Setelah dua hari berlangsung, DKVEST 7 “Metamorph” meninggalkan lebih dari sekadar dokumentasi tentang sebuah festival mahasiswa. Ruang-ruang di Kampus Uniku 2, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Kuningan (FKOM UNIKU), selama 25-26 September 2026 menjadi tempat bertemunya karya mahasiswa, poster dari berbagai negara, film, seni pertunjukan, komunitas, musik, hingga produk kreatif.
Pertemuan itu memperlihatkan satu hal yang cukup menarik: DKV di Kuningan sedang berusaha bergerak keluar dari ruang kelas dan mencari percakapan yang lebih luas dengan masyarakat.
Di tengah rangkaian tersebut, sebuah pernyataan dari Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, saat membuka DKVEST 7 menjadi menarik untuk dibaca kembali. Ia berharap karya mahasiswa DKV tidak berhenti sebagai sesuatu yang sekadar menarik secara visual, tetapi mampu membuka cara pandang dan menghadirkan gagasan yang lebih dalam.
Harapan tersebut pada akhirnya menjadi semacam pertanyaan yang relevan untuk melihat kembali DKVEST 7: ketika sebuah karya ingin menjadi “eye-opening”, apakah lingkungan di sekitarnya juga sudah memberikan cukup ruang bagi karya tersebut untuk dilihat, dibicarakan, dan diapresiasi?
Dari Eye-Catching Menuju Eye-Opening
DKVEST 7 secara simbolis diresmikan oleh Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar. Pembukaan turut dihadiri Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Sang Adipati Kuningan, Drs. Ngatimin, M.Pd.; Wakil Rektor II Universitas Kuningan, Dr. Entin Jumantini, M.Pd.; Dekan Fakultas Ilmu Komputer Uniku, Tito Sugiharto, M.Eng. beserta jajaran; Kepala Program Studi DKV FKOM Uniku, Dr. Sigit Setya Kusuma, M.Sn. beserta jajaran dosen; Kepala Bappeda Kabupaten Kuningan, Purwadi Hasan Darsono, S.Hut., M.Sc.; perwakilan organisasi mahasiswa di lingkungan Universitas Kuningan, serta tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Dian menyampaikan harapan agar karya mahasiswa DKV tidak berhenti sebagai produk yang menarik secara visual.
“Jadi saya ingin nanti melihat karya mahasiswa ini bukan sebagai produk seni, tapi mungkin saya lebih cenderung pada sisi ungkapan intelektual,” ujar Dian.
Ia berharap mahasiswa DKV Uniku tidak berhenti menghasilkan karya yang sekadar eye-catching, tetapi mampu menghasilkan karya yang juga eye-opening. Kesan visual, menurutnya, dapat menjadi pintu masuk menuju makna yang lebih dalam.
Dian juga mendorong mahasiswa untuk menggali inspirasi dari persoalan yang ada di sekitar mereka. Pasar tradisional, kehidupan petani, seniman, budayawan, pelaku UMKM, isu lingkungan, persoalan sosial, pariwisata, hingga perubahan perilaku generasi muda, menurutnya, merupakan sumber gagasan yang bisa diterjemahkan ke dalam karya.
“Ilmu yang luas itu yang memberikan inspirasi ada di sekeliling kita. Banyak hal yang bisa kita gali,” katanya.
Pernyataan tersebut menempatkan DKV dalam posisi yang lebih luas daripada sekadar praktik membuat visual. Desain dapat menjadi cara untuk membaca lingkungan sosial, mengolah pengalaman, dan mengomunikasikan persoalan yang ada di sekitar.
Dan DKVEST 7 sebenarnya sudah menyediakan ruang untuk melihat kemungkinan tersebut.
50 Poster dan Percakapan Visual Lintas Negara
Salah satu ruang tersebut hadir melalui International Poster Exhibition, yang menampilkan 50 karya terpilih hasil open submission. Pameran ini dikurasi oleh Ajay Ahdiyat dari Indonesia dan Choen Lee dari Malaysia.
Karya-karya yang ditampilkan berasal dari berbagai negara, di antaranya Turki, Meksiko, Kenya, Polandia, Amerika Serikat, Argentina, Taiwan, dan Indonesia.
Kehadiran karya-karya tersebut membawa percakapan visual dari berbagai konteks ke ruang yang sama. Di satu sisi terdapat karya dari desainer dan seniman internasional, sementara di sisi lain pengunjung dapat melihat karya tugas mahasiswa DKV Uniku dan karya pilihan dosen.

DKVEST 7 juga menghadirkan sebuah instalasi interaktif yang mengajak pengunjung memberikan respons secara langsung terhadap karya.
Dalam konteks tersebut, pameran tidak berhenti pada aktivitas melihat. Ia membuka kemungkinan untuk membandingkan, mempertanyakan, dan menemukan hubungan antara karya dengan pengalaman audiens.
Sebuah karya mungkin memang harus eye-catching agar orang mau berhenti. Tetapi setelah perhatian berhasil didapatkan, pertanyaan berikutnya adalah apa yang terjadi setelahnya.
Apakah karya tersebut membuat orang berpikir, merasakan sesuatu, mempertanyakan keadaan, atau melihat persoalan dari sudut yang berbeda?
Di situlah gagasan eye-opening menjadi relevan.
Antara Sambutan dan Ruang Pamer
Ada satu hal kecil yang juga menarik untuk dicatat dari pembukaan DKVEST 7.
Bupati Kuningan hadir untuk meresmikan festival dan menyampaikan harapan yang cukup luas tentang bagaimana mahasiswa DKV seharusnya mengembangkan karya. Namun, pada kesempatan tersebut, beliau belum sempat mengikuti rangkaian kunjungan ke ruang pamer dan melihat karya-karya yang ditampilkan.
Tentu ada banyak kemungkinan yang perlu dipertimbangkan. Seorang kepala daerah memiliki agenda yang padat, dan dalam kegiatan resmi, rangkaian protokoler juga kerap membuat waktu kunjungan menjadi terbatas. Karena itu, ketidakhadiran beliau di ruang pamer tidak serta-merta perlu dibaca sebagai bentuk ketidakpedulian terhadap karya mahasiswa.

