Dua puluh delapan tahun bukan sekadar penanda usia bagi Teater Sado, melainkan jejak panjang proses kreatif, perawatan ingatan, dan kerja kebudayaan yang tumbuh dari realitas lokal. Perjalanan tersebut dirayakan melalui Pameran Milestone Teater Sado yang digelar di Gedung Kesenian Raksa Wacana pada 18–24 Januari 2026.
Pameran ini menjadi penanda penting bagaimana Teater Sado menempatkan seni sebagai praktik sosial yang terus berdialog dengan konteks zamannya. Selama hampir tiga dekade, kelompok ini konsisten memproduksi karya yang tidak hanya berorientasi estetika, tetapi juga memuat refleksi sosial, kultural, dan ekologis.
Harmoni Alam, Budaya, dan Kerja Kolektif
Mengusung tema Harmoni Alam dan Budaya: Kolaborasi untuk Masa Depan Berkelanjutan, Pameran Milestone merupakan puncak dari rangkaian kegiatan yang didukung Dana Hibah Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Tema tersebut merefleksikan cara Teater Sado memandang seni sebagai ruang pertemuan antara manusia, alam, dan budaya.
Pendekatan ini menegaskan posisi Teater Sado yang tidak memisahkan seni dari kehidupan sehari-hari. Seni dipahami sebagai medium dialog, sekaligus sebagai cara merawat kesadaran kolektif terhadap keberlanjutan lingkungan dan nilai-nilai budaya lokal.
Pembukaan Pameran dan Apresiasi Pemerintah Daerah

Pameran Milestone dibuka secara resmi pada Minggu sore, 18 Januari 2026, oleh Funny Amalia Sari, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas konsistensi Teater Sado dalam menghadirkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerahkan dan menggugah kesadaran sosial.


Apresiasi tersebut menegaskan pentingnya peran komunitas seni dalam ekosistem kebudayaan daerah. Teater Sado dipandang sebagai salah satu entitas yang berhasil menjaga kesinambungan antara tradisi, eksperimen artistik, dan keterlibatan publik.
Arsip Hidup Perjalanan Teater Sado
Secara visual, Pameran Milestone menghadirkan dokumentasi perjalanan Teater Sado dalam berbagai bentuk. Pengunjung dapat menyaksikan naskah-naskah drama teater panggung dan teater jalanan, foto serta buklet pementasan, hingga tulisan reflektif para seniman dan budayawan tentang Sado.

Selain itu, dipamerkan pula karya tulis dan lukis dari pendiri Teater Sado, Aan Sugianto Mas. Seluruh materi tersebut disusun sebagai arsip hidup yang merekam denyut perjalanan estetik dan ideologis Teater Sado dari masa ke masa.
Pentas Pembukaan hingga Agenda Penutupan
Pembukaan pameran dihadiri keluarga besar Teater Sado lintas generasi yang hadir bersama anggota keluarganya. Suasana seremoni semakin hidup melalui pentas kolaborasi wayang ceplek oleh Asep Dheny, dengan iringan musik dari Udin Sakasada.


Pameran akan ditutup pada 24 Januari 2026 dengan pentas kolaborasi lintas disiplin. Penonton akan disuguhi bunyi Karimba dari Komunitas AKAR, tari kontemporer oleh Iing Sayuti, Tari Topeng Losari oleh maestro Nani Sawitri, serta pergelaran musik dari komposer Yusuf Oblet.
Lakon Legendaris dan Makna Keberlanjutan
Sebagai puncak penutup, Teater Sado kembali mementaskan lakon legendaris Ada Mayat Kentut karya Aan Sugianto Mas, yang disutradarai oleh D. Ipung Kusmawi. Lakon ini merupakan salah satu tonggak penting sejarah Teater Sado yang pada 2002 pernah dipentaskan di berbagai kota di Jawa Barat dan Yogyakarta. Rencananya lakon ini akan digelar sebagai puncak kegiatan pada 24 Januari 2026.

Melalui Pameran Milestone ini, Teater Sado tidak hanya menengok masa lalu, tetapi juga mengajak publik membaca ulang makna kebersamaan, keberlanjutan, dan peran seni dalam merawat kehidupan. Pameran ini menjadi penegasan bahwa kerja kebudayaan adalah proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi, solidaritas, dan keberanian untuk terus relevan dengan zaman.

Leave a Reply