Zidan Al-Khaidar, seorang mahasiswa dari DKV Uniku yang tengah mengerjakan proyek perancangan visual bertema futuristik, merilis karya poster yang bertujuan untuk memperkenalkan kembali iket Sunda kepada generasi muda melalui slogan “Ngagaya bari Ngajaga Budaya”. Karya ini hadir sebagai respons terhadap semakin menurunnya penggunaan iket Sunda di masyarakat akibat modernisasi, perubahan gaya hidup, serta pergeseran cara pandang generasi muda terhadap identitas budaya.
Dalam beberapa tahun terakhir, iket Sunda kerap dipandang tidak relevan dengan kehidupan modern dan bahkan masih dikaitkan dengan stigma negatif, misalnya dianggap sebagai atribut dukun atau sekadar kostum pertunjukan. Pandangan tersebut turut diperkuat oleh pernyataan Pak Ramdan, mantan Ketua Komunitas Iket Sunda (KIS) Majalengka, yang mengungkapkan bahwa minat masyarakat khususnya remajaterhadap penggunaan iket semakin menurun seiring jarangnya ditemukan media promosi yang dekat dengan gaya visual generasi saat ini. Kurangnya promosi yang komunikatif membuat iket Sunda semakin terpinggirkan, sehingga diperlukan pendekatan kreatif agar budaya ini kembali mendapat perhatian.
Melihat kebutuhan tersebut, Zidan memanfaatkan kekuatan visual poster sebagai media yang efektif untuk menyampaikan pesan budaya secara persuasif dan modern. Poster dipilih karena mampu menghadirkan visual yang kuat, mudah dipahami, serta dapat menjangkau audiens luas melalui distribusi digital maupun fisik.
Dalam karyanya, Zidan mengangkat lima model iket Sunda buhun yang paling dikenal, yaitu Barangbang Semplak, Julang Ngapak, Parengkos Jengkol, Parengkos Nangka, dan Parengkos Gedang. Kelima model ini dipilih berdasarkan hasil wawancara dan dokumentasi demi mempertahankan autentisitas serta memastikan bahwa ragam bentuk iket dapat dikenali masyarakat secara lebih dekat. Seluruh model divisualisasikan melalui sesi pemotretan dengan model laki-laki dan perempuanmenggunakan sudut pengambilan gambar eye-level, sebuah teknik yang membantu mempertahankan kesan natural sekaligus memberikan fokus jelas pada bentuk iket yang dikenakan. Foto kemudian diolah menggunakan teknik digital imaging di Photoshop, termasuk masking, blending, retouching, dan color grading untuk menghasilkan visual futuristik yang kontras namun tetap menghormati nilai budaya tradisional.





Konsep desain poster mengusung tema futuristik–cyberpunk, dengan menonjolkan warna hijau kontras sebagai ciri khas gaya visual tersebut. Zidan memadukan tipografi dekoratif seperti Bruno Ace dan Sunda v Unpad sebagai elemen grafis yang memperkaya nuansa visual, sementara Gotham Medium digunakan untuk teks isi agar tetap mudah dibaca. Perpaduan elemen modern dan tradisional ini bukan hanya estetis, tetapi juga dimaksudkan untuk menarik perhatian remaja yang akrab dengan gaya visual digital dan futuristik, sehingga memudahkan mereka menerima pesan budaya yang disampaikan.
Poster ini dipublikasikan melalui media digital seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan Twitter untuk memperluas jangkauan audiens di berbagai platform. Pada media konvensional, poster dicetak dalam ukuran A3 dan ditempatkan di beberapa titik strategis di daerah Kecamatan Cikijing sebagai bagian dari kampanye visual offline. Selain itu, Zidan juga merancang konten pendukung berupa carousel tutorial memakai iket, carousel sejarah, filosofi, dan fungsi iket Sunda sebagai upaya edukasi berkelanjutan yang lebih interaktif dan mudah diakses masyarakat.
Zidan menyampaikan bahwa melalui karyanya ia ingin menunjukkan bahwa iket Sunda bukan hanya warisan budaya kuno, tetapi simbol identitas yang patut dibanggakan dan dapat tetap relevan di era modern. Pendekatan futuristik ini diharapkan mampu memicu ketertarikan remaja untuk kembali mengenal, memakai, dan melestarikan iket Sunda. Ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda Jawa Barat, untuk ikut mendukung pelestarian budaya dengan mengikuti akun promosi iket Sunda, menggunakan iket dalam kehidupan sehari-hari, dan mendukung karya kreatif lokal. Seruan “Hayu ngagaya bari ngajaga budaya, Hayu make iket Sunda!” menjadi ajakan penutup yang memperkuat pesan budaya ini.
Untuk informasi lebih lanjut, permintaan liputan media, atau pihak yang berkepentingan dapat menghubungi Zidan Al-Khaidar melalui akun sosial media @iketsunda4 atau melalui email di iketsunda4@gmail.com.

Leave a Reply