Pada 27 Oktober 2025, musisi sekaligus penulis lagu asal Kuningan, Jawa Barat, Air & Bir, resmi merilis karya terbarunya berjudul “Pelantun Lirih.” Lagu ini hadir sebagai barisan birama dan rangkaian kata untuk para pemimpi—sebuah persembahan bagi mereka yang masih berjuang menjadi diri sendiri dan setia pada jalan hidup yang diyakini.
Tentang Menjadi Diri Sendiri
“Pelantun Lirih” bukan hanya lagu yang berbicara tentang perasaan. Lebih jauh dari itu, lagu ini menjadi refleksi personal Air & Bir tentang bagaimana ia memilih jalan hidupnya sebagai seorang pemusik dan penulis lagu. Ia tidak berusaha mengikuti arus, melainkan mencoba menemukan bentuk terbaik dari dirinya melalui musik.
Menurut Air & Bir, menulis lagu adalah caranya untuk berdialog dengan diri sendiri dan orang lain. “Saya cuma ingin menulis dan melantunkan sesuatu yang bisa memberi pengaruh baik bagi yang mendengarkan,” ungkapnya dengan lirih. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa karya-karyanya lahir dari ketulusan, bukan sekadar ambisi untuk dikenal.
Mars Para Pemimpi
Selain itu, “Pelantun Lirih” juga dimaksudkan sebagai mars para pemimpi. Melalui nada lembut dan sentuhan folk-pop yang hangat, Air & Bir ingin menyampaikan pesan sederhana kepada siapa pun yang masih berjuang: tetap semangat, tetap sabar belajar, dan tetap menjadi diri sendiri. Ia percaya bahwa setiap mimpi, sekecil apa pun, pantas diperjuangkan dengan sepenuh hati.
Proses produksi lagu ini dilakukan di Sasana Karya Studio, Surakarta, tempat di mana Air & Bir berhasil menjadi salah satu dari lima musisi terpilih terbaik dalam program Ruang Rekam Gratis Sasana Karya. Keberhasilan ini menjadi langkah penting menuju album perdananya yang rencananya akan dirilis pada awal tahun mendatang. Dengan begitu, “Pelantun Lirih” menjadi jembatan antara fase eksploratif dan babak baru dalam perjalanan bermusiknya.
Dari Sastra ke Nada
Menariknya, Air & Bir bukan hanya musisi, tetapi juga seorang lulusan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Latar belakang akademisnya memberi warna tersendiri pada karya-karyanya yang sarat diksi puitis dan narasi emosional. Melalui perpaduan genre indie pop, pop folk, dan baroque pop, ia berhasil menciptakan suasana musikal yang lembut sekaligus reflektif.
Sebelumnya, Air & Bir telah merilis tiga lagu, yaitu “Yang Tercinta,” “Wangi Abadi,” dan “Terima Kasih Bunga.” Menariknya lagi, lagu terakhir berhasil mencuri perhatian publik karena terpilih dalam rubrik Bising Kota, Pophariini, pada 13 Juni 2025. Dengan prestasi tersebut, ia semakin dikenal sebagai salah satu musisi independen muda yang konsisten membawa nuansa introspektif dalam karyanya.
Sebuah Catatan Kecil untuk Mereka yang Masih Berjalan
Melalui “Pelantun Lirih,” Air & Bir menulis surat terbuka bagi siapa pun yang tengah berjuang dalam diam. Lagu ini mengajak pendengarnya untuk berani melihat ke dalam diri, merayakan proses, dan tidak tergesa-gesa dalam meraih mimpi. Ia menegaskan bahwa menjadi pelantun lirih bukan berarti lemah, melainkan bentuk keberanian untuk tetap jujur terhadap diri sendiri.
Air & Bir menutup pesannya dengan sederhana namun mengena:
“Tetap semangat, tetap sabar belajar, dan tetap jadi diri sendiri.”
Dengan rilisnya “Pelantun Lirih,” Air & Bir sekali lagi membuktikan bahwa kejujuran dan kesederhanaan bisa menjadi kekuatan utama dalam bermusik. Ia bukan hanya menyanyikan lagu, tetapi juga menyuarakan perjalanan hidup yang nyata—dalam lirih yang justru menggetarkan.
Instagram @airdanbir
Tiktok @airdanbir
Spotify Air Dan Bir
YouTube @pustakaairdanbir

Leave a Reply