<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Udhe &#8211; Aduide Media</title>
	<atom:link href="https://aduide.id/tag/udhe/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://aduide.id</link>
	<description>Township Youth Media</description>
	<lastBuildDate>Tue, 18 Nov 2025 11:13:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/cropped-favicon-32x32.png</url>
	<title>Udhe &#8211; Aduide Media</title>
	<link>https://aduide.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">246255001</site>	<item>
		<title>Proyeksi Kecemasan: Episode Masa Tua dalam Lensa Udhe</title>
		<link>https://aduide.id/2025/11/18/proyeksi-kecemasan-episode-masa-tua-dalam-lensa-udhe/</link>
					<comments>https://aduide.id/2025/11/18/proyeksi-kecemasan-episode-masa-tua-dalam-lensa-udhe/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2025 10:42:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Art & Design]]></category>
		<category><![CDATA[Art]]></category>
		<category><![CDATA[Candrika Adhiyasa]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[Udhe]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=671</guid>

					<description><![CDATA[Esai oleh: Candrika Adhiyasa “The best thing about a pictureis that it never changes,even when the people in it do it.”&#8211;&#160;Andy Warhol Waktu, seperti aliran air, mengalir tanpa henti dan tak mungkin&#160;berbalik ke belakang. Manusia hidup di dalam arus itu&#160;sebagai&#160;makhluk temporal yang menuju pada kematian, sebagaimana dikatakan Heidegger:&#160;Sein-zum-Tode. Seneca&#160;juga&#160;mengingatkan bahwa seumur hidup kita sejatinya adalah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Esai oleh: <a href="https://aduide.id/tag/candrika-adhiyasa/" data-type="post_tag" data-id="89">Candrika Adhiyasa</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“The best thing about a picture</em><br><em>is that it never changes,</em><br><em>even when the people in it do it.”</em><br>&#8211;&nbsp;<em>Andy Warhol</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Waktu, seperti aliran air, mengalir tanpa henti dan tak mungkin&nbsp;berbalik ke belakang. Manusia hidup di dalam arus itu&nbsp;sebagai&nbsp;makhluk temporal yang menuju pada kematian, sebagaimana dikatakan Heidegger:&nbsp;<em>Sein-zum-Tode</em>. Seneca&nbsp;juga&nbsp;mengingatkan bahwa seumur hidup kita sejatinya adalah proses belajar untuk mati, sementara Stan Lee&nbsp;dalam suatu&nbsp;<em>podcast&nbsp;</em>memandang kematian sebagai ketiadaan yang sukar dipahami karena “<em>nothingness</em>” itu sendiri terasa tak terbayangkan bila berlangsung selamanya. Namun persoalan terbesar bukan lagi tentang ke mana kita pergi setelah mati—karena tak ada yang kembali dari sana—melainkan apa makna dari hidup yang singkat ini jika setiap ujungnya pasti adalah kematian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita tak perlu&nbsp;terlalu&nbsp;berpanjang&nbsp;lebar&nbsp;tentang kematian—cukuplah ia dipahami sebagai akhir eksistensi, tanda bahwa manusia hidup dalam arus waktuyang terbatas.&nbsp;Sisi yang&nbsp;menarik justru&nbsp;adalah menelusuri&nbsp;bagaimana abad ke-19 melahirkan fotografi melalui permainan cahaya dan alat optik sebagai upaya mendokumentasikan sesuatu yang fana, yang bisa lenyap. Berbeda dari pelukis yang meniru melalui tangan dan intuisi, fotografer dibantu teknologi untuk menangkap momen secara otomatis dan presisi.&nbsp;Namun baik lukisan realis maupun foto sama-sama berfungsi menghadirkan&nbsp;<em>presence</em>—kehadiran fenomena yang telah berlalu. Justru distorsi dan keretakan yang muncul dalam representasi itulah yang melahirkan nilai artistik, membuka ruang tafsir, dan menggerakkan lingkaran hermeneutis di antara realitas dan citra.