<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Eksistensialisme &#8211; Aduide Media</title>
	<atom:link href="https://aduide.id/tag/eksistensialisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://aduide.id</link>
	<description>Township Youth Media</description>
	<lastBuildDate>Tue, 04 Aug 2026 06:18:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/cropped-favicon-32x32.png</url>
	<title>Eksistensialisme &#8211; Aduide Media</title>
	<link>https://aduide.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">246255001</site>	<item>
		<title>Ketika Pencipta Makna Hilang, Apa yang Terjadi?</title>
		<link>https://aduide.id/2026/08/03/ketika-pencipta-makna-hilang-apa-yang-terjadi/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/08/03/ketika-pencipta-makna-hilang-apa-yang-terjadi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2026 03:53:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Other]]></category>
		<category><![CDATA[Ayah]]></category>
		<category><![CDATA[Eksistensialisme]]></category>
		<category><![CDATA[Reyhatussya'diyah Budiman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=1388</guid>

					<description><![CDATA[“Peran ayah itu ternyata penting banget ya untuk perkembangan anak” tulis orang-orang di media sosial saat terdapat konten yang menyoroti hubungan ayah dan anak. Tidak dapat kita sangkal bahwa peran orang tua, terutama ayah memang sangat berpengaruh untuk proses tumbuh kembang anak. Orang tua akan selalu ada untuk anaknya, selalu mendukung anaknya, dan memastikan anaknya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><em>“Peran ayah itu ternyata penting banget ya untuk perkembangan anak”</em> tulis orang-orang di media sosial saat terdapat konten yang menyoroti hubungan ayah dan anak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak dapat kita sangkal bahwa peran orang tua, terutama ayah memang sangat berpengaruh untuk proses tumbuh kembang anak. Orang tua akan selalu ada untuk anaknya, selalu mendukung anaknya, dan memastikan anaknya tumbuh dengan baik. Lalu, bagaimana dengan anak yang orang tuanya <em>bercerai? Apakah tidak adanya peran ayah akan memengaruhi kepribadian atau proses tumbuh kembang anak?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ayah memegang peran krusial dalam pemberian bimbingan kepada anaknya. Ayah yang ikut serta dalam kehidupan pendidikan dan sosial anak akan meningkatkan kemampuan anak dalam bersosialisasi dengan teman sebayanya. Selain itu, peran ayah pun terbukti mendorong anak untuk memiliki prestasi yang lebih baik dan membuat anak dapat beradaptasi dengan mudah lingkungan sekitarnya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large has-custom-border"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="921" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/thilina-alagiyawanna-ZCt-PzB-zD8-unsplash-scaled-e1785728871386-1024x921.jpg" alt="Ayah dan anak berpegangan tangan menyaksikan matahari terbenam di atas lautan." class="wp-image-1391" style="border-top-left-radius:12px;border-top-right-radius:12px;border-bottom-left-radius:12px;border-bottom-right-radius:12px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/thilina-alagiyawanna-ZCt-PzB-zD8-unsplash-scaled-e1785728871386-1024x921.jpg 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/thilina-alagiyawanna-ZCt-PzB-zD8-unsplash-scaled-e1785728871386-300x270.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/thilina-alagiyawanna-ZCt-PzB-zD8-unsplash-scaled-e1785728871386-768x691.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/thilina-alagiyawanna-ZCt-PzB-zD8-unsplash-scaled-e1785728871386-1536x1382.jpg 1536w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/08/thilina-alagiyawanna-ZCt-PzB-zD8-unsplash-scaled-e1785728871386.jpg 1707w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Foto oleh <a href="https://unsplash.com/id/@thilinaalagiyawanna?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Thilina Alagiyawanna</a> di <a href="https://unsplash.com/id/foto/ayah-dan-anak-berpegangan-tangan-menyaksikan-matahari-terbenam-di-atas-lautan-ZCt-PzB-zD8?utm_source=unsplash&amp;utm_medium=referral&amp;utm_content=creditCopyText">Unsplash</a></figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kehadiran dan keterlibatan ayah dapat membantu anak perempuan untuk mengembangkan kemampuan emosional, meningkatkan hubungan sosial, dan membentuk dasar yang kuat untuk perkembangan psikologisnya. Ayah yang senantiasa hadir dalam kehidupan anak perempuan membawa dampak yang sangat positif pada setiap aspek perkembangannya. Namun, bagaimana jadinya jika sosok ayah hilang dari hidup anak karena <em>perceraian</em>?