Search Button — Aduide Media
,

Pembungkaman Eksistensial pada Tokoh Aurelie dalam Novel Broken Strings

Broken Strings - Aurelie Moeremans

Setiap kali saya membuka media sosial belakangan ini, sering kali disambut oleh kabar yang menyesakkan dada. Berita berseliweran melaporkan tentang kekerasan seksual terutama pada anak usia dini. Di tengah gempuran berita yang memicu kecemasan itulah, ingatan saya terlempar kembali pada novel memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans.

Kisah nyata yang ditulis Aurelie sangat relevan dengan kondisi yang sedang marak saat ini. Namun, muncul pertanyaan penting: “mengapa seorang remaja polos menjadi lebih rentan tereksploitasi?”, “kok mau sih sama cowok yang lebih tua?” “kenapa korban mau tetap menuruti perintah pelaku dan tidak melarikan diri? Untuk menjawabnya, kita coba membedah dari perspektif filsafat dan psikologi.

Cover Broken Strings - Aurelie Moeremans
Cover ”Broken Strings” – Aurelie Moeremans

Ketika seorang remaja yang minim pengalaman uuntuk merasakan jatuh cinta, ia belum memiliki arah atau standar untuk membedakan mana kasih sayang tulus dan mana manipulasi terencana. Predator seperti Bobby memanfaatkan momen ini dengan memberikan perhatiannya yang begitu dalam hingga membuat Aurelie merasa sangat spesial. Pelaku tidak perlu melakukan tindakan kekerasan seksual secara langsung, tapi pelaku bertindak dengan memisahkan antara korban dan orang tuanya dengan mendoktrin bahwa “orang tuamu tidak memahami cinta kita” atau “hanya aku yang benar-benar peduli padamu”.

Secara psikologis, Abraham Maslow merumuskan dalam Hirarki Kebutuhan Dasar bahwa setiap manusia memiliki tingkatan kebutuhan hidup, mulai dari rasa aman, rasa memiliki dan dicintai, hingga harga diri dan kepercayaan diri. Bobby dapat menerobos hierarki Maslow ini dengan cara memenuhi seluruh kebutuhan emosional Aurelie di awal. Setelah korban sudah memiliki ikatan yang kuat pada pelaku, kemudian pelaku perlahan merusak rasa aman korban lewat ancaman, gaslighting, dan manipulasi korban dengan mendefinisikan pemaksaan serta pengontrolan sebagai “bukti cinta”.

Di titik inilah kita bisa melihat bagaimana ketimpangan relasi kuasa bekerja dengan sangat nyata. Menurut pemikiran Michel Foucault, kekuasaan tidak selalu hadir lewat rantai atau kekerasan fisik, melainkan lewat manipulasi dan kebenaran. Bobby memegang kendali penuh atas dasar ketimpangan usia, gender, dan pengalaman. Setiap kali Aurelie berusaha melawan atau menolak, Bobby akan mengungkit pengorbanannya, mengancam bunuh diri, hingga mengancam menyebarkan foto pribadi. Aurelie dibuat merasa bersalah dan bertanggung jawab penuh atas emosi serta hidup pelaku.

Banyak orang yang tidak paham sering melontarkan pertanyaan naif dan menyudutkan: “Kalau udah parah begitu, kenapa ga kabur aja dari dulu?”

Dalam pandangan Filsuf Jean-Paul Sartre, manusia dikutuk untuk bebas. Namun, Aurelie mengalami pembungkaman eksistensial karena ia tidak bisa menentukan pilihannya sendiri. Kebebasannya dirampas melalui manipulasi psikologis, sehingga ia terjebak dalam kondisi Bad Faith (Ketidakotentikan) yang dipaksakan, di mana ia harus berperan sesuai keinginan Bobby, bukan dirinya sendiri. Ditambah lagi secara neuropsikologi, ancaman yang membabi-buta akan mengaktifkan respons trauma freeze. Tubuh dan pikiran korban menjadi lumpuh akibat ketakutan ekstrem dan sebuah kondisi yang sering kali secara keliru dianggap oleh publik sebagai kemauan korban itu sendiri.

Namun, kisah Aurelie tidak berhenti begitu saja. Langkah Aurelie menuliskan memoar Broken Strings bukan sekadar meluapkan emosi, melainkan sebuah tindakan yang tepat. Dengan menuliskan kebenarannya sendiri, Aurelie merebut kembali narasinya dan saat ini ia sudah bisa memegang kendali atas jalan hidupnya sendiri, disertakan dengan dukungan keluarga yang memberikan rasa aman.

Pada akhirnya, membaca kembali memoar Broken Strings di tengah maraknya kasus kekerasan seksual hari ini memberikan bahwa kita sebagai masyarakat harus mulai membangun lingkungan yang paham akan bahaya manipulasi psikologis, membekali remaja dengan literasi hubungan yang sehat, serta menyediakan ruang aman yang tidak menghakimi saat korban memberanikan diri untuk bersuara.

Referensi

Salsabila, N., Putri, A., & Ramadhan, F. (2026). Dampak psikologis kekerasan seksual terhadap remaja korban grooming. Jurnal Psikologi Klinis Indonesia, 8(1), 33–44.

Prameswari, D., Lestari, A., & Putri, N. (2025). Representasi psikologis tokoh dalam karya sastra modern. Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia, 14(2), 112–120.

Sweet, P. L. (2019). The sociology of gaslighting. American Sociological Review, 84(5), 851–875. https://doi.org/10.1177/0003122419874843

Syahputra, D. (2021). Sextortion sebagai bentuk kekerasan seksual berbasis digital. Jurnal Hukum dan Teknologi, 5(2), 101–113. Bertens, K. 1985. Filsafat Barat Abad XX Jilid II Prancis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.


Ayla Kanyawirianda

Ditulis oleh:

Ayla Kanyawirianda

Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia | Instagram aylakny2



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


NewRelease

FeaturedPiece

Kenalin