<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Review &#8211; Aduide Media</title>
	<atom:link href="https://aduide.id/tag/review/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://aduide.id</link>
	<description>Township Youth Media</description>
	<lastBuildDate>Sat, 08 Aug 2026 12:08:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/cropped-favicon-32x32.png</url>
	<title>Review &#8211; Aduide Media</title>
	<link>https://aduide.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">246255001</site>	<item>
		<title>Kehadiran Sunyi dalam Musim Angin</title>
		<link>https://aduide.id/2026/08/08/kehadiran-sunyi-dalam-musim-angin/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/08/08/kehadiran-sunyi-dalam-musim-angin/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Aug 2026 12:08:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Literature]]></category>
		<category><![CDATA[Candrika Adhiyasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Musim Angin]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Saefudin Muhamad]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=2184</guid>

					<description><![CDATA[Satu hal yang kian menyusut di tengah masyarakat modern adalah ruang sunyi untuk bercakap dengan diri sendiri. Tak pelak, tingginya mobilitas, tuntutan produktivitas kerja yang tidak seimbang (work-life balance), hingga faktor media sosial yang mengalihkan eksistensi manusia, kerap menciptakan kebisingan yang berlalu-lalang tanpa makna. Kita pun jengah dengan kondisi tersebut, dan tidak jarang merasa teralienasi. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Satu hal yang kian menyusut di tengah masyarakat modern adalah ruang sunyi untuk bercakap dengan diri sendiri. Tak pelak, tingginya mobilitas, tuntutan produktivitas kerja yang tidak seimbang (<em>work-life balance</em>), hingga faktor media sosial yang mengalihkan eksistensi manusia, kerap menciptakan kebisingan yang berlalu-lalang tanpa makna. Kita pun jengah dengan kondisi tersebut, dan tidak jarang merasa teralienasi. Kehampaan lantas mewabah. Di titik itulah, tampaknya kita membutuhkan ruang untuk terpekur sejenak, setidak-tidaknya, memaknai hari-hari yang sibuk meski barang sekelumit saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui buku kumcer (kumpulan cerpen) terbarunya yang berjudul <em>Musim Angin</em> (Penerbit Barikade, 2026), <a href="https://aduide.id/tag/candrika-adhiyasa/" data-type="post_tag" data-id="89" target="_blank" rel="noreferrer noopener">Candrika Adhiyasa</a>, saya kira ingin menggelar sebuah ruang untuk menghadirkan kesunyian yang menyempit itu. Ia seakan menyenggol pembaca agar segera tergugah, lalu mengajak bertanya-tanya tentang semua yang pernah dan terpikirkan dalam kehidupan yang semakin kaos ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Buku kumcer ini berisi lima cerita dengan muatan kontemplasi berbeda-beda. Mengapa saya katakan “muatan kontemplasi”, karena cerita-cerita yang terdapat dalam buku ini tidak akan mengajak pembaca untuk memperhatikan alur cerita dengan konflik yang menegangkan, melainkan perlahan-lahan akan dihadapkan pada dialog-dialog lengang tentang keluarga, kehilangan, kematian, ingatan, dan hal-hal yang terlalu sunyi untuk dibicarakan dalam percakapan sehari-hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cerita dalam buku pun dibuka dengan sebuah prolog yang sarat akan pernyataan dan pertanyaan filosofis. Misalnya, pada sebuah dialog batin yang intens, Candrika melontarkan pertanyaan: “… apakah segala sesuatu dalam hidup harus selalu dibuktikan untuk dapat dianggap berharga?” (hlm. 3). Pertanyaan tersebut secara gampangnya mengarah pada situasi hari ini yang cenderung pragmatis sekaligus materialis. Sebuah gambaran ketika segala sesuatu diukur hanya sebatas pada angka dan benda-benda. Sehingga yang sublim dan bersifat taktil otomatis tergeser. Memandang persoalan tersebut, Candrika bertanya kembali, <em>kenapa manusia memerlukan pelarian?</em> <em>Apakah kehidupan sebegitu kejamnya sehingga membuat manusia tidak bisa menjalaninya dengan sepenuh daya upaya?</em> (hlm. 4).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka berangkat dari pertanyaan tersebut, kita pun mafhum, dan sadar, bahwa di era kecemasan ini manusia memang membutuhkan pelarian. Rollo May, seorang psikolog eksistensial Amerika, melalui bukunya berjudul <em>Mans Search for Himself (</em>1981), sudah sedari dulu mempersoalkan hiruk pikuk semacam itu. Ia beranggapan bahwa orang-orang yang dirundung situasi tersebut akan menciptakan <em>kehampaan</em>. Lantaran, mereka kerap tidak mampu mengidentifikasi diri sendiri. Hal tersebut dipicu oleh situasi ketidakpastian, serta ruang yang sempit untuk mencari dirinya sendiri. Nah, barangkali, atau memang demikian adanya, cerita-cerita dalam <em>Musim Angin</em> pun dimulai sebagai ajang pelarian agar sejenak dapat bergeser ke ruang yang lebih sunyi: menyelami diri sendiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--4">Kehadiran ruang sunyi</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kehadiran <em>Musim Angin</em> ini, bagi saya, bentuk dari kesunyian itu sendiri. Karenanyalah, buku ini setidaknya dapat menjadi alternatif yang menjelma ruang kedap suara untuk menepi dari keberisikan dunia luar. Menariknya, Candrika, menghadirkan cerita-cerita dengan dialog yang ganjil, penuh tanda tanya, dan membuat pembaca mempertanyakan kembali atas sesuatu yang sebelumnya sudah diyakini.</p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow">
<figure class="wp-block-image size-full has-custom-border"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="573" height="763" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Screenshot-2026-08-08-181648.png" alt="Musim Angin - Kumpulan Cerita Candrika Adhiyasa" class="wp-image-2187" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Screenshot-2026-08-08-181648.png 573w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Screenshot-2026-08-08-181648-225x300.png 225w" sizes="(max-width: 573px) 100vw, 573px" /><figcaption class="wp-element-caption">Sampul Musim Angin (Sumber: instagram <a href="https://instagram.com/candrimen" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@candrimen</a>)</figcaption></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">Hal itu bisa kita perhatikan melalui cerpen pembuka berjudul “Musim Angin”. Cerpen ini menghadirkan cerita seorang laki-laki yang ingin berkunjung ke pemakaman. Ia ingin menziarahi seorang perempuan bernama Helena yang dianggap punya kedekatan emosional. Di sepanjang perjalanan menuju pemakaman, pembaca akan disuguhi pandangan seputar keluarga dan kematian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misalnya, dalam cerpen tersebut, Candrika, menulis bahwa: … <em>seseorang akan sangat sulit untuk menikmati hidup apabila selalu dibayang-bayangi fakta bahwa ia akan mati suatu hari nanti.</em> (Hlm. 22).</p>
</div>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">Pernyataan tersebut cukup memantik saya sebagai pembaca untuk berpikir kembali. Karena, saat sebagian manusia meyakini bahwa mengingat kematian akan mendorong individu untuk menjalani dan memanfaatkan hidup sebaik-baiknya. Tapi, melalui pernyataan dalam cerpen itu justru memantik pertanyaan: untuk apa semua ini kalau pada akhirnya kita akan mati?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Narator dalam cerpen pun meyakini cara terbaik dalam mengingat kematian–tentunya bukan pernyataan mutlak–yakni bahwa ingatan kematian barangkali baiknya hanya dilakukan pada momen tertentu. Karena, <em>toh</em>, ingatan akan kematian berpotensi menciptakan distopia, atau angan-angan pesimistik: sebuah kesia-siaan hidup. Selain itu, bagi orang yang hari-harinya diliputi rasa duka atas kehilangan, mengingat kematian juga seperti memasuki ruang sempit yang menyesakkan dada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cerita dengan tema serupa bisa juga kita perhatikan pada cerpen berjudul “Charon”. Judul diambil dari mitologi Yunani Kuno yang berarti tukang perahu yang membawa jiwa orang mati ke alam Hades atau Dunia Bawah. Sebagaimana maknanya, cerpen pun mengisahkan seseorang yang sedang dalam perjalanan ke alam lain bersama seorang pemandu yang digambarkan sebagai tukang perahu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sepanjang perjalanan itu, kita akan menyaksikan tokoh lelaki dalam perbincangan penuh tanya: apakah nanti akan ada pertimbangan amal baik dan jahat untuk ditempatkan ke surga atau dijerumuskan ke neraka? Atau, secara eksistensial, apakah surga dan neraka benar-benar ada, atau justru ternyata tidak ada?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam cerpen tersebut, Candrika, kemudian ingin merespon kemungkinan-kemungkinan itu dengan mengembalikan pada perjalanan hidup itu sendiri, ia menuliskan kemungkinan-kemungkinan itu sebagai berikut:</p>