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perceraian seringkali dianggap hanya sebagai putusnya ikatan perkawinan kedua orang tua, namun nyatanya lebih jauh dari itu, perceraian yang dialami oleh orang tua membawa perubahan terhadap struktur dan juga relasi dalam keluarga. Kondisi setelah perceraian menuntut anak untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya agar dapat beradaptasi dengan berbagai situasi setelah perceraian.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peristiwa perceraian orang tua membawa guncangan yang besar terhadap kondisi kehidupan dan psikologis anak. Kita dapat melihat kondisi anak akibat perceraian melalui kacamata Friedrich Nietzsche mengenai konsep <em>God is Dead </em>atau Kematian Tuhan dan kacamata Jean Paul Sartre mengenai konsep Kebebasan dan Angst atau kecemasan eksistensial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Nietzsche, kematian Tuhan memiliki arti bahwa manusia tidak lagi memiliki titik acuan absolut yang selama ini menjadi dasar moral, makna, dan juga kepastian hidup. Tanpa Tuhan sebagai pusat, manusia akan kehilangan makna dan arah hidupnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kehidupan anak, orang tua merupakan “Tuhan-Tuhan kecil” yang membuat peraturan, makna dalam hidup, dan pencipta nilai moral dalam kehidupan mereka. Ketika perceraian terjadi, anak akan merasa bahwa “Tuhan-Tuhan kecil” mereka sudah hilang. Anak menjadi kehilangan “pegangan” atau pencipta makna dan arah dalam menjalani hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiadaan sosok “Tuhan-Tuhan kecil” atau orang tua dalam hidup anak dapat membuat diri anak berada dalam “kebebasan”, namun kebebasan di sini bukanlah kebebasan yang membuat anak merasa nyaman, melainkan kebebasan yang membuat anak merasa cemas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu tokoh Eksistensialisme, yaitu Jean Paul Sartre mengungkapkan konsep kebebasan, tanggung jawab dan <em>angst</em> atau kecemasan eksistensial. Bagi Sartre, konsep kebebasan dalam eksistensialisme adalah ketika manusia diberikan kekuasaan penuh untuk menentukan pilihan dan menciptakan nilai hidupnya sendiri. Akan tetapi, di lain sisi manusia harus bertanggung jawab penuh atas apa yang sudah Ia pilih dan perbuat. Tanggung jawab tersebut kerap memicu kecemasan atau “<em>anguish</em>”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika anak kehilangan “Tuhan-Tuhan kecil” yang menjadi pencipta makna dan arah hidupnya, anak tidak tau Ia harus melakukan apa, karena sosok yang dapat membimbingnya sudah hilang. Anak menjadi sadar bahwa saat ini Ia memiliki tanggung jawab penuh atas hidupnya sendiri, Ia harus bertanggung jawab atas segala keputusan yang akan Ia pilih. Tanggung jawab yang mau tidak mau harus dipikul sendiri melahirkan <em>angst </em>pada diri anak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam realitas kehidupan, anak yang tumbuh tanpa sosok ayah yang menemaninya akan menjadi anak yang cemas dan tidak tau harus berbuat apa. Anak akan mudah untuk merasa bahwa diri dan hidupnya tidak berarti. Kecemasan anak atas ketiadaan sosok ayah muncul lewat pertanyaan <em>apakah Ia akan mendapatkan hidup bahagia seperti anak lain yang memiliki sosok ayah dalam hidupnya? Apakah Ia tetap bisa menjalani hidup dengan baik walaupun tidak ada sosok ayah yang mendampingi? Apakah Ia bisa bertahan di dunia ini tanpa sosok ayah? Apakah Ia akan berhasil walaupun sosok ayah jarang atau bahkan tidak pernah hadir dalam hidupnya?.</em></p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column has-light-background-color has-background is-layout-flow wp-container-core-column-is-layout-08414c4c wp-block-column-is-layout-flow" style="border-radius:12px;padding-top:var(--wp--preset--spacing--18);padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--24);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);flex-basis:100%">
<p class="has-custom-color-1-color has-text-color has-link-color wp-elements-2 wp-block-paragraph" style="margin-bottom:var(--wp--preset--spacing--10)"><strong>Baca Juga</strong></p>



