<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Marxisme &#8211; Aduide Media</title>
	<atom:link href="https://aduide.id/tag/marxisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://aduide.id</link>
	<description>Township Youth Media</description>
	<lastBuildDate>Fri, 14 Aug 2026 00:30:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/cropped-favicon-32x32.png</url>
	<title>Marxisme &#8211; Aduide Media</title>
	<link>https://aduide.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">246255001</site>	<item>
		<title>Memilih Tak Punya Anak: Perlawanan Paling Rasional di Tengah Neraka Kapitalisme</title>
		<link>https://aduide.id/2026/08/14/memilih-tak-punya-anak-perlawanan-paling-rasional-di-tengah-neraka-kapitalisme/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/08/14/memilih-tak-punya-anak-perlawanan-paling-rasional-di-tengah-neraka-kapitalisme/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2026 00:30:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Other]]></category>
		<category><![CDATA[Elvina Meivania Dewi]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Marxisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=2208</guid>

					<description><![CDATA[Pernahkah kalian bertanya-tanya, kenapa belakangan ini timeline media sosial kita penuh dengan perdebatan soal childfree atau keluhan menjadi sandwich generation? Kalau kalian pikir ini cuma tren gaya hidup anak muda yang makin egois dan kebarat-baratan, mari duduk sebentar. Kita perlu bicara soal realitas ekonomi yang sukses merenggut mimpi anak bangsa. Data menunjukkan Total Fertility Rate [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Pernahkah kalian bertanya-tanya, kenapa belakangan ini timeline media sosial kita penuh dengan perdebatan soal <em>childfree</em> atau keluhan menjadi <em>sandwich generation</em>? Kalau kalian pikir ini cuma tren gaya hidup anak muda yang makin egois dan kebarat-baratan, mari duduk sebentar. Kita perlu bicara soal realitas ekonomi yang sukses merenggut mimpi anak bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Data menunjukkan Total Fertility Rate (TFR) alias angka kelahiran di Indonesia terus merosot. Dari 5,61 di tahun 1970, diproyeksikan nyungsep ke angka 2,13 pada tahun 2025. Di daerah dengan tingkat biaya hidup dan urbanisasi tinggi seperti DKI Jakarta, angkanya bahkan lebih melorot lagi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kenapa bisa begitu? Jawabannya sederhana: hidup sudah terlalu mahal, dan kita sudah terlalu lelah menjadi sapi perah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karl Marx sejak berabad-abad lalu sebenarnya sudah wanti-wanti soal fenomena ini. Dalam sistem kapitalisme, komodifikasi adalah syarat mutlak. Kita-kita ini, kaum proletar yang tidak punya akses pada alat-alat produksi, pada akhirnya terpaksa menjual satu-satunya hal yang kita miliki: tenaga kita, baik fisik maupun kognitif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Coba lihat institusi perguruan tinggi yang katanya menjadi kawah candradimuka bagi masa depan bangsa. Nyatanya? Masih banyak kampus-kampus di Indonesia dan lingkungan sosial kita seringkali tak lebih dari sekadar mesin yang fungsinya menyesuaikan akumulasi modal pasar. Mereka berlomba-lomba mencetak &#8220;stok tenaga kerja siap pakai&#8221; yang spesifikasinya sudah diatur sedemikian rupa agar pas dengan selera industri