<p class="wp-block-paragraph">“… <em>Mungkin hidup bukanlah ujian untuk masuk surga atau neraka. Mungkin hidup hanyalah proses agar berani bertemu Tuhan tanpa membawa apa-apa selain diri kita yang paling murni–penuh luka, penuh tawa, penuh penyesalan, penuh harapan.</em>” (Hlm. 96).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pernyataan tersebut mendorong kita untuk memaknai kembali eksistensi manusia pada setiap proses hidup yang kerap dilekatkan dengan akumulasi amal dan dosa. Kita selalu ribut dengan surga dan neraka. Padahal hidup tidak sesederhana itu. Bahwa hidup tidak pernah hitam-putih. Sebab selalu ada kausalitas yang penuh dengan paradoks. Dan, ya, semua itu melekat pada seonggok tubuh yang dikatakan Candrika: <em>yang paling murni–penuh luka, penuh tawa, penuh penyesalan, penuh harapan.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Perenungan semacam itu sepertinya sangat diperlukan pada zaman ini. Setidak-tidaknya untuk menepi barang sejenak dari kehidupan yang nirmakna. Sebuah ruang sunyi untuk merenung, memahami, lalu bertanya, bertanya, dan bertanya untuk kemudian merenung kembali. Berkoneksi dengan diri sendiri seutuhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di atas adalah dua cerpen dari ketiga cerpen yang sama-sama memantik reflektif dalam mendorong laku hidup, berpikir, dan mempertanyakan kembali segala bentuk realitas. Cerita-ceritanya juga tanpa titik temu atau jawaban pasti. Tapi, bagi saya, Candrika memang tidak berorientasi pada cerita semacam itu. Karena, <em>toh</em>, bukankah dalam hidup, kita seringkali tidak menemukan jawaban yang ajeg?</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--5">Mencari arah tendensi</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Selayaknya cerita, maka cerpen pun tidak hanya memuat sebuah konflik. Ia adalah sebuah bangunan kausalitas yang saling jahit-menjahit. Tanpa adanya jalinan tersebut, maka cerita akan menciptakan cabang yang tak tentu arahnya ke mana. Alhasil, berpotensi kehilangan tendensi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam cerpen berjudul “Musim Angin” yang juga menjadi judul buku, sebagai pembaca, saya melihat persoalan tersebut. Karena, jika dibaca secara saksama, cerpen ini memuat cabang pertalian kausalitas yang kendor. Hal ini bisa diperhatikan melalui perbincangan batin yang dibangun oleh tokoh utama: seorang lelaki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misalnya, dalam cerpen tersebut pembaca akan dihadirkan tokoh utama, yaitu seorang lelaki dewasa. Tokoh tersebut diceritakan memiliki tujuan ke pemakaman untuk menziarahi seseorang bernama Helena. Akan tetapi, dalam perbincangan-perbincangan batinnya justru cerita mengalami distraksi seperti beralih pada narasi tentang ekologi yang tidak relevan dengan bangunan cerita. Alhasil, cerpen pun berpotensi menjelma labirin yang tak tahu juntrungannya.</p>