<div class="wp-block-query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="has-link-color wp-elements-3 wp-block-post-template has-text-color has-custom-color-3-color has-minute-font-size is-layout-flow wp-container-core-post-template-is-layout-7a3036bf wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-570 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-art-design tag-aduopini tag-desain-grafis tag-design tag-identitas-visual tag-pemerintah">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0" class="has-link-color wp-elements-4 wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-3"><a href="https://aduide.id/2025/08/17/wajah-dalam-desain-grafis-pemerintah-antara-pencitraan-dan-etika-komunikasi-publik/" target="_blank" >Wajah dalam Desain Grafis Pemerintah: Antara Pencitraan dan Etika Komunikasi Publik</a></h6>
</li><li class="wp-block-post post-2229 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-culture category-film tag-aduopini tag-budaya tag-film tag-nayla-arifani tag-stigma-sosial">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0" class="has-link-color wp-elements-5 wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-3"><a href="https://aduide.id/2026/08/17/udah-gede-kok-masih-nonton-kartun-ketika-kedewasaan-diukur-dari-selera-tontonan/" target="_blank" >Udah Gede Kok Masih Nonton Kartun?: Ketika Kedewasaan Diukur dari Selera Tontonan</a></h6>
</li><li class="wp-block-post post-1023 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-art-design category-tech tag-aduopini tag-branding tag-kuningan tag-smart-city">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0" class="has-link-color wp-elements-6 wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-3"><a href="https://aduide.id/2026/01/07/smart-city-branding-membaca-ulang-citra-sistem-dan-pengalaman-warga/" target="_blank" >Smart City Branding: Membaca Ulang Citra, Sistem, dan Pengalaman Warga</a></h6>
</li></ul></div>
</div>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">Hilangnya sosok ayah membuat anak menjadi kehilangan arah, anak tidak akan tahu harus mengarahkan hidup mereka ke arah mana jika tidak ada “Tuhan kecil” yang membantu mengatur jalan untuk hidup mereka. Akan ada banyak sekali pertanyaan yang timbul atas ketiadaan sosok ayah tersebut. Akan ada banyak sekali keraguan untuk bertindak dalam diri anak karena ketiadaan sosok ayah tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dunia anak yang dulunya baik-baik saja menjadi hancur sedikit demi sedikit di saat Ia sudah mengerti bahwa “Tuhan-Tuhan kecil” yang memberikan makna dan arah dalam hidupnya sudah hilang. Anak harus mencari dan menentukan arah hidupnya sendiri di tengah kegelapan tanpa adanya “Tuhan-Tuhan kecil” yang menjadi pegangan anak dalam menjalani hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya kehilangan sosok ayah dalam kehidupan bukan hanya mengenai hilangnya fisik seorang ayah, tetapi juga merupakan kehilangan anak tentang makna, rasa kasih sayang, kepercayaan diri, rasa aman dalam hidup, keutuhan dalam hidup, serta arah dan juga keyakinan akan masa depan.</p>



<h4 class="wp-block-heading is-style-text-summary is-style-text-summary--3">Referensi</h4>



<p class="wp-block-paragraph">Erika, N. &amp; Putri, E. I. E. (2026). Gambaran Persepsi Pernikahan pada Perempuan Dewasa Awal yang Kehilangan Peran Ayah. <em>Character: Jurnal Penelitian Psikologi</em>. <em>13</em>(2),(630-632). <a href="https://doi.org/10.26740/cjpp.v13n02.p629-646">https://doi.org/10.26740/cjpp.v13n02.p629-646</a>&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fitria, F. N. (2026). Eksistensialisme Jean-Paul Sartre Dalam Pencarian Kebebasan Dan Makna Hidup Tokoh Harper Simmons Pada Novel Scars And Other Beautiful Things Karya Winna Efendi. Jurnal Yaqzhan: Analisis Filsafat, Agama dan Kemanusiaan. <a href="http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/yaqzhan/index">http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/yaqzhan/index</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hasanah, U. (2020). Pengaruh perceraian orangtua bagi psikologis anak. <em>Agenda: Jurnal Analisis Gender dan Agama</em>, <em>2</em>(1), 18-24. <a href="https://doi.org/10.31958/agenda.v2i1.1983">https://doi.org/10.31958/agenda.v2i1.1983</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Muchtar, A., Tiftajani, M. Z., &amp; Awantoro, A. G. (2026). Kematian Tuhan dalam Posmodernisme Barat: Studi Kritik Perspektif Ontologi Filsafat Islam: The Death of God in Western Postmodernism: A Critical Study from the Ontological Perspective of Islamic Philosophy. <em>Journal of Islamic and Occidental Studies</em>, <em>4</em>(1), 24-44. <a href="https://doi.org/10.21111/jios.v4i1.93">https://doi.org/10.21111/jios.v4i1.93</a></p>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:33.33%">