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--6">Lahirnya Refleksi</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Meski fotografi kerap disebut sebagai cara “mengabadikan” sesuatu,&nbsp;sebenarnya&nbsp;ia tak pernah benar-benar membuat apa pun menjadi abadi. Seperti dikatakan Seno Gumira Ajidarma dalam&nbsp;<em>Kisah Mata</em><em>&nbsp;</em>(2005), foto justru hidup oleh waktu—maknanya terus bergerak seiring penafsiran yang berubah dari masa ke masa. Maka, yang disebut “keabadian” bukanlah&nbsp;sebuah&nbsp;pembekuan momen, melainkan kelahiran kembali makna dalam proses&nbsp;pembacaan dan penafsiran. Objek fotografi tak membeku; ia terus&nbsp;dihadirkan kembali&nbsp;melalui wacana dan tafsir yang memperpanjang hidupnya dalam kesadaran manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Objek fotografi memang tak hadir secara faktual—ia telah berubah, bahkan mungkin lenyap—namun ia tetap hadir secara eksistensial. Seperti cermin, foto merefleksikan sesuatu, tetapi tidak sekadar memantulkan; ia membekukan waktu dan menciptakan ruang utopia. Foucault menyebut cermin sebagai ruang yang tak nyata secara fisik, namun tetap eksis karena memungkinkan manusia melihat dirinya. Begitu pula foto: melalui tekanan&nbsp;<em>shutter</em>, ia melahirkan ruang utopia di mana objek yang telah tiada dapat hidup kembali sebagai makna aktual. Maka fotografi bukan sekadar dokumentasi, melainkan medium refleksi—tempat tafsir dan kesadaran bertemu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari titik ini, kita mulai memasuki wilayah penafsiran makna dalam fotografi melalui karya-karya UD Sukmana—Udhe—fotografer asal Kuningan yang menyoroti sosok manusia lanjut usia. Dengan kameranya, ia tak sekadar mendokumentasikan, melainkan mencipta karya seni yang menyentuh lapisan-lapisan eksistensi. Dalam foto&nbsp;<em>My Inspiring Mom</em>&nbsp;(2015), sosok manula yang disebut “Ibu” bukan hanya potret personal, tetapi juga simbol universal tentang kehadiran seorang ibu sebagai makna aktual. Bagi penonton, ia bisa memancarkan rasa kasih yang sederhana—sebuah&nbsp;<em>Gellasenheit</em>&nbsp;dalam istilah Heidegger—ketenangan yang lahir dari cinta yang&nbsp;sederhana.</p>



<figure class="wp-block-image alignwide size-full has-custom-border is-style-default"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="660" height="659" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6388.jpeg" alt="" class="wp-image-674" style="border-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6388.jpeg 660w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6388-300x300.jpeg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6388-150x150.jpeg 150w" sizes="(max-width: 660px) 100vw, 660px" /><figcaption class="wp-element-caption">“My Inspiring Mom”, 2015 © Udhe</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image alignwide size-full has-custom-border"><img decoding="async" width="687" height="682" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6389.jpeg" alt="" class="wp-image-675" style="border-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6389.jpeg 687w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6389-300x298.jpeg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6389-150x150.jpeg 150w" sizes="(max-width: 687px) 100vw, 687px" /><figcaption class="wp-element-caption">“Ibu, Tanpamu Aku Tetesan Air”, 2012&nbsp;© Udhe</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sosok “Ibu” dalam foto&nbsp;<em>My Inspiring Mom</em>&nbsp;tak harus dimaknai sebagai ibu kandung sang fotografer; teks judulnya justru membuka ruang emosional universal tentang ingatan akan seorang ibu. Tulisan itu menjadi pemandu refleksi, menghadirkan resonansi bagi siapa pun yang menatapnya. Proses “mengabadikan” di sini bukanlah pembekuan waktu, melainkan perpanjangan makna—kehadiran yang terus hidup sejauh foto itu ditafsir dan diperbincangkan. Dan pada akhirnya, foto ini juga berbicara tentang kematian. Sosok manula di dalamnya mungkin telah melewati batas usia harapan hidup, mungkin pula telah tiada secara fisik, namun ia tetap eksis secara eksistensial—hadir dalam ruang utopia dua dimensi yang diciptakan fotografi, sebagaimana refleksi dalam cermin yang dibayangkan Foucault.