para borjuis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah lulus dengan embel-embel <em>cum laude</em>, kita masuk ke pasar kerja dan disambut oleh realitas yang brutal: jumlah pengangguran melimpah ruah. Kelimpahan ini bukan kebetulan, melainkan sistem yang memfasilitasi borjuis untuk dengan mudah menentukan syarat kerja dan menekan upah. Posisi tawar kita hancur lebur. Prinsipnya cuma satu: &#8220;Kalau kamu nggak mau digaji murah, pintu keluar ada di sebelah sana. Masih banyak yang antre dan <em>siap digantikan</em>.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik inilah alienasi terjadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam proses produksi, kita dipaksa menelan penderitaan yang mengikat. Bekerja yang hakikatnya harusnya menjadi sarana aktualisasi diri, direduksi sekadar menjadi fungsi mekanis. Nilai tambah dari dedikasi mental dan fisik kita dirampas. Parahnya lagi, sistem ini memaksa sesama pekerja untuk saling sikut dan berkompetisi memperebutkan posisi kerja yang sangat terbatas. Alih-alih bersolidaritas, kita malah saling injak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Generasi ini sedang didera apa yang disebut sebagai <em>Learned Helplessness, </em>sebuah kondisi ketidakberdayaan yang dipelajari. Mengirim ratusan lamaran pekerjaan tapi berujung terjebak dalam pekerjaan berupah minimum memanifestasikan kepasrahan sosial (defisit motivasi). Kita jadi kesulitan menyadari adanya peluang positif karena persepsi kita sudah dikurung oleh ketidakberdayaan (defisit kognitif). Ujung-ujungnya, kita dihajar oleh defisit emosional: depresi, kecemasan kronis, apatisme, hingga tekanan stres yang berkepanjangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Celakanya, di tengah kondisi pekerja yang babak belur ini, negara minim sekali mengambil peran sebagai pengaman sosial. Beban biaya reproduksi sosial dilemparkan sepenuhnya ke pundak keluarga-keluarga miskin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hasilnya bisa ditebak. Anak seringkali tak lagi dilihat sebagai anugerah, melainkan ditransformasikan menjadi investasi ekonomi atau &#8220;dana pensiun berjalan&#8221; bagi orang tua. Lahirlah spesies pekerja yang paling menderita di muka bumi: <em>Sandwich Generation</em>. Mereka terjepit keharusan membiayai orang tua di atas, dan menghidupi diri sendiri (serta anak) di bawah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka, kembali ke data penurunan TFR di awal tadi. Keengganan anak muda untuk bereproduksi saat ini tidak lagi dilihat sebagai fenomena kultural semata, melainkan sebuah perlawanan reproduktif pasif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika biaya pengasuhan, layanan kesehatan, dan pendidikan anak sudah melambung jauh di luar jangkauan upah minimum, membawa generasi baru ke dunia ini dipandang sebagai bentuk penambahan mata rantai eksploitasi. Logikanya masuk akal: <em>&#8220;Buat apa saya melahirkan anak, kalau pada akhirnya dia cuma akan jadi stok siap pakai pabrik kapitalis yang sama?&#8221;</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, apa solusinya? Apakah kita cuma bisa <em>healing</em>, <em>mindfulness</em>, atau ikut seminar motivasi?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu tidak. Menyelesaikan masalah struktural dengan solusi individual adalah sebuah kebodohan. Yang kita butuhkan adalah transformasi struktural.</p>