<figure class="wp-block-image size-full is-resized is-style-rounded"><img decoding="async" width="740" height="740" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2530.avif" alt="" class="wp-image-1355" style="width:209px;height:auto" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2530.avif 740w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2530-300x300.avif 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2530-150x150.avif 150w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:66.66%">
<p class="wp-block-paragraph">Ditulis oleh:</p>



<p class="is-style-text-label is-style-text-label--4 wp-block-paragraph"><strong>Reyhatussya&#8217;diyah Budiman</strong> (ehtuia)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia, aktif dalam perkuliahan dan aktif mengikuti kegiatan &#8220;Teras Psikologi Sastra&#8221; yang berada dalam naungan Program Studi Psikologi.</p>
</div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/08/03/ketika-pencipta-makna-hilang-apa-yang-terjadi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1388</post-id>	</item>
		<item>
		<title>Saat Identitas Tak Lagi Memberi Jawaban: Membaca Ticket to Heaven Melalui Eksistensialisme</title>
		<link>https://aduide.id/2026/07/28/saat-identitas-tak-lagi-memberi-jawaban-membaca-ticket-to-heaven-melalui-eksistensialisme/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/07/28/saat-identitas-tak-lagi-memberi-jawaban-membaca-ticket-to-heaven-melalui-eksistensialisme/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2026 03:37:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Adinda Suci Ramadhani]]></category>
		<category><![CDATA[Eksistensialisme]]></category>
		<category><![CDATA[Ticket to Heaven]]></category>
		<category><![CDATA[TV Series]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=1351</guid>

					<description><![CDATA[“Jadilah dirimu sendiri” Kalimat itu mungkin menjadi salah satu nasihat yang paling sering kita dengar sejak kecil. Sekilas terdengar sederhana, bahkan menenangkan. Namun, semakin bertambah usia, kita justru mulai menyadari bahwa menjadi diri sendiri bukanlah perkara yang mudah. Sebab, sebelum benar-benar menjadi diri sendiri, kita harus lebih dulu menjawab satu pertanyaan yang jauh lebih rumit: [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<blockquote class="wp-block-quote has-base-50-color has-custom-color-1-background-color has-text-color has-background has-link-color wp-elements-9 is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow" style="border-style:none;border-width:0px;border-top-left-radius:15px;border-top-right-radius:15px;border-bottom-left-radius:15px;border-bottom-right-radius:15px;padding-top:var(--wp--preset--spacing--30);padding-right:var(--wp--preset--spacing--30);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--30);padding-left:var(--wp--preset--spacing--30)">
<p class="is-style-text-lead-2 is-style-text-lead-2--10 wp-block-paragraph"><em>“Jadilah dirimu sendiri”</em></p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Kalimat itu mungkin menjadi salah satu nasihat yang paling sering kita dengar sejak kecil. Sekilas terdengar sederhana, bahkan menenangkan. Namun, semakin bertambah usia, kita justru mulai menyadari bahwa menjadi diri sendiri bukanlah perkara yang mudah. Sebab, sebelum benar-benar menjadi diri sendiri, kita harus lebih dulu menjawab satu pertanyaan yang jauh lebih rumit: <em>siapa sebenarnya diri kita?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan itu tidak selalu memiliki jawaban yang pasti. Banyak dari kita tumbuh di tengah berbagai nilai, harapan, dan aturan yang perlahan membentuk cara kita memandang diri sendiri. Orang tua mungkin memiliki gambaran tentang masa depan yang dianggap terbaik. Lingkungan sosial menghadirkan standar mengenai bagaimana seseorang seharusnya bersikap. Institusi pendidikan mengajarkan nilai-nilai tertentu, sementara masyarakat kerap menentukan mana pilihan yang dianggap benar dan mana yang dipandang menyimpang. Tanpa disadari, berbagai hal tersebut ikut membentuk identitas yang kita yakini sebagai “diri sendiri”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan identitas yang telah kita bangun. Ada kalanya pengalaman baru, pertemuan dengan seseorang, atau situasi yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya membuat kita mempertanyakan kembali segala sesuatu yang selama ini terasa pasti. Bukan karena nilai-nilai yang kita pegang tiba-tiba menghilang, tetapi karena realitas sering kali jauh lebih kompleks daripada