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari foto&nbsp;<em>My Inspiring Mom</em>, kita telah menyingkap tiga lapis refleksi: kehadiran, keabadian, dan kematian. Namun, pertanyaan lain muncul—apakah sosok itu benar-benar inspiratif bagi siapa pun, atau hanya bagi sang anak, Udhe? Refleksi ini berlanjut dalam karya&nbsp;<em>Ibu, Tanpamu Aku Tetesan Air</em>&nbsp;(2012), di mana terekam kerendahhatian seorang anak terhadap ibunya yang renta—sosok yang menampung riwayat air mata dan harapan yang layu.&nbsp;Melalui judul yang dipilih, Udhe menuntun penonton pada satu poros makna: renungan tentang seorang ibu, tentang cinta yang sederhana namun&nbsp;barangkali saja&nbsp;abadi dalam kesadaran manusia.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--7">Intensi dan Seksualitas yang Ganjil</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah menelusuri refleksi yang lahir dari foto, muncul pertanyaan tentang intensi sang pencipta. Tidak semua seniman, sebagaimana diingatkan&nbsp;Goenawan Mohamad dalam&nbsp;<em>Marion: Pada Kanvas yang Melimpah</em>&nbsp;(2021), bekerja dengan konsep yang matang; sering kali karya lahir dari gerak hati, dari dorongan tanpa rencana. Begitu pula Udhe—tak mudah menebak apakah setiap fotonya&nbsp;memiliki intensi atau tidak. Terutama pada karya tanpa judul, niat artistik menjadi samar. Namun, absennya teks justru membuka kemungkinan: subjek foto tetap memikul makna, hanya saja ia berbicara lewat keheningan visualnya, menunggu tafsir untuk menghidupkannya.</p>



<figure class="wp-block-image alignwide size-full has-custom-border"><img decoding="async" width="582" height="578" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6390.jpeg" alt="" class="wp-image-676" style="border-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6390.jpeg 582w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6390-300x298.jpeg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6390-150x150.jpeg 150w" sizes="(max-width: 582px) 100vw, 582px" /><figcaption class="wp-element-caption">“Tanpa Judul”, 2013&nbsp;© Udhe</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image alignwide size-full has-custom-border"><img loading="lazy" decoding="async" width="618" height="616" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6391.jpeg" alt="" class="wp-image-677" style="border-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6391.jpeg 618w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6391-300x300.jpeg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6391-150x150.jpeg 150w" sizes="auto, (max-width: 618px) 100vw, 618px" /><figcaption class="wp-element-caption">“Tanpa Judul”, 2013&nbsp;© Udhe</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image alignwide size-full has-custom-border"><img loading="lazy" decoding="async" width="667" height="663" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6392.jpeg" alt="" class="wp-image-678" style="border-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6392.jpeg 667w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6392-300x298.jpeg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6392-150x150.jpeg 150w" sizes="auto, (max-width: 667px) 100vw, 667px" /><figcaption class="wp-element-caption">“Tanpa Judul”, 2013&nbsp;© Udhe</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiadaan judul pada sejumlah foto Udhe mengisyaratkan absennya intensi yang ketat; seolah bidikannya lahir dari arus bawah sadar yang menuntun ingatan tentang sosok ibu yang renta. Dalam hal ini, Udhe&nbsp;menempuh jalan serupa Haruki Murakami yang menyebut proses kreatifnya sebagai&nbsp;<em>auto-dwarves</em>—kerja intuitif yang tak sepenuhnya disadari, tanpa peta atau rencana. Dorongan awal mungkin ada, namun ia tidak mengatur seluruh perjalanan karyanya itu. Justru dalam ruang tanpa intensi inilah, foto-foto Udhe memancar kemungkinan tafsir yang berlapis, membuka pintu bagi penonton untuk menafsir, mengisi, dan menghidupkan kembali maknanya.