Tetapi justru karena DKVEST membawa pesan yang cukup kuat tentang pentingnya karya dan gagasan, momen tersebut menarik untuk menjadi bahan refleksi yang lebih luas.
Apresiasi terhadap karya kreatif tidak selalu membutuhkan seremoni besar. Kadang ia cukup dimulai dengan meluangkan waktu untuk melihat karya, bertanya kepada pembuatnya, dan mendengarkan cerita di balik proses penciptaannya.
Jika karya mahasiswa diharapkan mampu membaca persoalan masyarakat, maka pertemuan langsung antara pembuat karya dan para pemangku kepentingan juga menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut.
Bukan untuk mencari siapa yang salah atau benar, melainkan untuk melihat bahwa dukungan terhadap ekosistem kreatif membutuhkan lebih dari sekadar pernyataan dukungan.
Ketika DKV Keluar dari Ruang Kelas
Di luar ruang pamer, DKVEST 7 memperlihatkan upaya mahasiswa untuk memperluas wilayah pertemuan tersebut.
Program film menghadirkan karya dosen, mahasiswa DKV Uniku angkatan 2023, serta pelajar SMA/SMK. Setiap penayangan dilengkapi sesi Q&A dan diskusi.
Community Showcase kemudian mempertemukan berbagai komunitas dan pegiat kreatif, mulai dari Sanggar Gupay Mitra, Art Club, Ilustrator Amatir Kuningan, Aeris Dance, Uniku Choir, GENX Fashion Show, Pink Monster Dance, Standupindo Kuningan, Nazwa F. Aulia, D. Ipung Kusmawi, Tifani Kautsar, Ellsa Berlandha & Agung M. Abul, Air dan Beer, Trapdoor, LARP Combat, hingga Japanese Forum.




Sementara itu, workshop watercolor bersama Jenny Nusakher Basaier (Zencerys) memberi ruang bagi peserta untuk mengalami proses kreatif secara langsung. Di sisi lain, Creasanity mempertemukan produk kreatif dan kuliner dengan pengunjung.
Rangkaian tersebut kemudian ditutup melalui Live Music Performance yang menghadirkan Breeze, Crash Youth, Losing Fight, Skoll, Cipta Mandiri Pesta, Head Balance, Mariners, Killing in the Rage, dan Goodbye Mars.
Jika dilihat secara keseluruhan, DKVEST 7 memperlihatkan bahwa festival DKV tidak harus berhenti pada pameran desain. Ia dapat menjadi titik temu antara desain, seni, musik, film, komunitas, pendidikan, dan aktivitas ekonomi kreatif.
Apresiasi yang Perlu Terus Tumbuh
Dr. Entin Jumantini, M.Pd., Wakil Rektor II Universitas Kuningan, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan DKVEST 7.
“Selamat untuk mahasiswa dan program studi DKV FKOM Universitas Kuningan atas terselenggaranya DKVEST ke 7, semoga ini menjadi pencapaian yang baik dan memberikan manfaat nyata, baik bagi institusi, bagi mahasiswa, dosen, dan umumnya bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi seluruh panitia yang telah mempersiapkan kegiatan dan berharap DKVEST dapat terus terselenggara serta berkembang pada masa mendatang.
Harapan tersebut penting karena DKVEST kini bukan lagi kegiatan yang baru mencoba mencari bentuk. Tujuh edisi menunjukkan adanya tradisi yang telah dibangun oleh mahasiswa dan program studi.
Tantangannya kemudian bukan sekadar bagaimana membuat edisi berikutnya lebih ramai atau lebih besar. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana festival semacam ini dapat semakin memperluas budaya apresiasi terhadap karya dan proses kreatif.
Apresiasi tersebut perlu datang dari banyak arah: kampus, pemerintah, komunitas, industri, media, hingga masyarakat umum.
Sebab, jika mahasiswa DKV didorong untuk menghasilkan karya yang eye-opening, mereka juga membutuhkan audiens yang bersedia membuka diri terhadap gagasan yang dibawa karya tersebut.
Metamorph yang Belum Selesai
Pada akhirnya, tema “Metamorph” terasa seperti proses yang memang belum selesai.
Mahasiswa berubah, karya berubah, cara berkomunikasi berubah, dan kebutuhan masyarakat juga terus berubah. DKVEST menjadi salah satu ruang tempat perubahan tersebut dapat terlihat secara langsung.
Namun, perubahan ekosistem kreatif tidak hanya bergantung pada mereka yang membuat karya.
Ia juga bergantung pada mereka yang bersedia melihat, mendengar, berdialog, dan memberikan ruang.
Mungkin itu pula yang dapat dibawa dari DKVEST 7 setelah lampu pameran dipadamkan dan panggung selesai digunakan: karya yang baik memang perlu dibuat dengan gagasan yang kuat, tetapi ekosistem yang baik juga membutuhkan budaya apresiasi yang kuat.
Eye-catching mungkin membuat kita berhenti.
Tetapi eye-opening membutuhkan kita untuk tinggal sedikit lebih lama.









Tinggalkan Balasan