jawaban-jawaban yang telah kita terima sejak lama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pergulatan semacam ini bukan hanya menjadi pengalaman pribadi banyak orang, tetapi juga sering diangkat dalam karya sastra, film, maupun serial televisi. Salah satu karya yang menarik untuk dibaca melalui sudut pandang tersebut adalah <em>Ticket to Heaven</em>, serial drama Thailand produksi GMMTV. Alih-alih hanya menyajikan kisah romansa, serial ini menghadirkan perjalanan seorang remaja yang harus berhadapan dengan konflik batin ketika identitas yang selama ini ia yakini mulai dipertanyakan oleh pengalaman hidupnya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konflik yang dialami tokoh utamanya tidak hanya berbicara tentang hubungan antarmanusia, tetapi juga menyentuh persoalan yang lebih mendasar: bagaimana seseorang memahami dirinya ketika keyakinan, nilai, dan pengalaman hidup saling berbenturan? Pertanyaan inilah yang membuat <em>Ticket to Heaven </em>menarik untuk dikaji melalui perspektif filsafat psikologi, khususnya eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Bagi Sartre, manusia bukanlah makhluk yang lahir dengan identitas yang sudah selesai. Sebaliknya, manusia terus membentuk dirinya melalui pilihan-pilihan yang diambil sepanjang hidup.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--11">Mengenal <em>Ticket to Heaven</em></h2>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ticket to Heaven </em>merupakan serial drama Thailand produksi GMMTV yang tayang pada 2026. Disutradarai oleh Noppharnach Chaiyahwimhon (Aof), serial ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Kittisak Kongka atau yang dikenal dengan nama pena Dawin (DW). Berbeda dari banyak serial remaja yang berpusat pada kisah romansa, <em>Ticket to Heaven </em>mengangkat tema yang lebih kompleks, yaitu hubungan antara iman, identitas, kebebasan, dan pencarian makna hidup.</p>



<figure class="wp-block-image size-large has-custom-border"><img decoding="async" width="1024" height="576" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/Ticket-to-Heaven-1024x576.jpg" alt="Ticket to Heaven" class="wp-image-1354" style="border-top-left-radius:15px;border-top-right-radius:15px;border-bottom-left-radius:15px;border-bottom-right-radius:15px" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/Ticket-to-Heaven-1024x576.jpg 1024w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/Ticket-to-Heaven-300x169.jpg 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/Ticket-to-Heaven-768x432.jpg 768w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/Ticket-to-Heaven.jpg 1200w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption class="wp-element-caption">Ticket to Heaven | Sumber: <strong>GMMTV</strong> 2026</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Cerita berfokus pada Tanrak, seorang remaja yang bersekolah di seminari Katolik. Setelah kehilangan kedua orang tuanya, ia menemukan penghiburan dalam keyakinan bahwa suatu hari nanti ia akan bertemu kembali dengan mereka di surga. Keinginannya untuk menjadi pastor bukan hanya cita-cita, tetapi juga bagian dari identitas yang membentuk cara ia memandang dirinya sendiri. Namun, kehadiran Barth, seorang siswa baru dengan masa lalu yang penuh luka, perlahan menggoyahkan kepastian tersebut. Hubungan yang berkembang di antara keduanya membuat Tanrak menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekilas, <em>Ticket to Heaven </em>mungkin tampak sebagai serial bergenre <em>boys love</em>. Akan tetapi, jika diamati lebih mendalam, konflik utama serial ini bukan sekadar mengenai hubungan romantis. Yang paling menonjol justru pergulatan batin Tanrak ketika keyakinan, identitas, dan pengalaman hidup saling bertabrakan. Konflik inilah yang membuat serial tersebut menarik untuk dibaca melalui perspektif filsafat psikologi.