<div class="wp-block-group adu-related has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<p class="adu-related__label wp-block-paragraph">Baca Juga</p>



<div class="wp-block-query adu-related__query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="adu-related__list wp-block-post-template is-layout-flow wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-2398 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-art-design category-culture">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-10-04T17:27:20+07:00">4 Oktober 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/10/04/beek-ikuti-jakarta-biennale-2026-sajikan-simulakrum-perlindungan-dari-kuningan/" target="_blank" >BEEK Ikuti Jakarta Biennale 2026, Sajikan &#8220;Simulakrum Perlindungan&#8221; dari Kuningan</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-2193 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-culture category-other tag-aduopini tag-bts-baepsae tag-kemiskinan tag-marxisme tag-privilege-kekuasaan tag-zahra-vindy-griyanti">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-08-12T07:27:36+07:00">12 Agustus 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/08/12/siapa-yang-menulis-aturan-main-dialog-antara-marx-dan-baepsae-karya-bts/" target="_blank" >Siapa yang Menulis Aturan Main? Dialog antara Marx dan Baepsae Karya BTS</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-169 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-other tag-adukabar tag-mahasiswa tag-uu-tni">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2025-03-24T19:31:26+07:00">24 Maret 2025</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2025/03/24/revisi-uu-tni-digugat-mahasiswa-fh-ui-layangkan-permohonan-ke-mk/" target="_blank" >Revisi UU TNI Digugat! Mahasiswa FH UI Layangkan Permohonan ke MK</a></h3>
</li></ul>

</div>



<style>
.adu-related{
  --maroon:#871338;
  --berry:#BC3862;
  --ink:#111111;
  --muted:#696969;
  --line:#DDDDDD;
  margin:clamp(34px,4.5vw,54px) 0;
  padding:20px 0 22px;
  border-top:1px solid var(--maroon);
  border-bottom:1px solid var(--maroon);
}

/* label kecil "Baca Juga" */
.adu-related__label{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:14px!important;font-weight:700;letter-spacing:.16em;text-transform:uppercase;
  color:var(--maroon);margin:0;display:flex;align-items:center;gap:10px;line-height:1;
}
.adu-related__label::before{
  content:"";width:22px;height:2px;background:var(--berry);flex:0 0 auto;
}

/* daftar */
.adu-related__list{list-style:none!important;margin:0!important;padding:0!important}
.adu-related__list > li{
  display:flex;flex-direction:column;margin:0;padding:0 0 2px;
  transition:padding-left .3s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover{padding-left:8px}

/* tanggal di kanan atas, sekaligus jadi garis pemisah */
.adu-related__date{
  order:1;width:100%;text-align:right;
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:11px;font-weight:700;letter-spacing:.14em;text-transform:uppercase;
  color:var(--muted);margin:0;padding:12px 0 9px;
  border-bottom:1px solid var(--line);
  transition:border-color .3s ease,color .3s ease;
}
.adu-related__list > li:first-child .adu-related__date{padding-top:4px}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__date{border-bottom-color:var(--maroon);color:var(--maroon)}

/* judul */
.adu-related__post-title{
  order:2;
  font-family:'Unbounded',system-ui,sans-serif;
  font-size:clamp(15px,1.6vw,17.5px)!important;font-weight:400;letter-spacing:0em;line-height:1.35;
  margin:13px 0 0;
}
.adu-related__post-title a{
  color:var(--ink);text-decoration:none;transition:color .25s ease;
  display:inline-flex;align-items:baseline;gap:8px;
}
.adu-related__post-title a::after{
  content:"\2197";font-family:system-ui,sans-serif;font-size:.8em;font-weight:400;
  color:var(--berry);opacity:0;transform:translate(-4px,3px);
  transition:opacity .28s ease,transform .28s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a{color:var(--maroon)}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a::after{opacity:1;transform:translate(0,0)}

.adu-related__empty{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;color:var(--muted);font-size:15px;margin:14px 0 0;
}

@media(max-width:520px){
  .adu-related__post-title{font-size:15px!important}
  .adu-related__list > li:hover{padding-left:0}
}
@media(prefers-reduced-motion:reduce){
  .adu-related *{transition-duration:.001ms!important}
}
</style>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">Negara tidak boleh lagi lepas tangan. Negara harus berani menjamin penyediaan akses pendidikan tinggi, layanan kesehatan, hingga <em>public childcare</em> (penitipan anak) secara gratis. Sistem pensiun dan jaminan sosial bagi seluruh masyarakat harus diintegrasikan agar kutukan <em>sandwich generation</em> bisa diputus selama-lamanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sektor tenaga kerja, praktik kerja fleksibel yang eksploitatif harus dihapus, diganti dengan standar upah yang benar-benar layak, bukan sekadar &#8220;layak untuk tidak mati kelaparan&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan dari mana uang untuk membiayai semua itu. Terapkan instrumen perpajakan progresif atas aset, warisan, dan akumulasi kekayaan para segelintir elite kaya raya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama ketimpangan ekonomi ini terus dipelihara, mimpi anak bangsa akan terus dirampas, dikomodifikasi, dan diobral murah di pasar tenaga kerja. Dan selama itu pula, memilih untuk tidak melahirkan generasi pekerja baru adalah perlawanan yang paling logis.</p>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:33.33%">
<figure class="wp-block-image size-full is-style-rounded"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1113" height="1113" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Elvina-Meivania-Dewi.jpg" alt="Elvina Meivania Dewi" class="wp-image-2212" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Elvina-Meivania-Dewi.jpg 1113w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Elvina-Meivania-Dewi-300x300.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Elvina-Meivania-Dewi-1024x1024.jpg 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Elvina-Meivania-Dewi-150x150.jpg 150w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Elvina-Meivania-Dewi-768x768.jpg 768w" sizes="(max-width: 1113px) 100vw, 1113px" /></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:66.66%">
<p class="wp-block-paragraph">Ditulis oleh:</p>