<div class="wp-block-group adu-related has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<p class="adu-related__label wp-block-paragraph">Baca Juga</p>



<div class="wp-block-query adu-related__query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="adu-related__list wp-block-post-template is-layout-flow wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-742 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-literature tag-adukabar tag-bahasa-indonesia tag-bipa tag-internasional tag-puisi-modern-indonesia tag-sastra tag-ussh-vietnam">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2025-11-25T17:10:27+07:00">25 November 2025</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2025/11/25/andriyana-hidupkan-pembelajaran-puisi-modern-indonesia-di-ussh-ho-chi-minh-city-vietnam/" target="_blank" >Andriyana Hidupkan Pembelajaran Puisi Modern Indonesia di USSH Ho Chi Minh City Vietnam</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-2347 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-culture category-literature tag-adukabar tag-bukusam tag-kuningan tag-sastra tag-semarak-sastra-mahardika">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-09-21T20:56:05+07:00">21 September 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/09/21/semarak-sastra-mahardika-dari-buku-percakapan-hingga-suara-emma-yang-tak-boleh-padam/" target="_blank" >Semarak Sastra Mahardika: Dari Buku, Percakapan, hingga Suara Emma yang Tak Boleh Padam</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-1985 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-literature tag-aduopini tag-aurelie-moeremenas tag-broken-strings tag-literature">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-08-05T10:37:25+07:00">5 Agustus 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/08/05/pembungkaman-eksistensial-pada-tokoh-aurelie-dalam-novel-broken-strings/" target="_blank" >Pembungkaman Eksistensial pada Tokoh Aurelie dalam Novel Broken Strings</a></h3>
</li></ul>

</div>



<style>
.adu-related{
  --maroon:#871338;
  --berry:#BC3862;
  --ink:#111111;
  --muted:#696969;
  --line:#DDDDDD;
  margin:clamp(34px,4.5vw,54px) 0;
  padding:20px 0 22px;
  border-top:1px solid var(--maroon);
  border-bottom:1px solid var(--maroon);
}

/* label kecil "Baca Juga" */
.adu-related__label{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:14px!important;font-weight:700;letter-spacing:.16em;text-transform:uppercase;
  color:var(--maroon);margin:0;display:flex;align-items:center;gap:10px;line-height:1;
}
.adu-related__label::before{
  content:"";width:22px;height:2px;background:var(--berry);flex:0 0 auto;
}

/* daftar */
.adu-related__list{list-style:none!important;margin:0!important;padding:0!important}
.adu-related__list > li{
  display:flex;flex-direction:column;margin:0;padding:0 0 2px;
  transition:padding-left .3s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover{padding-left:8px}

/* tanggal di kanan atas, sekaligus jadi garis pemisah */
.adu-related__date{
  order:1;width:100%;text-align:right;
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:11px;font-weight:700;letter-spacing:.14em;text-transform:uppercase;
  color:var(--muted);margin:0;padding:12px 0 9px;
  border-bottom:1px solid var(--line);
  transition:border-color .3s ease,color .3s ease;
}
.adu-related__list > li:first-child .adu-related__date{padding-top:4px}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__date{border-bottom-color:var(--maroon);color:var(--maroon)}

/* judul */
.adu-related__post-title{
  order:2;
  font-family:'Unbounded',system-ui,sans-serif;
  font-size:clamp(15px,1.6vw,17.5px)!important;font-weight:400;letter-spacing:0em;line-height:1.35;
  margin:13px 0 0;
}
.adu-related__post-title a{
  color:var(--ink);text-decoration:none;transition:color .25s ease;
  display:inline-flex;align-items:baseline;gap:8px;
}
.adu-related__post-title a::after{
  content:"\2197";font-family:system-ui,sans-serif;font-size:.8em;font-weight:400;
  color:var(--berry);opacity:0;transform:translate(-4px,3px);
  transition:opacity .28s ease,transform .28s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a{color:var(--maroon)}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a::after{opacity:1;transform:translate(0,0)}

.adu-related__empty{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;color:var(--muted);font-size:15px;margin:14px 0 0;
}