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--12">Eksistensialisme Jean-Paul Sartre</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang menekankan bahwa manusia memiliki kebebasan untuk menentukan makna dan tujuan hidupnya melalui pilihan-pilihan yang dibuat secara sadar. Dalam pandangan ini, identitas seseorang tidak sepenuhnya ditentukan oleh faktor bawaan, lingkungan, maupun norma sosial, melainkan dibentuk melalui tindakan dan keputusan yang diambil sepanjang hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu tokoh utama eksistensialisme adalah Jean-Paul Sartre yang mengemukakan konsep <em>existence precedes essence </em>atau <em>eksistensi mendahului esensi</em>. Menurut Sartre, manusia tidak dilahirkan dengan identitas atau tujuan yang telah ditentukan, tetapi membentuk dirinya melalui pengalaman dan pilihan hidup. Kebebasan tersebut selalu disertai tanggung jawab, sehingga setiap individu harus menerima konsekuensi atas keputusan yang diambil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, sartre memperkenalkan konsep <em>bad faith (mauvaise foi)</em>, yaitu keadaan ketika seseorang menyangkal kebebasannya dengan berlindung di balik peran, identitas, atau tuntutan sosial. Sebaliknya, kehidupan yang autentik <em>(authenticity) </em>tercermin ketika individu berani mengakui kebebasannya, membuat pilihan tersebut. Konsep-konsep inilah yang menjadi landasan dalam menganalisis konflik identitas yang ditampilkan dalam <em>Ticket to Heaven</em>.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--13">Analisis <em>Ticket to Heaven</em> melaluli Perspektif Eksistensialisme</h2>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ticket to Heaven </em>menggambarkan pergulatan batin seorang individu yang berada di antara tuntutan agama, keluarga, dan keinginan untuk menjadi dirinya sendiri. Konflik yang dialami Tanrak menunjukkan bahwa identitas yang selama ini dianggap sebagai pedoman hidup ternyata tidak selalu mampu menjawab pertanyaan mendasar mengenai siapa dirinya. Dalam perspektif eksistensialisme Sartre, kondisi tersebut mencerminkan situasi ketika manusia dihadapkan pada kebebasan untuk menentukan makna hidupnya sendiri, meskipun harus menghadapi berbagai konsekuensi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep <em>existence precedes essence</em> terlihat ketika Tanrak mulai mempertanyakan identitas yang selama ini melekat padanya. Sebagai seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan religius, ia telah memiliki berbagai identitas sosial yang dibentuk oleh keluarga dan komunitas. Namun, pengalaman hidup membuatnya menyadari bahwa identitas tersebut tidak serta-merta menjawab pergulatan batin yang dialaminya. Menurut Sartre, manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh label atau peran yang diberikan masyarakat, melainkan membentuk dirinya melalui pilihan dan tindakan. Dengan demikian, konflik dalam <em>Ticket to Heaven </em>menunjukkan proses pencarian jati diri yang tidak lagi bergantung pada identitas yang diwariskan, tetapi pada keberanian individu untuk memahami dirinya sendiri.</p>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column has-light-background-color has-background is-layout-flow wp-container-core-column-is-layout-08414c4c wp-block-column-is-layout-flow" style="border-radius:12px;padding-top:var(--wp--preset--spacing--18);padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-bottom:var(--wp--preset--spacing--24);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);flex-basis:100%">
<p class="has-custom-color-1-color has-text-color has-link-color wp-elements-10 wp-block-paragraph" style="margin-bottom:var(--wp--preset--spacing--10)"><strong>Baca Juga</strong></p>



<div class="wp-block-query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="has-link-color wp-elements-11 wp-block-post-template has-text-color has-custom-color-3-color has-minute-font-size is-layout-flow wp-container-core-post-template-is-layout-7a3036bf wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-570 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-art-design tag-aduopini tag-desain-grafis tag-design tag-identitas-visual tag-pemerintah">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0" class="has-link-color wp-elements-12 wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-11"><a href="https://aduide.id/2025/08/17/wajah-dalam-desain-grafis-pemerintah-antara-pencitraan-dan-etika-komunikasi-publik/" target="_blank" >Wajah dalam Desain Grafis Pemerintah: Antara Pencitraan dan Etika Komunikasi Publik</a></h6>
</li><li class="wp-block-post post-2229 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-culture category-film tag-aduopini tag-budaya tag-film tag-nayla-arifani tag-stigma-sosial">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0" class="has-link-color wp-elements-13 wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-11"><a href="https://aduide.id/2026/08/17/udah-gede-kok-masih-nonton-kartun-ketika-kedewasaan-diukur-dari-selera-tontonan/" target="_blank" >Udah Gede Kok Masih Nonton Kartun?: Ketika Kedewasaan Diukur dari Selera Tontonan</a></h6>
