Search Button — Aduide Media
,

Catatan untuk Pameran Tudgam Kids: Masihkah Manusia Bisa Bermain di Era Kapitalisme Lanjut?

Seni rupa anak barangkali adalah salah satu bentuk magic circle paling murni yang masih tersisa di zaman kita. Anak-anak memang menggambar di kanvas, misalnya, dengan akrilik, tetapi sebenarnya mereka tidak dalam posisi memproduksi lukisan dalam pemahaman konvensional. Apa yang disentuh anak merupakan pergumulan dengan dunia yang sama sekali lain dari pemahaman orang dewasa. Mereka sedang menciptakan sebuah kosmos baru di kanvas, dengan bentuk, garis, dan warna yang barangkali saja tidak sempurna dalam logika simetri a la modernitas.

Apa yang simetri dalam kehidupan modern ini ditandai, mula-mula, oleh pergerakan Renaisasns, yakni ketika para perupa, khususnya pelukis, bermain-main dengan menekankan pada simetri dan keseimbangan bentuk. Dalam hal ini, apa yang simestri dan seimbang barangkali diasosiasikan dengan makna “harmonis”.

Namun pada tanggal 2 Juli 2026 kemarin, tepatnya pada malam hari, saya sedang bercakap dengan kawan saya perihal sastra, dan pada saat itu tiba-tiba sekali ada dorongan untuk pergi ke Gedung Graha Wangi. Sebenarnya pertama-tama saya hanya berniat untuk bertemu beberapa kawan lama, tetapi ternyata di sana sedang terjadi diskusi yang cukup serius, sehingga saya mencari sudut remang sekadar untuk menyesap kopi. Ternyata di bagian belakang gedung itu sedang dihelat sebuah pameran yang menampilkan lukisan-lukisan anak. Di sana saya dipandu oleh seorang kawan saya, Ryan Ginanjar (Obet), meski sebenarnya pameran sudah tutup.

Pertama-tama perlu saya kutipkan sebuah “mukadimah” ihwal kegiatan ini yang ditampilkan oleh Yayasan Tulisan dan Gambar (Tudgam) ini.

“Pameran seni yang berlangsung di BEEK, Gedung Graha Wangi, selama tiga hari, pada 2-4 Juli 2026, hadir sebagai ruang apresiasi yang tulus. Di sini, anak-anak belajar menghargai proses kreatif yang telah mereka lalui, sekaligus merasakan kegembiraan ketika melihat orang lain menikmati karya-karya mereka. Lebih dari sekadar pameran visual …”

Kegiatan ini sebenarnya adalah sebuah rangkaian. Persisnya ada kegiatan bertualang di alam, pementasan drama, dll., hanya saja dalam catatan ini saya akan memfokuskan diri untuk berbincang mengenai karya-karya visual (mayoritas lukisan) dalam pameran yang saya kunjungi pada malam itu.

Layout Pameran Seni Anak, Yayasan Tudgam © 2026
Layout Pameran Seni Anak, Yayasan Tudgam © 2026

Alienasi dan Trauma Keratif

Ketika mula-mula membayangkan mengenai “dunia anak-anak”, yang terlintas pertama kali adalah dunia permainan. Sebuah dunia yang dipenuhi dengan kegembiaraan, kepolosan, dan absennya pelbagai mens rea yang biasa melatarbelakangi komunikasi dunia dewasa. Dalam pameran seni rupa anak ini, para akhirnya, telah menjadi momen penyatuan proses dan hasil. Dalam situasi ini seolah-olah tidak ada fragmentasi seperti yang dialami perupa dewasa yang dituntut memikirkan pasar, kuratorial, dan khususnya, “nilai jual karya seni”. Anak-anak melukis karena mereka ingin melukis, harus melukis, dan menjadikan proses melukis ini sebagai proses being, mengada menjadi diri mereka sendiri.

Huizinga, dalam Homo Ludens, menjabarkan bagaimana dunia permainan sendiri melampaui aktivitas marginal dan terpisah dari kehidupan manusia. Permainan dapat dianggap lebih tua dari kebudayaan itu sendiri. Sebelum ada hukum, agama, konstitusi, atau sains dalam bentuknya yang paling sistematis, ruang di mana manusia menyusun ruang yang di dalamnya berkelindan aturan, batas, dan gairah yang begitu mengasyikan dalam bernegosiasi dengan kejemuan mekanis kerja keseharian manusia.

Namun belakangan ini, dalam mekanisasi kehidupan modern yang ditengarai derap kapitalisme lanjut, kita terlempar pada sebuah realitas yang disebut Weber berupa “kerangkeng besi” (iron cage). Di sudut lain, seni rupa para orang dewasa kian dituntut untuk produktif, efisien, serta terukur dalam perlbagai mekanisme manajerialnya. Workshop seni yang dahulu dipenuhi oleh eksperimen artistik kini didikte oleh silabus dan menuntut output dan outcome. Seniman-seniman juga secara tak langsung dipaksa hidup dengan portofolio, artist statement, branding, dan juga relasi sehingga karya-karya mereka dapat dihargai secara ekonomis.

Kapitalisme, dengan logika akumulasi yang tak mengenal batas, senantiasa melakukan komodifikasi pada hampir semua hal yang ada di dunia ini. Pasar seni bagi “anak yang berbakat”, misalnya, telah dikomersialisasi lewat lomba-lomba, pameran komersial, dan juga konten-konten yang menghamba pada algoritma. Anak yang memiliki karya “paling bagus” pada akhirnya tidak membuat mereka menyelami area terdalam dari sensasi artistik, tetapi sekadar mencetak mereka menjadi bibit-bibit dari homo economicus yang terampil menghitung.

Meminjam Kembali Mata Anak

Sebelum berbincang lebih jauh, saya merasa perlu menampilkan beberapa karya yang menarik perhatian saya. “Menarik perhatian” di sini saya harap tidak menjadi sebuah kecenerungan kanon, atau preferensi pasar, melainkan karena semata-mata kemurnian bahwa batin saya tersentuh secara artistik.

“Spongebob & Pattrick” - Acrylic on Canvas 20 x 30 cm © Adara Putri Krisna, 2026
“Spongebob & Pattrick” – Acrylic on Canvas 20 x 30 cm © Adara Putri Krisna, 2026

Lukisan “Spongebob & Pattrick” karya Adara Putra Krisna ini dikerjakan dalam medium akrilik di atas kanvas. Komposisi diagonal membagi bidang antara spons dan bintang laut dengan bentangan laut biru. Sapuan kuas lebar bertekstur membubuhkan hamparan pasir dengan corak kuning-kecoklatan di bagian kanan bawah. Sapuan kuasnya ekspresif dan longgar, seolah-olah menggunakan teknik direct-painting. Kontras ini menyembulkan kesan yang ceria, meski kenyataannya, makhluk berbentuk spons dan bintang laut itu tengah sekarat karena tidak dapat bernapas di daratan. Kita dapat melihat ironi halus dalam visualisasi yang polos ini.

“Senja” - Acrylic on Canvas 20 x 30 cm © Nareshwari Shajani Alfathia Dhia, 2026
“Senja” – Acrylic on Canvas 20 x 30 cm © Nareshwari Shajani Alfathia Dhia, 2026

Selanjutnya dapat kita lihat sebuah lukisan yang menggambarkan pemandangan senja dengan teknik gradiant blending. Area langit dikerjakan dengan sapuan horizontal yang halus, dan bisa kita lihat gradasi warna merah tua di bagian atas, lantas turun oranye terang. Di bagian dasar ada pewarnaan oranye solid yang dekat dengan tanah. Berderet pula siluet pohon, sebagian terkesan ranggas, sebagian barangkali tertutup kabut. Lanskap yang dilukiskan Nareshwari ini secara umum tipikal dengan lukisan anak-anak, tetapi komposisi siluet pohon dan senja yang menyala itu memberi intensitas kesepian yang berdengung di telinga saya.

“Keluarga Telur” - Acrylic on Canvas 20 x 30 cm © Kanaya Hanindhiya, 2026
“Keluarga Telur” – Acrylic on Canvas 20 x 30 cm © Kanaya Hanindhiya, 2026

Berikut ini ada lukisan yang menggambarkan sebuah keluarga dengan gaya stick-figure, khususnya dengan gambaran kepala seperti telur. Latar langit biru cerah dibuat dengan sapuan kuas yang dekoratif, dan dapat kita lihat matahari sederhana di pojok kanan atas. Ada pula tiga batang pohon degan dedaunan yang digambar, barangkali, dengan teknik stippling. Warna-warna primer yang digunakan mendekati seni anak folk art, menggambarkan sebuah imajinasi mengenai bagaimana asosasi antara benda-tak-hidup (telur) yang termungkinkan mengalami personifikasi.

“Memancing” - Acrylic on Canvas 30 x 40 cm © Nyala Syams Lare Prasetyo, 2026
“Memancing” – Acrylic on Canvas 30 x 40 cm © Nyala Syams Lare Prasetyo, 2026

Lukisan terkahir yang saya pilih menampilkan adegan memancing. Di sini kanvas dihiasi dengan sapuan kuas longgar bertekstur dalam menggambarkan langit. Ada pula pepohonan yang dibuat secara, barangkali saja, spontan. Di sana ada sosok manusia stick-figure juga yang tengan memancing makhluk merah besar yang melayang (tentu saja maksudnya ikan). Penggambaran yang begitu bertekstur dan dipenuhi spontanitas ini menjadi proyeksi dari kemurnian imajiner manusia.

Penutup sebagai Refleksi

Huizinga barangkali saja akan bersedih melihat kondisi kita saat ini. Ia menulis Homo Ludens di ambang Perang Dunia II, ketika rasionalitas instrumental menguasai peradaban dan nyawa manusia sekadar menjadi statistik dalam mesin besar bernama “strategi”. Ketika merefleksikan lukisan-lukisan anak di pameran ini, betapa saya menyayangkan pupusnya sensasi permainan yang murni yang lantas digantikan dengan simulasi permainan berdarah: kolonialisme, eksploitasi buruh, destruksi lingkungan, dsb … dan pada titik ini kompetisi ekonomi bergerak dengan agresif dengan bertopeng kreativitas dan pembangunan.

Namun karena manusia adalah, mengutip Lionel Tiger, hewan dengan bakat besar untuk berharap, tentu kita masih bisa melihat harapan termungkinkan tumbuh dari mana-mana. Misalnya saja, di ruang-ruang yang belum sepenuhnya dijamah logika pasar, di sebuah daerah yang masih dipenuhi anak-anak yang gemar bermain dengan lumpur, di sebuah sekolah yang di sana gurunya memberi kebebasan pada anak untuk berkreasi.

Saat menulis catatan ini, saya merasa kembali menjadi anak kecil yang sedang menggambar monster-monster dalam film Ultraman menggunakan krayon. Meski kenyataannya, tangan ini telah dewasa, dalam hati terdalam saya masih berkeinginan untuk bermain, untuk terbebas dari deadline pekerjaan, untuk kabur dari pengurusan invoice, dan untuk kembali menemui diri saya yang paling jujur.

Seni rupa anak mengingatkan kembali bahwa sebelum mekanisasi, komodifikasi, dan alienasi melumat hidup kita, ternyata kita pernah menjadi semacam dewa kecil yang mampu mencipta kosmos dengan begitu riang. Pameran ini membisiki saya untuk kembali menjadi anak-anak, untuk kembali membuka diri pada peran saya sebagai homo ludens, untuk bermain dan bersenang-senang (tanpa terlempar pada hedonisme), sebab pada akhirnya, sebuah peradaban yang kehilangan elemen permainannya tidak akan pernah menjadi peradaban yang nyaman untuk ditinggali. Tudgam telah memberi saya─dan mungkin kita semua─kesempatan untuk kembali memproduksi suka cita. Terima kasih.

Tangerang Selatan, 14 Juli 2026


Ditulis oleh:

Candrika Adhiyasa

Seorang esais lulusan Departemen Ilmu Lingkungan Universitas Gadjah Mada. Area kajiannya meliputi filsafat, budaya, politik, seni, dan lingkungan hidup. Ia aktif sebagai penggerak Ruang Publik Agora dan Direktur di PT. Wahana Adhi Lestari.

Instagram: https://www.instagram.com/candrimen



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


NewRelease

FeaturedPiece

Kenalin