, ,

BEEK Ikuti Jakarta Biennale 2026, Sajikan “Simulakrum Perlindungan” dari Kuningan

BEEK Jakarta Biennale 2026

Balai Edukasi dan Ekosistem Kuningan (BEEK) menjadi salah satu kelompok yang diundang dalam Jakarta Biennale 2026: KEBAL melalui karya bertajuk “Simulakrum Perlindungan”. Karya tersebut berangkat dari sebuah pertanyaan: apa yang terjadi ketika manusia terlalu sibuk melindungi dirinya?

Jakarta Biennale 2026: KEBAL berlangsung pada 4–28 Oktober 2026 di Taman Ismail Marzuki, Gedung Trisno Soemardjo, dengan rangkaian kegiatan di ruang-ruang kolektif Jakarta dan sekitarnya yang berlangsung pada 7 Oktober–24 November 2026.

Dalam pembacaan BEEK, kebal tidak lagi semata-mata dipahami sebagai kemampuan tubuh untuk menahan serangan. Kekebalan telah berkembang menjadi kondisi berlapis yang berlangsung pada tubuh, batin, teknologi, dan ruang hidup.

Gagasan tersebut menjadi landasan karya “Simulakrum Perlindungan”, yang melihat bagaimana manusia terus membangun berbagai lapisan pertahanan untuk menghadapi perubahan dan tekanan kehidupan.

Tubuh berusaha bertahan di tengah sistem yang terus menuntut produksi dan konsumsi. Batin berusaha mempertahankan diri dari kebisingan, tekanan, dan kehampaan. Pada saat yang sama, teknologi menawarkan lapisan perlindungan yang semakin canggih.

Persoalannya, bentuk perlindungan tersebut terus mengalami perubahan.

Dari Ajian dan Jimat hingga Algoritma

Dalam kehidupan masyarakat masa lalu, perlindungan dapat ditemukan melalui berbagai bentuk pengetahuan dan praktik budaya seperti ajian, mantra, dan jimat. Dalam konteks kehidupan kontemporer, bentuk-bentuk tersebut mengalami transformasi menjadi kode, algoritma, kata sandi, sistem keamanan, dan berbagai perangkat digital.

Perubahan tersebut menghadirkan sebuah paradoks. Semakin canggih perlindungan yang dibangun, semakin besar pula kemungkinan manusia menjadi kebal bukan hanya terhadap ancaman, tetapi juga terhadap kemampuan untuk merasakan.

Dari sini, Simulakrum Perlindungan tidak berhenti pada persoalan bagaimana manusia mempertahankan diri. Karya ini mempertanyakan konsekuensi dari pertahanan yang terus diperkuat: apakah perlindungan yang semakin tebal selalu membuat manusia semakin aman, atau justru menciptakan jarak baru dari lingkungan dan pengalaman hidup?

BEEK kemudian memperluas persoalan tersebut dari tubuh menuju ruang hidup. Tanah, bunyi alam, dan ruang ekologis berhadapan dengan ekspansi ruang buatan dan pembangunan yang terus bergerak. Dengan demikian, persoalan kebal tidak hanya berlangsung pada tubuh manusia, tetapi juga menyentuh hubungan manusia dengan ruang yang ditempatinya.

Karena itu, “Simulakrum Perlindungan” membaca kebal sebagai persoalan ketahanan tubuh, ketahanan batin, dan ketahanan ruang.

Karya BEEK tidak menawarkan tameng sebagai jawaban. Sebaliknya, karya ini mengajak publik mempertanyakan kembali apa yang sungguh perlu dilindungi, sekaligus apa yang diam-diam hilang ketika perlindungan dibangun terlalu tebal.

Membawa Ekosistem Kuningan ke Jakarta

Keterlibatan BEEK dalam Jakarta Biennale 2026 juga tidak berdiri sendiri. Dalam kolaborasi ini, Kuningan Biennale menjadi salah satu kolaborator Jakarta Biennale 2026. Hubungan tersebut dirancang untuk berlanjut melalui Kuningan Biennale 2026, yang akan berlangsung pada November-Desember 2026 dengan Jakarta Biennale sebagai kolaborator.

Kolaborasi tersebut mempertemukan dua konteks ruang dan pengalaman kebudayaan. Jakarta merupakan salah satu simpul penting seni kontemporer Indonesia, sementara Kuningan memiliki ekosistem seni yang tumbuh dari daerah dengan persoalan, sumber daya, dan karakter ruangnya sendiri.

