<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Netflix &#8211; Aduide Media</title>
	<atom:link href="https://aduide.id/tag/netflix/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://aduide.id</link>
	<description>Township Youth Media</description>
	<lastBuildDate>Mon, 05 Jan 2026 07:46:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/cropped-favicon-32x32.png</url>
	<title>Netflix &#8211; Aduide Media</title>
	<link>https://aduide.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">246255001</site>	<item>
		<title>Ramainya Mens Rea dan Gagasan yang Tak Enak Didengar</title>
		<link>https://aduide.id/2026/01/05/ramainya-mens-rea-dan-gagasan-yang-tak-enak-didengar/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/01/05/ramainya-mens-rea-dan-gagasan-yang-tak-enak-didengar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Azhar N. Ahdiyat]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2026 07:03:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mens Rea]]></category>
		<category><![CDATA[Netflix]]></category>
		<category><![CDATA[Pandji Pragiwaksono]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Stand Up Comedy]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=1003</guid>

					<description><![CDATA[Sejak tayang di Netflix, Mens Rea langsung ramai dibicarakan. Labelnya bikin penasaran: pertunjukan stand-up comedy Indonesia pertama yang tayang secara global. Respons publik pun beragam. Ada yang merasa lucu dan relate, ada yang bilang biasa saja, ada juga yang merasa gaya Pandji Pragiwaksono terlalu frontal dan vulgar. Dan semua reaksi itu sah. Humor memang soal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Sejak tayang di <strong>Netflix</strong>, <em>Mens Rea</em> langsung ramai dibicarakan. Labelnya bikin penasaran: pertunjukan stand-up comedy Indonesia pertama yang tayang secara global. Respons publik pun beragam. Ada yang merasa lucu dan relate, ada yang bilang biasa saja, ada juga yang merasa gaya <strong>Pandji Pragiwaksono</strong> terlalu frontal dan vulgar.</p>



<figure class="wp-block-image size-large has-custom-border"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="575" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Mens-Rea-Netflix-1024x575.jpeg" alt="" class="wp-image-1008" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Mens-Rea-Netflix-1024x575.jpeg 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Mens-Rea-Netflix-300x168.jpeg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Mens-Rea-Netflix-768x431.jpeg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/Mens-Rea-Netflix.jpeg 1170w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Dan semua reaksi itu sah. Humor memang soal selera dan referensi. Tapi kalau <em>Mens Rea</em> cuma diukur dari seberapa sering kita tertawa, rasanya ada lapisan penting yang terlewat. Soalnya, di balik candaan-candaan itu, ada kegelisahan yang cukup dekat dengan kehidupan kita sebagai warga, bukan sekadar penonton hiburan.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--8">Bukan Cuma Ngajak Ketawa, Tapi Juga Mikir</h2>



<p>Di beberapa bagian, <em>Mens Rea</em> terasa ringan dan menghibur. Tapi di bagian lain, banyak fakta-fakta yang bikin kita sadar dan candaan itu pelan-pelan berubah jadi sindiran yang bikin mikir. Pandji tidak sedang berpidato politik, apalagi menggurui. Ia cuma mengajak penontonnya berhenti sebentar dan bertanya: selama ini, kita terlalu berharap perubahan datang dari siapa?</p>



<figure class="wp-block-image size-full has-custom-border"><img decoding="async" width="780" height="479" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/image-1.png" alt="" class="wp-image-1009" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/image-1.png 780w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/image-1-300x184.png 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/image-1-768x472.png 768w" sizes="(max-width: 780px) 100vw, 780px" /></figure>



<p>Pertanyaan itu muncul berulang, meski dibungkus tawa. Dan mungkin di situlah letak kekuatan <em>Mens Rea</em>. Ia tidak memaksa penonton untuk setuju, tapi memancing rasa tidak nyaman yang justru relevan dengan kondisi kita sekarang.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--9">Tetap Kritik Elit, Tapi Arah Perubahannya Digeser</h2>



<p>Salah satu benang merah paling kuat di <em>Mens Rea</em> adalah kritik terhadap elit politik. Pandji tidak membela pejabat, dan tidak juga menutup mata soal rusaknya kekuasaan. Ia justru cukup terang mengatakan bahwa banyak politisi memang bermasalah. Namun, ia juga jujur mengakui satu hal yang sering tidak enak didengar: <strong>di level elit, perubahan memang susah</strong>.</p>



<p>Kepentingan sudah terlalu banyak, sistem sudah terlanjur kaku, dan kekuasaan jarang suka dikoreksi. Karena itu, arah kritiknya digeser. Bukan karena elit tidak salah, tapi karena ada sisi lain yang masih mungkin diubah, yakni <strong>kita sebagai rakyat</strong>.</p>



<p>Di <em>Mens Rea</em>, Pandji mengingatkan bahwa pejabat yang duduk di atas itu sebenarnya adalah <strong>rata-rata dari kita, rakyatnya</strong>. Mereka tidak jatuh dari langit. Mereka dipilih melalui proses yang melibatkan kebiasaan kita, pilihan kita, dan sikap kita sendiri sebagai pemilih.</p>



<p>Ini bukan ajakan untuk menyalahkan rakyat. Lebih tepatnya, ini pengingat bahwa mandat itu hak kita untuk memilih, dan yang paling penting adalah tanggung jawab setelahnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--10">Memilih Pemimpin: Kenapa Bisa Seremeh Itu?</h2>



<p>Bagian lain yang cukup mengena di <em>Mens Rea</em> adalah ketika Pandji membandingkan memilih pemimpin dengan memilih pasangan hidup. Dalam budaya kita, ada istilah Bibit, Bebet, Bobot. Mau nikah saja dipikirkan matang-matang: latar belakang, karakter, tanggung jawab, masa depan.</p>



<p>Pertanyaannya sederhana tapi nyelekit: kalau memilih pasangan saja pakai banyak pertimbangan, kenapa memilih pemimpin yang mengatur hidup orang banyak justru sering cuma pakai satu alasan? Kadang karena satu potongan video, satu slogan, satu sentimen, atau bahkan sekadar karena “kayaknya orangnya baik”.</p>



<p>Pandji tidak sedang menertawakan rakyat. Ia menertawakan cara kita merasionalisasi pilihan yang sebenarnya malas kita dalami. Di sinilah kritiknya terasa dekat. Bahwa masalahnya bukan kurang pintar, tapi sering kali kurang niat untuk benar-benar berpikir.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--11">Relevansi Show Mens Rea dengan Politik Level Kabupaten</h2>



<p>Kalau gagasan ini ditarik ke kehidupan di kabupaten, relevansinya justru terasa makin dekat. Di daerah, pejabat bukan sosok jauh yang hanya muncul di layar televisi. Mereka sering kali orang yang kita kenal, pernah satu forum, satu acara, bahkan satu lingkungan.</p>



<p>Kedekatan ini punya dua sisi. Di satu sisi, ia membuat politik terasa lebih manusiawi. Tapi di sisi lain, kedekatan itu sering bikin kita sungkan. Mau kritik jadi tidak enak, mau menagih janji jadi terasa berlebihan. Akhirnya, pengawasan melemah, dan kekecewaan menumpuk diam-diam.</p>



<p>Di titik ini, <em>Mens Rea</em> seperti mengingatkan pelan-pelan: kalau yang terpilih kualitasnya begitu-begitu saja, mungkin ada yang perlu kita evaluasi dari cara kita memilih, cara kita mengingat janji, dan cara kita menagih mandat. Soalnya, kalau pejabat adalah cerminan rata-rata rakyatnya, pertanyaannya memang akhirnya kembali ke kita.</p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-28f84493 wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column has-light-background-color has-background is-layout-flow wp-container-core-column-is-layout-61ae05d8 wp-block-column-is-layout-flow" style="border-radius:12px;padding-top:var(--wp--preset--spacing--18);padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--24);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);flex-basis:100%">
<p class="has-custom-color-1-color has-text-color has-link-color wp-elements-7921b8707593f86b9d38baa81fa11bc2" style="margin-bottom:var(--wp--preset--spacing--10)"><strong>Baca Juga</strong></p>



<div class="wp-block-query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="has-link-color wp-elements-2fa1fd811687d922e43862af38680bdc wp-block-post-template has-text-color has-custom-color-3-color has-minute-font-size is-layout-flow wp-container-core-post-template-is-layout-cbd8a0e9 wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-205 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-art-design category-tech tag-aduopini tag-ai tag-artificial-intelligence tag-contribute tag-esai tag-gema-ganeswara tag-photography tag-tech">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0;" class="has-link-color wp-elements-7c5b745afe2b7404ec47b625a33148de wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-2fa1fd811687d922e43862af38680bdc"><a href="https://aduide.id/2025/04/05/ai-dan-pengalaman-manusia-pertanyaan-dan-refleksi/" target="_blank" >AI dan Pengalaman Manusia: Pertanyaan dan Refleksi</a></h6>
</li><li class="wp-block-post post-311 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini tag-aduopini tag-branding tag-public-policy tag-tourism">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0;" class="has-link-color wp-elements-7c5b745afe2b7404ec47b625a33148de wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-2fa1fd811687d922e43862af38680bdc"><a href="https://aduide.id/2025/07/02/bagai-mengecat-dinding-yang-belum-kering-sebuah-catatan-penting-untuk-tourism-branding/" target="_blank" >Bagai Mengecat Dinding yang Belum Kering: Sebuah Catatan Penting untuk Tourism Branding</a></h6>
</li><li class="wp-block-post post-602 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-other tag-aduopini tag-media tag-politik">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0;" class="has-link-color wp-elements-7c5b745afe2b7404ec47b625a33148de wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-2fa1fd811687d922e43862af38680bdc"><a href="https://aduide.id/2025/10/17/boikot-trans7-dan-tenggelamnya-skandal-dana-reses-dpr-ketika-distraksi-publik-jadi-senjata-kekuasaan/" target="_blank" >Boikot Trans7 dan Tenggelamnya Skandal Dana Reses DPR: Ketika Distraksi Publik Jadi Senjata Kekuasaan</a></h6>
</li></ul></div>
</div>
</div>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--12">Mens Rea: Soal Niat, Bukan Sekadar Tindakan</h2>



