,

Menghidupkan Kembali Api Kritis di Tengah Dunia Akademik yang Kian Pragmatis

Oleh: Agung M. Abul (aktivis kebudayaan, seniman, penulis dan periset tinggal di Kuningan)

Sabtu malam, 11/10/ 2025. Gedung Kesenian Raksawacana di Kuningan terasa lebih panas dari biasanya. Bukan karena udara, melainkan karena energi yang berpendar dari ratusan penonton yang berdesakan di dalamnya. Di atas panggung, Teater Pecut kelompok teater mahasiswa Universitas Kuningan mementaskan Cipoa, naskah karya Putu Wijaya yang disutradarai Arif Hidayat dosen sekaligus kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra FKIP Universitas Kuningan dibantu Tifani Kautsar sebagi asisten sutradara dan Aditya Toha sebagai pimpinan produksi.

Lakon itu berkisah tentang para pekerja tambang yang menemukan bongkahan emas raksasa, namun rahasia besar itu hanya diketahui oleh sang juragan dan penjaga tambang. Ceritanya lucu, getir, sekaligus menohok, sebuah alegori tentang keserakahan, kebohongan, dan kekuasaan, tema yang terasa amat dekat dengan kenyataan hari ini.

Namun malam itu, yang paling penting bukan hanya lakon yang dipentaskan, melainkan kenyataan bahwa teater kampus masih hidup, masih bernapas di tengah dunia akademik yang semakin sesak oleh angka, akreditasi, dan obsesi efisiensi.

Teater kampus, bagi sebagian orang, mungkin tinggal nostalgia, romantisme masa lalu ketika kampus masih menjadi ruang perdebatan, bukan sekadar pabrik ijazah. Kini, hampir semua berjalan dalam tempo efisien, terukur, dan berorientasi hasil. Seolah berpikir kritis hanyalah penghambat kelulusan. Namun di antara kebisuan itu, masih ada sekelompok mahasiswa yang memilih panggung sebagai jalan pikir dan jalan hidup.

Di atas panggung itulah paradoks dunia akademik menemukan cerminnya. Ketika para tokoh Cipoa berdebat tentang emas di tambang, kita seperti melihat ruang kelas yang berubah menjadi arena kompetisi nilai dan prestasi, bukan tempat menggali makna. Mahasiswa sibuk mengejar “tambang” nilai A, bukan kebenaran atau refleksi. Dalam absurditas itulah teater hadir bukan untuk memberi jawaban, melainkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terlupakan.

Dari panggung kecil seperti itulah lahir semangat untuk menolak tunduk pada rutinitas akademik yang steril. Sebab teater, sebagaimana seni lainnya, selalu mengajarkan keberanian untuk menafsirkan ulang kenyataan. Ia bukan sekadar hiburan, melainkan cara lain untuk berpikir. Di panggung, mahasiswa belajar tentang kegagalan, tentang keberanian menatap diri sendiri, tentang makna manusia yang sejati.

Dunia akademik hari ini terlalu sibuk mengejar kesempurnaan hasil. Sementara teater menegaskan, dalam ketidaksempurnaanlah manusia justru tumbuh. Di atas panggung, seseorang bisa lupa dialog, salah langkah, jatuh dan dari situlah ia belajar kerendahan hati. Teater adalah laboratorium kemanusiaan, tempat orang berlatih gagal, berlatih bangkit, berlatih jujur.

Namun sistem pendidikan modern kerap memandang kegiatan seperti ini sebagai hal yang “tidak produktif”. Mahasiswa takut ikut teater karena dianggap buang waktu. Kampus enggan mendukung karena tidak masuk indikator kinerja. Padahal justru di situlah pendidikan menemukan maknanya. Teater mengajarkan empati, kemampuan mendengar, berpikir kritis, dan keberanian melawan arus, semua hal yang kian langka di kampus hari ini.

Ada semacam nostalgia dan keprihatinan ketika menengok sejarah. Di masa lalu, teater kampus pernah menjadi ruang subversive tempat di mana keberanian intelektual diuji. Di bawah tekanan politik dan sosial, mahasiswa menggunakan teater sebagai bentuk perlawanan yang subtil namun tajam. Melalui simbol dan absurditas, mereka menyampaikan kritik tanpa harus berorasi.

