, ,

AI dan Pengalaman Manusia: Pertanyaan dan Refleksi

Sebuah esai oleh Gema Ganeswara

Beberapa kali saya mendapat kesempatan menjadi narasumber di bidang fotografi. Salah satu pertanyaan yang kerap muncul adalah:

Apakah Artificial Intelligence (AI) akan menggantikan fotografi?

Sebelum menjawabnya, saya merasa perlu memaparkan lebih dulu pengamatan saya tentang teknologi, dan AI sebagai bagiannya.

Bagi saya, ketika kita berbicara tentang teknologi, itu artinya kita berbicara tentang sejarah panjang manusia dalam mengembangkan alat, teknik, dan sistem untuk mempermudah kehidupan, memahami dunia, dan memperluas batas-batas kemampuannya. Sejak zaman prasejarah, manusia mengembangkan alat-alat seperti tombak dan kapak untuk bertahan hidup. Zaman kuno ditandai dengan hadirnya tulisan hieroglif dan senjata sederhana seperti ketapel. Di abad pertengahan, kompas, kincir angin, dan jam mekanik membuka jalan bagi revolusi ilmiah Renaisans—seperti penemuan teleskop oleh Hans Lippershey dan Galileo yang menegaskan teori heliosentris.

Tidak berhenti di situ, Zacharias Janssen membuat versi awal dari mikroskop yang disempurnakan oleh Antonie van Leeuwenhoek, memberikan dampak besar pada dunia biologi dan kedokteran. Penemuan-penemuan ini, selain membuka pengetahuan lanjutan, berkontribusi banyak pada kehidupan kita hari ini. Teknologi kemudian semakin membuka jalan panjangnya dengan menempatkan kecepatan pada kebutuhan dasar pada Revolusi Industri, di mana alat-alat transportasi dan produksi mulai dikembangkan, didukung oleh penemuan-penemuan lainnya seperti listrik dan telegraf.

Pada abad ke-20, revolusi industri berkembang seiring kapitalisme, mempercepat produksi massal alat komunikasi. Sistem jaringan yang terintegrasi membuat pola konsumsi komunikasi berubah, dari yang awalnya hanya bisa diakses dalam kondisi tertentu dan terbatas, sekarang dapat diakses dalam genggaman tangan oleh semua orang. Perkembangan teknologi di masa depan sedang memulai babak barunya melalui AI, perangkat robotik, dan realitas virtual (VR). Namun, babak baru ini sudah memberikan dampak yang terasa, terutama dalam aspek sosial, eksistensi, dan etika. Jika kita menelisik sejarahnya, kebutuhan manusia pada awalnya hanya sebatas pada mempermudah kehidupan dan membuka kemungkinan akan pengetahuan baru. Namun, sejalan berkembangnya teknologi, kebutuhan manusia juga berkembang. Hari ini, dalam bentuk AI, kebutuhan manusia terhadap kecepatan menemui wajah ekstremnya, di mana segala pekerjaan yang awalnya membutuhkan kemampuan teknis bisa sangat mudah dilakukan dan cepat diproses hanya dengan menuliskan kata kunci oleh pengguna.

AI pada dasarnya adalah sistem akumulatif dan kolektif yang tugasnya mengumpulkan dan menganalisis data. Sehingga, apa pun yang AI hasilkan—entah itu teks, gambar, maupun audio—adalah hasil karya yang dirakit ulang dari berbagai karya manusia yang terdokumentasi secara digital. Mulai dari karya sastra, laporan berita, resensi buku, ulasan film, fotografi, videografi, musik, hingga jurnal ilmiah, semuanya menjadi karya terbarukan sesuai perintah prompt.

Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar seseorang yang mengatakan bahwa karya AI tidak memiliki jiwa layaknya karya ciptaan manusia. Namun, pertanyaannya adalah: Apa sebenarnya pengertian jiwa? Mengapa kita begitu yakin bahwa jiwa itu tidak mampu diduplikasi oleh mesin?

Jika di masa depan teknologi dan kehidupan manusia semakin melebur sepenuhnya, sejauh mana kemungkinan batas antara hal-hal manusiawi dan yang artifisial/buatan semakin kabur? Dan bagaimana cara kita menguraikan makna dari kata jiwa itu sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan ini akhirnya sedikit membuka pintu pencerahan, ketika saya teringat percakapan dengan seorang sahabat, seseorang yang dulu sering menemani saya bepergian ke mana pun, meski kami sering kali tidak benar-benar punya uang untuk melakukan petualangan. Ia mengatakan bahwa ia sangat membenci perjalanan melalui jalan tol karena terasa membosankan, karena merasa tidak melihat kehidupan manusia di sekelilingnya dengan segala ketidakterdugaannya. Saya mengerti sepenuhnya, karena pengalaman kitalah yang membentuk cara pandang ini. Baginya, jalan tol tak ubahnya jalan pintas yang memangkas tidak hanya waktu namun pengalaman dari perjalanan.

