Search Button — Aduide Media
,

Ketika Pencipta Makna Hilang, Apa yang Terjadi?

Ayah dan anak berpegangan tangan menyaksikan matahari terbenam di atas lautan.

“Peran ayah itu ternyata penting banget ya untuk perkembangan anak” tulis orang-orang di media sosial saat terdapat konten yang menyoroti hubungan ayah dan anak.

Tidak dapat kita sangkal bahwa peran orang tua, terutama ayah memang sangat berpengaruh untuk proses tumbuh kembang anak. Orang tua akan selalu ada untuk anaknya, selalu mendukung anaknya, dan memastikan anaknya tumbuh dengan baik. Lalu, bagaimana dengan anak yang orang tuanya bercerai? Apakah tidak adanya peran ayah akan memengaruhi kepribadian atau proses tumbuh kembang anak?

Ayah memegang peran krusial dalam pemberian bimbingan kepada anaknya. Ayah yang ikut serta dalam kehidupan pendidikan dan sosial anak akan meningkatkan kemampuan anak dalam bersosialisasi dengan teman sebayanya. Selain itu, peran ayah pun terbukti mendorong anak untuk memiliki prestasi yang lebih baik dan membuat anak dapat beradaptasi dengan mudah lingkungan sekitarnya.

Ayah dan anak berpegangan tangan menyaksikan matahari terbenam di atas lautan.
Foto oleh Thilina Alagiyawanna di Unsplash

Kehadiran dan keterlibatan ayah dapat membantu anak perempuan untuk mengembangkan kemampuan emosional, meningkatkan hubungan sosial, dan membentuk dasar yang kuat untuk perkembangan psikologisnya. Ayah yang senantiasa hadir dalam kehidupan anak perempuan membawa dampak yang sangat positif pada setiap aspek perkembangannya. Namun, bagaimana jadinya jika sosok ayah hilang dari hidup anak karena perceraian?

Perceraian seringkali dianggap hanya sebagai putusnya ikatan perkawinan kedua orang tua, namun nyatanya lebih jauh dari itu, perceraian yang dialami oleh orang tua membawa perubahan terhadap struktur dan juga relasi dalam keluarga. Kondisi setelah perceraian menuntut anak untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya agar dapat beradaptasi dengan berbagai situasi setelah perceraian. 

Peristiwa perceraian orang tua membawa guncangan yang besar terhadap kondisi kehidupan dan psikologis anak. Kita dapat melihat kondisi anak akibat perceraian melalui kacamata Friedrich Nietzsche mengenai konsep God is Dead atau Kematian Tuhan dan kacamata Jean Paul Sartre mengenai konsep Kebebasan dan Angst atau kecemasan eksistensial.

Menurut Nietzsche, kematian Tuhan memiliki arti bahwa manusia tidak lagi memiliki titik acuan absolut yang selama ini menjadi dasar moral, makna, dan juga kepastian hidup. Tanpa Tuhan sebagai pusat, manusia akan kehilangan makna dan arah hidupnya.

Dalam kehidupan anak, orang tua merupakan “Tuhan-Tuhan kecil” yang membuat peraturan, makna dalam hidup, dan pencipta nilai moral dalam kehidupan mereka. Ketika perceraian terjadi, anak akan merasa bahwa “Tuhan-Tuhan kecil” mereka sudah hilang. Anak menjadi kehilangan “pegangan” atau pencipta makna dan arah dalam menjalani hidup.

Ketiadaan sosok “Tuhan-Tuhan kecil” atau orang tua dalam hidup anak dapat membuat diri anak berada dalam “kebebasan”, namun kebebasan di sini bukanlah kebebasan yang membuat anak merasa nyaman, melainkan kebebasan yang membuat anak merasa cemas.

Salah satu tokoh Eksistensialisme, yaitu Jean Paul Sartre mengungkapkan konsep kebebasan, tanggung jawab dan angst atau kecemasan eksistensial. Bagi Sartre, konsep kebebasan dalam eksistensialisme adalah ketika manusia diberikan kekuasaan penuh untuk menentukan pilihan dan menciptakan nilai hidupnya sendiri. Akan tetapi, di lain sisi manusia harus bertanggung jawab penuh atas apa yang sudah Ia pilih dan perbuat. Tanggung jawab tersebut kerap memicu kecemasan atau “anguish”.

