Kegelisahan tidak selalu hadir dalam bentuk wacana panjang. Kadang ia menjelma menjadi bunyi yang keras, repetitif, dan menolak untuk diam. Dari ruang itulah lagu “Pengecut” lahir—sebuah karya kolaboratif yang menjadi respons atas peristiwa yang kembali menimpa kawan-kawan aktivis. Bukan sekali, melainkan berulang. Seperti halnya yang terjadi baru-baru ini terhadap Adrie Yunus, korban penyiraman air keras yang diberitakan dilakukan oleh personil TNI.
“Pengecut” tidak dibangun sebagai sekadar lagu, tetapi sebagai pernyataan sikap. Ia muncul dari keresahan yang sama, dari pengalaman kolektif yang terus terulang, dan dari kesadaran bahwa suara perlu terus dinyalakan meski ancaman tak pernah benar-benar reda.
Proses kreatif lagu ini melibatkan beberapa nama yang bekerja dalam satu frekuensi kegelisahan. Penulisan, vokal, dan gitar digarap oleh Agung M. Abul, dengan dukungan drum dari Fathidia. Respons musikal kemudian dikembangkan oleh Bachox dan Agus Suwanda Alfah, memperkaya lapisan emosi yang dibawa lagu ini. Vokalnya sendiri diperdalam dan diperhalus oleh Past Is Farce, menghadirkan karakter suara yang lebih tajam sekaligus reflektif. Sementara itu, visual video yang menyertai rilisan ini digarap oleh Sandra Balok, menerjemahkan keresahan tersebut ke dalam bahasa visual yang tak kalah kuat.
Secara lirik, “Pengecut” bergerak dalam lanskap yang sunyi namun penuh ancaman:
Di jalan sunyi selepas raat, poster masih basah oleh hujan
Suara-suara belum selesai
Tapi malam sudah penuh ancaman
Repetisi kata “pengecut” menjadi elemen kunci yang bukan hanya estetika, tetapi juga bentuk penegasan. Ia seperti mantra yang diulang, diarahkan pada figur anonim yang hadir melalui simbol “bersepatu boot”—representasi kuasa yang represif, yang bekerja dalam bayang-bayang, dan yang mengandalkan ketakutan sebagai alat.
Mereka kira luka akan membungkamnya
Mereka kira panas akan memadamkan suara
Namun justru di titik itulah lagu ini mengambil posisi. Ia menolak asumsi bahwa luka akan membungkam. Sebaliknya, luka menjadi bahan bakar. Suara tidak padam, melainkan beresonansi lebih keras.
Dengar & saksikan lagu “Pengecut” di sini.
“Pengecut” adalah kerja bersama. Bukan hanya dalam arti kolaborasi lintas individu, tetapi juga dalam semangat kolektivitas yang menjadi fondasinya. Ia lahir dari kesadaran bahwa diam bukan pilihan, dan bahwa setiap suara, sekecil apa pun, punya peran dalam menjaga ingatan tetap hidup.
Di tengah situasi yang terus berulang, lagu ini hadir sebagai pengingat: ada suara yang tidak ingin hilang, dan tidak akan berhenti.

Leave a Reply