@media(max-width:520px){
  .adu-related__post-title{font-size:15px!important}
  .adu-related__list > li:hover{padding-left:0}
}
@media(prefers-reduced-motion:reduce){
  .adu-related *{transition-duration:.001ms!important}
}
</style>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">Hal yang membingungkan lagi adalah ketika perbincangan keluarga dan kematian diangkat secara intens, namun referensi yang berkaitan dengan Helena tidak diceritakan gambaran latar belakang rill-nya. Sekalipun di akhir cerita memberi pernyataan tentang penyesalan si lelaki karena dahulu gagal mencegah Helena bunuh diri. Sayangnya, hal tersebut masih terbatas untuk cerpen yang diceritakan dengan alur cukup panjang. Padahal itu berfungsi menghadirkan jawaban yang akan membentuk fondasi mengapa tokoh tersebut sepenting itu bagi tokoh utama. Juga perbincangan-perbincangan tentang keluarga dan kematiannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski begitu, muatan cerpen tersebut tetap memberi kesan perenungan mendalam. Pun, keempat cerpen lainnya juga membangun fondasi dan tendensi cerita dengan kokoh dan reflektif. Candrika kerap menghadirkan tendensi dalam cerita-ceritanya melalui dialog batin maupun percakapan antar tokoh. Sebuah laku hidup yang semakin terabaikan sekaligus dibutuhkan pada era ini. Karena itu, bacalah buku <em>Musim Angin</em>. Mulailah terkoneksi secara utuh dengan diri sendiri dan orang lain. Ngobrol, berbagi cerita, dan tertawa. Di lain waktu diam menyendiri, lalu menangis.</p>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph">Cirebon, 2026</p>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:33.33%">
<figure class="wp-block-image size-full is-style-rounded"><img decoding="async" width="626" height="626" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2517.avif" alt="" class="wp-image-2181" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2517.avif 626w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2517-300x300.avif 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2517-150x150.avif 150w" sizes="(max-width: 626px) 100vw, 626px" /></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:66.66%">
<p class="has-minute-font-size wp-block-paragraph">Ditulis oleh:</p>



<p class="is-style-text-label has-diminutive-font-size is-style-text-label--6 wp-block-paragraph"><strong>Saefudin Muhamad</strong></p>



<p class="has-minute-font-size wp-block-paragraph">Lahir di Cirebon. Bergiat di komunitas Tjirebon Book Club. Menulis prosa dan puisi. Adapun tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media, zine, dan majalah online mapun cetak: jurno.id, magdalene.co, sediksi.com, lensasastra.id, ideide.id, omong-omong.com, majalah Apajake, Zine POVPOV, dan media lainnya. Pernah meraih penghargaan nominasi dalam lomba kritik sastra Dunia Puisi Taufiq Ismail 2023 dan juara 1 lomba menulis puisi yang diselenggarakan tulis.me ke-16 2023, serta memenangkan berbagai perlombaan lainnya. Penulis saat ini sedang konsen meneroka perkembangan sastra anak Indonesia, terutama pada genre puisi anak.</p>



<p class="has-minute-font-size wp-block-paragraph">Instagram <a href="https://instagram.com/saefudinmuhamad_" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@saefudinmuhamad_</a></p>
</div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/08/08/kehadiran-sunyi-dalam-musim-angin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2184</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Me and Earl and the Dying Girl: Melampaui Cerita Klise Manic Pixie Girl</title>
		<link>https://aduide.id/2026/01/18/me-and-earl-and-the-dying-girl-melampaui-cerita-klise-manic-pixie-girl/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/01/18/me-and-earl-and-the-dying-girl-melampaui-cerita-klise-manic-pixie-girl/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2026 09:10:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Gema Ganeswara]]></category>
		<category><![CDATA[Me and Earl and The Dying Girl]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=1076</guid>

