Catatan santai (tapi agak keras kepala) di usia 528 tahun, dari orang yang cari nafkah dari kreativitas di kabupaten ini.
Setiap 1 September, Kuningan ulang tahun. Tahun ini yang ke-528, dengan tema “Melesat Ngudag Jaman, Ngakar Kuat Purwadaksi”, artinya melesat mengejar zaman, berakar kuat pada asal-usul. Purwadaksi sendiri kira-kira berarti “dari awal sampai akhir”, asal-usul yang menuntun tujuan.
Saya tidak akan mengkritik temanya. Bukan karena saya penakut, tapi karena saya kebetulan tahu tema itu tidak jatuh dari langit: ia hasil godokan Pemda bersama Dewan Kebudayaan, dan saya ada di ruangan itu. Yang menurut saya jauh lebih menarik untuk diperdebatkan bukan bunyinya, melainkan bagaimana ia dimaknai, dan siapa yang berani mengukurnya.
Satu Contoh Kecil sebagai Argumen
Izinkan saya mulai dari pengalaman yang paling dekat. Tahun ini logo Hari Jadi Kuningan tidak dibuat dengan cara lama: tidak ditunjuk diam-diam, tidak pula dilempar jadi sayembara terbuka yang menuntut ratusan desainer bekerja gratis lalu satu orang menang.
Skemanya diadaptasi dari praktik pengembangan identitas visual di tingkat nasional: penyusunan design brief (dokumen berisi arahan dan batasan desain), open call portofolio, kurasi berdasarkan rekam jejak, pengembangan konsep oleh finalis terpilih, presentasi di hadapan panel lintas disiplin (pemerintah, akademisi, praktisi desain, budayawan, pelaku ekraf), lalu public online voting dengan bobot 40% suara publik dan 60% penilaian panelis. Hasilnya, Logo 01 karya Ligar Fajar Maulana ditetapkan sebagai identitas visual resmi.

Kenapa saya ceritakan? Bukan untuk pamer. Tapi karena kasus kecil ini menunjukkan satu hal yang sering luput: ekonomi kreatif tumbuh bukan karena ada acara, melainkan karena ada mekanisme. Desainer muda Kuningan tidak butuh dimotivasi. Mereka butuh proses yang jelas, penilaian yang bisa dipertanggungjawabkan, dan hasil kerja yang dihargai sebagai pekerjaan profesional, bukan partisipasi sukarela.
Satu logo berhasil dikerjakan begitu. Pertanyaannya: yang lainnya bagaimana?
Angka yang Membuat Kita Terlalu Cepat Senang
Di atas kertas, Kuningan mungkin sedang bagus. Laju pertumbuhan ekonomi Triwulan II 2025 menembus 10,41%, tertinggi di Jawa Barat, di atas Majalengka dan Kabupaten Cirebon (Pemerintah Kabupaten Kuningan, 2025a). Kemiskinan turun ke 10,74% pada Maret 2025, terendah dalam beberapa tahun terakhir, dan Tingkat Pengangguran Terbuka di angka 7,78% (Pemerintah Kabupaten Kuningan, 2025b).
Di level nasional lebih memikat lagi. Ekonomi kreatif menyumbang Rp1.611,2 triliun atau 7,28% terhadap PDB 2024, menyerap 27,4 juta pekerja pada 2025, dan lebih dari separuhnya berusia di bawah 40 tahun (Badan Pusat Statistik, 2025). Cakupannya pun diperluas dari 17 menjadi 21 subsektor lewat Rindekraf 2026–2045 (Kementerian Ekonomi Kreatif, 2026).
Semua angka itu mungkin benar. Semua angka itu juga tidak otomatis membuat seorang ilustrator di Cigugur sanggup mencicil tablet grafisnya.
Di situ persoalannya. Pertumbuhan makro dan keberlangsungan hidup pelaku kreatif bisa tinggal di kabupaten yang sama tanpa pernah saling menyapa.
Membaca Ulang “Melesat” dan “Ngakar”
Nah, ke sini saya mau menagih tema kita sendiri.
Melesat itu soal kecepatan. Tapi kecepatan tanpa arah namanya ngebut, dan ngebut tanpa mesin namanya turunan. Kalau ekonomi kreatif Kuningan mau melesat, mesinnya harus disebut jelas: pasar, pembiayaan, dan mekanisme kerja yang adil. Bukan jumlah pelatihan.
Ngakar kuat purwadaksi biasanya diterjemahkan jadi “jangan lupakan budaya”. Menurut saya itu terlalu sopan dan terlalu dekoratif. Akar, dalam ekonomi kreatif, bukan ornamen. Ia bahan baku. Motif, cerita rakyat, kopi lereng Ciremai, kuda kuningan, bahasa Sunda dialek lokal: itu semua aset yang bisa jadi kekayaan intelektual, bukan sekadar tema kostum karnaval yang dilipat lagi ke gudang tanggal tiga hari setelahnya.
Bedanya besar. Akar sebagai ornamen menghasilkan foto bagus. Akar sebagai bahan baku membuahkan penghasilan.
Kita Masih Punya Kalender, Belum Punya Ekosistem
Rangkaian Hari Jadi tahun ini digarap lebih serius: Karnaval Budaya bertema sejarah Kuningan dari masa ke masa, Seba Sapton dan Babarit, Ciremai Coffee Culture yang mengangkat kopi Kuningan (produksinya 1.157 ton pada 2025, terbesar kedua di Jawa Barat untuk robusta), sampai diskon 10–70% di toko, kafe, dan hotel (Voxpopuli, 2026).
Saya ikut senang. Saya juga ikut kebagian rezekinya, mungkin. Tapi mari sebut namanya dengan jujur: yang kita punya sekarang adalah festivalisasi, yaitu kecenderungan mengurus sektor kreatif lewat acara demi acara, bukan industrialisasi.
Kajian kebijakan budaya sudah lama curiga pada pola ini. McRobbie (2016) menunjukkan bagaimana ajakan “jadilah kreatif” memanggil anak muda masuk ke pekerjaan berisiko tinggi berupah rendah, lalu menyebut ketidakstabilan itu sebagai kebebasan. Oakley dan O’Connor (2015) mencatat sektor kreatif kerap dipakai melegitimasi pertumbuhan daerah, sementara kondisi kerja di dalamnya justru makin prekariat, istilah untuk pekerja yang penghasilannya tidak pasti, tanpa kontrak jelas dan tanpa jaring pengaman.
Terjemahan lokalnya sederhana: panggung dibongkar esok pagi, dan ekosistemnya ikut dibongkar. Fotografer pulang bawa portofolio tanpa kontrak. Desainer dapat ucapan terima kasih, plus kalimat abadi itu: “anggarannya menyusul, ya.”
Dari Ruang Kelas: Kita Melatih Talenta untuk Kota Lain
Ini bagian yang bikin saya diam beberapa detik sebelum menjawab pertanyaan mahasiswa.
Tiap tahun kami meluluskan desainer, ilustrator, videografer, animator, dan sebagainya. Mereka kompeten. Lalu sebagian besar pergi ke Bandung, Jakarta, atau kerja remote untuk klien luar negeri sambil tetap tinggal di rumah orang tua, dan tidak pernah tercatat sebagai pelaku ekonomi kreatif Kuningan oleh siapa pun.

Kita sedang mengekspor SDM unggulan, dengan bangga, tanpa bea keluar.
Mereka pergi bukan karena tidak cinta Kuningan, tapi karena Kuningan belum jadi pasar. Kampus sudah menyediakan sisi pasokan. Yang belum dibangun serius adalah sisi permintaan.
Dari Ruang Redaksi: Distribusi Itu Infrastruktur
Mengelola media kecil mengajarkan saya satu hal keras kepala: karya yang tidak terdistribusi tidak pernah benar-benar ada.
Ekonomi kreatif jarang mati karena kurang karya. Ia mati karena karyanya tidak punya jalur: tidak ada kanal, kurasi, arsip, atau kritik. Band lokal manggung sekali lalu senyap. Pameran ilustrasi digelar, tak ada yang menuliskannya, lima tahun kemudian tak ada bukti peristiwa itu pernah terjadi.
Media, arsip, dan kurasi bukan pelengkap acara. Mereka infrastruktur, sama pentingnya dengan jalan, hanya jauh lebih murah dan jauh lebih sering dilupakan.
Empat PR yang Membosankan, Tapi Menentukan

1) data. Berapa pelaku kreatif Kuningan, di subsektor apa, omzet berapa? Sensus Ekonomi 2026 rasanya terlalu mahal untuk dilewatkan.
2) infrastruktur produksi bersama. Alat produksi film, foto, dan audio milik daerah yang dikelola bersama komite dan bisa dipinjam. Satu ruang kerja yang benar-benar berfungsi lebih berdampak daripada sepuluh seminar motivasi.
3) belanja daerah untuk karya lokal dan perlindungan kekayaan intelektual. Kopi Ciremai sudah menunjukkan jalannya lewat skema indikasi geografis, yaitu perlindungan hukum atas produk khas suatu wilayah (Pikiran Rakyat Kuningan, 2026). Logikanya bisa diperluas ke kriya, musik, desain.
4) mekanisme yang berumur lebih panjang dari masa jabatan. Kuningan punya Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah sejak 2019. Dokumennya ada. Pertanyaannya, kapan terakhir ia dibaca, bahkan dipakai sebagai rujukan anggaran, bukan sekadar lampiran?
Ukuran untuk Tahun Depan
Jadi begini usul saya untuk Hari Jadi ke-529. Jangan ukur keberhasilan dari jumlah penonton, panjang helaran, atau berapa artis nasional yang datang.
Ukurlah dari satu angka yang jauh lebih sulit:
berapa banyak pelaku kreatif Kuningan yang tahun depan masih bisa hidup dari karyanya, di Kuningan.
Kalau angka itu naik, kita memang melesat. Kalau tidak, kita cuma lari di tempat, dengan kostum yang sangat bagus.
Dirgahayu, Kuningan. Semoga kita bukan cuma panjang umur, tapi juga panjang akal.
Referensi
Aduide Media. (2026a, 7 Juli). Tiga finalis kurasi portofolio desain identitas visual Hari Jadi ke-528 Kuningan resmi diumumkan. https://aduide.id/2026/07/07/tiga-finalis-kurasi-portofolio-desain-identitas-visual-hari-jadi-ke-528-kuningan-resmi-diumumkan/
Aduide Media. (2026b, 31 Juli). Lewati kurasi dan voting publik, logo karya Ligar resmi jadi identitas Hari Jadi ke-528 Kuningan. https://aduide.id/2026/07/31/lewati-kurasi-dan-voting-publik-logo-karya-ligar-resmi-jadi-identitas-hari-jadi-ke-528-kuningan/
Aduide Media. (2026c, 7 Agustus). Subsektor ekraf bertambah, daerah siap sambut atau masih sibuk dengan event seremonial? https://aduide.id/2026/08/07/subsektor-ekraf-bertambah-daerah-siap-sambut-atau-masih-sibuk-dengan-event-seremonial/
Badan Pusat Statistik. (2025, 17 November). BPS: Ekonomi kreatif serap tenaga kerja 27,4 juta tahun 2025. https://www.bps.go.id/id/news/2025/11/17/805/bps–ekonomi-kreatif-serap-tenaga-kerja-27-4-juta-tahun-2025.html
Kementerian Ekonomi Kreatif. (2026, 10 Juli). Rindekraf perluas cakupan ekraf menjadi 21 subsektor. https://ekraf.go.id/news/rindekraf-perluas-cakupan-ekraf-menjadi
McRobbie, A. (2016). Be creative: Making a living in the new culture industries. Polity Press.
Oakley, K., & O’Connor, J. (Eds.). (2015). The Routledge companion to the cultural industries. Routledge.
Pemerintah Kabupaten Kuningan. (2025a, 16 November). Sekda Jabar puji Kuningan, pertumbuhan ekonominya terbaik di Jawa Barat dan Pulau Jawa. https://kuningankab.go.id/home/sekda-jabar-puji-kuningan-pertumbuhan-ekonominya-terbaik-di-jawa-barat-dan-pulau-jawa/
Pemerintah Kabupaten Kuningan. (2025b, 4 Desember). Kuningan bukan kabupaten termiskin di Jawa Barat, data resmi tunjukkan perbaikan signifikan dan pertumbuhan ekonomi tertinggi se-Pulau Jawa. https://kuningankab.go.id/home/kuningan-bukan-kabupaten-termiskin-di-jawa-barat-data-resmi-tunjukkan-perbaikan-signifikan-dan-pertumbuhan-ekonomi-tertinggi-se-pulau-jawa/
Pikiran Rakyat Kuningan. (2026, 20 April). Kuningan panen! Kopi lereng Gunung Ciremai bakal mejeng di pameran bergengsi World of Coffee Asia 2026. https://kuningan.pikiran-rakyat.com/ekbis/pr-5310151791/
Voxpopuli. (2026, 30 Agustus). Banyak sentuhan baru! Sekda bicara Hari Jadi ke-528 Kuningan spektakuler. https://voxpopuli.co.id/banyak-sentuhan-baru-sekda-bicara-hari-jadi-ke-528-kuningan-spektakuler/









Leave a Reply