<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>single &#8211; Aduide Media</title>
	<atom:link href="https://aduide.id/tag/single/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://aduide.id</link>
	<description>Township Youth Media</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Jan 2026 13:08:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/cropped-favicon-32x32.png</url>
	<title>single &#8211; Aduide Media</title>
	<link>https://aduide.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">246255001</site>	<item>
		<title>Rickran Rilis Single “Wither”, Lagu Tentang Denial, Menunggu, dan Melepaskan</title>
		<link>https://aduide.id/2026/01/09/rickran-rilis-single-wither-lagu-tentang-denial-menunggu-dan-melepaskan/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/01/09/rickran-rilis-single-wither-lagu-tentang-denial-menunggu-dan-melepaskan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Jan 2026 13:08:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[NewRelease]]></category>
		<category><![CDATA[music]]></category>
		<category><![CDATA[Rickran]]></category>
		<category><![CDATA[single]]></category>
		<category><![CDATA[Wither]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=1053</guid>

					<description><![CDATA[Rickran kembali menghadirkan karya terbarunya bertajuk “Wither”, sebuah single yang merekam perjalanan emosional seseorang yang terjebak dalam relasi timpang, penantian yang melelahkan, serta proses berdamai dengan perpisahan. Lagu ini tidak hadir sebagai kisah patah hati yang melodramatis, melainkan sebagai refleksi batin tentang kehilangan diri sendiri dalam hubungan yang tak lagi setara. Berangkat dari lirik pembuka [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Rickran kembali menghadirkan karya terbarunya bertajuk <strong>“Wither”</strong>, sebuah single yang merekam perjalanan emosional seseorang yang terjebak dalam relasi timpang, penantian yang melelahkan, serta proses berdamai dengan perpisahan. Lagu ini tidak hadir sebagai kisah patah hati yang melodramatis, melainkan sebagai refleksi batin tentang kehilangan diri sendiri dalam hubungan yang tak lagi setara.</p>



<p>Berangkat dari lirik pembuka <em>“I don’t know how long it takes to figure it all, just fake”</em>, “Wither” langsung menempatkan pendengar pada fase denial. Tokoh dalam lagu menyadari ada sesuatu yang keliru, namun belum sepenuhnya berani mengakuinya. Perasaan ragu, menyalahkan diri sendiri, hingga mempertanyakan apakah kesalahan yang dibuat sudah “cukup besar” menjadi fondasi emosional lagu ini.</p>



<h3 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--6">Narasi Emosional: Dari Insecure hingga Realisasi</h3>



<p>Secara naratif, “Wither” bergerak bertahap. Setelah denial, muncul fase insecurity yang kuat. Lirik <em>“It’s just me and I can’t be that pretty, replaceable”</em> menegaskan rasa tidak cukup dan ketakutan untuk digantikan. Menariknya, Rickran secara sadar membiarkan kata <em>pretty</em> bersifat multitafsir. Ia tidak dikunci pada gender tertentu, melainkan menjadi simbol universal tentang nilai diri dalam relasi yang mulai rapuh.</p>



<p>Ketegangan emosional meningkat saat rasa menunggu berubah menjadi kemarahan. Tokoh dalam lagu mulai muak dengan posisi digantung, dengan penantian yang tak kunjung usai. “Waiting” tidak lagi romantis, tetapi menjelma beban psikologis yang menggerus identitas. Pada titik ini, lagu tidak sedang berbicara tentang pasangan semata, tetapi tentang relasi kuasa dan ketimpangan afeksi.</p>



<h3 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--7">“It’s Just a Sign, Goodbye”: Perpisahan yang Tidak Sederhana</h3>



<p>Puncak emosional lagu hadir pada momen kesadaran: <em>“It’s just a sign, goodbye.”</em> Ini bukan perpisahan heroik, melainkan keputusan sunyi yang lahir dari kelelahan batin. Namun, Rickran tidak menyederhanakan perpisahan sebagai solusi final. Setelah tangis berhenti, kehampaan tetap ada. <em>“I stopped to cry, but everything feels the same”</em> menjadi pengakuan jujur bahwa melepaskan tidak selalu berarti lega.</p>



<p>Di sinilah “Wither” menjadi relevan bagi banyak orang. Lagu ini menangkap paradoks emosional yang sering dialami dalam hubungan putus-nyambung, ketika keputusan berpisah belum tentu menghapus rasa, dan kesedihan tidak serta-merta berubah menjadi kebahagiaan.</p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-28f84493 wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column has-light-background-color has-background is-layout-flow wp-container-core-column-is-layout-61ae05d8 wp-block-column-is-layout-flow" style="border-radius:12px;padding-top:var(--wp--preset--spacing--18);padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--24);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);flex-basis:100%">
<p class="has-custom-color-1-color has-text-color has-link-color wp-elements-7921b8707593f86b9d38baa81fa11bc2" style="margin-bottom:var(--wp--preset--spacing--10)"><strong>Baca Juga</strong></p>



<div class="wp-block-query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="has-link-color wp-elements-2fa1fd811687d922e43862af38680bdc wp-block-post-template has-text-color has-custom-color-3-color has-minute-font-size is-layout-flow wp-container-core-post-template-is-layout-cbd8a0e9 wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-123 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-music category-newrelease tag-hip-hop tag-music tag-newrelease tag-single tag-yeloo-mob">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0;" class="has-link-color wp-elements-7c5b745afe2b7404ec47b625a33148de wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-2fa1fd811687d922e43862af38680bdc"><a href="https://aduide.id/2025/03/10/yeloo-mob-luncurkan-single-baru-fractal-human-disorder/" target="_blank" >Yeloo Mob Luncurkan Single Baru: “Fractal Human Disorder”</a></h6>
</li><li class="wp-block-post post-155 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-music category-newrelease tag-ammu-hanef tag-hip-hop tag-music tag-newrelease tag-single">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0;" class="has-link-color wp-elements-7c5b745afe2b7404ec47b625a33148de wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-2fa1fd811687d922e43862af38680bdc"><a href="https://aduide.id/2025/03/19/ammu-hanef-rilis-single-tanam-paduan-musik-dan-kritik-atas-krisis-lingkungan/" target="_blank" >Ammu Hanef Rilis Single &#8220;Tanam&#8221;, Paduan Musik dan Kritik Atas Krisis Lingkungan</a></h6>
</li><li class="wp-block-post post-164 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-music category-newrelease tag-inheritors tag-music tag-newrelease tag-single">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0;" class="has-link-color wp-elements-7c5b745afe2b7404ec47b625a33148de wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-2fa1fd811687d922e43862af38680bdc"><a href="https://aduide.id/2025/03/25/inheritors-lepas-single-kedua-pestilence-wabah-baru-dari-bawah-tanah/" target="_blank" >Inheritors Lepas Single Kedua “Pestilence”: Wabah Baru dari Bawah Tanah</a></h6>
</li></ul></div>
</div>
</div>



<h3 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--8">Aransemen Minimalis sebagai Ruang Kontemplasi</h3>



<p>Secara musikal, “Wither” mengandalkan gitar sebagai tulang punggung, diperkaya dengan choir dan dinamika aransemen yang sengaja diturunkan di bagian tengah lagu. Pada bagian instrumental tanpa lirik, Rickran memberi ruang hening bagi pendengar untuk berhenti sejenak, bernapas, dan menerima kekosongan sebagai bagian dari proses pendewasaan.</p>



<p>Gitar solo di bagian akhir mempertegas pesan bahwa perpisahan bisa terasa indah sekaligus menyakitkan. Seperti hujan yang melahirkan pelangi, kesedihan diposisikan bukan sebagai akhir, melainkan fase yang harus dilalui untuk sampai pada pemahaman yang lebih luas tentang diri sendiri.</p>



<h3 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--9">Proses Kreatif: Melawan Perfeksionisme</h3>



<p>Menariknya, “Wither” juga menandai perubahan signifikan dalam proses kreatif Rickran. Jika sebelumnya ia membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga satu tahun untuk menyelesaikan sebuah lagu, single ini justru rampung hanya dalam waktu satu minggu, dari penulisan hingga rekaman. Pendekatan ini menjadi bentuk perlawanan terhadap perfeksionisme yang selama ini justru menghambat kelahiran ide.</p>



<p>Keputusan untuk “langsung menuangkan” ide tanpa terlalu banyak revisi menjadi bagian dari pesan lagu itu sendiri: bahwa tidak semua hal harus sempurna untuk menjadi jujur dan bermakna.</p>



<h3 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--10">“Wither” sebagai Cermin Emosi Kolektif</h3>



<figure class="wp-block-image size-full has-custom-border"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="764" height="739" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Wither-Rickran.jpg" alt="Wither - Rickran" class="wp-image-1058" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Wither-Rickran.jpg 764w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Wither-Rickran-300x290.jpg 300w" sizes="(max-width: 764px) 100vw, 764px" /></figure>



<p>Meski bukan kisah personal secara langsung, “Wither” disusun dari berbagai sudut pandang emosional yang sering muncul dalam relasi manusia. Lagu ini merangkum kesedihan, kebahagiaan, kemarahan, dan kebingungan yang saling berkelindan. Dengan demikian, “Wither” tidak menawarkan jawaban pasti, tetapi menyediakan ruang refleksi bagi siapa pun yang pernah merasa tersesat dalam penantian dan kehilangan arah dalam hubungan.</p>



<p>Single “Wither” telah resmi dirilis dan dapat didengarkan di berbagai platform musik digital.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/01/09/rickran-rilis-single-wither-lagu-tentang-denial-menunggu-dan-melepaskan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1053</post-id>	</item>
		<item>
		<title>The Waffers Rilis Single “Waking Up.. Late”, Tentang Kesiangan dan Kehidupan Kantoran</title>
		<link>https://aduide.id/2026/01/06/the-waffers-rilis-single-waking-up-late-tentang-kesiangan-dan-kehidupan-kantoran/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/01/06/the-waffers-rilis-single-waking-up-late-tentang-kesiangan-dan-kehidupan-kantoran/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2026 12:03:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[NewRelease]]></category>
		<category><![CDATA[Debut]]></category>
		<category><![CDATA[majalengka]]></category>
		<category><![CDATA[music]]></category>
		<category><![CDATA[single]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=1013</guid>

					<description><![CDATA[Setelah hampir satu dekade menjalin pertemanan dan berbagi ruang musikal, The Waffers, band indie-pop asal Majalengka, Jawa Barat, akhirnya merilis single debut mereka bertajuk “Waking Up.. Late”. Lagu ini menjadi penanda penting bagi Fajar (gitar, vokal), Tryas (bass), Restu (gitar), dan Yogi (drum) yang selama ini lebih memilih bergerak senyap, meski rutin bermain musik bersama [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Setelah hampir satu dekade menjalin pertemanan dan berbagi ruang musikal, <strong>The Waffers</strong>, band indie-pop asal Majalengka, Jawa Barat, akhirnya merilis single debut mereka bertajuk <strong>“Waking Up.. Late”</strong>. Lagu ini menjadi penanda penting bagi Fajar (gitar, vokal), Tryas (bass), Restu (gitar), dan Yogi (drum) yang selama ini lebih memilih bergerak senyap, meski rutin bermain musik bersama sejak 2018.</p>



<p>Berbeda dengan banyak band yang sejak awal berambisi tampil ke publik, The Waffers justru membiarkan proses musikal mereka tumbuh organik. Hampir lima tahun mereka bermain tanpa label identitas band yang resmi, sampai akhirnya sepakat memperkenalkan diri ke publik dengan nama The Waffers, sembari “menobatkan diri” sebagai band indie-pop dengan nuansa akhir 80-an.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--16">Lagu Personal tentang Rutinitas yang Terlewat</h2>



<p>“Waking Up.. Late” mengangkat pengalaman yang terdengar sepele, namun sangat dekat dengan keseharian banyak orang: telat bangun pagi dan rentetan kesiangan saat menjalani rutinitas kerja kantoran. Alih-alih dikemas sebagai keluhan banal, pengalaman tersebut diterjemahkan The Waffers ke dalam lirik yang sederhana, jujur, dan cenderung dramatis.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="768" height="768" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/The-Waffers-Waking-Up-Late-Cover.webp" alt="" class="wp-image-1018" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/The-Waffers-Waking-Up-Late-Cover.webp 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/The-Waffers-Waking-Up-Late-Cover-300x300.webp 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/The-Waffers-Waking-Up-Late-Cover-150x150.webp 150w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></figure>



<p>Tema ini terasa relevan bagi generasi pekerja muda yang kerap terjebak dalam siklus waktu, tekanan jam kerja, dan rasa bersalah yang datang berulang setiap pagi. Lagu ini tidak berpretensi memberi solusi, melainkan hadir sebagai pengakuan kecil tentang kekacauan ritme hidup yang sering dianggap remeh.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--17">Perkawinan Silang Referensi Musik</h2>



<p>Secara musikal, The Waffers tidak mengikatkan diri pada satu referensi tunggal. Perbedaan selera musik tiap personel justru menjadi fondasi utama pembentukan karakter mereka. Untuk memberi gambaran kasar, musik The Waffers dapat dibaca sebagai hasil perkawinan silang antara The Pains of Being Pure at Heart, Rumahsakit, dan Ramones.</p>



<p>Pendekatan ini melahirkan bunyi yang mengedepankan kesederhanaan ala band three chords, dengan energi pop yang ringan namun tetap mentah. Tidak ada upaya berlebihan untuk terdengar kompleks. Justru nilai utama yang dijaga adalah spontanitas dan kejujuran, dua hal yang kerap hilang dalam produksi musik yang terlalu dipoles.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--18">Proses Produksi yang Kolektif</h2>



<p>Single “Waking Up.. Late” diproduksi secara mandiri oleh The Waffers di Deepwound Studio. Proses rekaman gitar, bass, dan vokal dikerjakan di studio tersebut dengan Bangkit Alsyahid sebagai engineer, sementara rekaman drum dilakukan di Jags Studio bersama Mas Wahyu. Tahap mixing dan mastering dipercayakan kepada Cyril M. Falih.</p>



<p>Seluruh musik disusun dan diaransemen oleh The Waffers, dengan lirik ditulis oleh Fajar Rizky. Untuk visual, artwork digarap oleh Fajar Rizky bersama Farisa Zahra, memperkuat kesan personal yang sejak awal menjadi ruh utama rilisan ini.</p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-28f84493 wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column has-light-background-color has-background is-layout-flow wp-container-core-column-is-layout-61ae05d8 wp-block-column-is-layout-flow" style="border-radius:12px;padding-top:var(--wp--preset--spacing--18);padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--24);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);flex-basis:100%">
<p class="has-custom-color-1-color has-text-color has-link-color wp-elements-7921b8707593f86b9d38baa81fa11bc2" style="margin-bottom:var(--wp--preset--spacing--10)"><strong>Baca Juga</strong></p>



<div class="wp-block-query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="has-link-color wp-elements-2fa1fd811687d922e43862af38680bdc wp-block-post-template has-text-color has-custom-color-3-color has-minute-font-size is-layout-flow wp-container-core-post-template-is-layout-cbd8a0e9 wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-1140 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-music category-newrelease tag-adrie-yunus tag-agung-m-abul tag-music tag-newrelease">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0;" class="has-link-color wp-elements-7c5b745afe2b7404ec47b625a33148de wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-2fa1fd811687d922e43862af38680bdc"><a href="https://aduide.id/2026/04/13/pengecut-respons-kolektif-atas-represi-yang-terus-berulang/" target="_blank" >“Pengecut”: Respons Kolektif atas Represi yang Terus Berulang</a></h6>
</li><li class="wp-block-post post-1152 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-music category-newrelease tag-air-bir tag-indie-pop tag-kuningan tag-music tag-newrelease">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0;" class="has-link-color wp-elements-7c5b745afe2b7404ec47b625a33148de wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-2fa1fd811687d922e43862af38680bdc"><a href="https://aduide.id/2026/04/17/air-dan-bir-rilis-album-mystique-nan-magnifique-romansa-penuh-asa-dalam-balutan-indie-pop-minimalis/" target="_blank" >Air Dan Bir Rilis Album “Mystique Nan Magnifique”: Romansa Penuh Asa dalam Balutan Indie Pop Minimalis</a></h6>
</li><li class="wp-block-post post-155 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-music category-newrelease tag-ammu-hanef tag-hip-hop tag-music tag-newrelease tag-single">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0;" class="has-link-color wp-elements-7c5b745afe2b7404ec47b625a33148de wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-2fa1fd811687d922e43862af38680bdc"><a href="https://aduide.id/2025/03/19/ammu-hanef-rilis-single-tanam-paduan-musik-dan-kritik-atas-krisis-lingkungan/" target="_blank" >Ammu Hanef Rilis Single &#8220;Tanam&#8221;, Paduan Musik dan Kritik Atas Krisis Lingkungan</a></h6>
</li></ul></div>
</div>
</div>



<h3 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--19">Sudah Tersedia di Bandcamp</h3>



<p>“Waking Up.. Late” kini sudah dapat didengarkan melalui platform streaming Bandcamp <a href="https://thewaffers.bandcamp.com/track/waking-up-late" target="_blank" rel="noreferrer noopener">klik di sini</a>. Rilisan ini bukan hanya debut resmi The Waffers, tetapi juga arsip awal dari perjalanan panjang empat sahabat yang akhirnya memutuskan untuk berbagi cerita mereka ke ruang publik.</p>



<p>Di tengah lanskap musik independen yang semakin padat, The Waffers hadir tanpa gimmick berlebihan. Mereka memulai dengan hal paling dasar: lagu yang jujur, cerita yang dekat, dan bunyi yang apa adanya. Sebuah awal yang sederhana, namun justru terasa relevan.</p>



<h4 class="wp-block-heading is-style-text-summary is-style-text-summary--20">Credits</h4>



<p>Music Composed &amp; Arranged by <strong>The Waffers</strong><br>Lyrics written by <strong>Fajar Rizky</strong><br>Produced by <strong>The Waffers</strong> at <strong>Deepwound Studio</strong><br>Guitar, Bass &amp; Vocal recorded at <strong>Deepwound Studio</strong> (Engineered by <strong>Bangkit Alsyahid</strong>)<br>Drums recorded at <strong>Jags Studio</strong> (Engineered by <strong>Mas Wahyu</strong>)<br>Mixing &amp; Mastering by <strong>Cyril M. Falih</strong><br>Cover / Artwork by <strong>Fajar Rizky &amp; Farisa Zahra</strong></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/01/06/the-waffers-rilis-single-waking-up-late-tentang-kesiangan-dan-kehidupan-kantoran/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1013</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Noersun Sambut Babak Baru Lewat Single “Hidup” dan Vokalis Baru</title>
		<link>https://aduide.id/2025/07/05/noersun-sambut-babak-baru-lewat-single-hidup-dan-vokalis-baru/</link>
					<comments>https://aduide.id/2025/07/05/noersun-sambut-babak-baru-lewat-single-hidup-dan-vokalis-baru/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2025 09:10:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[NewRelease]]></category>
		<category><![CDATA[music]]></category>
		<category><![CDATA[Noersun]]></category>
		<category><![CDATA[single]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=330</guid>

					<description><![CDATA[Grup musik pop folk asal Tegal, Noersun (NRSN), membuka lembaran baru dalam perjalanan musik mereka. Lewat single berjudul “Hidup” yang resmi dirilis pada 13 Juni 2025, Noersun tampil dengan energi yang lebih padat dan solid dari sebelumnya. Lagu ini bukan cuma sekadar rilisan baru, tapi juga jadi penanda dimulainya era baru bagi mereka, yang kabarnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Grup musik pop folk asal Tegal, Noersun (NRSN), membuka lembaran baru dalam perjalanan musik mereka. Lewat single berjudul “Hidup” yang resmi dirilis pada 13 Juni 2025, Noersun tampil dengan energi yang lebih padat dan solid dari sebelumnya. Lagu ini bukan cuma sekadar rilisan baru, tapi juga jadi penanda dimulainya era baru bagi mereka, yang kabarnya akan dilanjutkan dengan album di tahun ini.</p>



<figure class="wp-block-image size-full has-custom-border"><img decoding="async" width="2560" height="2560" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/07/IMG_5924-scaled.jpeg" alt="" class="wp-image-332" style="border-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/07/IMG_5924-scaled.jpeg 2560w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/07/IMG_5924-300x300.jpeg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/07/IMG_5924-1024x1024.jpeg 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/07/IMG_5924-150x150.jpeg 150w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/07/IMG_5924-768x768.jpeg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/07/IMG_5924-1536x1536.jpeg 1536w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/07/IMG_5924-2048x2048.jpeg 2048w" sizes="(max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /></figure>



<p>Tapi tunggu dulu, kabar segar dari Noersun nggak berhenti di situ. Mereka juga memperkenalkan vokalis baru mereka, Ellen, yang menggantikan posisi Alda yang memutuskan untuk mundur dari band. Dengan formasi baru: Imam (gitar), Tama (gitar), Ibeng (drum), dan tentu saja Ellen (vokal), Noersun siap melangkah lebih jauh.</p>



<p>Menurut Imam, sang gitaris, “Hidup” adalah semacam penyembuh untuk segala luka dan proses panjang yang mereka jalani sebagai band. “Mau bertiga, berlima, atau berempat, Noersun bakal terus tumbuh dan terang,” katanya. Sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa mereka tetap akan berjalan, apa pun kondisinya. Seperti air yang mengalir, Noersun memilih untuk tetap bergerak, meski pernah diterpa perubahan formasi.</p>



<p>Dibentuk tahun 2022, Noersun sudah dikenal dengan identitas musik yang unik. Nggak cuma dari nuansa folk-pop yang mereka usung, tapi juga dari cara mereka menyusun lirik. Setiap lagu punya elemen yang disebut mereka sebagai mantra—lirik-lirik yang ditulis dalam bahasa fiktif bernama Hopelandic, terinspirasi dari band asal Islandia, Sigur Rós. Bahasa ini memang nggak punya makna literal, tapi bisa terasa lewat humming dan nuansa yang dibangun—unik dan khas banget.</p>



<p>Dengan semangat baru, formasi baru, dan karya yang terus berevolusi, Noersun tampaknya serius banget menyambut babak selanjutnya dalam perjalanan mereka. Dan kalau “Hidup” jadi pembuka, kita jadi makin penasaran, seperti apa kejutan mereka di album mendatang? Kita tunggu aja!</p>



<p>Dengarkan “Hidup” di sini: <em><a href="https://open.spotify.com/album/3aVJfj6KSvJJrzP1u1icHV?si=cflvN5cSTAKtfhOsB2oqtw">https://open.spotify.com/album/3aVJfj6KSvJJrzP1u1icHV?si=cflvN5cSTAKtfhOsB2oqtw</a></em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2025/07/05/noersun-sambut-babak-baru-lewat-single-hidup-dan-vokalis-baru/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">330</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Inheritors Lepas Single Kedua “Pestilence”: Wabah Baru dari Bawah Tanah</title>
		<link>https://aduide.id/2025/03/25/inheritors-lepas-single-kedua-pestilence-wabah-baru-dari-bawah-tanah/</link>
					<comments>https://aduide.id/2025/03/25/inheritors-lepas-single-kedua-pestilence-wabah-baru-dari-bawah-tanah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Mar 2025 12:18:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[NewRelease]]></category>
		<category><![CDATA[Inheritors]]></category>
		<category><![CDATA[music]]></category>
		<category><![CDATA[single]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=164</guid>

					<description><![CDATA[Setelah membuka tahun 2025 dengan single debut From The Grave, unit thrash metal asal Malang, Inheritors, kembali menghantam telinga para pendengar dengan rilisan terbarunya, Pestilence. Lagu ini menjadi bagian dari rangkaian promosi menuju perilisan full album mereka yang akan datang. Pestilence hadir sebagai wabah baru yang mencerminkan kebangkitan band ini dari kegelapan bawah tanah yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-tiny-font-size" id="isPasted">Setelah membuka tahun 2025 dengan single debut From The Grave, unit thrash metal asal Malang, <strong>Inheritors</strong>, kembali menghantam telinga para pendengar dengan rilisan terbarunya, <strong>Pestilence</strong>. Lagu ini menjadi bagian dari rangkaian promosi menuju perilisan full album mereka yang akan datang. Pestilence hadir sebagai wabah baru yang mencerminkan kebangkitan band ini dari kegelapan bawah tanah yang lembap dan korosif.</p>



<p class="has-tiny-font-size">Mengusung nuansa yang lebih groovy dan ritmis, Pestilence melampaui batasan kecepatan khas classic thrash metal. Tidak hanya agresif, lagu ini juga menyuguhkan tempo yang variatif serta progresi kromatis yang membawa atmosfer semakin pekat. Seperti wabah yang terus berevolusi, Pestilence dipengaruhi oleh beragam referensi, mulai dari Anthrax, Power Trip, Death, Obituary, hingga Alice In Chains. Gabungan elemen-elemen ini menciptakan suasana yang berat, suram, dan depresif—sebuah ruang yang tepat untuk menyampaikan tema destruktif dalam liriknya.</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/SINGLE-Pestilence_Inheritors_Artwork.jpg" alt="" class="wp-image-166" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/SINGLE-Pestilence_Inheritors_Artwork.jpg 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/SINGLE-Pestilence_Inheritors_Artwork-300x300.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/SINGLE-Pestilence_Inheritors_Artwork-150x150.jpg 150w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/SINGLE-Pestilence_Inheritors_Artwork-768x768.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="has-tiny-font-size" id="isPasted">Single ini juga menampilkan kolaborasi dengan Agan Iksar (Dazzle, Keep It Real), yang dengan rentang vokalnya mampu berpadu dengan raungan khas Inheritors, tanpa menghilangkan karakter unik masing-masing. Didukung riff tebal dan jeritan gitar tajam, Pestilence menggambarkan keputusasaan atas realitas sosial-politik yang terjangkit oleh banalitas kekuasaan.</p>



<p class="has-tiny-font-size">Inheritors menyoroti kondisi dunia yang terkikis oleh keserakahan dan kesewenangan para pemegang kekuasaan. Mereka bukan digambarkan sebagai pemimpin, melainkan sekumpulan belatung yang hidup dari penderitaan rakyat—menghisap keringat dan darah mereka untuk pesta pora atas kematian hak-hak sipil. Sementara itu, masyarakat yang diibaratkan sebagai pion dalam sistem, hanya dijinakkan dengan janji-janji palsu, disalahkan saat keadaan tak sesuai harapan, dan sering kali dibungkam dengan kekerasan. Bagi Inheritors, ini bukan sekadar krisis yang bisa diperbaiki, melainkan warisan turun-temurun yang telah ada bahkan sebelum konsep negara terbentuk. Luka-luka yang dibiarkan terus menganga akhirnya menjelma menjadi wabah pemikiran yang tak tersembuhkan.</p>



<p class="has-tiny-font-size">Melalui Pestilence, Inheritors menyebarkan “wabah kesadaran” bagi para pendengar—agar tetap waras dan waspada terhadap kondisi sekitar. Ini adalah wabah yang mengingatkan kita akan peran sebagai warga sipil di tengah pembiaran dan penelantaran yang semakin nyata. Wabah yang tanpa disadari merasuk ke dalam pikiran, menumbuhkan apatisme, hingga membuat kita kebas terhadap kehancuran—karena tidak semua hal dapat diselamatkan.</p>



<p class="has-tiny-font-size">Dengarkan Pestilence di platform streaming berikut:</p>



<p><strong>Spotify</strong>: <a href="https://open.spotify.com/track/3kfbQURjlJj7p9ayEzubrP?si=c86c06d9719c4b60">https://open.spotify.com/track/3kfbQURjlJj7p9ayEzubrP?si=c86c06d9719c4b60</a></p>



<p><strong>YouTube Music</strong>: <a href="https://youtu.be/EhhWtheKtRc?si=T5HVOZmz0s8vNwZV">https://youtu.be/EhhWtheKtRc?si=T5HVOZmz0s8vNwZV</a></p>



<p><strong>Apple Music</strong>: <a href="https://music.apple.com/id/album/pestilence-feat-agan-dazzle/1789901666?i=1789901667">https://music.apple.com/id/album/pestilence-feat-agan-dazzle/1789901666?i=1789901667</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2025/03/25/inheritors-lepas-single-kedua-pestilence-wabah-baru-dari-bawah-tanah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">164</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Ammu Hanef Rilis Single &#8220;Tanam&#8221;, Paduan Musik dan Kritik Atas Krisis Lingkungan</title>
		<link>https://aduide.id/2025/03/19/ammu-hanef-rilis-single-tanam-paduan-musik-dan-kritik-atas-krisis-lingkungan/</link>
					<comments>https://aduide.id/2025/03/19/ammu-hanef-rilis-single-tanam-paduan-musik-dan-kritik-atas-krisis-lingkungan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2025 10:43:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[NewRelease]]></category>
		<category><![CDATA[Ammu Hanef]]></category>
		<category><![CDATA[Hip hop]]></category>
		<category><![CDATA[music]]></category>
		<category><![CDATA[single]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=155</guid>

					<description><![CDATA[#NewRelease Ammu Hanef kembali mewarnai skena musik Indonesia dengan single terbarunya yang berjudul “Tanam”. Lagu ini bukan sekadar komposisi nada dan lirik, melainkan sebuah refleksi tajam tentang kondisi ekosistem alam yang semakin rusak, sementara manusia justru dengan mudahnya menyalahkan takdir. Dalam “Tanam”, Ammu Hanef menyentil ironi bagaimana atas nama pembangunan, manusia merusak keseimbangan bumi, menebang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-custom-color-1-color has-text-color has-link-color has-unbounded-font-family wp-elements-aff1bc097c4399c44fe62ee0d11092ef" id="isPasted">#NewRelease</p>



<p><strong>Ammu Hanef</strong> kembali mewarnai skena musik Indonesia dengan single terbarunya yang berjudul <strong>“Tanam”</strong>. Lagu ini bukan sekadar komposisi nada dan lirik, melainkan sebuah refleksi tajam tentang kondisi ekosistem alam yang semakin rusak, sementara manusia justru dengan mudahnya menyalahkan takdir.</p>



<p>Dalam “Tanam”, Ammu Hanef menyentil ironi bagaimana atas nama pembangunan, manusia merusak keseimbangan bumi, menebang pohon, mengeringkan sungai, dan menggantinya dengan beton. Namun ketika bencana datang—banjir, tanah longsor, udara sesak—mereka malah berlindung di balik dalil dan doktrin, seolah semua ini hanyalah bagian dari skenario yang harus diterima tanpa pertanggungjawaban.</p>



<p>Dibalut dengan aransemen yang menggugah dan lirik tajam khas Ammu Hanef, “Tanam” memadukan unsur hip-hop dan musik etnik, menciptakan harmoni yang sekaligus mengkritik. Beat yang menghentak berpadu dengan suara instrumen tradisional, seakan menjadi simbol bahwa akar budaya dan alam harus tetap dijaga, bukan dihancurkan demi kepentingan sesaat.</p>



<p>Tak hanya sekadar lagu, “Tanam” juga menjadi bagian dari gerakan nyata dalam menjaga lingkungan. Ammu Hanef berkolaborasi dengan Yayasan Hibar Budaya Nusantara, sebuah organisasi yang aktif dalam pelestarian budaya dan alam, untuk mengampanyekan pentingnya penghijauan dan konservasi lingkungan. Sebagian dari hasil penjualan merchandise akan dialokasikan untuk program penanaman pohon di berbagai daerah yang terdampak deforestasi.</p>



<p>Di beberapa bagian lirik, Ammu Hanef menyoroti bagaimana manusia kerap lupa bahwa alam bukan musuh, melainkan rumah yang harus dijaga:&nbsp;<em>&#8220;</em><strong><em>Hanya ada satu kata, Tanam!&#8221;.&nbsp;</em></strong>Lirik ini bukan sekadar ajakan, tetapi sebuah pernyataan tegas bahwa menjaga ekosistem bukan pilihan, melainkan keharusan.</p>



<p>Lagu ini menjadi peringatan bahwa kita tidak bisa terus menghindar dari konsekuensi. Alam tidak akan diam selamanya, dan saat ia bersuara, manusialah yang harus mendengar.</p>



<p>Dengarkan lagunya di bawah ini:</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Ammu Hanef - Tanam (Official Audio Music)" width="500" height="281" src="https://www.youtube.com/embed/qmmj_yORs88?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2025/03/19/ammu-hanef-rilis-single-tanam-paduan-musik-dan-kritik-atas-krisis-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">155</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Yeloo Mob Luncurkan Single Baru: “Fractal Human Disorder”</title>
		<link>https://aduide.id/2025/03/10/yeloo-mob-luncurkan-single-baru-fractal-human-disorder/</link>
					<comments>https://aduide.id/2025/03/10/yeloo-mob-luncurkan-single-baru-fractal-human-disorder/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Mar 2025 07:50:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[NewRelease]]></category>
		<category><![CDATA[Hip hop]]></category>
		<category><![CDATA[music]]></category>
		<category><![CDATA[single]]></category>
		<category><![CDATA[Yeloo Mob]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=123</guid>

					<description><![CDATA[#NewRelease Yeloo Mob&#160;telah merilis koleksi single baru yang bertajuk “Fractal Human Disorder”. Dalam rilisan ini, Yeloo Mob dua single eksplosif yang mempresentasikan karakter musikalitasnya yang penuh energi. Dua track tersebut berjudul &#8220;Hola&#8221; dan &#8220;R.I.P&#8221;. Melalui “Fractal Human Disorder”, Yeloo Mob menyuguhkan eksplorasi sonik yang menyentuh tema dualitas manusia, keresahan eksistensial, serta dinamika kehidupan. Tiga hal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-custom-color-1-color has-text-color has-link-color has-unbounded-font-family has-tiny-font-size wp-elements-05287e07221add573fb0db74f1e5ff96">#NewRelease</p>



<p class="has-tiny-font-size" id="isPasted"><strong>Yeloo Mob</strong>&nbsp;telah merilis koleksi single baru yang bertajuk “Fractal Human Disorder”. Dalam rilisan ini, Yeloo Mob dua single eksplosif yang mempresentasikan karakter musikalitasnya yang penuh energi. Dua track tersebut berjudul &#8220;Hola&#8221; dan &#8220;R.I.P&#8221;.</p>



<p class="has-tiny-font-size" id="isPasted">Melalui “Fractal Human Disorder”, Yeloo Mob menyuguhkan eksplorasi sonik yang menyentuh tema dualitas manusia, keresahan eksistensial, serta dinamika kehidupan. Tiga hal yang selalu hadir dalam perjalanan siapa pun yang sedang mencari jati diri dan mencoba bertahan di tengah dunia yang tidak selalu ramah.</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="2560" height="2560" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/FractalHumanDisorderCOVER-scaled.jpg" alt="" class="wp-image-126" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/FractalHumanDisorderCOVER-scaled.jpg 2560w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/FractalHumanDisorderCOVER-300x300.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/FractalHumanDisorderCOVER-1024x1024.jpg 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/FractalHumanDisorderCOVER-150x150.jpg 150w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/FractalHumanDisorderCOVER-768x768.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/FractalHumanDisorderCOVER-1536x1536.jpg 1536w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/FractalHumanDisorderCOVER-2048x2048.jpg 2048w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /></figure>



<p class="has-tiny-font-size" id="isPasted">Dibuka dengan single “HOLA”, sebuah introduction anthem yang menjadi gerbang awal bagi pendengar untuk memasuki semesta dari Fractal Human Disorder. Sementara itu, “R.I.P” membawa nuansa yang lebih kelam dan introspektif, menggambarkan tekanan batin, penolakan, serta proses pendewasaan seorang individu yang tetap berjuang meski harus berjalan sendirian.</p>



<p class="has-tiny-font-size">Melalui karya ini, Yeloo Mob ingin menyuarakan keresahan sekaligus menegaskan bahwa “movement sejati bukan tentang siapa yang paling disukai, tapi tentang siapa yang tetap konsisten bergerak, meski tidak semua orang setuju”. Rilisan ini menandai babak baru dalam perjalanan musikal Yeloo Mob, sekaligus membuka jalan menuju proyek-proyek berikutnya yang masih dirahasiakan. Dengan kombinasi gaya agresif, lirikal tajam, dan produksi yang solid, “Fractal Human Disorder” diyakini akan memperkuat posisi Yeloo Mob di kancah musik independen tanah air.</p>



<figure class="wp-block-image"><img loading="lazy" decoding="async" width="2560" height="1440" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG_5229-1-scaled.jpg" alt="" class="wp-image-125" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG_5229-1-scaled.jpg 2560w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG_5229-1-300x169.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG_5229-1-1024x576.jpg 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG_5229-1-768x432.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG_5229-1-1536x864.jpg 1536w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/IMG_5229-1-2048x1152.jpg 2048w" sizes="auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px" /></figure>



<p class="has-tiny-font-size" id="isPasted">Kedua lagu ini telah didistribusikan secara digital melalui berbagai platform streaming musik, termasuk Spotify, Apple Music, Youtube, dan lainnya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2025/03/10/yeloo-mob-luncurkan-single-baru-fractal-human-disorder/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">123</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