<p class="is-style-text-label is-style-text-label--2 wp-block-paragraph"><strong>Elvina Meivania Dewi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang gemar menulis tentang psikologi, pendidikan, filsafat, serta isu perkembangan anak dan remaja. Senang merangkai esai reflektif yang memadukan perspektif ilmiah dengan cerita-cerita sederhana dari kehidupan sehari-hari.  |  Instagram <a href="https://instagram.com/vinnmd_" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@vinnmd_</a></p>
</div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/08/14/memilih-tak-punya-anak-perlawanan-paling-rasional-di-tengah-neraka-kapitalisme/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2208</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Siapa yang Menulis Aturan Main? Dialog antara Marx dan Baepsae Karya BTS</title>
		<link>https://aduide.id/2026/08/12/siapa-yang-menulis-aturan-main-dialog-antara-marx-dan-baepsae-karya-bts/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/08/12/siapa-yang-menulis-aturan-main-dialog-antara-marx-dan-baepsae-karya-bts/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2026 00:27:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Other]]></category>
		<category><![CDATA[BTS Baepsae]]></category>
		<category><![CDATA[Kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[Marxisme]]></category>
		<category><![CDATA[Privilege Kekuasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Zahra Vindy Griyanti]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=2193</guid>

					<description><![CDATA[Tewas mengenaskan di bawah amukan massa. Begitulah akhir dari hidup seorang ayah berinisial KD di Tabanan, Bali. Ia diduga mencuri ayam aduan milik seorang warga di desa. Warga yang emosi karena maraknya kasus pencurian ternak langsung mengejarnya dan menghajarnya hingga tak bernyawa. Tubuhnya dihantam bertubi-tubi dengan kayu dan batu, sepeda motornya dibakar hingga hangus, meninggalkan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--6">Tewas mengenaskan di bawah amukan massa.</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Begitulah akhir dari hidup seorang ayah berinisial KD di Tabanan, Bali. Ia diduga mencuri ayam aduan milik seorang warga di desa. Warga yang emosi karena maraknya kasus pencurian ternak langsung mengejarnya dan menghajarnya hingga tak bernyawa. Tubuhnya dihantam bertubi-tubi dengan kayu dan batu, sepeda motornya dibakar hingga hangus, meninggalkan tangis pilu bagi sang anak saat jasad ayahnya tiba di rumah duka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">KD memang bukan orang baik-baik. Ia merupakan residivis pencurian sejak tahun 2018. Tapi naasnya belum sempat sampai ke meja pengadilan, ia sudah tidak bisa memberikan pembelaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di bawah langit yang sama, hanya berselang beberapa pekan, seorang mantan pejabat hukum tinggi keluar dari gedung pemeriksaan rutan komisi antirasuah. Namanya Febrie Adriansyah, mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus. Di rumahnya, penyidik menemukan tumpukan uang asing dan emas batangan seberat 74 kilogram yang diperoleh secara tidak sah. Namun saat berjalan menuju mobil tahanan, tidak ada borgol yang mengikat tangannya. Tidak ada pula rompi oranye yang biasa disampirkan pada tubuh pencuri kelas teri. Ia melenggang bebas, tenang, bahkan sempat melemparkan senyum tipis ke arah kamera sebelum masuk ke mobil yang nyaman.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--7">Hukum kita rupanya bertekuk lutut di hadapan kaum borjuis.</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ketimpangan sosial yang menyayat hati ini menguak satu kenyataan pahit. Keadilan adalah komoditas mewah yang harus dibayar dengan nyawa oleh rakyat kecil, sedangkan penguasa cukup menebusnya dengan selembar jaminan kuasa. Kita sedang menyaksikan bekerjanya sebuah mesin perusak bernama ketidakadilan sistemik.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kondisi ini disindir dengan sangat tajam dalam lagu Baepsae milik kelompok musik Korea Selatan, BTS. Melalui liriknya, mereka membongkar bagaimana aturan main dibuat oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaan, sementara kelas pekerja dipaksa menaatinya bak mesin tanpa jiwa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Ah, hyo-do-ga a-nya nopolet / A, hak-gyo-do a-nya nopolet / Rul bakkwo change change / Hwangsae-deureun wonhae wonhae maintain&#8221; (Ah, ini bukan sekadar usaha / Ah, ini bukan tentang sekolah / Ubah aturannya, ubah / Para bangau ingin mempertahankan posisi mereka)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para bangau pemegang kekuasaan menetapkan aturan sedemikian rupa agar harta dan posisi mereka terlindungi, sambil terus membius kelas bawah dengan dongeng tentang kerja keras. Bualan ini sering diceritakan kepada generasi muda. Kita diminta percaya bahwa dunia ini adil, bahwa siapa pun yang bekerja keras akan memetik hasilnya di akhir nanti. Begitu akrabnya dongeng ini di telinga kita bahwa jika kamu miskin, salahkan dirimu sendiri yang kurang giat berusaha.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pandangan ini bersumber dari cara berpikir eksistensialisme klasik. Jean Paul Sartre menulis bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Menurutnya, eksistensi manusia mendahului esensinya. Manusia terlahir tanpa kerangka nasib, melalui kebebasan memilih, manusia membangun siapa dirinya sebenarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, marxisme datang membawa pukulan telak bagi idealisme yang mengawang tersebut. Menurut Karl Marx, kesadaran manusia tidak menentukan keadaan sosial mereka, melainkan keadaan sosial yang membentuk kesadaran mereka. Kebebasan memilih adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh mereka yang kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Realitasnya, kemiskinan struktural memenjara manusia bahkan sebelum mereka sempat melangkah. Anak yang lahir di keluarga miskin tidak bisa begitu saja memilih menjadi sukses jika seluruh akses pendidikan dan sumber daya dikuasai oleh segelintir elit. Aturan mainnya sudah dirancang untuk memenangkan pihak tertentu sejak awal.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gugatan terhadap sistem ini digaungkan oleh BTS dengan menggunakan metafora burung gelatik berkaki pendek bernama Baepsae. Di sisi lain, ada Hwangsae yaitu burung bangau berkaki panjang yang melangkah jauh tanpa perlu memeras tenaga. Pepatah lama di Korea memperingatkan bahwa jika burung berkaki kecil mengikuti langkah sang bangau, maka kakinya akan patah.</p>