</p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column has-light-background-color has-background is-layout-flow wp-container-core-column-is-layout-08414c4c wp-block-column-is-layout-flow" style="border-radius:12px;padding-top:var(--wp--preset--spacing--18);padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--24);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);flex-basis:100%">
<p class="has-custom-color-1-color has-text-color has-link-color wp-elements-2 wp-block-paragraph" style="margin-bottom:var(--wp--preset--spacing--10)"><strong>Baca Juga</strong></p>



<div class="wp-block-query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="has-link-color wp-elements-3 wp-block-post-template has-text-color has-custom-color-3-color has-minute-font-size is-layout-flow wp-container-core-post-template-is-layout-7a3036bf wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-2174 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-culture category-lifestyle tag-aduopini tag-messi tag-mochammad-zawaid-malja tag-ronaldo tag-sepak-bola">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0" class="has-link-color wp-elements-4 wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-3"><a href="https://aduide.id/2026/08/08/absurditas-perdebatan-soal-ronaldo-vs-messi-yang-tak-kunjung-usai/" target="_blank" >Absurditas Perdebatan Soal Ronaldo vs Messi yang Tak Kunjung Usai</a></h6>
</li><li class="wp-block-post post-205 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-art-design category-tech tag-aduopini tag-ai tag-artificial-intelligence tag-contribute tag-esai tag-gema-ganeswara tag-photography tag-tech">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0" class="has-link-color wp-elements-5 wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-3"><a href="https://aduide.id/2025/04/05/ai-dan-pengalaman-manusia-pertanyaan-dan-refleksi/" target="_blank" >AI dan Pengalaman Manusia: Pertanyaan dan Refleksi</a></h6>
</li><li class="wp-block-post post-311 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-art-design category-culture tag-aduopini tag-branding tag-public-policy tag-tourism">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0" class="has-link-color wp-elements-6 wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-3"><a href="https://aduide.id/2025/07/02/bagai-mengecat-dinding-yang-belum-kering-sebuah-catatan-penting-untuk-tourism-branding/" target="_blank" >Bagai Mengecat Dinding yang Belum Kering: Sebuah Catatan Penting untuk Tourism Branding</a></h6>
</li></ul></div>
</div>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu problem menarik dalam foto-foto Udhe ialah persoalan sensualitas dan kecantikan. Di tengah budaya kapitalistik yang menstandarkan kecantikan—muda, putih, kencang, dan wangi—Udhe justru memilih&nbsp;oposisinya. Baginya, “cantik itu biasa”. Melalui karyanya, ia menolak mitos kecantikan yang dikonstruksi oleh pasar dan menampilkan wajah tua, kulit kusam, tubuh renta, serta rambut ubanan sebagai bentuk perlawanan terhadap kuasa estetika dominan. Sosok dalam fotonya tertawa dengan jujur, menunjukkan kemerdekaan dari “tatapan” yang menilai tubuh. Di sana, kecantikan bukan lagi perkara penampilan, melainkan ekspresi kejujuran dan pembebasan diri dari tirani standar.</p>



