Search Button — Aduide Media
, ,

Siapa yang Menulis Aturan Main? Dialog antara Marx dan Baepsae Karya BTS

Tewas mengenaskan di bawah amukan massa.

Begitulah akhir dari hidup seorang ayah berinisial KD di Tabanan, Bali. Ia diduga mencuri ayam aduan milik seorang warga di desa. Warga yang emosi karena maraknya kasus pencurian ternak langsung mengejarnya dan menghajarnya hingga tak bernyawa. Tubuhnya dihantam bertubi-tubi dengan kayu dan batu, sepeda motornya dibakar hingga hangus, meninggalkan tangis pilu bagi sang anak saat jasad ayahnya tiba di rumah duka.

KD memang bukan orang baik-baik. Ia merupakan residivis pencurian sejak tahun 2018. Tapi naasnya belum sempat sampai ke meja pengadilan, ia sudah tidak bisa memberikan pembelaan.

Di bawah langit yang sama, hanya berselang beberapa pekan, seorang mantan pejabat hukum tinggi keluar dari gedung pemeriksaan rutan komisi antirasuah. Namanya Febrie Adriansyah, mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus. Di rumahnya, penyidik menemukan tumpukan uang asing dan emas batangan seberat 74 kilogram yang diperoleh secara tidak sah. Namun saat berjalan menuju mobil tahanan, tidak ada borgol yang mengikat tangannya. Tidak ada pula rompi oranye yang biasa disampirkan pada tubuh pencuri kelas teri. Ia melenggang bebas, tenang, bahkan sempat melemparkan senyum tipis ke arah kamera sebelum masuk ke mobil yang nyaman.

Hukum kita rupanya bertekuk lutut di hadapan kaum borjuis.

Ketimpangan sosial yang menyayat hati ini menguak satu kenyataan pahit. Keadilan adalah komoditas mewah yang harus dibayar dengan nyawa oleh rakyat kecil, sedangkan penguasa cukup menebusnya dengan selembar jaminan kuasa. Kita sedang menyaksikan bekerjanya sebuah mesin perusak bernama ketidakadilan sistemik. 

Kondisi ini disindir dengan sangat tajam dalam lagu Baepsae milik kelompok musik Korea Selatan, BTS. Melalui liriknya, mereka membongkar bagaimana aturan main dibuat oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaan, sementara kelas pekerja dipaksa menaatinya bak mesin tanpa jiwa.

“Ah, hyo-do-ga a-nya nopolet / A, hak-gyo-do a-nya nopolet / Rul bakkwo change change / Hwangsae-deureun wonhae wonhae maintain” (Ah, ini bukan sekadar usaha / Ah, ini bukan tentang sekolah / Ubah aturannya, ubah / Para bangau ingin mempertahankan posisi mereka)

Para bangau pemegang kekuasaan menetapkan aturan sedemikian rupa agar harta dan posisi mereka terlindungi, sambil terus membius kelas bawah dengan dongeng tentang kerja keras. Bualan ini sering diceritakan kepada generasi muda. Kita diminta percaya bahwa dunia ini adil, bahwa siapa pun yang bekerja keras akan memetik hasilnya di akhir nanti. Begitu akrabnya dongeng ini di telinga kita bahwa jika kamu miskin, salahkan dirimu sendiri yang kurang giat berusaha.

Pandangan ini bersumber dari cara berpikir eksistensialisme klasik. Jean Paul Sartre menulis bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Menurutnya, eksistensi manusia mendahului esensinya. Manusia terlahir tanpa kerangka nasib, melalui kebebasan memilih, manusia membangun siapa dirinya sebenarnya.

Namun, marxisme datang membawa pukulan telak bagi idealisme yang mengawang tersebut. Menurut Karl Marx, kesadaran manusia tidak menentukan keadaan sosial mereka, melainkan keadaan sosial yang membentuk kesadaran mereka. Kebebasan memilih adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi. 

Realitasnya, kemiskinan struktural memenjara manusia bahkan sebelum mereka sempat melangkah. Anak yang lahir di keluarga miskin tidak bisa begitu saja memilih menjadi sukses jika seluruh akses pendidikan dan sumber daya dikuasai oleh segelintir elit. Aturan mainnya sudah dirancang untuk memenangkan pihak tertentu sejak awal. 