Ketika anak kehilangan “Tuhan-Tuhan kecil” yang menjadi pencipta makna dan arah hidupnya, anak tidak tau Ia harus melakukan apa, karena sosok yang dapat membimbingnya sudah hilang. Anak menjadi sadar bahwa saat ini Ia memiliki tanggung jawab penuh atas hidupnya sendiri, Ia harus bertanggung jawab atas segala keputusan yang akan Ia pilih. Tanggung jawab yang mau tidak mau harus dipikul sendiri melahirkan angst pada diri anak.

Dalam realitas kehidupan, anak yang tumbuh tanpa sosok ayah yang menemaninya akan menjadi anak yang cemas dan tidak tau harus berbuat apa. Anak akan mudah untuk merasa bahwa diri dan hidupnya tidak berarti. Kecemasan anak atas ketiadaan sosok ayah muncul lewat pertanyaan apakah Ia akan mendapatkan hidup bahagia seperti anak lain yang memiliki sosok ayah dalam hidupnya? Apakah Ia tetap bisa menjalani hidup dengan baik walaupun tidak ada sosok ayah yang mendampingi? Apakah Ia bisa bertahan di dunia ini tanpa sosok ayah? Apakah Ia akan berhasil walaupun sosok ayah jarang atau bahkan tidak pernah hadir dalam hidupnya?.

Hilangnya sosok ayah membuat anak menjadi kehilangan arah, anak tidak akan tahu harus mengarahkan hidup mereka ke arah mana jika tidak ada “Tuhan kecil” yang membantu mengatur jalan untuk hidup mereka. Akan ada banyak sekali pertanyaan yang timbul atas ketiadaan sosok ayah tersebut. Akan ada banyak sekali keraguan untuk bertindak dalam diri anak karena ketiadaan sosok ayah tersebut.

Dunia anak yang dulunya baik-baik saja menjadi hancur sedikit demi sedikit di saat Ia sudah mengerti bahwa “Tuhan-Tuhan kecil” yang memberikan makna dan arah dalam hidupnya sudah hilang. Anak harus mencari dan menentukan arah hidupnya sendiri di tengah kegelapan tanpa adanya “Tuhan-Tuhan kecil” yang menjadi pegangan anak dalam menjalani hidup.

Pada akhirnya kehilangan sosok ayah dalam kehidupan bukan hanya mengenai hilangnya fisik seorang ayah, tetapi juga merupakan kehilangan anak tentang makna, rasa kasih sayang, kepercayaan diri, rasa aman dalam hidup, keutuhan dalam hidup, serta arah dan juga keyakinan akan masa depan.

Referensi

Erika, N. & Putri, E. I. E. (2026). Gambaran Persepsi Pernikahan pada Perempuan Dewasa Awal yang Kehilangan Peran Ayah. Character: Jurnal Penelitian Psikologi. 13(2),(630-632). https://doi.org/10.26740/cjpp.v13n02.p629-646 

Fitria, F. N. (2026). Eksistensialisme Jean-Paul Sartre Dalam Pencarian Kebebasan Dan Makna Hidup Tokoh Harper Simmons Pada Novel Scars And Other Beautiful Things Karya Winna Efendi. Jurnal Yaqzhan: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan. http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/yaqzhan/index

Hasanah, U. (2020). Pengaruh perceraian orangtua bagi psikologis anak. Agenda: Jurnal Analisis Gender dan Agama, 2(1), 18-24. https://doi.org/10.31958/agenda.v2i1.1983

Muchtar, A., Tiftajani, M. Z., & Awantoro, A. G. (2026). Kematian Tuhan dalam Posmodernisme Barat: Studi Kritik Perspektif Ontologi Filsafat Islam: The Death of God in Western Postmodernism: A Critical Study from the Ontological Perspective of Islamic Philosophy. Journal of Islamic and Occidental Studies, 4(1), 24-44. https://doi.org/10.21111/jios.v4i1.93


Ditulis oleh:

Reyhatussya’diyah Budiman (ehtuia)

Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia, aktif dalam perkuliahan dan aktif mengikuti kegiatan “Teras Psikologi Sastra” yang berada dalam naungan Program Studi Psikologi.



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


NewRelease

FeaturedPiece

Kenalin