<p>Istilah <em>mens rea</em> sendiri berasal dari konteks hukum, yang berarti niat atau kondisi batin di balik sebuah tindakan. Dalam hukum, seseorang tidak hanya dinilai dari apa yang ia lakukan, tapi juga dari kesadaran dan intensi di balik perbuatannya.</p>



<p>Dalam konteks pertunjukan ini, Pandji tampaknya meminjam konsep itu untuk mengajak kita melihat politik dengan kacamata yang sama. Demokrasi bukan cuma soal tindakan teknis seperti memilih atau mencoblos, tapi soal niat di balik pilihan itu. Apakah kita memilih dengan kesadaran, atau sekadar ikut arus? Apakah kita peduli pada dampaknya, atau hanya ingin cepat selesai?</p>



<p><em>Mens Rea</em> bisa juga dibaca lebih jauh. Bukan hanya soal niat rakyat saat memilih, tapi juga soal <strong>mens rea para elit</strong> dalam setiap kebijakan dan keputusan yang mereka ambil.</p>



<p>Sebagai warga, kita sering terjebak menilai kebijakan hanya dari permukaannya: pro atau kontra, untung atau rugi. Padahal, pertanyaan yang tak kalah penting adalah: <strong>niat apa yang bekerja di balik keputusan itu?</strong> Untuk siapa kebijakan tersebut sebenarnya dibuat? Siapa yang diuntungkan, dan siapa yang harus menanggung akibatnya?</p>



<p>Pandji tidak mengatakan semua kebijakan pasti jahat. Tapi <em>Mens Rea</em> mengajak kita untuk tidak naif. Kekuasaan selalu bekerja dengan intensi. Dan tugas warga bukan cuma menerima atau menolak, tapi juga menerka, membaca, dan menguji niat di balik setiap keputusan elit.</p>



<p>Di sinilah peran rakyat menjadi lebih dewasa. Bukan sekadar pendukung atau pembenci, tapi pembaca yang kritis.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle is-style-text-subtitle--13">Menonton Mens Rea: Untuk Apa?</h2>



<p>Pada akhirnya, <em>Mens Rea</em> tidak menuntut semua orang setuju. Mau ditonton buat cari lucu, silakan. Mau ditonton buat cari pemahaman, juga sah. Atau mau dua-duanya sekaligus, malah mungkin itu cara paling utuh.</p>



<figure class="wp-block-image size-large has-custom-border"><img decoding="async" width="1024" height="576" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/image-1024x576.png" alt="" class="wp-image-1007" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/image-1024x576.png 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/image-300x169.png 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/image-768x432.png 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/image-1536x864.png 1536w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/image-2048x1152.png 2048w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/image.png 1600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p>Tidak semua orang akan merasa Mens Rea ini lucu, dan itu tidak masalah. Tapi kalau setelah menonton kita mulai terbiasa bertanya soal niat, baik niat kita sendiri sebagai warga, maupun niat elit saat membuat kebijakan, mungkin di situlah Mens Rea bekerja paling efektif.</p>



<p>Bukan sebagai jawaban. Tapi sebagai pengingat bahwa perubahan, kalau memang ingin terjadi, sering kali menyedihkan dan memang harus dimulai dari niat kita sendiri.</p>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>



<div class="wp-block-columns is-not-stacked-on-mobile is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-28f84493 wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:33.33%">
<figure class="wp-block-image size-full is-style-rounded"><img loading="lazy" decoding="async" width="850" height="850" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/PROFILE.jpg" alt="Ajay Ahdiyat" class="wp-image-1010" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/PROFILE.jpg 850w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/PROFILE-300x300.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/PROFILE-150x150.jpg 150w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/01/PROFILE-768x768.jpg 768w" sizes="auto, (max-width: 850px) 100vw, 850px" /></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:66.66%">
<p>Ditulis oleh:</p>



<p class="is-style-text-label is-style-text-label--14"><strong>Azhar N. Ahdiyat</strong></p>



<p>Visual Artist, Graphic Designer, Dosen<br>Instagram: <a href="https://instagram.com/ahdiyat_" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@ahdiyat_</a></p>
</div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/01/05/ramainya-mens-rea-dan-gagasan-yang-tak-enak-didengar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1003</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
