Search Button — Aduide Media
, ,

Memilih Tak Punya Anak: Perlawanan Paling Rasional di Tengah Neraka Kapitalisme

Pernahkah kalian bertanya-tanya, kenapa belakangan ini timeline media sosial kita penuh dengan perdebatan soal childfree atau keluhan menjadi sandwich generation? Kalau kalian pikir ini cuma tren gaya hidup anak muda yang makin egois dan kebarat-baratan, mari duduk sebentar. Kita perlu bicara soal realitas ekonomi yang sukses merenggut mimpi anak bangsa.

Data menunjukkan Total Fertility Rate (TFR) alias angka kelahiran di Indonesia terus merosot. Dari 5,61 di tahun 1970, diproyeksikan nyungsep ke angka 2,13 pada tahun 2025. Di daerah dengan tingkat biaya hidup dan urbanisasi tinggi seperti DKI Jakarta, angkanya bahkan lebih melorot lagi.

Kenapa bisa begitu? Jawabannya sederhana: hidup sudah terlalu mahal, dan kita sudah terlalu lelah menjadi sapi perah.

Karl Marx sejak berabad-abad lalu sebenarnya sudah wanti-wanti soal fenomena ini. Dalam sistem kapitalisme, komodifikasi adalah syarat mutlak. Kita-kita ini, kaum proletar yang tidak punya akses pada alat-alat produksi, pada akhirnya terpaksa menjual satu-satunya hal yang kita miliki: tenaga kita, baik fisik maupun kognitif.

Coba lihat institusi perguruan tinggi yang katanya menjadi kawah candradimuka bagi masa depan bangsa. Nyatanya? Masih banyak kampus-kampus di Indonesia dan lingkungan sosial kita seringkali tak lebih dari sekadar mesin yang fungsinya menyesuaikan akumulasi modal pasar. Mereka berlomba-lomba mencetak “stok tenaga kerja siap pakai” yang spesifikasinya sudah diatur sedemikian rupa agar pas dengan selera industri para borjuis.

Setelah lulus dengan embel-embel cum laude, kita masuk ke pasar kerja dan disambut oleh realitas yang brutal: jumlah pengangguran melimpah ruah. Kelimpahan ini bukan kebetulan, melainkan sistem yang memfasilitasi borjuis untuk dengan mudah menentukan syarat kerja dan menekan upah. Posisi tawar kita hancur lebur. Prinsipnya cuma satu: “Kalau kamu nggak mau digaji murah, pintu keluar ada di sebelah sana. Masih banyak yang antre dan siap digantikan.”

Di titik inilah alienasi terjadi.

Dalam proses produksi, kita dipaksa menelan penderitaan yang mengikat. Bekerja yang hakikatnya harusnya menjadi sarana aktualisasi diri, direduksi sekadar menjadi fungsi mekanis. Nilai tambah dari dedikasi mental dan fisik kita dirampas. Parahnya lagi, sistem ini memaksa sesama pekerja untuk saling sikut dan berkompetisi memperebutkan posisi kerja yang sangat terbatas. Alih-alih bersolidaritas, kita malah saling injak.

Generasi ini sedang didera apa yang disebut sebagai Learned Helplessness, sebuah kondisi ketidakberdayaan yang dipelajari. Mengirim ratusan lamaran pekerjaan tapi berujung terjebak dalam pekerjaan berupah minimum memanifestasikan kepasrahan sosial (defisit motivasi). Kita jadi kesulitan menyadari adanya peluang positif karena persepsi kita sudah dikurung oleh ketidakberdayaan (defisit kognitif). Ujung-ujungnya, kita dihajar oleh defisit emosional: depresi, kecemasan kronis, apatisme, hingga tekanan stres yang berkepanjangan.

Celakanya, di tengah kondisi pekerja yang babak belur ini, negara minim sekali mengambil peran sebagai pengaman sosial. Beban biaya reproduksi sosial dilemparkan sepenuhnya ke pundak keluarga-keluarga miskin.

Hasilnya bisa ditebak. Anak seringkali tak lagi dilihat sebagai anugerah, melainkan ditransformasikan menjadi investasi ekonomi atau “dana pensiun berjalan” bagi orang tua. Lahirlah spesies pekerja yang paling menderita di muka bumi: Sandwich Generation. Mereka terjepit keharusan membiayai orang tua di atas, dan menghidupi diri sendiri (serta anak) di bawah.

Maka, kembali ke data penurunan TFR di awal tadi. Keengganan anak muda untuk bereproduksi saat ini tidak lagi dilihat sebagai fenomena kultural semata, melainkan sebuah perlawanan reproduktif pasif.

Ketika biaya pengasuhan, layanan kesehatan, dan pendidikan anak sudah melambung jauh di luar jangkauan upah minimum, membawa generasi baru ke dunia ini dipandang sebagai bentuk penambahan mata rantai eksploitasi. Logikanya masuk akal: “Buat apa saya melahirkan anak, kalau pada akhirnya dia cuma akan jadi stok siap pakai pabrik kapitalis yang sama?”

Lalu, apa solusinya? Apakah kita cuma bisa healing, mindfulness, atau ikut seminar motivasi?

Tentu tidak. Menyelesaikan masalah struktural dengan solusi individual adalah sebuah kebodohan. Yang kita butuhkan adalah transformasi struktural.

Negara tidak boleh lagi lepas tangan. Negara harus berani menjamin penyediaan akses pendidikan tinggi, layanan kesehatan, hingga public childcare (penitipan anak) secara gratis. Sistem pensiun dan jaminan sosial bagi seluruh masyarakat harus diintegrasikan agar kutukan sandwich generation bisa diputus selama-lamanya.

Di sektor tenaga kerja, praktik kerja fleksibel yang eksploitatif harus dihapus, diganti dengan standar upah yang benar-benar layak, bukan sekadar “layak untuk tidak mati kelaparan”.

Dan dari mana uang untuk membiayai semua itu. Terapkan instrumen perpajakan progresif atas aset, warisan, dan akumulasi kekayaan para segelintir elite kaya raya.

Selama ketimpangan ekonomi ini terus dipelihara, mimpi anak bangsa akan terus dirampas, dikomodifikasi, dan diobral murah di pasar tenaga kerja. Dan selama itu pula, memilih untuk tidak melahirkan generasi pekerja baru adalah perlawanan yang paling logis.


Elvina Meivania Dewi

Ditulis oleh:

Elvina Meivania Dewi

Mahasiswi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang gemar menulis tentang psikologi, pendidikan, filsafat, serta isu perkembangan anak dan remaja. Senang merangkai esai reflektif yang memadukan perspektif ilmiah dengan cerita-cerita sederhana dari kehidupan sehari-hari. | Instagram @vinnmd_



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


NewRelease

FeaturedPiece

Kenalin