Gugatan terhadap sistem ini digaungkan oleh BTS dengan menggunakan metafora burung gelatik berkaki pendek bernama Baepsae. Di sisi lain, ada Hwangsae yaitu burung bangau berkaki panjang yang melangkah jauh tanpa perlu memeras tenaga. Pepatah lama di Korea memperingatkan bahwa jika burung berkaki kecil mengikuti langkah sang bangau, maka kakinya akan patah.

Baepsae
© Ki Soo Lee via https://wanderers.tistory.com/351

“They call me a try-hard / Our generation has had it hard / Hurry, chase ’em / Thanks to those that came before us, I’m spread too thin.”

Lirik ini secara gamblang menyindir generasi tua yang mewariskan tatanan ekonomi rusak, namun terus menuntut anak muda bekerja tanpa batas waktu dengan modal semangat semata. BTS menulis lagu ini bukan dari menara tinggi yang nyaman. Mereka merintis jalan dari titik paling bawah dalam industri hiburan Korea Selatan yang terkenal kejam. Mereka tumbuh bersama agensi kecil bernama Big Hit Entertainment yang kala itu nyaris bangkrut dan tertimbun utang. Pada masa awal debut, penampilan mereka sering dipotong di stasiun televisi, diremehkan oleh media besar, dan harus berbagi kamar tidur yang sempit. Pengalaman mereka sebagai pihak terpinggirkan membuat mereka berani menggugat monopoli elit.

Anak muda saat ini dituduh sebagai generasi rapuh dan mudah menyerah. Mereka dipaksa berlari dalam kompetisi yang tidak masuk akal, memeras kesehatan mental mereka hingga titik nadir demi mencapai standar sukses yang ditentukan oleh kelas atas. Namun, sekeras apa pun gelatik kecil mencoba memanjangkan kakinya untuk menyamai langkah lebar sang bangau, ia tidak akan pernah bisa menyusul. Kakinya justru akan patah karena kelelahan fisik dan mental yang luar biasa.

“Kkum-eul ppaetgyeogan chae hyeobakdanghae / Hwangsaedeul deoge nan dariga jjijeojyeo.” (Mimpi kita dirampas, kita diancam / Berkat para bangau, kedua kakiku robek).

Kita harus menolak narasi yang menyederhanakan masalah dengan dalih kurangnya usaha. Kegagalan bertahan di tengah melambungnya harga kebutuhan hidup, tingginya biaya pendidikan, dan sempitnya lapangan pekerjaan bukanlah kesalahan pribadi, melainkan kenyataan pahit dari struktur yang sengaja dipelihara agar roda kekuasaan terus berputar di atas keringat kelas pekerja.

BTS menunjukkan bahwa jalan keluar dari ketertindasan ini bukanlah dengan menyesali nasib secara pasif. Mereka menanamkan kesadaran baru bahwa perubahan sejati hanya bisa diupayakan ketika kita berhenti menghukum diri sendiri atas kerusakan yang dibuat oleh sistem. Gelatik memang seekor burung kecil berkaki pendek dan rapuh jika berdiri sendirian. Namun, jika ribuan gelatik ini mulai menyadari ketidakadilan yang mereka alami, mereka tidak perlu lagi membuang energi untuk mengejar jejak langkah sang bangau. 

Mereka bisa memilih untuk berkumpul, membangun solidaritas bersama, dan menuntut perubahan aturan main secara mendasar. Kehadiran kita di dunia bukanlah sekadar pelengkap penderitaan demi menjaga kenyamanan kaum atas. Sekarang adalah waktu untuk berhenti menyalahkan diri sendiri di dalam sistem yang timpang. Mari runtuhkan struktur yang tidak memanusiakan kita agar keadilan utuh dapat dinikmati oleh setiap kelas sosial.


Ditulis oleh:

Zahra Vindy Griyanti

Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia yang tertarik dengan isu sosial dan budaya.
Instagram: @zhravndyy_



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


NewRelease

FeaturedPiece

Kenalin