</li><li class="wp-block-post post-1023 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-art-design category-tech tag-aduopini tag-branding tag-kuningan tag-smart-city">
<h6 style="padding-right:var(--wp--preset--spacing--18);padding-left:var(--wp--preset--spacing--18);margin-top:0;margin-bottom:0" class="has-link-color wp-elements-14 wp-block-post-title has-text-color has-custom-color-4-color has-minute-font-size wp-elements-11"><a href="https://aduide.id/2026/01/07/smart-city-branding-membaca-ulang-citra-sistem-dan-pengalaman-warga/" target="_blank" >Smart City Branding: Membaca Ulang Citra, Sistem, dan Pengalaman Warga</a></h6>
</li></ul></div>
</div>
</div>



<p class="wp-block-paragraph">Pergulatan tersebut juga memperlihatkan konsep <em>bad faith (mauvaise foi), </em>yaitu ketika seseorang berusaha menghindari kebebasan dengan tunduk sepenuhnya pada harapan orang lain atau norma yang berlaku. Dalam beberapa situasi, Tanrak tampak berusaha menekan perasaan dan pikirannya demi mempertahankan identitas yang dianggap benar oleh lingkungan. Sikap tersebut dapat dipahami sebagai bentuk penyangkalan terhadap kebebasan dirinya sendiri. Namun, semakin ia mengabaikan suara hatinya, semakin besar konflik batin yang muncul. Hal ini menunjukkan bahwa menyangkal diri sendiri tidak selalu menghadirkan ketenangan, tetapi justru memperdalam krisis identitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, <em>Ticket to Heaven </em>juga memperlihatkan bahwa kebebasan selalu disertai dengan tanggung jawab. Sartre menegaskan bahwa setiap manusia bebas menentukan pilihan hidupnya, tetapi tidak dapat melepaskan diri dari konsekuensi atas pilihan tersebut. Tanrak menyadari bahwa keputusan apa pun yang diambil akan memengaruhi hubungannya dengan keluarga, keyakinan, dan orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, kebebasan dalam serial ini tidak digambarkan sebagai sesuatu yang mudah atau menyenangkan, melainkan sebagai proses yang penuh kecemasan dan keberanian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui perspektif eksistensialisme, <em>Ticket to Heaven </em>tidak hanya berbicara tentang konflik identitas, tetapi juga tentang perjalanan manusia dalam mencari makna hidup di tengah tuntutan sosial. Serial ini menunjukkan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang selesai begitu saja, melainkan terus dibentuk melalui pilihan-pilihan yang diambil sepanjang hidupnya. Pada akhirnya, <em>Ticket to Heaven </em>menunjukkan bahwa konflik terbesar manusia sering kali bukan tentang memilih benar atau salah, melainkan tentang keberanian untuk mengenali dirinya sendiri. Melalui perspektif eksistensialisme Jean-Paul Sartre, serial ini mengingatkan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang sudah ditentukan sejak lahir, tetapi dibentuk melalui pilihan dan pengalaman hidup. Mungkin menjadi diri sendiri memang tidak mudah, tetapi proses pencarian itulah yang membuat kita terus bertumbuh sebagai manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Referensi:</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Crowell, S. (2019). <em>Existentialism. </em>In K. Becker &amp; I. D. Thomson (Eds.), <em>The Cambridge History of Philosophy, </em>1945-2015. Cambridge University Press.</p>



<p class="wp-block-paragraph">GMMTV. (2026). <em>Ticket to Heaven.</em></p>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>



<div class="wp-block-columns is-not-stacked-on-mobile is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:33.33%">
<figure class="wp-block-image size-full is-style-rounded"><img loading="lazy" decoding="async" width="740" height="740" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2530.avif" alt="" class="wp-image-1355" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2530.avif 740w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2530-300x300.avif 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2530-150x150.avif 150w" sizes="auto, (max-width: 740px) 100vw, 740px" /></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:66.66%">
<p class="wp-block-paragraph">Ditulis oleh:</p>



<p class="is-style-text-label is-style-text-label--14 wp-block-paragraph"><strong>Adinda Suci Ramadhani</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswa Program Studi Psikologi, Universitas Pendidikan Indonesia.</p>
</div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/07/28/saat-identitas-tak-lagi-memberi-jawaban-membaca-ticket-to-heaven-melalui-eksistensialisme/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">1351</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