Bagi Kuningan Biennale, hubungan dengan Jakarta Biennale tidak diarahkan berhenti pada pertukaran karya atau kehadiran dalam sebuah perhelatan. Gagasan yang dibangun adalah hubungan dua arah: Kuningan hadir di Jakarta dan Jakarta hadir di Kuningan.

Pola tersebut membuka kemungkinan pertukaran pengetahuan, praktik artistik, pengalaman pengelolaan, jaringan, serta cara membaca berbagai persoalan yang lahir dari konteks ruang masing-masing.

Kuningan Biennale 2026 sendiri akan mengangkat tema besar “Transportasi-Rantau”, sebagai bagian dari seri Niaga 2021–2028. Kolaborasi dengan Jakarta Biennale menjadi salah satu bagian dari upaya memperluas jalur pertukaran antara ekosistem seni daerah dan jejaring seni nasional.

Dalam kerangka tersebut, keterlibatan BEEK di Jakarta Biennale dapat dibaca sebagai bagian dari proses yang lebih panjang. Kehadiran Kuningan dalam percakapan seni nasional tidak harus berlangsung dengan pola satu arah dari pusat menuju daerah. Sebaliknya, Kuningan dapat menjadi ruang tempat gagasan tumbuh, dipertukarkan, dan dibawa kembali ke dalam percakapan yang lebih luas.

BEEK dan Ekosistem Kreatif Kuningan

Balai Edukasi dan Ekosistem Kuningan (BEEK) merupakan platform seni, budaya, dan ekosistem kreatif yang menaungi Yayasan Tulisan dan Gambar (TUDGAM), Yayasan Kuningan Biennale Indonesia, Aduide, Musik Kisum, Sekolah Baik, serta empat unit usaha, yaitu Toko Kopi IU, Dapoer Nona Ketjil, Roti Akuan, dan Artshope.

BEEK bekerja melalui seni, pendidikan, riset, pengarsipan, produksi, kolaborasi, dan kewirausahaan kreatif. Berbagai aktivitas tersebut dikembangkan sebagai satu ekosistem yang memungkinkan individu, komunitas, seniman, dan masyarakat untuk bertemu, bekerja, belajar, serta membangun keberlanjutan bersama.

BEEK menempati Gedung Graha Wangi, Kuningan, melalui skema sewa bangunan milik Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan. Ruang tersebut dikembangkan sebagai ruang lintas disiplin sekaligus ruang hidup kebudayaan bagi masyarakat Kuningan.

Dalam konteks Jakarta Biennale 2026, praktik yang berkembang di dalam ekosistem tersebut hadir melalui berbagai bentuk. Kontribusi BEEK mencakup karya video dari tudgam, seni ilustrasi digital pada media kain dari Aduide, dan karya kinetik serta sound art dari Musik Kisum.

Adapun individu-individu yang terlibat pada karya BEEK di antaranya adalah Agung M. Abul, Ryan Ginanjar, Bayu Abdurahim, Pandu Hamzah, Ajay Ahdiyat, Fathidhia, Neogreenmonster, Maulana Prasaja, Nuggira Item, Noni Soeharyono, Parasittamak, Artmorfate, Anditya Dita, Gina Khoeru Sifa, Ellsa Berlandha, Windi Berlandha, dan M. Agil.

Berbagai praktik tersebut menjadi bagian dari cara BEEK membawa pengalaman ekosistem kreatif Kuningan ke dalam konteks Jakarta Biennale, sekaligus membuka kemungkinan pertemuan dengan praktik dan jaringan seni yang lebih luas.

Pada akhirnya, kolaborasi Jakarta–Kuningan ini tidak hanya menjadi kesempatan bagi BEEK dan Kuningan Biennale untuk membawa nama Kuningan ke Jakarta. Relasi tersebut juga membuka kemungkinan sebaliknya: agar Jakarta hadir dan berdialog di Kuningan.

Dengan demikian, keterlibatan BEEK dalam Jakarta Biennale 2026 dapat dilihat sebagai bagian dari upaya membangun hubungan yang lebih setara antara ekosistem seni di daerah dan jejaring seni nasional. Melalui Simulakrum Perlindungan, BEEK membawa satu pertanyaan tentang kebal dan perlindungan, sementara melalui kolaborasi Jakarta–Kuningan, pertanyaan tersebut ditempatkan dalam konteks yang lebih luas: bagaimana sebuah ekosistem dapat bertahan tanpa kehilangan kemampuan untuk tetap terbuka, merasakan, dan berhubungan dengan ruang di sekitarnya.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


NewRelease

FeaturedPiece

Kenalin