Berangkat dari cerita ini, saya menguraikan makna jiwa sebagai subjektivitas yang lahir dari jejak pengalaman—emosi, intensi, dan perasaan yang melekat pada latar belakang pribadi, sosial, dan budaya dalam proses penciptaan yang membentuk cara pandang kita hari ini. Maka, tak heran pemaknaan jiwa dapat berbeda untuk setiap orang, sehingga lahirnya “selera” yang berbeda-beda pula, karena itu sangat personal. Meskipun AI dapat dilatih untuk terus-menerus melacak pola pengalaman, tetapi pengalaman itu sendiri bukan sekadar data. Ia adalah bentuk dari kesadaran akan keberadaan diri dalam ruang dan waktu—kesadaran akan kekaguman, rasa kekhawatiran, kecemasan, dan rasa kasih sayang, atau perasaan lainnya. AI tidak memiliki itu; ia hanya merangkai ulang laporan-laporan pengalaman manusia tanpa sungguh-sungguh merasakannya.

Merujuk alasan tersebut, tentu saja AI bisa menjadi alat bantu dalam proses kreatif manusia, tetapi ia tidak bisa menggantikan gagasan dan konteks yang membentuk karya seni. Saya sangat menyadari keterbatasan ini karena saya cukup sering menggunakan AI untuk mekoreksi kesalahan penulisan/typo dalam menulis. Namun, saya tak akan pernah berharap kepada AI untuk menyampaikan rasa emosional yang berasal dari pengalaman pribadi saya.

Satu hal yang paling terasa kentara dari AI ini adalah kecenderungannya memberikan jawaban yang terlalu objektif, normatif, diplomatis, dan terasa benar-benar kering. Jawaban-jawaban tersebut jauh dari sentuhan emosional dan nilai-nilai humanis, dengan segala kerentanan dan ketidaksempurnaan yang melekat. Hal ini seharusnya kita rangkul sebagai bagian dari kerja kreatif. Karena unsur itulah yang membuat kita lebih manusiawi, melatih kepekaan terhadap kekurangan dan penderitaan di sekitar kita.

Melanjutkan hal ini, maka subjektivitas adalah elemen krusial dalam kekaryaan. Ia menunjukkan bahwa kita memiliki sesuatu untuk disuarakan—sebuah perspektif, keresahan, keberpihakan, dan kepercayaan terhadap karya kita (stand for something). Jika Anda tidak percaya, cobalah tanyakan kepada ChatGPT tentang Israel dan Palestina, atau mana yang lebih baik antara Soeharto dan Jokowi. Jawabannya cenderung terkesan netral, dan hanya menguraikan sejarah dan data.

Dengan demikian, AI tidak memiliki pendirian apa pun (stand for nothing). Namun percakapan publik hari ini seakan menuntun pada kemajuan teknologi seolah semesta dari segala hal. Kita banyak melihat konten tentang “potret masa depan”, “kecanggihan AI”, atau “pekerjaan yang akan digantikan oleh AI”. Kita pun seakan dituntut untuk beradaptasi dengan cepat, dengan rasa takut ketinggalan jika tidak segera ikut serta.

Hal ini tentu dapat dimaklumi, karena semua ini terasa baru dan menarik. Namun, menurut saya, ini juga menciptakan relasi yang agak problematik: seakan-akan teknologi adalah pusat dari manusia, bukan sebaliknya.

Ketika saya mengatakan bahwa manusia adalah pusat dari teknologi, maksud saya adalah bahwa manusialah yang membentuk dan mengembangkan teknologi, bukan hanya untuk kemajuan dan efisiensi, tetapi juga sebagai upaya memahami dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya. Karena pada dasarnya, kita adalah makhluk yang bertanya dan mencari makna. Terutama dalam konteks seni hari ini, yang menjadi pusat perhatian tidak berhenti pada estetika luar, melainkan bagaimana kita membangun gagasan yang memiliki kedalaman dan daya ungkap—sebuah kisah yang dapat terhubung dengan pengalaman hidup orang lain, lebih dari sekadar apa yang terlihat. Pada titik ini, saya semakin yakin bahwa seni tidak akan bisa sepenuhnya digantikan oleh AI.

