Search Button — Aduide Media
, ,

Kenapa Banyak Anak Muda Sekarang Gemar Self-Diagnosis di Media Sosial?

Foto Pendukung - Self Diagnosis

Pernahkah Anda sedang scroll media sosial di sela-sela kesibukan, lalu menemukan video singkat dengan tulisan tegas di bagian atasnya: “Ciri-ciri kamu punya ADHD yang tidak terdiagnosis: sering lupa menaruh kunci dan susah fokus saat membaca”?

Di kolom komentar, ratusan hingga ribuan orang mendadak mengangguk setuju. “Wah, ini benar-benar menggambarkan diri saya!” tulis salah satu warganet. Hanya dalam hitungan detik, seseorang melompat dari sekadar merasa tidak fokus menjadi individu yang meyakini dirinya memiliki kondisi neurodivergent.

Fenomena self-diagnosis atau mendiagnosis kondisi mental diri sendiri melalui media sosial kini telah menjelma menjadi bagian dari tren budaya populer. Istilah-istilah klinis yang mulanya terbatas pada ruang praktisi kedokteran dan psikologi, seperti Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD), gangguan bipolar, obsessive-compulsive disorder (OCD), hingga childhood trauma, kini diucapkan secara kasual dalam percakapan sehari-hari. Namun, di balik maraknya percakapan ini, muncul sebuah pertanyaan mendasar: Mengapa manusia modern seolah begitu haus akan label psikologis?

Platform digital masa kini dirancang dengan algoritma presisi yang bertugas menangkap perhatian serta memvalidasi emosi penggunanya. Ketika sebuah kuis singkat atau video yang muncul di FYP (For You Page) menyajikan daftar gejala yang sejatinya bersifat umum, otak manusia secara alami terjebak dalam confirmation bias. Ini adalah kecenderungan psikologis ketika seseorang hanya mengumpulkan dan mengingat fakta yang sesuai dengan prasangkanya, sembari mengabaikan bukti penting lain yang bertolak belakang.

Peristiwa sederhana seperti lupa menaruh kunci rumah, menunda pekerjaan, atau melamun di tengah rapat pada dasarnya bisa dialami oleh siapa saja yang sedang mengalami kelelahan fisik, stres kerja, atau terlalu banyak menerima stimulasi layar (overstimulated). Sayangnya, penyajian konten di media sosial kerap menyederhanakan kompleksitas diagnosis psikiatri menjadi sekadar daftar periksa (checklist) yang dangkal dan cepat.

Dari sudut pandang psikologi, kebiasaan melabeli diri secara sembarangan menyimpan bahaya nyata (self-diagnosis hazards). Selain risiko salah mengidentifikasi kondisi medis yang sebenarnya, seperti menganggap gangguan tiroid sebagai serangan cemas, tindakan ini kerap memicu fenomena self-fulfilling prophecy. Seseorang yang telanjur meyakini dirinya “sakit” akan mulai bertindak, berpikir, dan membatasi diri sesuai dengan bayangan atas label tersebut. Pada akhirnya, kondisi emosional yang mulanya merupakan dinamika wajar justru berkembang menjadi gangguan yang memberatkan.

Akan tetapi, fenomena ini tidak berhenti pada urusan literasi kesehatan mental semata. Ada pencarian identitas yang jauh lebih mendalam di tingkat psikologis maupun filosofis.

Kehidupan masyarakat modern bergerak dengan tempo yang teramat cepat, dipenuhi tuntutan produktivitas serta paparan standar pencapaian yang tiada habisnya. Dalam kondisi seperti ini, tidak sedikit orang yang merasa terasing dari dirinya sendiri. Proses pencarian identitas (identity seeking) berubah menjadi perjuangan psikologis yang melelahkan. Di sinilah label medis hadir menawarkan sebuah jawaban instan yang menenangkan.

Ketika seseorang merasa gagal, bingung, atau tidak mampu memenuhi ekspektasi lingkungan sekitarnya, label medis memberikan kerangka penjelasan yang rapi dan objektif. Mengakui “Saya kurang disiplin dan sering menunda pekerjaan” terasa mengancam harga diri serta mendatangkan rasa bersalah. Sebaliknya, menyatakan “Saya memiliki ADHD” memberikan penjelasan otomatis yang terdengar ilmiah dan teruji secara klinis.

