan yang mereka alami, mereka tidak perlu lagi membuang energi untuk mengejar jejak langkah sang bangau.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka bisa memilih untuk berkumpul, membangun solidaritas bersama, dan menuntut perubahan aturan main secara mendasar. Kehadiran kita di dunia bukanlah sekadar pelengkap penderitaan demi menjaga kenyamanan kaum atas. Sekarang adalah waktu untuk berhenti menyalahkan diri sendiri di dalam sistem yang timpang. Mari runtuhkan struktur yang tidak memanusiakan kita agar keadilan utuh dapat dinikmati oleh setiap kelas sosial.</p>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:33.33%">
<figure class="wp-block-image size-full is-style-rounded"><img loading="lazy" decoding="async" width="720" height="720" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Zahra-Vindy-Griyanti-1.jpg" alt="" class="wp-image-2198" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Zahra-Vindy-Griyanti-1.jpg 720w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Zahra-Vindy-Griyanti-1-300x300.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Zahra-Vindy-Griyanti-1-150x150.jpg 150w" sizes="auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px" /></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:66.66%">
<p class="wp-block-paragraph">Ditulis oleh:</p>



<p class="is-style-text-label is-style-text-label--83 wp-block-paragraph"><strong>Zahra Vindy Griyanti</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia yang tertarik dengan isu sosial dan budaya.<br>Instagram: <a href="https://instagram.com/zhravndyy_" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@zhravndyy_</a></p>
</div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/08/12/siapa-yang-menulis-aturan-main-dialog-antara-marx-dan-baepsae-karya-bts/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2193</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
