Search Button — Aduide Media
,

Saat Identitas Tak Lagi Memberi Jawaban: Membaca Ticket to Heaven Melalui Eksistensialisme

Ticket to Heaven

Kalimat itu mungkin menjadi salah satu nasihat yang paling sering kita dengar sejak kecil. Sekilas terdengar sederhana, bahkan menenangkan. Namun, semakin bertambah usia, kita justru mulai menyadari bahwa menjadi diri sendiri bukanlah perkara yang mudah. Sebab, sebelum benar-benar menjadi diri sendiri, kita harus lebih dulu menjawab satu pertanyaan yang jauh lebih rumit: siapa sebenarnya diri kita?

Pertanyaan itu tidak selalu memiliki jawaban yang pasti. Banyak dari kita tumbuh di tengah berbagai nilai, harapan, dan aturan yang perlahan membentuk cara kita memandang diri sendiri. Orang tua mungkin memiliki gambaran tentang masa depan yang dianggap terbaik. Lingkungan sosial menghadirkan standar mengenai bagaimana seseorang seharusnya bersikap. Institusi pendidikan mengajarkan nilai-nilai tertentu, sementara masyarakat kerap menentukan mana pilihan yang dianggap benar dan mana yang dipandang menyimpang. Tanpa disadari, berbagai hal tersebut ikut membentuk identitas yang kita yakini sebagai “diri sendiri”.

Namun, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan identitas yang telah kita bangun. Ada kalanya pengalaman baru, pertemuan dengan seseorang, atau situasi yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya membuat kita mempertanyakan kembali segala sesuatu yang selama ini terasa pasti. Bukan karena nilai-nilai yang kita pegang tiba-tiba menghilang, tetapi karena realitas sering kali jauh lebih kompleks daripada jawaban-jawaban yang telah kita terima sejak lama.

Pergulatan semacam ini bukan hanya menjadi pengalaman pribadi banyak orang, tetapi juga sering diangkat dalam karya sastra, film, maupun serial televisi. Salah satu karya yang menarik untuk dibaca melalui sudut pandang tersebut adalah Ticket to Heaven, serial drama Thailand produksi GMMTV. Alih-alih hanya menyajikan kisah romansa, serial ini menghadirkan perjalanan seorang remaja yang harus berhadapan dengan konflik batin ketika identitas yang selama ini ia yakini mulai dipertanyakan oleh pengalaman hidupnya sendiri.

Konflik yang dialami tokoh utamanya tidak hanya berbicara tentang hubungan antarmanusia, tetapi juga menyentuh persoalan yang lebih mendasar: bagaimana seseorang memahami dirinya ketika keyakinan, nilai, dan pengalaman hidup saling berbenturan? Pertanyaan inilah yang membuat Ticket to Heaven menarik untuk dikaji melalui perspektif filsafat psikologi, khususnya eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Bagi Sartre, manusia bukanlah makhluk yang lahir dengan identitas yang sudah selesai. Sebaliknya, manusia terus membentuk dirinya melalui pilihan-pilihan yang diambil sepanjang hidup.

Mengenal Ticket to Heaven

Ticket to Heaven merupakan serial drama Thailand produksi GMMTV yang tayang pada 2026. Disutradarai oleh Noppharnach Chaiyahwimhon (Aof), serial ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Kittisak Kongka atau yang dikenal dengan nama pena Dawin (DW). Berbeda dari banyak serial remaja yang berpusat pada kisah romansa, Ticket to Heaven mengangkat tema yang lebih kompleks, yaitu hubungan antara iman, identitas, kebebasan, dan pencarian makna hidup.

Ticket to Heaven
Ticket to Heaven | Sumber: GMMTV 2026

Cerita berfokus pada Tanrak, seorang remaja yang bersekolah di seminari Katolik. Setelah kehilangan kedua orang tuanya, ia menemukan penghiburan dalam keyakinan bahwa suatu hari nanti ia akan bertemu kembali dengan mereka di surga. Keinginannya untuk menjadi pastor bukan hanya cita-cita, tetapi juga bagian dari identitas yang membentuk cara ia memandang dirinya sendiri. Namun, kehadiran Barth, seorang siswa baru dengan masa lalu yang penuh luka, perlahan menggoyahkan kepastian tersebut. Hubungan yang berkembang di antara keduanya membuat Tanrak menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Sekilas, Ticket to Heaven mungkin tampak sebagai serial bergenre boys love. Akan tetapi, jika diamati lebih mendalam, konflik utama serial ini bukan sekadar mengenai hubungan romantis. Yang paling menonjol justru pergulatan batin Tanrak ketika keyakinan, identitas, dan pengalaman hidup saling bertabrakan. Konflik inilah yang membuat serial tersebut menarik untuk dibaca melalui perspektif filsafat psikologi.

Eksistensialisme Jean-Paul Sartre

Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang menekankan bahwa manusia memiliki kebebasan untuk menentukan makna dan tujuan hidupnya melalui pilihan-pilihan yang dibuat secara sadar. Dalam pandangan ini, identitas seseorang tidak sepenuhnya ditentukan oleh faktor bawaan, lingkungan, maupun norma sosial, melainkan dibentuk melalui tindakan dan keputusan yang diambil sepanjang hidup.