<figure class="wp-block-image size-full has-custom-border"><img decoding="async" width="850" height="666" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Baepsae.jpg" alt="Baepsae" class="wp-image-2196" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Baepsae.jpg 850w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Baepsae-300x235.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Baepsae-768x602.jpg 768w" sizes="(max-width: 850px) 100vw, 850px" /><figcaption class="wp-element-caption">© Ki Soo Lee via <a href="https://wanderers.tistory.com/351">https://wanderers.tistory.com/351</a></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;They call me a try-hard / Our generation has had it hard / Hurry, chase &#8216;em / Thanks to those that came before us, I&#8217;m spread too thin.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lirik ini secara gamblang menyindir generasi tua yang mewariskan tatanan ekonomi rusak, namun terus menuntut anak muda bekerja tanpa batas waktu dengan modal semangat semata. BTS menulis lagu ini bukan dari menara tinggi yang nyaman. Mereka merintis jalan dari titik paling bawah dalam industri hiburan Korea Selatan yang terkenal kejam. Mereka tumbuh bersama agensi kecil bernama Big Hit Entertainment yang kala itu nyaris bangkrut dan tertimbun utang. Pada masa awal debut, penampilan mereka sering dipotong di stasiun televisi, diremehkan oleh media besar, dan harus berbagi kamar tidur yang sempit. Pengalaman mereka sebagai pihak terpinggirkan membuat mereka berani menggugat monopoli elit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak muda saat ini dituduh sebagai generasi rapuh dan mudah menyerah. Mereka dipaksa berlari dalam kompetisi yang tidak masuk akal, memeras kesehatan mental mereka hingga titik nadir demi mencapai standar sukses yang ditentukan oleh kelas atas. Namun, sekeras apa pun gelatik kecil mencoba memanjangkan kakinya untuk menyamai langkah lebar sang bangau, ia tidak akan pernah bisa menyusul. Kakinya justru akan patah karena kelelahan fisik dan mental yang luar biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Kkum-eul ppaetgyeogan chae hyeobakdanghae / Hwangsaedeul deoge nan dariga jjijeojyeo.&#8221; (Mimpi kita dirampas, kita diancam / Berkat para bangau, kedua kakiku robek).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita harus menolak narasi yang menyederhanakan masalah dengan dalih kurangnya usaha. Kegagalan bertahan di tengah melambungnya harga kebutuhan hidup, tingginya biaya pendidikan, dan sempitnya lapangan pekerjaan bukanlah kesalahan pribadi, melainkan kenyataan pahit dari struktur yang sengaja dipelihara agar roda kekuasaan terus berputar di atas keringat kelas pekerja.</p>



<div class="wp-block-group adu-related has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<p class="adu-related__label wp-block-paragraph">Baca Juga</p>



<div class="wp-block-query adu-related__query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="adu-related__list wp-block-post-template is-layout-flow wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-2254 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-art-design category-culture tag-adukabar tag-art tag-cirebon tag-exhibition tag-gerabah tag-kontemporer tag-sanggar-ikhtiar tag-seni tag-sitiwinangun">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-08-31T10:29:02+07:00">31 Agustus 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/08/31/membangun-dari-tanah-membaca-kembali-jejak-gerabah-sitiwinangun-lewat-seni-kontemporer/" target="_blank" >(mem)Bangun dari Tanah: Membaca Kembali Jejak Gerabah Sitiwinangun lewat Seni Kontemporer</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-602 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-other tag-aduopini tag-media tag-politik">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2025-10-17T13:59:42+07:00">17 Oktober 2025</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2025/10/17/boikot-trans7-dan-tenggelamnya-skandal-dana-reses-dpr-ketika-distraksi-publik-jadi-senjata-kekuasaan/" target="_blank" >Boikot Trans7 dan Tenggelamnya Skandal Dana Reses DPR: Ketika Distraksi Publik Jadi Senjata Kekuasaan</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-266 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-adukabar category-other tag-adukabar tag-awards tag-hilman-hidayat tag-uniku tag-youth">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2025-04-22T18:36:36+07:00">22 April 2025</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2025/04/22/hilman-hidayat-sabet-dua-penghargaan-internasional-di-global-youth-innovation-summit-2025/" target="_blank" >Hilman Hidayat Sabet Dua Penghargaan Internasional di Global Youth Innovation Summit 2025</a></h3>
</li></ul>

</div>



<style>
.adu-related{
  --maroon:#871338;
  --berry:#BC3862;
  --ink:#111111;
  --muted:#696969;
  --line:#DDDDDD;
  margin:clamp(34px,4.5vw,54px) 0;
  padding:20px 0 22px;
  border-top:1px solid var(--maroon);
  border-bottom:1px solid var(--maroon);
}

/* label kecil "Baca Juga" */
.adu-related__label{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:14px!important;font-weight:700;letter-spacing:.16em;text-transform:uppercase;
  color:var(--maroon);margin:0;display:flex;align-items:center;gap:10px;line-height:1;
}
.adu-related__label::before{
  content:"";width:22px;height:2px;background:var(--berry);flex:0 0 auto;
}