Label tersebut lantas ditransformasikan menjadi sebuah identitas baru. Ia bukan lagi sekadar nama bagi suatu kondisi medis, melainkan sebuah ruang bernaung tempat seseorang bisa menemukan komunitas sefrekuensi yang siap memberikan validasi tanpa syarat.

Mengapa kita seolah harus menunggu restu dari bahasa psikiatri hanya untuk memvalidasi bahwa kita sedang merasa tidak baik-baik saja?

Filsuf asal Prancis, Michel Foucault, memberikan kacamata kritis untuk membedah persoalan ini melalui konsep Power/Knowledge (Kekuasaan/Pengetahuan) dan medikalisasi masyarakat. Foucault menyoroti bagaimana wacana medis dan psikiatri modern telah bertransformasi menjadi institusi kekuasaan baru. Institusi inilah yang memegang kendali penuh untuk menentukan garis batas antara apa yang dianggap “normal” dan “tidak normal” dalam diri manusia.

Dalam tatanan masyarakat modern, penderitaan emosional manusia seakan-akan tidak dianggap sah sebelum dibubuhi stempel ilmiah oleh bahasa medis. Kita secara tidak sadar terdidik untuk percaya bahwa rasa cemas, duka atas kehilangan, atau kegagalan personal baru layak diakui apabila memiliki istilah psikiatri yang menaunginya. Kita merasa membutuhkan label klinis agar rasa sakit yang kita rasakan diakui secara sosial. Padahal, tidak semua kepedihan hidup merupakan bentuk gangguan jiwa; sebagian besar di antaranya hanyalah bagian dari respons alamiah manusia dalam menghadapi kerumitan hidup.

Jika ditinjau dari sudut pandang eksistensialisme Jean-Paul Sartre, ada dimensi lain yang perlu dicermati dari tren pemakaian label ini, yaitu suatu dimensi yang berhubungan dengan ketakutan manusia akan kebebasannya sendiri. Sartre memperkenalkan istilah Bad Faith (mauvaise foi), yaitu sebuah kondisi psikologis ketika seseorang menipu dirinya sendiri demi melarikan diri dari kebebasan dan tanggung jawab moral atas tindakan hidupnya.

Menempelkan label psikologis pada diri sendiri tanpa melalui prosedur klinis yang sah kerap kali menjadi tameng yang teramat nyaman. Ketika seseorang berpegang pada kalimat, “Saya kan memiliki trauma masa kecil, jadi wajar kalau saya bertindak toksik dalam hubungan ini,” atau “Saya ini bipolar, makanya saya tidak bisa mengontrol amarah,” tanpa ada upaya nyata untuk berkonsultasi maupun menjalani terapi, ia sebenarnya tengah bersembunyi di balik istilah tersebut.

Sartre menyengat kesadaran kita dengan sebuah peringatan keras: dengan menjadikan label psikologis sebagai excuse atau alasan atas segala kelemahan, kita sedang mereduksi diri kita menjadi sekadar “objek” pasif yang tidak berdaya. Kita menanggalkan posisi kita sebagai subjek merdeka yang memiliki kehendak bebas untuk berubah, membenahi kesalahan, dan bertanggung jawab penuh atas jalan hidup yang kita pilih.

Kesehatan mental adalah urusan fundamental yang membutuhkan penanganan cermat dari ahli yang berwenang, bukan sekadar identitas digital yang dapat dipasang di profil media sosial demi mendapatkan simpati. Merasakan kecemasan, ketidakpastian, atau penurunan konsentrasi adalah pengalaman universal yang sangat valid untuk dirasakan oleh siapa saja, tanpa perlu tergesa-gesa dibungkus dengan terminologi klinis.

Apabila seseorang benar-benar merasakan adanya hambatan emosional yang mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari, langkah yang bijaksana bukanlah membagikan hasil kuis internet di ruang publik, melainkan membuat janji dan duduk di ruang konsultasi profesional bersama psikolog atau psikiater.

Kita tidak memerlukan stempel medis hanya untuk mengizinkan diri kita merasa lelah atau terluka. Dan yang terpenting, kita tidak boleh membiarkan sebuah istilah klinis mencabut kebebasan serta keberanian kita untuk terus tumbuh sebagai manusia yang bertanggung jawab.


Ditulis oleh:

Kanya Rahma Tresnabudi

Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang menaruh minat pada kajian perilaku sosial, isu kesehatan mental, dan refleksi filosofis atas fenomena masyarakat modern. | Instagram @knyrhm



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


NewRelease

FeaturedPiece

Kenalin