Dalam beberapa tahun terakhir, Cirebon seperti terperangkap dalam kesepiannya sendiri. Kota yang pernah riuh oleh perjumpaan, percakapan, dan percobaan artistik itu perlahan merapatkan diri dalam diam. Peristiwa kesenian tak lagi seramai dulu, pembacaan sastra jarang terdengar, ruang-ruang budaya lebih sering dipenuhi gema langkah daripada suara yang menyusun gagasan. Kesunyian itu bukan hanya keadaan, tetapi suasana yang menggantung bertahun-tahun, membuat siapa pun yang berkarya merasa berjalan sendirian.
Banyak seniman dan penulis bekerja sendiri atau hanya untuk lingkaran kecil tertentu, Kesepian itu tumbuh seperti kabut menyelimuti, memisahkan, dan menunda banyak kemungkinan. Namun dalam beberapa pekan terakhir, suasana itu perlahan retak. Sebuah gerak kecil muncul, lalu merambat, dan mulai terasa. Cirebon yang tadinya menunduk kini sedikit mengangkat wajahnya. Kota ini seperti mendengar ketukan halus dari sesuatu yang kembali ingin hidup.
Gerak itu dimulai dari Pekan Sastra Cirebon, ketika kata-kata kembali berkumpul setelah lama tercerai-berai. Di sana, sastra menjadi jembatan dan menjadi ruang temu, percakapan menjadi alat untuk menembus jarak yang selama ini memisahkan. Retak kecil itu bukan sekadar program, melainkan penanda bahwa sastra di Cirebon belum padam, ia hanya menunggu panggilannya kembali.
Tidak lama berselang, hadir FKSM (Festival Komunitas Seni Media). Untuk kota yang cenderung berjalan dalam ritme tenang, FKSM muncul sebagai keberanian yang tak lazim. Ia gelisah, eksperimental, dan berani mempertanyakan bentuk. Ia membuka ruang bagi praktik yang selama ini jarang diberi tempat, seni video, bunyi, performans digital, dan bentuk-bentuk pencarian yang tidak selalu nyaman bagi publik arus utama. FKSM menegaskan bahwa seni bukan sesuatu yang statis, ia selalu mencari jalan baru untuk bertahan, bahkan dalam lorong-lorong sepi.








Dan dalam hitungan hari kemudian, Cirebon disinggahi Borobudur Writers & Culture Festival, sebuah festival besar dengan jejaring nasional dan internasional. Bagi Cirebon, kedatangannya bukan sekadar peristiwa, melainkan jendela yang membuka cakrawala lebih luas. Ia membawa gagasan baru, pertemuan lintas-batas, dan harapan bahwa kota ini tidak hanya melihat dunia, tetapi juga dilihat oleh dunia. Cirebon yang selama ini bergerak dalam lingkaran kecil, tiba-tiba memiliki kesempatan untuk menyentuh orbit yang lebih besar.
Ketiga peristiwa ini menandai perubahan yang penting. Tahun-tahun kesepian yang membuat seniman bekerja dalam jarak dan keraguan perlahan menemukan udara. Semua ini bukan sekadar agenda budaya, melainkan gejala bahwa kehidupan kesenian Cirebon masih berdenyut. Bahwa di balik diam yang panjang, ada yang terus menyala.
Pertanyaannya kini, dapatkah rangkaian peristiwa ini benar-benar menjadi pemantik awal bagi kebangkitan ekosistem seni di Cirebon?
Dapatkah ia menghidupkan kembali keberanian yang sempat patah, mempertemukan para seniman yang saling asing dalam satu kota, dan meneguhkan bahwa mereka tidak pernah benar-benar sendiri?
Yang dibutuhkan selanjutnya bukan hanya festival, melainkan kesinambungan. Perjumpaan yang tidak habis dalam satu malam. Dialog yang terus tumbuh. Ruang-ruang yang tidak sekadar dibuka untuk satu acara, tetapi dirawat agar menjadi ekosistem. Dan lebih dari itu, diperlukan kepercayaan para pelakunya, bahwa karya mereka layak berjalan lebih jauh daripada lingkaran kecil tempat mereka biasa berkarya.
Cirebon memiliki modal kebudayaan yang kaya, percampuran tradisi, keberagaman latar, keramahtamahan pola hidup, dan sejarah yang membuatnya selalu menjadi titik temu berbagai gagasan. Kota seperti ini, sejak lama, adalah tempat baik bagi kreativitas untuk tumbuh. Yang diperlukan hanyalah dorongan untuk membuatnya kembali bergerak.
Pada akhirnya, pertanyaan besar itu masih menggantung, menunggu jawabannya dari mereka yang hidup di dalamnya.
Mungkinkah Cirebon benar-benar tengah bersiap untuk bangkit?
Mungkinkah tiga peristiwa ini menjadi bara kecil yang kelak menyalakan api yang lebih besar?
Mungkinkah kota yang sempat begitu sunyi ini akan kembali memiliki panggung yang hidup dan dihidupkan bersama, dirawat bersama?
Semoga jawaban itu perlahan tiba. Dan semoga, kali ini, Cirebon tidak lagi menahan napas, tetapi mulai bernapas panjang, lega, menuju masa depan kesenian yang lebih terbuka dan berani.
Semoga!
Kuningan, 23 November 2025

Ditulis oleh:
Agung M. Abul
Penulis, Seniman, Kepala Balai Edukasi & Ekosistem Kuningan, Founder Yayasan Tulisan dan Gambar (tudgam)

Leave a Reply