Salah satu tokoh utama eksistensialisme adalah Jean-Paul Sartre yang mengemukakan konsep existence precedes essence atau eksistensi mendahului esensi. Menurut Sartre, manusia tidak dilahirkan dengan identitas atau tujuan yang telah ditentukan, tetapi membentuk dirinya melalui pengalaman dan pilihan hidup. Kebebasan tersebut selalu disertai tanggung jawab, sehingga setiap individu harus menerima konsekuensi atas keputusan yang diambil.

Selain itu, sartre memperkenalkan konsep bad faith (mauvaise foi), yaitu keadaan ketika seseorang menyangkal kebebasannya dengan berlindung di balik peran, identitas, atau tuntutan sosial. Sebaliknya, kehidupan yang autentik (authenticity) tercermin ketika individu berani mengakui kebebasannya, membuat pilihan tersebut. Konsep-konsep inilah yang menjadi landasan dalam menganalisis konflik identitas yang ditampilkan dalam Ticket to Heaven.

Analisis Ticket to Heaven melaluli Perspektif Eksistensialisme

Ticket to Heaven menggambarkan pergulatan batin seorang individu yang berada di antara tuntutan agama, keluarga, dan keinginan untuk menjadi dirinya sendiri. Konflik yang dialami Tanrak menunjukkan bahwa identitas yang selama ini dianggap sebagai pedoman hidup ternyata tidak selalu mampu menjawab pertanyaan mendasar mengenai siapa dirinya. Dalam perspektif eksistensialisme Sartre, kondisi tersebut mencerminkan situasi ketika manusia dihadapkan pada kebebasan untuk menentukan makna hidupnya sendiri, meskipun harus menghadapi berbagai konsekuensi.

Konsep existence precedes essence terlihat ketika Tanrak mulai mempertanyakan identitas yang selama ini melekat padanya. Sebagai seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan religius, ia telah memiliki berbagai identitas sosial yang dibentuk oleh keluarga dan komunitas. Namun, pengalaman hidup membuatnya menyadari bahwa identitas tersebut tidak serta-merta menjawab pergulatan batin yang dialaminya. Menurut Sartre, manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh label atau peran yang diberikan masyarakat, melainkan membentuk dirinya melalui pilihan dan tindakan. Dengan demikian, konflik dalam Ticket to Heaven menunjukkan proses pencarian jati diri yang tidak lagi bergantung pada identitas yang diwariskan, tetapi pada keberanian individu untuk memahami dirinya sendiri.

Pergulatan tersebut juga memperlihatkan konsep bad faith (mauvaise foi), yaitu ketika seseorang berusaha menghindari kebebasan dengan tunduk sepenuhnya pada harapan orang lain atau norma yang berlaku. Dalam beberapa situasi, Tanrak tampak berusaha menekan perasaan dan pikirannya demi mempertahankan identitas yang dianggap benar oleh lingkungan. Sikap tersebut dapat dipahami sebagai bentuk penyangkalan terhadap kebebasan dirinya sendiri. Namun, semakin ia mengabaikan suara hatinya, semakin besar konflik batin yang muncul. Hal ini menunjukkan bahwa menyangkal diri sendiri tidak selalu menghadirkan ketenangan, tetapi justru memperdalam krisis identitas.

Di sisi lain, Ticket to Heaven juga memperlihatkan bahwa kebebasan selalu disertai dengan tanggung jawab. Sartre menegaskan bahwa setiap manusia bebas menentukan pilihan hidupnya, tetapi tidak dapat melepaskan diri dari konsekuensi atas pilihan tersebut. Tanrak menyadari bahwa keputusan apa pun yang diambil akan memengaruhi hubungannya dengan keluarga, keyakinan, dan orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, kebebasan dalam serial ini tidak digambarkan sebagai sesuatu yang mudah atau menyenangkan, melainkan sebagai proses yang penuh kecemasan dan keberanian.

Melalui perspektif eksistensialisme, Ticket to Heaven tidak hanya berbicara tentang konflik identitas, tetapi juga tentang perjalanan manusia dalam mencari makna hidup di tengah tuntutan sosial. Serial ini menunjukkan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang selesai begitu saja, melainkan terus dibentuk melalui pilihan-pilihan yang diambil sepanjang hidupnya. Pada akhirnya, Ticket to Heaven menunjukkan bahwa konflik terbesar manusia sering kali bukan tentang memilih benar atau salah, melainkan tentang keberanian untuk mengenali dirinya sendiri. Melalui perspektif eksistensialisme Jean-Paul Sartre, serial ini mengingatkan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan sejak lahir, tetapi dibentuk melalui pilihan dan pengalaman hidup. Mungkin menjadi diri sendiri memang tidak mudah, tetapi proses pencarian itulah yang membuat kita terus bertumbuh sebagai manusia.

Referensi:

Crowell, S. (2019). Existentialism. In K. Becker & I. D. Thomson (Eds.), The Cambridge History of Philosophy, 1945-2015. Cambridge University Press.

GMMTV. (2026). Ticket to Heaven.


Ditulis oleh:

Adinda Suci Ramadhani

Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia.



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


NewRelease

FeaturedPiece

Kenalin