Saung Kopi Hawwu di Cirendang kembali menjadi ruang belajar yang hangat saat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kuningan (UMKuningan) berkumpul untuk mengikuti kuliah umum bertajuk Filsafat Bisnis: Nilai, Etika, dan Identitas dalam Usaha. Mulai pukul 10.00 WIB, suasana kedai kopi berarsitektur kayu itu berubah menjadi forum diskusi yang menghubungkan budaya lokal dengan pemikiran kewirausahaan.
Acara ini menghadirkan Kang Dadan Aminudin Latif. Ia dikenal sebagai penggiat budaya sekaligus pemilik Saung Kopi Hawwu. Sosok yang sudah lama menaruh perhatian pada relasi antara usaha, komunitas, dan nilai hidup khas masyarakat Kuningan.


Kang Dadan menyampaikan bahwa bisnis yang kuat bertumpu pada landasan yang lebih dalam daripada sekadar angka keuntungan. Baginya, arah sebuah usaha dipengaruhi oleh cara pelakunya memahami etika, relasi sosial, dan warisan budaya.
“Bisnis itu bukan sekadar jualan, tapi bagaimana kita menjaga nilai, membangun hubungan, dan memberikan manfaat bagi sekitar. Di sanalah budaya turut berperan,” ujar Kang Dadan kepada para peserta. Pernyataan ini menjadi titik tekan dari keseluruhan diskusi, menantang mahasiswa untuk tidak terjebak pada pola pikir komersial yang sempit.
Saung Kopi Hawwu: Ruang Ngopi yang Jadi Ruang Berkembang
Pemilihan Saung Kopi Hawwu sebagai lokasi bukan keputusan seremonial semata. Hawwu sudah dikenal sebagai titik temu berbagai komunitas kreatif, seniman, hingga pelaku UMKM. Ruang ini memperlihatkan bagaimana bisnis dapat tumbuh tanpa meninggalkan akar budaya, sekaligus menjadi pengingat bahwa kewirausahaan lokal bisa berperan dalam memperkuat identitas daerah.
Dalam banyak kesempatan, Hawwu tidak hanya berfungsi sebagai kedai kopi. Tempat ini menjadi laboratorium sosial, tempat orang bertukar gagasan, mengasah sensitivitas terhadap lingkungan, dan mempelajari cara keberlanjutan bisa hadir lewat praktik bisnis yang sederhana.
Mendorong Entrepreneur Muda yang Berkarakter
Kuliah umum ini memberi mahasiswa pemahaman bahwa membangun usaha yang layak bukan hanya soal kemampuan manajerial atau strategi pemasaran. Ada dimensi nilai yang ikut menentukan ketahanan sebuah bisnis dalam jangka panjang. Mahasiswa didorong untuk melihat dunia usaha sebagai arena membentuk peradaban yang menghargai martabat, bukan sekadar pasar yang mengonsumsi produk.

Acara ditutup dengan sesi diskusi terbuka. Mahasiswa UMKuningan menyampaikan refleksi dan pertanyaan seputar etika dagang, identitas lokal, dan tantangan entrepreneur muda di tengah arus bisnis global. Dari sana terlihat bahwa kuliah umum ini tidak hanya memperkaya teori, tetapi memicu cara pandang baru tentang bisnis dan budaya.
Kegiatan ini juga mempertegas komitmen UMKuningan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan zaman sekaligus berakar pada nilai lokal. Sebuah langkah kecil namun penting untuk menumbuhkan generasi pelaku usaha yang berpikir kritis, beretika, dan mampu merawat nilai-nilai yang membentuk masyarakat Kuningan.
Leave a Reply