					<description><![CDATA[Manic Pixie Girl adalah istilah yang digunakan kritikus film untuk menyebut pola dalam film-film remaja ketika tokoh perempuan dijadikan alasan bagi laki-laki untuk “memiliki makna hidup”, bukan melalui dirinya sendiri, tetapi melalui kehadiran perempuan itu. Klise yang paling sering muncul adalah perempuan ditempatkan sebagai objek melodrama, terutama karena ia “tak punya banyak waktu lagi”, umumnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Manic Pixie Girl</strong> adalah istilah yang digunakan kritikus film untuk menyebut pola dalam film-film remaja ketika tokoh perempuan dijadikan alasan bagi laki-laki untuk “memiliki makna hidup”, bukan melalui dirinya sendiri, tetapi melalui kehadiran perempuan itu. Klise yang paling sering muncul adalah perempuan ditempatkan sebagai objek melodrama, terutama karena ia “tak punya banyak waktu lagi”, umumnya karena sakit kanker, sementara si laki-laki kemudian tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Dari judulnya saja, <em>Me and Earl and the Dying Girl</em> tampak seperti mengikuti pola tersebut. Namun film ini justru bergerak melampaui klise itu, terutama dalam cara ia membangun kompleksitas relasi antara perempuan dan laki-laki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Greg, siswa SMA tingkat akhir, adalah anak nerd yang hanya menyukai film. Earl adalah mitra kreatifnya dalam membuat film-film pendek sederhana, dikerjakan mandiri, tanpa bujet, dan seadanya. Keduanya sama-sama pesimistis, membenci semua orang di sekolah, dan hanya menyukai hal-hal yang mereka definisikan sendiri. Greg, dengan kecenderungannya yang lebih depresif, hidup dalam lingkaran yang ia batasi sendiri. Suatu ketika, orang tua Greg memintanya menemani Rachel yang mengidap leukemia, di mana pesimismenya lahir bukan dari kebencian terhadap dunia, melainkan dari kondisi yang perlahan mencabut horizon hidupnya.</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="ME AND EARL AND THE DYING GIRL: Official HD Trailer" width="500" height="281" src="https://www.youtube.com/embed/2qfmAllbYC8?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Hubungan mereka tumbuh perlahan, bukan melalui romansa, melainkan dari persamaan nasib yang samar namun cukup kuat untuk menyatukan dua orang yang sama-sama bimbang dalam hidupnya masing-masing. Mereka mengakali rasa takut dan ketidakpastian dengan lelucon, tanpa pernah memaksakan harapan apa pun. Inilah antitesis dari formula melodrama yang biasa. Earl hadir di tengah mereka sebagai jembatan perasaan yang alami, bukan sekadar “teman ketiga”, tetapi ruang interpretasi yang memungkinkan Greg dan Rachel memahami perasaan yang sulit mereka ungkapkan. Ketiganya adalah remaja cerdas yang memaknai usia menjelang kedewasaan sebagai ambang batas, titik ketika pilihan, perpisahan, dan ketidaksiapan harus ditanggung, meski belum ada yang benar-benar siap.</p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column has-light-background-color has-background is-layout-flow wp-container-core-column-is-layout-08414c4c wp-block-column-is-layout-flow" style="border-radius:12px;padding-top:var(--wp--preset--spacing--18);padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--24);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);flex-basis:100%">
<p class="has-custom-color-1-color has-text-color has-link-color wp-elements-2 wp-block-paragraph" style="margin-bottom:var(--wp--preset--spacing--10)"><strong>Baca Juga</strong></p>



<div class="wp-block-query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="has-link-color wp-elements-3 wp-block-post-template has-text-color has-custom-color-3-color has-minute-font-size is-layout-flow wp-container-core-post-template-is-layout-7a3036bf wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-2174 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-culture category-lifestyle tag-aduopini tag-messi tag-mochammad-zawaid-malja tag-ronaldo tag-sepak-bola">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0" class="has-link-color wp-elements-4 wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-3"><a href="https://aduide.id/2026/08/08/absurditas-perdebatan-soal-ronaldo-vs-messi-yang-tak-kunjung-usai/" target="_blank" >Absurditas Perdebatan Soal Ronaldo vs Messi yang Tak Kunjung Usai</a></h6>
</li><li class="wp-block-post post-205 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-art-design category-tech tag-aduopini tag-ai tag-artificial-intelligence tag-contribute tag-esai tag-gema-ganeswara tag-photography tag-tech">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0" class="has-link-color wp-elements-5 wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-3"><a href="https://aduide.id/2025/04/05/ai-dan-pengalaman-manusia-pertanyaan-dan-refleksi/" target="_blank" >AI dan Pengalaman Manusia: Pertanyaan dan Refleksi</a></h6>
</li><li class="wp-block-post post-311 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-art-design category-culture tag-aduopini tag-branding tag-public-policy tag-tourism">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0" class="has-link-color wp-elements-6 wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-3"><a href="https://aduide.id/2025/07/02/bagai-mengecat-dinding-yang-belum-kering-sebuah-catatan-penting-untuk-tourism-branding/" target="_blank" >Bagai Mengecat Dinding yang Belum Kering: Sebuah Catatan Penting untuk Tourism Branding</a></h6>
</li></ul></div>
</div>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">Cerita mereka bergerak dalam jangkauan sinematografis yang manusiawi, dengan pilihan bingkai yang mengikuti pokok pikiran dan keresahan Greg. Pilihan ini tepat, seolah mengingatkan bahwa gambar adalah bahasa universal: bukan untuk tampil lebih memukau daripada aktor, tetapi untuk membawa perasaan manusia yang menyelinap di balik adegan. Dan mungkin yang membuat film ini tidak tergelincir menjadi klise adalah <em>aftertaste</em>-nya, sesuatu yang lebih menjejak daripada upaya menyelipkan kata-kata motivasional tentang hidup. Sebab hidup itu sendiri memang ringkih dan rapuh; kita hanya tertatih belajar darinya, meski tidak selalu menghadiahkan arti apa pun.</p>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>



<div class="wp-block-columns is-not-stacked-on-mobile is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:33.33%">
<figure class="wp-block-image size-full is-style-rounded"><img loading="lazy" decoding="async" width="836" height="836" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Foto-Gema-Ganeswara-e1768813351322.webp" alt="" class="wp-image-1080" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Foto-Gema-Ganeswara-e1768813351322.webp 836w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Foto-Gema-Ganeswara-e1768813351322-300x300.webp 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Foto-Gema-Ganeswara-e1768813351322-150x150.webp 150w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Foto-Gema-Ganeswara-e1768813351322-768x768.webp 768w" sizes="auto, (max-width: 836px) 100vw, 836px" /></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-top is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:66.66%">
<p class="has-minute-font-size wp-block-paragraph">Ditulis oleh:</p>



<p class="is-style-text-label is-style-text-label--8 wp-block-paragraph"><strong><strong>Gema Ganeswara</strong></strong></p>



<p class="has-minute-font-size wp-block-paragraph">Seorang fotografer asal Kuningan, telah mengikuti berbagai program dan lokakarya, serta menampilkan karyanya di dalam dan luar negri, termasuk dalam&nbsp;<em>Familiar Stranger</em>&nbsp;dan&nbsp;<em>Happening Happenstance</em>&nbsp;di Tokyo. Ia secara mandiri menerbitkan photozine seperti&nbsp;<em>27</em>&nbsp;(2024) dan&nbsp;<em>A Passing Glimpse: 6 Days in South Korea</em>, serta berkontribusi dalam buku&nbsp;<em>Anarchy I &amp; II</em>. diterbitkan oleh Ephemere, Jepang. Sambil mengelola bisnis kuliner&nbsp;<em>Nona Ringan</em>, Gema terus mengembangkan proyek jangka panjangnya,&nbsp;<em>The Place Where The Sunshine Doesn’t Exist But Our Love Is Eternal</em>, yang mengeksplorasi perjalanan menuju pengenalan diri melalui berbagai tempat di tanah kelahirannya.</p>
</div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/01/18/me-and-earl-and-the-dying-girl-melampaui-cerita-klise-manic-pixie-girl/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1076</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