Kini tekanan itu berganti wajah. Bukan lagi kekuasaan represif, melainkan kenyamanan dan banalitas. Musuh baru itu tak berbentuk, hadir lewat kemudahan digital, kelas ber-AC, dan karier terjamin asalkan tak banyak bertanya. Ia menumpulkan kepekaan tanpa disadari.

Namun di tengah kenyamanan semua itu, masih ada bara kecil yang terus menyala. Para anggota Teater Pecut di Kuningan, misalnya, bekerja dalam keterbatasan. Latihan mereka berlangsung di ruang sederhana. Tapi di sela tawa dan peluh, mereka sedang melakukan sesuatu yang tak ternilai, menolak menjadi apatis. Mereka berlatih bukan sekadar untuk tampil, tapi untuk berpikir bersama.

Yang sering terlupa adalah bahwa teater, dalam konteks kampus, bukan hanya pertunjukan seni, melainkan bentuk pendidikan yang paling manusiawi. Di sana, seseorang belajar disiplin, kolaborasi, empati, dan kritik. Ia menggabungkan seni berpikir dan seni bertindak dalam satu ruang. Di panggung, setiap tubuh adalah teks yang hidup, setiap dialog adalah percakapan dengan masyarakat yang lebih luas.

Sayangnya, sistem pendidikan kita masih terpaku pada capaian kognitif dan indeks prestasi. Mahasiswa yang menulis skripsi tentang teater sering dianggap tidak “serius” karena tak menjanjikan prospek kerja. Padahal, dari ruang teaterlah banyak intelektual, aktivis, bahkan pemimpin publik menemukan kedalaman berpikirnya.

Kita sering lupa bahwa kebudayaan adalah inti dari pendidikan. Tanpa kebudayaan, pendidikan kehilangan arah, ia hanya melahirkan teknokrat tanpa empati. Kampus boleh memiliki laboratorium dan sistem modern, tapi tanpa ruang bagi seni, ia kehilangan jiwa.

Di luar kampus, kita juga menyaksikan gejala yang sama, seni kehilangan ruang, digantikan oleh logika industri hiburan. Orang lebih sibuk menjadi viral daripada berpikir. Panggung direduksi menjadi latar untuk konten, bukan arena pencarian makna. Dalam dunia yang serba instan ini, mempertahankan teater kampus bukan sekadar menjaga tradisi, tapi menjaga kewarasan kolektif.

Teater, pada dasarnya, memang tidak efisien. Ia menuntut waktu, kesabaran, keterlibatan, dan kejujuran, empat hal yang makin langka dalam ekosistem akademik modern. Seorang mahasiswa yang menunggu giliran tampil belajar tentang waktu. Yang menghafal naskah belajar tentang mendengarkan. Yang berakting dalam cahaya seadanya belajar tentang ketulusan. Itulah pendidikan sejati, yang tak ditemukan di lembar evaluasi dosen.

Mungkin hari ini tak akan sama dengan gerakan teater kampus 1980–1990-an. Tapi bukan itu yang penting. Nilai utamanya bukan pada besar-kecilnya gerakan, melainkan pada keberanian menjaga bara, betapapun kecil. Tugas kita bukan menghidupkan romantisme masa lalu, tapi memastikan nyala itu tak padam, bahwa di tengah dunia yang kian pragmatis, masih ada ruang bagi pertanyaan, bagi keraguan, bagi nurani yang menolak diam.

Ketika pementasan Cipoa usai malam itu, tepuk tangan panjang menggema. Tapi gema dialognya masih tertinggal di udara, tentang manusia yang menemukan emas, tapi kehilangan akal. Antara haru dan gelisah, di luar sana, dunia akademik sedang berlomba menambang emasnya sendiri, gelar, sertifikat, akreditasi, sementara bara kecil di panggung itu terus berjuang melawan gelap.

Dan mungkin di sanalah makna sejati teater kampus hari ini, menjaga api kritis agar tetap hidup, di tengah dunia yang semakin pragmatis dan sunyi dari pertanyaan.


Comments

One response to “Menghidupkan Kembali Api Kritis di Tengah Dunia Akademik yang Kian Pragmatis”
  1. Unang Nurasa Avatar
    Unang Nurasa

    Esai yang bernas tajam, liar dan terukur.. Sukses terus perupa kuningan (aden agung)..

Leave a Reply to Unang Nurasa Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *