Dunia kesusastraan di Kabupaten Kuningan kembali mendapat ruang untuk berkumpul, membaca, bercerita, dan berdiskusi. Melalui Semarak Sastra Mahardika, Bukusam menghadirkan rangkaian kegiatan sastra yang berlangsung sejak 7 hingga 19 September 2026.
Selama hampir dua pekan, kegiatan ini diisi dengan sejumlah agenda yang membawa karya sastra ke berbagai ruang, mulai dari sekolah hingga ruang publik. Salah satu agenda utamanya adalah Bukber atau Buku Bercerita, yang mengajak peserta untuk mengenal dan membicarakan karya dari berbagai genre sastra.
Hingga saat ini, tiga kegiatan Buku Bercerita telah digelar di lokasi yang berbeda.
Kegiatan pertama berlangsung di Saung Udhe pada Senin, 7 September 2026, dengan membahas kumpulan cerpen karya Yetti A.K.A berjudul Cara Kita Menghadapi Kehilangan.
Dua hari kemudian, pada Rabu, 9 September 2026, giliran kumpulan puisi karya Ibe S. Palogai, Hidup Tetap Berjalan dan Kita telah Lupa Alasannya, yang diceritakan di MAN 1 Kuningan.
Sementara itu, kegiatan Buku Bercerita berikutnya membahas novel karya J.S Khairen, Dompet Ayah Sepatu Ibu.



Masih Ada Dua Buku yang Akan Diceritakan
Rangkaian Buku Bercerita dalam Semarak Sastra Mahardika masih berlanjut. Bukusam akan menghadirkan dua agenda berikutnya dengan karya dan ruang yang berbeda.
Pada Senin, 14 September 2026, Buku Bercerita akan membahas Naskah Drama Janger Merah karya Ibed S. Yuga. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung di Saung Teater Sado.
Kemudian, pada Rabu, 16 September 2026, giliran kumpulan esai sastra karya Ahmadun Yosi Herfanda berjudul Komunitas Sebagai Basis Ideologi Kesastraan yang akan dibahas di Balai Ekosistem Edukasi Kuningan, Gedung Grahawangi.
Dengan format Buku Bercerita, karya sastra tidak berhenti sebagai bacaan personal. Buku dibawa ke ruang pertemuan agar bisa diceritakan dan dibicarakan bersama.
Dari Panggung Buku hingga Cengo Bareng
Semarak Sastra Mahardika juga tidak hanya berbicara soal buku. Pada Jumat, 18 September 2026, akan digelar Panggung Buku yang membedah karya sastra dari penulis asal Kuningan, Candrika Adhiyasa, berjudul Musim Angin.
Sehari setelahnya, Sabtu, 19 September 2026, agenda dilanjutkan dengan Cengo Bareng, kependekan dari Cerita dan Ngobrol Bareng. Forum ini akan membahas keadaan kesastraan di Kabupaten Kuningan.
Kedua kegiatan tersebut akan berlangsung di Kebun Kaisar, Mayang, bersamaan dengan pameran biografi tokoh pahlawan Emma Poeradiredja yang dijadwalkan berlangsung pada 18-19 September 2026.
Pilihan format dan ruang kegiatan ini membuat Semarak Sastra Mahardika bergerak cukup cair. Sastra ditempatkan di sekolah, ruang umum, ruang pertunjukan, hingga ruang diskusi, sehingga perjumpaan dengan karya dan pembacanya tidak terpaku pada satu tempat.
Ditutup dengan Pertunjukan Musik, Puisi, dan Tari
Seluruh rangkaian Semarak Sastra Mahardika kemudian akan ditutup dengan sebuah pertunjukan seni yang menginterpretasi spirit Emma Poeradiredja.
Pertunjukan tersebut berjudul Relikui; Suara Emma Yang Tak Boleh Padam. Karya ini menggabungkan musik, puisi, dan tari ke dalam satu bentuk pertunjukan utuh.
Rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari Program Penguatan Komunitas Sastra, Kementerian Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.
Melalui Semarak Sastra Mahardika, Bukusam berharap kegiatan ini dapat menjadi pemantik bagi masyarakat untuk kembali menggairahkan pengkaryaan dalam kesusastraan di Kabupaten Kuningan.
Di tengah ruang sastra yang terus berkembang, rangkaian seperti ini menjadi kesempatan untuk mempertemukan buku, penulis, pembaca, komunitas, dan publik dalam satu ekosistem yang lebih dekat. Setidaknya, selama dua pekan di September ini, sastra punya lebih banyak alasan untuk dibicarakan di Kuningan.









Tinggalkan Balasan