<figure class="wp-block-image alignwide size-full has-custom-border"><img loading="lazy" decoding="async" width="688" height="686" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6393.jpeg" alt="" class="wp-image-679" style="border-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6393.jpeg 688w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6393-300x300.jpeg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6393-150x150.jpeg 150w" sizes="auto, (max-width: 688px) 100vw, 688px" /><figcaption class="wp-element-caption">“Karena Cantik Itu Biasa”, 2013&nbsp;© Udhe</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image alignwide size-full has-custom-border"><img loading="lazy" decoding="async" width="716" height="713" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6394.jpeg" alt="" class="wp-image-680" style="border-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6394.jpeg 716w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6394-300x300.jpeg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6394-150x150.jpeg 150w" sizes="auto, (max-width: 716px) 100vw, 716px" /><figcaption class="wp-element-caption">“Tanpa Judul”, 2015&nbsp;© Udhe</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Foto&nbsp;di atas&nbsp;menampilkan bentuk lain dari perlawanan Udhe—bukan lewat oposisi langsung, melainkan satire. Tubuh tua yang mengenakan&nbsp;<em>tank-top</em>&nbsp;sederhana khas perempuan pedesaan tampil apa adanya, menolak estetika glamor&nbsp;seperti&nbsp;Herworld. Aroma&nbsp;tubuhnya bukanlah sesuatu yang dilahirkan, misalnya, dari parfum&nbsp;<em>L’eau D’Issey&nbsp;</em>yang dikeluarkan Issey Miyake, melainkan aroma khas manula di pedesaan. Tatapan matanya memancarkan&nbsp;rasa&nbsp;percaya diri dan ketajaman intelektual yang lahir dari pengalaman, bukan pendidikan formal. Genggaman tangannya, dengan ibu jari di atas, menandai ketegasan dan intuisi yang matang. Dalam tafsir ini, kecantikan yang dihadirkan Udhe tidak bersumber dari tubuh, tetapi dari keberanian, kebijaksanaan, dan integritas—kecantikan yang tumbuh dari hidup itu sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--8">Terlampauinya Subjek yang Tampak</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pada 5 September 1936, majalah&nbsp;<em>Vu</em>&nbsp;memuat foto legendaris Robert Capa,&nbsp;<em>Death of a Loyalist Soldier</em>—momen sepersekian detik ketika peluru menembus kepala seorang prajurit. Henri Cartier-Bresson menyebut titik semacam itu sebagai&nbsp;<em>The Decisive Moment</em>. Dalam fotografi, waktu yang terus mengalir selalu berarti perubahan. Udhe memang tidak menangkap momen ekstrem seperti Capa, tetapi potret para lansia yang diambilnya tetap berhubungan dengan kefanaan, dengan waktu yang menua perlahan. Bresson pernah menegaskan bahwa momen menentukan tak akan lahir tanpa momen-momen yang tampak sepele. Maka, paradoksnya, setiap&nbsp;momen sesungguhnya menentukan—unik, tak terulang, dan karenanya bernilai eksistensial.</p>



<figure class="wp-block-image alignwide size-full has-custom-border"><img loading="lazy" decoding="async" width="725" height="500" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6395.jpeg" alt="" class="wp-image-681" style="border-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6395.jpeg 725w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6395-300x207.jpeg 300w" sizes="auto, (max-width: 725px) 100vw, 725px" /><figcaption class="wp-element-caption">“Death of Loyalist Soldier”,&nbsp;1936&nbsp;©&nbsp;Robert Capa</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam foto-foto Udhe, konsep&nbsp;<em>Momen yang Menentukan</em>&nbsp;tampak hadir bukan dalam bentuk ekstrem seperti pada karya Robert Capa, melainkan dalam wujud yang lebih halus—pada “nuansa yang subtil”. Momen itu muncul lewat tatapan mata dan ekspresi wajah subjek lansia yang difotonya. Sosok yang berada di antara ketegangan antara ingin menangis dan menahan tangis, dengan wajah menunduk, memancarkan kesedihan yang ditahan, bukan dilepaskan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mak Res, misalnya, dengan kerutan-kerutan di wajahnya, memperlihatkan kedewasaan yang lahir dari waktu. Sorot matanya memunculkan ambiguitas perasaan—antara harapan dan keputusasaan, kesedihan dan kebahagiaan, ketakpuasan dan penerimaan. Pada titik usia itu, seperti dikatakan Viktor Frankl, manusia tampak telah memiliki “kemampuan untuk menderita” (<em>Leidensfähigkeit</em>)—yakni kesanggupan menanggung beban hidup dengan kesadaran penuh.&nbsp;Sorot matanya memberikan saya impresi, seperti yang diungkapkan Chairil Anwar dalam&nbsp;<em>Sajak Siul</em>.</p>



<p class="is-style-text-label-2 is-style-text-label-2--9 wp-block-paragraph"><em>Laron pada mati<br>Terbakar di sumbu lampu<br>Aku juga menemu<br>Ajal di cerlang caya matamu<br>Heran! ini badan yang selama berjaga<br>Habis hangus di api matamu<br>’Ku kayak tidak tahu saja.</em></p>



<figure class="wp-block-image alignwide size-full has-custom-border"><img loading="lazy" decoding="async" width="622" height="619" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6396.jpeg" alt="" class="wp-image-682" style="border-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6396.jpeg 622w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6396-300x300.jpeg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6396-150x150.jpeg 150w" sizes="auto, (max-width: 622px) 100vw, 622px" /><figcaption class="wp-element-caption">“Don’t Cry, Please”,&nbsp;2013&nbsp;©&nbsp;Udhe</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image alignwide size-full has-custom-border"><img loading="lazy" decoding="async" width="666" height="663" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6397.jpeg" alt="" class="wp-image-683" style="border-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6397.jpeg 666w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6397-300x300.jpeg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6397-150x150.jpeg 150w" sizes="auto, (max-width: 666px) 100vw, 666px" /><figcaption class="wp-element-caption">“Mak Res, Since 1918”,&nbsp;2013&nbsp;©&nbsp;Udhe</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Foto&nbsp;<em>Mak Res, Since 1918</em>&nbsp;(2013) memancarkan kesan yang jauh melampaui bentuk fisiknya. Dalam sorot matanya, penonton seperti dihadapkan pada batas antara hidup dan ajal—terbakar oleh intensitas pandangan yang mengandung rekonsiliasi atas absurditas hidup. Udhe,&nbsp;melalui lensanya,&nbsp;mencoba mengangkat subjek yang semula biasa menjadi medan kontemplasi yang dipenuh-jejali oleh resonansi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejalan dengan pemikiran Susan Sontag, tubuh dalam karya Udhe tampil “melampaui dirinya sendiri”. Wajah renta, kerutan, bahkan belek di sudut mata berubah menjadi tabir simbolik—menyembunyikan dan sekaligus menyingkap misteri manusia&nbsp;yang berada dalam arus waktu. Dalam ruang simbolik itulah, penonton digiring untuk menafsir, menembus batas visual menuju pertanyaan-pertanyaan eksistensial: tentang waktu, penderitaan, dan makna hidup yang, meminjam istilah Udhe sendiri, “<em>was coloured</em>”—telah diberi warna oleh pengalaman hidup itu sendiri.&nbsp;Ini mengingatkan saya pada penggalan sajak&nbsp;<em>Amuk&nbsp;</em>gubahan Sutardji Calzoum Bachri.</p>



<p class="is-style-text-label-2 is-style-text-label-2--10 wp-block-paragraph"><em>aku telah nemukan jejak<br>aku telah mencapai jalan<br>tapi belum sampai pada tuhan<br>berapa banyak abad lewat<br>berapa banyak arloji pergi<br>berapa banyak isyarat dapat<br>berapa banyak jejak menapak<br>agar sampai padaMu?<br>jejak tak menuju ke mana<br>jejak tak sampai ke sana<br>jejak yang dari diri<br>bertanya sendiri<br>ngiau?</em></p>



<figure class="wp-block-image alignwide size-full has-custom-border"><img loading="lazy" decoding="async" width="624" height="619" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6398.jpeg" alt="" class="wp-image-684" style="border-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6398.jpeg 624w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6398-300x298.jpeg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6398-150x150.jpeg 150w" sizes="auto, (max-width: 624px) 100vw, 624px" /><figcaption class="wp-element-caption">“Tanpa Judul”,&nbsp;2012&nbsp;©&nbsp;Udhe</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image alignwide size-full has-custom-border"><img loading="lazy" decoding="async" width="612" height="604" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6399.jpeg" alt="" class="wp-image-685" style="border-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6399.jpeg 612w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/11/IMG_6399-300x296.jpeg 300w" sizes="auto, (max-width: 612px) 100vw, 612px" /><figcaption class="wp-element-caption">“Live Was Coloured”,&nbsp;2013&nbsp;©&nbsp;Udhe</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam&nbsp;<em>Live Was Coloured</em>&nbsp;(2013), Udhe mengajak kita menatap&nbsp;melampaui subjek/objek dalam&nbsp;<em>frame</em>, mengikuti tatapan mata sang subjek fotografi.&nbsp;Sosok itu memandang ke langit—sebuah gerak yang tampak sederhana, namun dalam bias cahaya yang membelai wajahnya, kita menyaksikan intensitas yang meditatif. Sepasang mata itu seolah berdoa dalam diam, memusatkan diri pada sesuatu yang melampaui bentuk, melampaui representasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Udhe, sebagaimana Duane Michals, menegaskan bahwa fotografi tidak selalu tentang apa yang tampak, melainkan tentang apa yang&nbsp;<em>tak terlihat</em>&nbsp;namun&nbsp;<em>dapat dirasakan</em>. Ia menulis, sebagaimana Michals katakan: bukan untuk menjelaskan gambar, tetapi untuk menyingkap persoalan yang tersembunyi di baliknya—persoalan yang tak bisa dijelaskan oleh bahasa visual semata. Di sini, cahaya menjadi bahasa spiritual; wajah menjadi teks meditatif.&nbsp;<em>Live Was Coloured</em>&nbsp;bukan sekadar foto tentang seseorang yang menatap langit, tetapi tentang manusia yang mencoba memahami misteri dirinya dalam bentangan semesta yang tanpa batas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui foto-fotonya, Udhe seolah mengajak kita merenungkan kembali makna hidup yang fana. Hidup, baginya, justru bernilai karena ia memiliki akhir; keterbatasan usia manusia menjadi sumber kesadaran eksistensial. Wajah-wajah manula yang dipotret Udhe menjelma model permenungan—mereka menatap masa depan yang tak pasti dengan mata yang menyimpan sejarah panjang kehidupan. Dalam diam mereka, tersimpan doa yang tak diucapkan, kerinduan yang tak terjawab. Diam, seperti kata Fritz Leist, adalah cara mendengarkan dalam kesunyian,&nbsp;<em>das Hören in der Stille</em>. Dan di balik kesunyian itu, terselip keinginan sederhana yang tetap menyala.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan-pertanyaan reflektif para manula dalam foto Udhe menyiratkan penerimaan diri yang tenang—bahwa meski telah “menemukan jejak” dan “mencapai jalan”, mereka belum tentu merasa “sampai pada Tuhan”. Diam mereka bukanlah kehampaan, melainkan kesediaan mendengar dalam kesunyian. Di balik diam itu tersimpan kerinduan sederhana untuk terus hidup, menghirup “seribu satu bau kehidupan”. Potret-potret tua Udhe pun menjadi afirmasi terhadap hidup itu sendiri: sebuah “ya” yang lahir dari kesadaran akan kefanaan. Karya-karyanya tidak hanya mengabadikan tubuh-tubuh renta, tetapi juga menyingkap kedalaman eksistensial, perlawanan terhadap standar kemapanan, serta hikmat-hikmat yang diam di antara waktu dan cahaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>*) Esai ini merupakan rangkuman dari esai dengan judul yang sama yang dimuat dalam buku “Amarah dan Keretakan: Esai-Esai tentang Seni, Alienasi, dan Trauma” karya Candrika Adhiyasa (Langgam Pustaka, 2024)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2025/11/18/proyeksi-kecemasan-episode-masa-tua-dalam-lensa-udhe/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">671</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
