Search Button — Aduide Media
,

Kehadiran Sunyi dalam Musim Angin

Musim Angin - Kumpulan Cerita Candrika Adhiyasa

Satu hal yang kian menyusut di tengah masyarakat modern adalah ruang sunyi untuk bercakap dengan diri sendiri. Tak pelak, tingginya mobilitas, tuntutan produktivitas kerja yang tidak seimbang (work-life balance), hingga faktor media sosial yang mengalihkan eksistensi manusia, kerap menciptakan kebisingan yang berlalu-lalang tanpa makna. Kita pun jengah dengan kondisi tersebut, dan tidak jarang merasa teralienasi. Kehampaan lantas mewabah. Di titik itulah, tampaknya kita membutuhkan ruang untuk terpekur sejenak, setidak-tidaknya, memaknai hari-hari yang sibuk meski barang sekelumit saja.

Melalui buku kumcer (kumpulan cerpen) terbarunya yang berjudul Musim Angin (Penerbit Barikade, 2026), Candrika Adhiyasa, saya kira ingin menggelar sebuah ruang untuk menghadirkan kesunyian yang menyempit itu. Ia seakan menyenggol pembaca agar segera tergugah, lalu mengajak bertanya-tanya tentang semua yang pernah dan terpikirkan dalam kehidupan yang semakin kaos ini.

Buku kumcer ini berisi lima cerita dengan muatan kontemplasi berbeda-beda. Mengapa saya katakan “muatan kontemplasi”, karena cerita-cerita yang terdapat dalam buku ini tidak akan mengajak pembaca untuk memperhatikan alur cerita dengan konflik yang menegangkan, melainkan perlahan-lahan akan dihadapkan pada dialog-dialog lengang tentang keluarga, kehilangan, kematian, ingatan, dan hal-hal yang terlalu sunyi untuk dibicarakan dalam percakapan sehari-hari.

Cerita dalam buku pun dibuka dengan sebuah prolog yang sarat akan pernyataan dan pertanyaan filosofis. Misalnya, pada sebuah dialog batin yang intens, Candrika melontarkan pertanyaan: “… apakah segala sesuatu dalam hidup harus selalu dibuktikan untuk dapat dianggap berharga?” (hlm. 3). Pertanyaan tersebut secara gampangnya mengarah pada situasi hari ini yang cenderung pragmatis sekaligus materialis. Sebuah gambaran ketika segala sesuatu diukur hanya sebatas pada angka dan benda-benda. Sehingga yang sublim dan bersifat taktil otomatis tergeser. Memandang persoalan tersebut, Candrika bertanya kembali, kenapa manusia memerlukan pelarian? Apakah kehidupan sebegitu kejamnya sehingga membuat manusia tidak bisa menjalaninya dengan sepenuh daya upaya? (hlm. 4).

Maka berangkat dari pertanyaan tersebut, kita pun mafhum, dan sadar, bahwa di era kecemasan ini manusia memang membutuhkan pelarian. Rollo May, seorang psikolog eksistensial Amerika, melalui bukunya berjudul Mans Search for Himself (1981), sudah sedari dulu mempersoalkan hiruk pikuk semacam itu. Ia beranggapan bahwa orang-orang yang dirundung situasi tersebut akan menciptakan kehampaan. Lantaran, mereka kerap tidak mampu mengidentifikasi diri sendiri. Hal tersebut dipicu oleh situasi ketidakpastian, serta ruang yang sempit untuk mencari dirinya sendiri. Nah, barangkali, atau memang demikian adanya, cerita-cerita dalam Musim Angin pun dimulai sebagai ajang pelarian agar sejenak dapat bergeser ke ruang yang lebih sunyi: menyelami diri sendiri.

Kehadiran ruang sunyi

Kehadiran Musim Angin ini, bagi saya, bentuk dari kesunyian itu sendiri. Karenanyalah, buku ini setidaknya dapat menjadi alternatif yang menjelma ruang kedap suara untuk menepi dari keberisikan dunia luar. Menariknya, Candrika, menghadirkan cerita-cerita dengan dialog yang ganjil, penuh tanda tanya, dan membuat pembaca mempertanyakan kembali atas sesuatu yang sebelumnya sudah diyakini.

Musim Angin - Kumpulan Cerita Candrika Adhiyasa
Sampul Musim Angin (Sumber: instagram @candrimen)

Hal itu bisa kita perhatikan melalui cerpen pembuka berjudul “Musim Angin”. Cerpen ini menghadirkan cerita seorang laki-laki yang ingin berkunjung ke pemakaman. Ia ingin menziarahi seorang perempuan bernama Helena yang dianggap punya kedekatan emosional. Di sepanjang perjalanan menuju pemakaman, pembaca akan disuguhi pandangan seputar keluarga dan kematian.

Misalnya, dalam cerpen tersebut, Candrika, menulis bahwa: … seseorang akan sangat sulit untuk menikmati hidup apabila selalu dibayang-bayangi fakta bahwa ia akan mati suatu hari nanti. (Hlm. 22).

Pernyataan tersebut cukup memantik saya sebagai pembaca untuk berpikir kembali. Karena, saat sebagian manusia meyakini bahwa mengingat kematian akan mendorong individu untuk menjalani dan memanfaatkan hidup sebaik-baiknya. Tapi, melalui pernyataan dalam cerpen itu justru memantik pertanyaan: untuk apa semua ini kalau pada akhirnya kita akan mati?

Narator dalam cerpen pun meyakini cara terbaik dalam mengingat kematian–tentunya bukan pernyataan mutlak–yakni bahwa ingatan kematian barangkali baiknya hanya dilakukan pada momen tertentu. Karena, toh, ingatan akan kematian berpotensi menciptakan distopia, atau angan-angan pesimistik: sebuah kesia-siaan hidup. Selain itu, bagi orang yang hari-harinya diliputi rasa duka atas kehilangan, mengingat kematian juga seperti memasuki ruang sempit yang menyesakkan dada.

Cerita dengan tema serupa bisa juga kita perhatikan pada cerpen berjudul “Charon”. Judul diambil dari mitologi Yunani Kuno yang berarti tukang perahu yang membawa jiwa orang mati ke alam Hades atau Dunia Bawah. Sebagaimana maknanya, cerpen pun mengisahkan seseorang yang sedang dalam perjalanan ke alam lain bersama seorang pemandu yang digambarkan sebagai tukang perahu.

Di sepanjang perjalanan itu, kita akan menyaksikan tokoh lelaki dalam perbincangan penuh tanya: apakah nanti akan ada pertimbangan amal baik dan jahat untuk ditempatkan ke surga atau dijerumuskan ke neraka? Atau, secara eksistensial, apakah surga dan neraka benar-benar ada, atau justru ternyata tidak ada?

Dalam cerpen tersebut, Candrika, kemudian ingin merespon kemungkinan-kemungkinan itu dengan mengembalikan pada perjalanan hidup itu sendiri, ia menuliskan kemungkinan-kemungkinan itu sebagai berikut:

“… Mungkin hidup bukanlah ujian untuk masuk surga atau neraka. Mungkin hidup hanyalah proses agar berani bertemu Tuhan tanpa membawa apa-apa selain diri kita yang paling murni–penuh luka, penuh tawa, penuh penyesalan, penuh harapan.” (Hlm. 96).

Pernyataan tersebut mendorong kita untuk memaknai kembali eksistensi manusia pada setiap proses hidup yang kerap dilekatkan dengan akumulasi amal dan dosa. Kita selalu ribut dengan surga dan neraka. Padahal hidup tidak sesederhana itu. Bahwa hidup tidak pernah hitam-putih. Sebab selalu ada kausalitas yang penuh dengan paradoks. Dan, ya, semua itu melekat pada seonggok tubuh yang dikatakan Candrika: yang paling murni–penuh luka, penuh tawa, penuh penyesalan, penuh harapan.

Perenungan semacam itu sepertinya sangat diperlukan pada zaman ini. Setidak-tidaknya untuk menepi barang sejenak dari kehidupan yang nirmakna. Sebuah ruang sunyi untuk merenung, memahami, lalu bertanya, bertanya, dan bertanya untuk kemudian merenung kembali. Berkoneksi dengan diri sendiri seutuhnya.

