,

Andriyana Hidupkan Pembelajaran Puisi Modern Indonesia di USSH Ho Chi Minh City Vietnam

Suasana Pembelajaran Puisi Modern oleh Andriyana di USSH

Ho Chi Minh City jadi saksi bagaimana kelas pembelajaran puisi bisa berubah total ketika pendekatannya dibuat lebih cair dan dekat dengan dunia mahasiswa. Pekan ini, Fakultas Oriental Studies, Jurusan Bahasa Indonesia, University of Social Sciences and Humanities (USSH) menghadirkan sesi pembelajaran puisi modern Indonesia bersama Andriyana, dosen tamu dari Indonesia yang dikenal dengan gaya mengajarnya yang santai dan komunikatif.

Sejak awal pertemuan, kelas langsung berdenyut. Mahasiswa BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) yang biasanya berkutat pada tata bahasa dan percakapan dasar, mendadak diajak memasuki semesta Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, dan Joko Pinurbo. Sosok-sosok besar dalam khazanah sastra Indonesia itu terasa baru dan memicu rasa ingin tahu mahasiswa Vietnam.

Puisi itu seperti puzzle. Kadang sederhana, tapi makin dibaca, makin rumit,” ujar salah satu mahasiswa. Satu kalimat yang membuat seisi kelas tertawa setuju, tapi sekaligus membuka ruang diskusi yang hidup.

Kelas yang Penuh Tawa dan Kejutan

Energi kelas mencair begitu cepat. Mahasiswa membaca puisi secara bergantian, sering tersendat pelafalan, tetapi selalu diakhiri tawa dan keberanian untuk mencoba lagi. Puncaknya datang saat puisi Doa Seorang Pesolek dibacakan. Baris-baris tentang lipstik, bedak, dan kosmetik membuat seluruh kelas riuh.

Yang ini saya tahu banget, Bu! Teman saya pakai tiap hari,” celetuk seorang mahasiswa laki-laki, memicu gelak kedua kalinya.

Tak ada tekanan akademis yang kaku. Yang muncul justru ruang aman tempat mahasiswa berekspresi dan menguji rasa dengan Bahasa Indonesia yang mereka pelajari setiap hari.

Metafora Jadi Jembatan Belajar Bahasa

Di balik kehangatan kelas, ada proses pembelajaran yang berjalan serius. Mahasiswa menandai diksi dan metafora yang muncul, terutama kata dan ungkapan yang tak mereka temui di buku teks: sunyi, perih, perona pipi, bahkan frasa puitis seperti mengalirkan waktu.

Andriyana menjelaskan bahwa justru ketidakteraturan bahasa dalam puisi yang membuat mahasiswa lebih peka. “Mereka jadi bertanya, kenapa kalimatnya begini? Kenapa kata ini dipakai dengan cara yang aneh?” katanya. Pertanyaan-pertanyaan ini membuka diskusi yang memperdalam pemahaman mereka pada struktur dan logika Bahasa Indonesia.

Dari Pembaca Menjadi Penulis

Sesi tidak berhenti pada membaca. Mahasiswa diminta menulis puisi mereka sendiri. Ada yang menulis tentang rindu, hujan di kotanya, hingga pengalaman canggung saat belajar bahasa asing. Hasilnya puluhan puisi dengan perspektif segar dan kejujuran khas penulis pemula.

Awalnya saya takut salah. Tapi setelah lihat teman-teman baca puisi sambil tertawa, saya jadi berani menulis,” kata Trang, salah satu mahasiswa yang menuliskan kisah keluarganya.

Banyak karya yang muncul dinilai memiliki potensi untuk dirangkai menjadi antologi pertama mahasiswa BIPA USSH.

Sastra sebagai Ruang Perjumpaan Budaya

Bagi jurusan, pembelajaran puisi ini bukan hanya tentang kemampuan bahasa. Ini peristiwa budaya. Mahasiswa Vietnam mengenal Indonesia bukan melalui teori, melainkan lewat rasa dan pengalaman langsung melalui sastra.

Apa yang dilakukan Pak Andriyana menunjukkan bahwa sastra bisa jadi wahana yang ramah bagi pembelajar. Anak muda Vietnam ternyata sangat responsif terhadap puisi Indonesia,” ujar salah satu dosen Jurusan Bahasa Indonesia.

Menuju Antologi Perdana Mahasiswa Vietnam Berbahasa Indonesia

Dengan karya yang mulai terkumpul dan antusiasme mahasiswa yang konsisten, jurusan kini mempertimbangkan penerbitan antologi puisi mahasiswa. Jika langkah ini terealisasi, publikasi tersebut akan menjadi tonggak unik: puisi berbahasa Indonesia dari perspektif anak muda Vietnam.

Dan semuanya bermula dari sebuah kelas yang penuh tawa.

Pembelajaran puisi modern di USSH Ho Chi Minh bukan sekadar mengenalkan Chairil, Sapardi, atau Joko Pinurbo, tetapi membuktikan bahwa sastra bisa menjadi ruang belajar yang hidup, menyenangkan, dan membentuk keberanian. Siapa tahu, dari kelas ini, kelak lahir penyair berbahasa Indonesia pertama dari Vietnam.

Untuk sekarang, mahasiswa itu terus menulis. Lembar demi lembar. Sebab mereka akhirnya sadar bahwa puisi bukan hanya bahan pelajaran, tetapi cara melihat dan merayakan pengalaman.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *