#AduOpini
Belakangan ini, kebebasan berekspresi di Indonesia kayaknya makin gelap. Dari revisi UU TNI yang bikin was-was, teror ke media yang makin brutal, sampai aturan yang malah membungkam kritik. Ini bukan cuma urusan jurnalis atau aktivis doang, tapi kita semua harus peduli. Khususnya insan kreatif, yang punya kekuatan buat bersuara lewat karya.
UU TNI: Militer Mau Makin Banyak Ikut Campur?
Revisi UU TNI yang lagi dibahas banyak dikritik karena bisa bikin militer makin sering masuk ke urusan sipil. Ini bikin banyak orang takut kalau-kalau kita balik ke masa Orde Baru, di mana tentara bisa ikut campur urusan rakyat tanpa batas. Kalau nggak ada kontrol yang jelas, bisa-bisa demokrasi yang kita bangun susah payah malah jadi mundur lagi.
Teror ke Media: Kasus Tempo Bikin Ngeri
Kondisi kebebasan pers makin nggak aman. Jurnalis yang kritis malah jadi sasaran ancaman, bahkan sampai ada yang dikirim kepala babi dan bangkai tikus, kayak yang dialami Tempo belakangan ini. Tentu ini bukan pertama kalinya mereka kena teror. Sebelumnya, mereka juga sering kena serangan siber gara-gara berita-berita investigasi yang mereka angkat. Kalau jurnalis aja bisa diancam segitunya, gimana dengan kebebasan kita buat dapat informasi yang jujur? Kalau semua media jadi takut buat mengkritik, kita bakal kehilangan suara yang bisa mengawasi orang-orang berkuasa.
RUU Penyiaran: Mau Bikin Media Makin Bungkam?
RUU Penyiaran yang lagi digodok juga nggak kalah bikin geleng-geleng kepala. Salah satu isunya adalah larangan jurnalisme investigasi. Bayangin, kalau aturan ini jadi sah, media bakal makin susah buat ngungkap kasus korupsi atau pelanggaran hak asasi manusia. Padahal, investigasi itu salah satu cara penting buat ngejaga transparansi dan keadilan.
Pemerintah dan Komunikasi yang Amburadul
Nggak cuma kebijakan-kebijakannya yang bermasalah, tapi cara pemerintah menanggapi kritik juga bikin banyak orang geregetan. Alih-alih memberikan klarifikasi yang masuk akal atau berdiskusi terbuka, sering kali responsnya justru defensif atau bahkan menyerang balik pihak yang mengkritik. Misalnya, pejabat yang gampang ngegas kalau ditanya media, respon yang nggak fokus ke substansi, komunikasi nir-empati, atau malah memanfaatkan buzzer buat membelokkan isu. Banyak kritik masyarakat yang akhirnya malah dianggap sebagai serangan, bukan sebagai masukan buat perbaikan. Padahal, kalau komunikasi pemerintah lebih baik, transparan, dan terbuka, banyak kebijakan bisa disusun dengan lebih baik tanpa harus bikin rakyat curiga atau marah-marah di media sosial.
Belum lagi soal Efisiensi Anggaran, Tebang Pilih Kasus Hukum, Ketenagakerjaan, Karya Seni Direpresi, etc. etc. etc. You name it lah!
Insan Kreatif, Saatnya Bersikap!
Di tengah kondisi kayak gini, insan kreatif nggak bisa diem aja. Lewat seni, musik, film, ilustrasi, bahkan konten digital, kita bisa bantu nyuarain isu-isu sosial dan politik dengan cara yang lebih beragam. Jangan khawatir dinyinyirin gara-gara nggak sampai turun ke jalan. Kampanye kreatif di media sosial bisa banget dipakai buat ngajak orang-orang lebih sadar soal pentingnya kebebasan berekspresi. Kolaborasi juga bisa jadi kunci. Misalnya, seniman, desainer, filmmaker, dan jurnalis bisa kerja bareng buat bikin film dokumenter soal pembungkaman media, bikin poster atau ilustrasi yang ngegambarin kondisi terkini, atau bikin lagu yang bisa nyentuh banyak orang.
Intinya, kalau kebebasan berekspresi terus dibungkam, yang kena dampaknya bukan cuma jurnalis atau aktivis, tapi juga kita semua. Insan kreatif punya peran besar buat tetep bersuara, supaya demokrasi di Indonesia nggak mati dan gelapnya bangsa gak makin pekat.

Leave a Reply