/* daftar */
.adu-related__list{list-style:none!important;margin:0!important;padding:0!important}
.adu-related__list > li{
  display:flex;flex-direction:column;margin:0;padding:0 0 2px;
  transition:padding-left .3s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover{padding-left:8px}

/* tanggal di kanan atas, sekaligus jadi garis pemisah */
.adu-related__date{
  order:1;width:100%;text-align:right;
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:11px;font-weight:700;letter-spacing:.14em;text-transform:uppercase;
  color:var(--muted);margin:0;padding:12px 0 9px;
  border-bottom:1px solid var(--line);
  transition:border-color .3s ease,color .3s ease;
}
.adu-related__list > li:first-child .adu-related__date{padding-top:4px}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__date{border-bottom-color:var(--maroon);color:var(--maroon)}

/* judul */
.adu-related__post-title{
  order:2;
  font-family:'Unbounded',system-ui,sans-serif;
  font-size:clamp(15px,1.6vw,17.5px)!important;font-weight:400;letter-spacing:0em;line-height:1.35;
  margin:13px 0 0;
}
.adu-related__post-title a{
  color:var(--ink);text-decoration:none;transition:color .25s ease;
  display:inline-flex;align-items:baseline;gap:8px;
}
.adu-related__post-title a::after{
  content:"\2197";font-family:system-ui,sans-serif;font-size:.8em;font-weight:400;
  color:var(--berry);opacity:0;transform:translate(-4px,3px);
  transition:opacity .28s ease,transform .28s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a{color:var(--maroon)}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a::after{opacity:1;transform:translate(0,0)}

.adu-related__empty{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;color:var(--muted);font-size:15px;margin:14px 0 0;
}

@media(max-width:520px){
  .adu-related__post-title{font-size:15px!important}
  .adu-related__list > li:hover{padding-left:0}
}
@media(prefers-reduced-motion:reduce){
  .adu-related *{transition-duration:.001ms!important}
}
</style>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">BTS menunjukkan bahwa jalan keluar dari ketertindasan ini bukanlah dengan menyesali nasib secara pasif. Mereka menanamkan kesadaran baru bahwa perubahan sejati hanya bisa diupayakan ketika kita berhenti menghukum diri sendiri atas kerusakan yang dibuat oleh sistem. Gelatik memang seekor burung kecil berkaki pendek dan rapuh jika berdiri sendirian. Namun, jika ribuan gelatik ini mulai menyadari ketidakadilan yang mereka alami, mereka tidak perlu lagi membuang energi untuk mengejar jejak langkah sang bangau.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka bisa memilih untuk berkumpul, membangun solidaritas bersama, dan menuntut perubahan aturan main secara mendasar. Kehadiran kita di dunia bukanlah sekadar pelengkap penderitaan demi menjaga kenyamanan kaum atas. Sekarang adalah waktu untuk berhenti menyalahkan diri sendiri di dalam sistem yang timpang. Mari runtuhkan struktur yang tidak memanusiakan kita agar keadilan utuh dapat dinikmati oleh setiap kelas sosial.</p>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:33.33%">
<figure class="wp-block-image size-full is-style-rounded"><img decoding="async" width="720" height="720" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Zahra-Vindy-Griyanti-1.jpg" alt="" class="wp-image-2198" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Zahra-Vindy-Griyanti-1.jpg 720w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Zahra-Vindy-Griyanti-1-300x300.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/Zahra-Vindy-Griyanti-1-150x150.jpg 150w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:66.66%">
<p class="wp-block-paragraph">Ditulis oleh:</p>



<p class="is-style-text-label is-style-text-label--8 wp-block-paragraph"><strong>Zahra Vindy Griyanti</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia yang tertarik dengan isu sosial dan budaya.<br>Instagram: <a href="https://instagram.com/zhravndyy_" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@zhravndyy_</a></p>
</div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/08/12/siapa-yang-menulis-aturan-main-dialog-antara-marx-dan-baepsae-karya-bts/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2193</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
