<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>tudgam kids &#8211; Aduide Media</title>
	<atom:link href="https://aduide.id/tag/tudgam-kids/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://aduide.id</link>
	<description>Township Youth Media</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Jul 2026 01:44:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/cropped-favicon-32x32.png</url>
	<title>tudgam kids &#8211; Aduide Media</title>
	<link>https://aduide.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">246255001</site>	<item>
		<title>Catatan untuk Pameran Tudgam Kids: Masihkah Manusia Bisa Bermain di Era Kapitalisme Lanjut?</title>
		<link>https://aduide.id/2026/07/28/catatan-untuk-pameran-tudgam-kids-masihkah-manusia-bisa-bermain-di-era-kapitalisme-lanjut/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/07/28/catatan-untuk-pameran-tudgam-kids-masihkah-manusia-bisa-bermain-di-era-kapitalisme-lanjut/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2026 01:39:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Art & Design]]></category>
		<category><![CDATA[Art]]></category>
		<category><![CDATA[BEEK]]></category>
		<category><![CDATA[Candrika Adhiyasa]]></category>
		<category><![CDATA[Exhibition]]></category>
		<category><![CDATA[Graha Wangi]]></category>
		<category><![CDATA[Kuningan]]></category>
		<category><![CDATA[tudgam]]></category>
		<category><![CDATA[tudgam kids]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=1339</guid>

					<description><![CDATA[Seni rupa anak barangkali adalah salah satu bentuk magic circle paling murni yang masih tersisa di zaman kita. Anak-anak memang menggambar di kanvas, misalnya, dengan akrilik, tetapi sebenarnya mereka tidak dalam posisi memproduksi lukisan dalam pemahaman konvensional. Apa yang disentuh anak merupakan pergumulan dengan dunia yang sama sekali lain dari pemahaman orang dewasa. Mereka sedang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Seni rupa anak barangkali adalah salah satu bentuk <em>magic circle </em>paling murni yang masih tersisa di zaman kita. Anak-anak memang menggambar di kanvas, misalnya, dengan akrilik, tetapi sebenarnya mereka tidak dalam posisi memproduksi lukisan dalam pemahaman konvensional. Apa yang disentuh anak merupakan pergumulan dengan dunia yang sama sekali lain dari pemahaman orang dewasa. Mereka sedang menciptakan sebuah kosmos baru di kanvas, dengan bentuk, garis, dan warna yang barangkali saja <em>tidak sempurna </em>dalam logika simetri a la modernitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang simetri dalam kehidupan modern ini ditandai, mula-mula, oleh pergerakan Renaisasns, yakni ketika para perupa, khususnya pelukis, bermain-main dengan menekankan pada simetri dan keseimbangan bentuk. Dalam hal ini, apa yang simestri dan seimbang barangkali diasosiasikan dengan makna “harmonis”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun pada tanggal 2 Juli 2026 kemarin, tepatnya pada malam hari, saya sedang bercakap dengan kawan saya perihal sastra, dan pada saat itu tiba-tiba sekali ada dorongan untuk pergi ke Gedung Graha Wangi. Sebenarnya pertama-tama saya hanya berniat untuk bertemu beberapa kawan lama, tetapi ternyata di sana sedang terjadi diskusi yang cukup serius, sehingga saya mencari sudut remang sekadar untuk menyesap kopi. Ternyata di bagian belakang gedung itu sedang dihelat sebuah pameran yang menampilkan lukisan-lukisan anak. Di sana saya dipandu oleh seorang kawan saya, Ryan Ginanjar (Obet), meski sebenarnya pameran sudah tutup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama-tama perlu saya kutipkan sebuah “mukadimah” ihwal kegiatan ini yang ditampilkan oleh Yayasan Tulisan dan Gambar (Tudgam) ini.</p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--6 wp-block-paragraph"><em>“Pameran seni yang berlangsung di BEEK, Gedung Graha Wangi, selama tiga hari, pada 2-4 Juli 2026, hadir sebagai ruang apresiasi yang tulus. Di sini, anak-anak belajar menghargai proses kreatif yang telah mereka lalui, sekaligus merasakan kegembiraan ketika melihat orang lain menikmati karya-karya mereka. Lebih dari sekadar pameran visual …”</em></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Kegiatan ini sebenarnya adalah sebuah rangkaian. Persisnya ada kegiatan bertualang di alam, pementasan drama, dll., hanya saja dalam catatan ini saya akan memfokuskan diri untuk berbincang mengenai karya-karya visual (mayoritas lukisan) dalam pameran yang saya kunjungi pada malam itu.</p>



<figure class="wp-block-image size-full has-custom-border"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="689" height="465" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/image.jpeg" alt="Layout Pameran Seni Anak, Yayasan Tudgam © 2026" class="wp-image-1342" style="border-top-left-radius:15px;border-top-right-radius:15px;border-bottom-left-radius:15px;border-bottom-right-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/image.jpeg 689w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/image-300x202.jpeg 300w" sizes="(max-width: 689px) 100vw, 689px" /><figcaption class="wp-element-caption">Layout Pameran Seni Anak, Yayasan Tudgam © 2026</figcaption></figure>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--7">Alienasi dan Trauma Keratif</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika mula-mula membayangkan mengenai “dunia anak-anak”, yang terlintas pertama kali adalah dunia permainan. Sebuah dunia yang dipenuhi dengan kegembiaraan, kepolosan, dan absennya pelbagai <em>mens rea </em>yang biasa melatarbelakangi komunikasi dunia dewasa. Dalam pameran seni rupa anak ini, para akhirnya, telah menjadi momen penyatuan proses dan hasil. Dalam situasi ini seolah-olah tidak ada fragmentasi seperti yang dialami perupa dewasa yang dituntut memikirkan pasar, kuratorial, dan khususnya, “nilai jual karya seni”. Anak-anak melukis karena mereka ingin melukis, harus melukis, dan menjadikan proses melukis ini sebagai proses <em>being</em>, mengada menjadi diri mereka sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Huizinga, dalam <em>Homo Ludens</em>, menjabarkan bagaimana dunia permainan sendiri melampaui aktivitas marginal dan terpisah dari kehidupan manusia. Permainan dapat dianggap lebih tua dari kebudayaan itu sendiri. Sebelum ada hukum, agama, konstitusi, atau sains dalam bentuknya yang paling sistematis, ruang di mana manusia menyusun ruang yang di dalamnya berkelindan aturan, batas, dan gairah yang begitu mengasyikan dalam bernegosiasi dengan kejemuan mekanis kerja keseharian manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun belakangan ini, dalam mekanisasi kehidupan modern yang ditengarai derap kapitalisme lanjut, kita terlempar pada sebuah realitas yang disebut Weber berupa “kerangkeng besi” (<em>iron cage</em>). Di sudut lain, seni rupa para orang dewasa kian dituntut untuk produktif, efisien, serta terukur dalam perlbagai mekanisme manajerialnya. <em>Workshop </em>seni yang dahulu dipenuhi oleh eksperimen artistik kini didikte oleh silabus dan menuntut <em>output </em>dan <em>outcome</em>. Seniman-seniman juga secara tak langsung dipaksa hidup dengan portofolio, <em>artist statement</em>, <em>branding</em>, dan juga relasi sehingga karya-karya mereka dapat dihargai secara ekonomis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kapitalisme, dengan logika akumulasi yang tak mengenal batas, senantiasa melakukan komodifikasi pada hampir semua hal yang ada di dunia ini. Pasar seni bagi “anak yang berbakat”, misalnya, telah dikomersialisasi lewat lomba-lomba, pameran komersial, dan juga konten-konten yang menghamba pada algoritma. Anak yang memiliki karya “paling bagus” pada akhirnya tidak membuat mereka menyelami area terdalam dari sensasi artistik, tetapi sekadar mencetak mereka menjadi bibit-bibit dari <em>homo economicus </em>yang terampil menghitung.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--8">Meminjam Kembali Mata Anak</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum berbincang lebih jauh, saya merasa perlu menampilkan beberapa karya yang menarik perhatian saya. “Menarik perhatian” di sini saya harap tidak menjadi sebuah kecenerungan kanon, atau preferensi pasar, melainkan karena semata-mata kemurnian bahwa batin saya tersentuh secara artistik.</p>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized has-custom-border"><img decoding="async" width="542" height="363" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/image-1.png" alt="“Spongebob &amp; Pattrick” - Acrylic on Canvas 20 x 30 cm © Adara Putri Krisna, 2026" class="wp-image-1345" style="border-top-left-radius:15px;border-top-right-radius:15px;border-bottom-left-radius:15px;border-bottom-right-radius:15px;width:680px;height:auto" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/image-1.png 542w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/image-1-300x201.png 300w" sizes="(max-width: 542px) 100vw, 542px" /><figcaption class="wp-element-caption">“Spongebob &amp; Pattrick” &#8211; Acrylic on Canvas 20 x 30 cm © Adara Putri Krisna, 2026</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Lukisan “Spongebob &amp; Pattrick” karya Adara Putra Krisna ini dikerjakan dalam medium akrilik di atas kanvas. Komposisi diagonal membagi bidang antara spons dan bintang laut dengan bentangan laut biru. Sapuan kuas lebar bertekstur membubuhkan hamparan pasir dengan corak kuning-kecoklatan di bagian kanan bawah. Sapuan kuasnya ekspresif dan longgar, seolah-olah menggunakan teknik <em>direct-painting</em>. Kontras ini menyembulkan kesan yang ceria, meski kenyataannya, makhluk berbentuk spons dan bintang laut itu tengah sekarat karena tidak dapat bernapas di daratan. Kita dapat melihat ironi halus dalam visualisasi yang polos ini.</p>



<figure class="wp-block-image size-full has-custom-border"><img decoding="async" width="690" height="467" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/image-1.jpg" alt="“Senja” - Acrylic on Canvas 20 x 30 cm © Nareshwari Shajani Alfathia Dhia, 2026" class="wp-image-1344" style="border-top-left-radius:15px;border-top-right-radius:15px;border-bottom-left-radius:15px;border-bottom-right-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/image-1.jpg 690w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/image-1-300x203.jpg 300w" sizes="(max-width: 690px) 100vw, 690px" /><figcaption class="wp-element-caption">“Senja” &#8211; Acrylic on Canvas 20 x 30 cm © Nareshwari Shajani Alfathia Dhia, 2026</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Selanjutnya dapat kita lihat sebuah lukisan yang menggambarkan pemandangan senja dengan teknik <em>gradiant blending</em>. Area langit dikerjakan dengan sapuan horizontal yang halus, dan bisa kita lihat gradasi warna merah tua di bagian atas, lantas turun oranye terang. Di bagian dasar ada pewarnaan oranye solid yang dekat dengan tanah. Berderet pula siluet pohon, sebagian terkesan ranggas, sebagian barangkali tertutup kabut. Lanskap yang dilukiskan Nareshwari ini secara umum tipikal dengan lukisan anak-anak, tetapi komposisi siluet pohon dan senja yang menyala itu memberi intensitas kesepian yang berdengung di telinga saya.</p>



<figure class="wp-block-image size-full has-custom-border"><img loading="lazy" decoding="async" width="682" height="454" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/image.jpg" alt="“Keluarga Telur” - Acrylic on Canvas 20 x 30 cm © Kanaya Hanindhiya, 2026" class="wp-image-1343" style="border-top-left-radius:15px;border-top-right-radius:15px;border-bottom-left-radius:15px;border-bottom-right-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/image.jpg 682w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/image-300x200.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 682px) 100vw, 682px" /><figcaption class="wp-element-caption">“Keluarga Telur” &#8211; Acrylic on Canvas 20 x 30 cm © Kanaya Hanindhiya, 2026</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Berikut ini ada lukisan yang menggambarkan sebuah keluarga dengan gaya <em>stick-figure</em>, khususnya dengan gambaran kepala seperti telur. Latar langit biru cerah dibuat dengan sapuan kuas yang dekoratif, dan dapat kita lihat matahari sederhana di pojok kanan atas. Ada pula tiga batang pohon degan dedaunan yang digambar, barangkali, dengan teknik <em>stippling</em>. Warna-warna primer yang digunakan mendekati seni anak <em>folk art</em>, menggambarkan sebuah imajinasi mengenai bagaimana asosasi antara benda-tak-hidup (telur) yang termungkinkan mengalami personifikasi.</p>



<figure class="wp-block-image size-full is-resized has-custom-border"><img loading="lazy" decoding="async" width="512" height="390" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/image-2.png" alt="“Memancing” - Acrylic on Canvas 30 x 40 cm © Nyala Syams Lare Prasetyo, 2026" class="wp-image-1346" style="border-top-left-radius:15px;border-top-right-radius:15px;border-bottom-left-radius:15px;border-bottom-right-radius:15px;width:680px;height:auto" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/image-2.png 512w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/image-2-300x229.png 300w" sizes="auto, (max-width: 512px) 100vw, 512px" /><figcaption class="wp-element-caption">“Memancing” &#8211; Acrylic on Canvas 30 x 40 cm © Nyala Syams Lare Prasetyo, 2026</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Lukisan terkahir yang saya pilih menampilkan adegan memancing. Di sini kanvas dihiasi dengan sapuan kuas longgar bertekstur dalam menggambarkan langit. Ada pula pepohonan yang dibuat secara, barangkali saja, spontan. Di sana ada sosok manusia <em>stick-figure </em>juga yang tengan memancing makhluk merah besar yang melayang (tentu saja maksudnya ikan). Penggambaran yang begitu bertekstur dan dipenuhi spontanitas ini menjadi proyeksi dari kemurnian imajiner manusia.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--9">Penutup sebagai Refleksi</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Huizinga barangkali saja akan bersedih melihat kondisi kita saat ini. Ia menulis <em>Homo Ludens </em>di ambang Perang Dunia II, ketika rasionalitas instrumental menguasai peradaban dan nyawa manusia sekadar menjadi statistik dalam mesin besar bernama “strategi”. Ketika merefleksikan lukisan-lukisan anak di pameran ini, betapa saya menyayangkan pupusnya sensasi permainan yang murni yang lantas digantikan dengan simulasi permainan berdarah: kolonialisme, eksploitasi buruh, destruksi lingkungan, dsb … dan pada titik ini kompetisi ekonomi bergerak dengan agresif dengan bertopeng kreativitas dan pembangunan.</p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column has-light-background-color has-background is-layout-flow wp-container-core-column-is-layout-08414c4c wp-block-column-is-layout-flow" style="border-radius:12px;padding-top:var(--wp--preset--spacing--18);padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--24);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);flex-basis:100%">
<p class="has-custom-color-1-color has-text-color has-link-color wp-elements-2 wp-block-paragraph" style="margin-bottom:var(--wp--preset--spacing--10)"><strong>Baca Juga</strong></p>



<div class="wp-block-query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="has-link-color wp-elements-3 wp-block-post-template has-text-color has-custom-color-3-color has-minute-font-size is-layout-flow wp-container-core-post-template-is-layout-7a3036bf wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-433 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-art-design tag-adukabar tag-art tag-bergembiraria tag-exhibition tag-graha-wangi tag-kids tag-kuningan tag-tudgam tag-workshop">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0" class="has-link-color wp-elements-4 wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-3"><a href="https://aduide.id/2025/07/20/tudgam-kids-2025-ajakan-bergembiraria-untuk-anak-anak-kuningan/" target="_blank" >Tudgam Kids 2025: Ajakan Bergembiraria untuk Anak-Anak Kuningan!</a></h6>
</li><li class="wp-block-post post-874 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar tag-adukabar tag-art tag-budaya tag-ciremai tag-donasi tag-hibar-budaya-nusantara tag-kolektif tag-kuningan tag-music tag-sumatra">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0" class="has-link-color wp-elements-5 wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-3"><a href="https://aduide.id/2026/01/01/satu-nafas-sumatra-solidaritas-kemanusiaan-dan-seruan-ekologis-dari-kuningan-untuk-sumatra/" target="_blank" >Satu Nafas Sumatra: Solidaritas Kemanusiaan dan Seruan Ekologis dari Kuningan untuk Sumatra</a></h6>
</li><li class="wp-block-post post-832 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar tag-adukabar tag-graha-wangi tag-pameran tag-re-trace tag-seni tag-tudgam">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0" class="has-link-color wp-elements-6 wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-3"><a href="https://aduide.id/2025/12/12/re-trace-menelusuri-ulang-identitas-wilayah-lewat-seni-dan-ingatan-kolektif/" target="_blank" >re/trace: Menelusuri Ulang Identitas Wilayah Lewat Seni dan Ingatan Kolektif</a></h6>
</li></ul></div>
</div>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">Namun karena manusia adalah, mengutip Lionel Tiger, hewan dengan bakat besar untuk berharap, tentu kita masih bisa melihat harapan termungkinkan tumbuh dari mana-mana. Misalnya saja, di ruang-ruang yang belum sepenuhnya dijamah logika pasar, di sebuah daerah yang masih dipenuhi anak-anak yang gemar bermain dengan lumpur, di sebuah sekolah yang di sana gurunya memberi kebebasan pada anak untuk berkreasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat menulis catatan ini, saya merasa kembali menjadi anak kecil yang sedang menggambar monster-monster dalam film Ultraman menggunakan krayon. Meski kenyataannya, tangan ini telah dewasa, dalam hati terdalam saya masih berkeinginan untuk bermain, untuk terbebas dari <em>deadline </em>pekerjaan, untuk kabur dari pengurusan <em>invoice</em>, dan untuk kembali menemui diri saya yang paling jujur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seni rupa anak mengingatkan kembali bahwa sebelum mekanisasi, komodifikasi, dan alienasi melumat hidup kita, ternyata kita pernah menjadi semacam dewa kecil yang mampu mencipta kosmos dengan begitu riang. Pameran ini membisiki saya untuk kembali menjadi anak-anak, untuk kembali membuka diri pada peran saya sebagai <em>homo ludens</em>, untuk bermain dan bersenang-senang (tanpa terlempar pada hedonisme), sebab pada akhirnya, sebuah peradaban yang kehilangan elemen permainannya tidak akan pernah menjadi peradaban yang nyaman untuk ditinggali. Tudgam telah memberi saya─dan mungkin kita semua─kesempatan untuk kembali memproduksi suka cita. Terima kasih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tangerang Selatan, 14 Juli 2026</p>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>



<div class="wp-block-columns is-not-stacked-on-mobile is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:33.33%">
<figure class="wp-block-image size-full is-style-rounded"><img loading="lazy" decoding="async" width="712" height="712" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/Screenshot-2026-07-28-083420-e1785202523927.png" alt="" class="wp-image-1347" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/Screenshot-2026-07-28-083420-e1785202523927.png 712w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/Screenshot-2026-07-28-083420-e1785202523927-300x300.png 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/Screenshot-2026-07-28-083420-e1785202523927-150x150.png 150w" sizes="auto, (max-width: 712px) 100vw, 712px" /></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:66.66%">
<p class="wp-block-paragraph">Ditulis oleh:</p>



<p class="is-style-text-label is-style-text-label--10 wp-block-paragraph"><strong><strong>Candrika Adhiyasa</strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang esais lulusan Departemen Ilmu Lingkungan Universitas Gadjah Mada. Area kajiannya meliputi filsafat, budaya, politik, seni, dan lingkungan hidup. Ia aktif sebagai penggerak Ruang Publik Agora dan Direktur di PT. Wahana Adhi Lestari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Instagram: <a href="https://www.instagram.com/candrimen">https://www.instagram.com/candrimen</a></p>
</div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/07/28/catatan-untuk-pameran-tudgam-kids-masihkah-manusia-bisa-bermain-di-era-kapitalisme-lanjut/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1339</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