Di atas adalah dua cerpen dari ketiga cerpen yang sama-sama memantik reflektif dalam mendorong laku hidup, berpikir, dan mempertanyakan kembali segala bentuk realitas. Cerita-ceritanya juga tanpa titik temu atau jawaban pasti. Tapi, bagi saya, Candrika memang tidak berorientasi pada cerita semacam itu. Karena, toh, bukankah dalam hidup, kita seringkali tidak menemukan jawaban yang ajeg?

Mencari arah tendensi

Selayaknya cerita, maka cerpen pun tidak hanya memuat sebuah konflik. Ia adalah sebuah bangunan kausalitas yang saling jahit-menjahit. Tanpa adanya jalinan tersebut, maka cerita akan menciptakan cabang yang tak tentu arahnya ke mana. Alhasil, berpotensi kehilangan tendensi.

Dalam cerpen berjudul “Musim Angin” yang juga menjadi judul buku, sebagai pembaca, saya melihat persoalan tersebut. Karena, jika dibaca secara saksama, cerpen ini memuat cabang pertalian kausalitas yang kendor. Hal ini bisa diperhatikan melalui perbincangan batin yang dibangun oleh tokoh utama: seorang lelaki.

Misalnya, dalam cerpen tersebut pembaca akan dihadirkan tokoh utama, yaitu seorang lelaki dewasa. Tokoh tersebut diceritakan memiliki tujuan ke pemakaman untuk menziarahi seseorang bernama Helena. Akan tetapi, dalam perbincangan-perbincangan batinnya justru cerita mengalami distraksi seperti beralih pada narasi tentang ekologi yang tidak relevan dengan bangunan cerita. Alhasil, cerpen pun berpotensi menjelma labirin yang tak tahu juntrungannya.

Hal yang membingungkan lagi adalah ketika perbincangan keluarga dan kematian diangkat secara intens, namun referensi yang berkaitan dengan Helena tidak diceritakan gambaran latar belakang rill-nya. Sekalipun di akhir cerita memberi pernyataan tentang penyesalan si lelaki karena dahulu gagal mencegah Helena bunuh diri. Sayangnya, hal tersebut masih terbatas untuk cerpen yang diceritakan dengan alur cukup panjang. Padahal itu berfungsi menghadirkan jawaban yang akan membentuk fondasi mengapa tokoh tersebut sepenting itu bagi tokoh utama. Juga perbincangan-perbincangan tentang keluarga dan kematiannya.

Meski begitu, muatan cerpen tersebut tetap memberi kesan perenungan mendalam. Pun, keempat cerpen lainnya juga membangun fondasi dan tendensi cerita dengan kokoh dan reflektif. Candrika kerap menghadirkan tendensi dalam cerita-ceritanya melalui dialog batin maupun percakapan antar tokoh. Sebuah laku hidup yang semakin terabaikan sekaligus dibutuhkan pada era ini. Karena itu, bacalah buku Musim Angin. Mulailah terkoneksi secara utuh dengan diri sendiri dan orang lain. Ngobrol, berbagi cerita, dan tertawa. Di lain waktu diam menyendiri, lalu menangis.

Cirebon, 2026


Ditulis oleh:

Saefudin Muhamad

Lahir di Cirebon. Bergiat di komunitas Tjirebon Book Club. Menulis prosa dan puisi. Adapun tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media, zine, dan majalah online mapun cetak: jurno.id, magdalene.co, sediksi.com, lensasastra.id, ideide.id, omong-omong.com, majalah Apajake, Zine POVPOV, dan media lainnya. Pernah meraih penghargaan nominasi dalam lomba kritik sastra Dunia Puisi Taufiq Ismail 2023 dan juara 1 lomba menulis puisi yang diselenggarakan tulis.me ke-16 2023, serta memenangkan berbagai perlombaan lainnya. Penulis saat ini sedang konsen meneroka perkembangan sastra anak Indonesia, terutama pada genre puisi anak.

Instagram @saefudinmuhamad_



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


NewRelease

FeaturedPiece

Kenalin