Di sisi lain, kehadiran AI juga membawa tantangan baru bagi para pelaku seni dan industri kreatif. Kini, ada tuntutan yang lebih besar untuk tidak hanya berkarya, tetapi juga menuliskan narasi di baliknya, semacam transformasi bertahap dari pembuat gambar (image maker) menjadi pencerita visual (visual storyteller). Saya cukup yakin bahwa di masa depan, praktik self-curating—di mana seniman atau kreator mempresentasikan karyanya sendiri dengan kerangka berpikir yang lahir dari proses reflektif—akan semakin lazim ditemui, tidak terbatas hanya untuk pameran namun pada produk-produk yang memiliki nilai ekonomi (yang sekarang sudah mulai kelihatan). Ini tentu menjadi sesuatu yang positif, terutama bagi pekerja seni di kota-kota kecil, di mana kegiatan kesenian kerap termarjinalkan dan kesadaran akan ekosistemnya nyaris tidak benar-benar eksis. Dengan begitu, kemandirian kantung-kantung kesenian dapat dimulai dari individu, tanpa harus bergantung pada stakeholder seperti kurator atau pemerintah.

Namun, kehadiran AI tidak serta-merta membuat seni dan kreativitas lebih dihargai. Untuk memudahkan memahaminya saya akan mengacu tren AI yang mengubah foto manusia menjadi ilustrasi bergaya Studio Ghibli mungkin terlihat menarik, tetapi di balik daya tarik visualnya, tersembunyi paradoks yang mengkhawatirkan. Manusia tak lagi dipandang sebagai subjek dengan cerita dan kompleksitasnya, melainkan dipangkas menjadi objek pasif—entitas tanpa agensi yang hadir hanya untuk diproduksi dan dikonsumsi. Tanpa negosiasi atau ruang untuk refleksi, pengalaman hidup kita dipangkas menjadi sekadar gambar manis yang kehilangan kedalaman. Makna direduksi ke permukaan, terpisah dari konteks emosional atau intelektual yang seharusnya melekat.

Yang lebih ironis: ketika layar “transformasi wajah jadi Ghibli” ini ditawarkan secara gratis, kita bukan cuma menjadi objek, tapi juga—tanpa sadar—menempatkan diri sebagai produk yang siap dipasarkan. Dalam proses ini, kemanusiaan kita terkikis pelan-pelan. Kemampuan untuk merasakan, merenung, dan berpikir kritis—unsur yang membentuk empati dan identitas—terancam tergerus. Tak heran jika kesadaran etis dalam menghargai karya orang lain pun semakin memudar.

Bagi saya, memandang Studio Ghibli hanya dari gaya rupa semata adalah penyederhanaan yang keliru. Di tangan Hayao Miyazaki, animasi bukan sekadar wadah keindahan estetis, melainkan medium yang kaya untuk mengeksplorasi tema-tema universal dengan kedalaman dan kelembutan. Ia adalah pendongeng ulung yang piawai merangkai isu-isu kompleks—dari kerakusan, materialisme hingga dinamika keluarga—ke dalam cerita menyentuh sekaligus resonan bagi segala usia. Gaya tutur visualnya bagaikan sepotong kue berwarna-warni yangdisajikan dengan kehangatan dan ketulusan, mengundang siapa pun untuk mencicipi setiap lapisan maknanya.

Ambil contoh Spirited Away. Film ini bukan cuma kisah fantasi tentang anak perempuan yang tersesat di dimensi lain, tapi juga kritik halus terhadap materialisme, eksploitasi, dan pola asuh orang tua yang memberi contoh. Miyazaki bercerita dengan kepekaan yang menghubungkan sisi paling manusiawi kita, tanpa kesan menggurui dan heroik. Sebagai seorang yang bergelut di visual storytelling, saya tahu pencapaian ini membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan teknis—ia menuntut empati, dedikasi, dan kepekaan terhadap kisah hidup manusia.

Di sinilah teori spektakel dalam buku “The Society of the Spectacle”- yang ditulis oleh Guy Debord menemukan relevansinya. Dalam masyarakat modern, realitas sering digantikan oleh citra yang dikonsumsi secara visual. Tren AI pengubah wajah adalah manifestasi sempurna fenomena ini: wajah manusia kehilangan ekspresi otentiknya, berubah menjadi produk massal yang terlepas dari konteks. Kita tak hanya menjadi “masyarkat tontonan”, tetapi juga bagian dari sistem yang memproduksi spektakel (tontonan/pertujukan) —terasing dari pengalaman manusia yang sesungguhnya.

Eits, tunggu dulu. Ini bukan seruan anti-teknologi. Justru sebaliknya, saya percaya kemajuan teknologi adalah sebuah keniscayaan yang harus kita terima, tapi dengan mata terbuka dan kesadaran penuh. Ketika diarahkan dengan kesadaran penuh, AI justru bisa menjelma menjadi medium baru untuk menyuarakan keresahan manusia. Seperti yang dilakukan Valentin Hansen—melalui album Max, ia menjadikan AI bukan sekadar alat, melainkan mitra kreatif yang tak kenal lelah: setiap 2-3 menit, mesin itu melahirkan komposisi baru dalam siklus kreatif yang terus berlanjut, memantik pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat seni di era algoritma.

Jika mesin algoritma bisa mencipta tanpa lelah, apa lagi yang tersisa untuk kita?
Di mana letak ‘keresahan manusia’ dalam seni ketika ini diproduksi layaknya barang pabrik?
Apakah seni masih bermakna tanpa sentuhan manusia secara langsung?

*jika anda ingin melihat sekilas tentang karya Valentin Hansen, silahkan tonton video dibawah ini:

Apa yang dilakukannya adalah perpanjangan karya sebelumnya yang terlacak dalam album Crisis (The Worthless Album), di mana ia sengaja membuat lagu berdurasi 29 detik—satu detik lebih pendek dari batas minimum royalti Spotify. Ini adalah kritik terhadap industri musik yang mengutamakan algoritma ketimbang ekspresi artistik. Dengan cara ini, ia menempatkan AI sebagaimana mestinya—ia tetap mengontrol teknologi dalam narasinya, menakar subjektivitasnya, meneguhkan keberpihakan sebagai manusia (stand for something), sehingga karyanya tetap mencerminkan ekspresi kegelisahan pribadinya, bukan sekadar objekifikasi hampa.

Baik itu transformasi instan wajah ala Ghibli hingga eksplorasi musik Hansen, kedua hal tersebut bertemu dalam benang merah yang sama, yaitu cara kita menggunakan teknologi akan menentukan apakah ia memperkaya atau mengikis sisi pengalaman kemanusiaan kita, yang seharusnya otentik(?).

Kembali ke pertanyaan awal: apakah AI akan menggantikan fotografi? Jawabannya tidak. Seperti halnya ilustrasi, musik, sastra, dan bentuk seni lainnya, fotografi lahir dari pengalaman dan keresahan manusia—sesuatu yang tidak dimiliki oleh AI. Meskipun AI mampu menghasilkan gambar, kata, atau bunyi yang menyerupai karya manusia, ia tetap tidak memiliki konteks emosional yang menjadi nyawa dari sebuah karya.

Selama fotografi (dan seni lainnya) dipahami sebagai medium ekspresi, bukan sekadar produksi visual, maka posisi manusia tetap tak tergantikan.

AI mungkin akan mengubah cara kita berkarya, tetapi tidak akan pernah menggantikan alasan mengapa kita berkarya: yaitu dorongan untuk bercerita, berempati, dan merespons perasaan.

Yang justru terjadi—dan seharusnya terjadi—adalah pergeseran peran kreator: dari sekadar pembuat gambar menjadi perancang makna. Terlepas dari apakah dalam proses penciptaannya AI dilibatkan atau tidak, baik sebagian maupun sepenuhnya, baik secara hybrid maupun dalam bentuk kolaboratif.

Karena itu, AI bukan sesuatu yang perlu dihindari, melainkan harus dihadapi dan dirangkul sebagai tantangan: mampukah kita mempertahankan cara berpikir kritis dan perspektif yang tidak hanya mengikuti tren teknologi, tetapi juga mampu melihatnya sebagai sekadar alat? Pada akhirnya, dengan terus berpikir, merasakan kegelisahan, mempertanyakan realitas, dan merenungkan makna di balik setiap pengalaman—kita sedang membekali diri untuk menghadapi ketidakpastian masa depan. Proses inilah yang menjaga kemanusiawian kita tetap terjaga: kemampuan untuk merespons lingkungan sekita, dan pengenalan diri bukan dengan insting algoritmik, tetapi dengan empati dan kesadaran yang jernih.

Namun, di sinilah ironinya: di era yang memuja kecepatan instan, berapa banyak dari kita yang masih mau bersusah payah melakukan semua itu? Tanpa usaha tersebut, kita bukan lagi pengguna teknologi—kita menjadi produknya. Alih-alih menguasai, apakah kita justru dikuasai oleh gawai yang seharusnya kita kendalikan? Dan perlahan, tanpa sadar, kita melebur menjadi mesin algoritma yang tidak memiliki pendirian sama sekali? Sehingga, apakah pengalaman kita sebagai manusia masih memiliki nilai untuk terus diperbincangkan?



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *