<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Anzani Yuna Putri &#8211; Aduide Media</title>
	<atom:link href="https://aduide.id/tag/anzani-yuna-putri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://aduide.id</link>
	<description>Township Youth Media</description>
	<lastBuildDate>Fri, 14 Aug 2026 00:50:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://aduide.id/wp-content/uploads/2025/03/cropped-favicon-32x32.png</url>
	<title>Anzani Yuna Putri &#8211; Aduide Media</title>
	<link>https://aduide.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
<site xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">246255001</site>	<item>
		<title>Menelisik Fenomena Terobsesi Menjadi Diri Sendiri berdasarkan Pemikiran Derrida</title>
		<link>https://aduide.id/2026/08/14/menelisik-fenomena-terobsesi-menjadi-diri-sendiri-berdasarkan-pemikiran-derrida/</link>
					<comments>https://aduide.id/2026/08/14/menelisik-fenomena-terobsesi-menjadi-diri-sendiri-berdasarkan-pemikiran-derrida/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[aduide-admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Aug 2026 01:38:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[AduOpini]]></category>
		<category><![CDATA[Lifestyle]]></category>
		<category><![CDATA[Tech]]></category>
		<category><![CDATA[Anzani Yuna Putri]]></category>
		<category><![CDATA[Filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[Media Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://aduide.id/?p=2215</guid>

					<description><![CDATA[Di media sosial, menjadi diri sendiri seolah-olah telah menjadi sebuah kewajiban. Kita diminta untuk tampil jujur, apa adanya, dan tidak terlalu banyak memodifikasi kehidupan. Muncullah berbagai bentuk konten yang menjual gagasan tentang keaslian, seperti vlog tanpa filter, video “real life”, unggahan tanpa riasan, hingga aplikasi yang dirancang untuk memperlihatkan kehidupan pengguna secara lebih spontan. Namun, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Di media sosial, menjadi diri sendiri seolah-olah telah menjadi sebuah kewajiban. Kita diminta untuk tampil jujur, apa adanya, dan tidak terlalu banyak memodifikasi kehidupan. Muncullah berbagai bentuk konten yang menjual gagasan tentang keaslian, seperti vlog tanpa filter, video “<em>real life</em>”, unggahan tanpa riasan, hingga aplikasi yang dirancang untuk memperlihatkan kehidupan pengguna secara lebih spontan. Namun, semakin keras kita berusaha menunjukkan diri yang sebenarnya, semakin besar pula kemungkinan bahwa diri tersebut justru dibentuk oleh bagaimana orang lain melihatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Barangkali keaslian di media sosial tidak pernah benar-benar bebas dari penonton. Kita mungkin mengunggah foto tanpa filter karena ingin menunjukkan wajah “sebenarnya”, tetapi keputusan untuk mengunggah foto tersebut sudah mengandaikan keberadaan orang lain yang akan melihat. Kita mungkin membuat vlog tentang rutinitas sehari-hari dengan tujuan memperlihatkan kehidupan apa adanya, tetapi kehidupan tersebut tetap dipilih, direkam, disunting, dan kemudian dipublikasikan. Bahkan ketika seseorang berusaha untuk tidak melakukan performa, ia tetap melakukan performa tentang “tidak melakukan performa”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini dapat dilihat dari sudut pandang filsuf Prancis, Jacques Derrida, terutama melalui konsep <em>différance</em> dan kritiknya terhadap gagasan tentang kehadiran <em>(presence)</em>. Melalui perspektif tersebut, keaslian bukan sesuatu yang sepenuhnya hadir dan dapat ditampilkan secara utuh. Identitas justru terus terbentuk melalui relasi dengan tanda, bahasa, konteks, dan terutama dengan keberadaan orang lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--7">Keaslian yang Selalu Membutuhkan Penonton</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu daya tarik utama media sosial saat ini adalah munculnya konten yang mengeklaim lebih autentik dibandingkan konten yang dianggap terlalu sempurna. Konten tersebut sering dimaknai sebagai perlawanan terhadap citra ideal yang selama ini mendominasi media sosial. Namun, siapa yang menentukan apa yang disebut autentik?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika seseorang memilih menunjukkan <em>bareface</em>, kamar yang berantakan, atau kegagalan dalam belajar, ia memang sedang menunjukkan sesuatu yang sebelumnya mungkin disembunyikan. Namun, pilihan untuk menunjukkan bagian tersebut tetap merupakan keputusan. Ada sesuatu yang dipilih untuk ditampilkan dan ada sesuatu yang tetap tidak ditampilkan. Kehidupan yang hadir di layar bukanlah keseluruhan kehidupan seseorang, melainkan representasi yang telah melalui proses seleksi. Dengan demikian, persoalannya bukan apakah konten tersebut “asli” atau “palsu”. Yang lebih penting dari itu ialah memahami setiap bentuk representasi akan selalu melibatkan konstruksi. Seseorang dapat benar-benar merasa dirinya autentik ketika membuat sebuah unggahan. Pada kenyataannya, perasaan autentik tersebut tidak menghilangkan fakta bahwa identitasnya sedang disampaikan dan ditujukan kepada orang lain.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--8">Derrida dan Masalah Kehadiran</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pemikiran Derrida dapat membantu menjelaskan mengapa keaslian sulit dipisahkan dari representasi. Dalam tradisi filsafat Barat, terdapat kecenderungan untuk mengistimewakan sesuatu yang dianggap hadir secara langsung. Kehadiran sering dipandang lebih asli daripada representasi dan suara lebih dekat dengan makna daripada tulisan. Derrida mempertanyakan hierarki tersebut. Baginya, kita tidak pernah memperoleh makna dalam bentuk yang sepenuhnya hadir dan final. Makna selalu terbentuk melalui hubungan dengan tanda-tanda lain. Sebuah kata memperoleh maknanya bukan karena memiliki esensi yang berdiri sendiri, tetapi karena berbeda dari kata-kata lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gagasan ini berkaitan dengan <em>différance</em>, istilah Derrida yang menggabungkan gagasan tentang perbedaan dan penundaan. Makna muncul melalui perbedaan dengan sesuatu yang lain, tetapi pada saat yang sama makna tersebut tidak pernah sepenuhnya selesai. Ia terus bergeser bergantung pada konteks dan relasi dengan tanda lainnya. Jika gagasan ini diterapkan pada identitas, maka diri yang autentik juga tidak dapat dipahami sebagai sesuatu yang sudah selesai dan tinggal ditunjukkan kepada publik. Identitas tidak berada di dalam diri sebagai benda utuh yang kemudian kita lemparkan ke media sosial, tetapi terus dibentuk melalui hubungan kita dengan lingkungan, bahasa, pengalaman, norma sosial, dan orang lain. Dengan kata lain, kita tidak sekadar menunjukkan siapa diri kita kepada orang lain, melainkan ikut membentuk siapa diri kita.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--9">“Aku Apa Adanya” Tetap Merupakan Sebuah Pernyataan</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kita seringkali menggunakan istilah seperti “ini aku yang sebenarnya”. Terdengar sederhana, tapi sebenarnya mengandung asumsi besar, seolah-olah terdapat satu diri asli yang sudah ada sebelumnya, stabil, dan dapat ditemukan jika seluruh kepalsuan berhasil disingkirkan. Masalahnya, dari mana kita mengetahui bahwa versi tertentu dari diri kita adalah versi yang paling asli?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seseorang bisa menjadi pendiam di rumah, sangat aktif bersama teman, profesional di tempat kerja, dan ekspresif di media sosial. Apakah salah satunya palsu? Belum tentu. Bisa jadi semuanya merupakan bagian dari identitas orang tersebut yang muncul dalam konteks berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Derrida tidak sekadar membalikkan oposisi asli-palsu dengan mengatakan bahwa yang palsu sebenarnya lebih benar. Ia menunjukkan bahwa oposisi tersebut tidak sesederhana yang kita bayangkan. Konsep palsu diperlukan agar dapat dikenali sebagai asli. Keduanya tidak berdiri secara independen. Begitu pula dengan identitas digital. Kita mengatakan sebuah unggahan autentik karena membandingkannya dengan unggahan yang dianggap terlalu dibuat-buat. Tanpa kategori palsu, kategori asli kehilangan sebagian besar maknanya. Maka, keaslian di media sosial bukanlah keadaan yang sepenuhnya bebas dari konstruksi.</p>



<div class="wp-block-group adu-related has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<p class="adu-related__label wp-block-paragraph">Baca Juga</p>



<div class="wp-block-query adu-related__query is-layout-flow wp-block-query-is-layout-flow"><ul class="adu-related__list wp-block-post-template is-layout-flow wp-block-post-template-is-layout-flow"><li class="wp-block-post post-909 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-kenalin category-lifestyle tag-anto-leysa tag-bmx tag-darikuningan tag-ieukuningan tag-kenalin tag-kuningan tag-saint-charas">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-01-02T21:49:35+07:00">2 Januari 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/01/02/kenalin-anto-leysa-atlet-bmx-dan-enterpreneur-darikuningan/" target="_blank" >Kenalin: Anto Leysa, Atlet BMX dan Enterpreneur #DariKuningan</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-2200 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-culture category-tech tag-aduopini tag-childhood-trauma tag-filsafat tag-identitas tag-kanya-rahma-tresnabudi tag-kesehatan-mental tag-self-diagnosis tag-teknologi">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-08-12T16:49:19+07:00">12 Agustus 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/08/12/kenapa-banyak-anak-muda-sekarang-gemar-self-diagnosis-di-media-sosial/" target="_blank" >Kenapa Banyak Anak Muda Sekarang Gemar Self-Diagnosis di Media Sosial?</a></h3>
</li><li class="wp-block-post post-1003 post type-post status-publish format-standard has-post-thumbnail hentry category-aduopini category-lifestyle tag-aduopini tag-demokrasi tag-mens-rea tag-netflix tag-pandji-pragiwaksono tag-politik tag-stand-up-comedy">
<div class="adu-related__date wp-block-post-date"><time datetime="2026-01-05T14:03:25+07:00">5 Januari 2026</time></div>

<h3 class="adu-related__post-title wp-block-post-title"><a href="https://aduide.id/2026/01/05/ramainya-mens-rea-dan-gagasan-yang-tak-enak-didengar/" target="_blank" >Ramainya Mens Rea dan Gagasan yang Tak Enak Didengar</a></h3>
</li></ul>

</div>



<style>
.adu-related{
  --maroon:#871338;
  --berry:#BC3862;
  --ink:#111111;
  --muted:#696969;
  --line:#DDDDDD;
  margin:clamp(34px,4.5vw,54px) 0;
  padding:20px 0 22px;
  border-top:1px solid var(--maroon);
  border-bottom:1px solid var(--maroon);
}

/* label kecil "Baca Juga" */
.adu-related__label{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:14px!important;font-weight:700;letter-spacing:.16em;text-transform:uppercase;
  color:var(--maroon);margin:0;display:flex;align-items:center;gap:10px;line-height:1;
}
.adu-related__label::before{
  content:"";width:22px;height:2px;background:var(--berry);flex:0 0 auto;
}

/* daftar */
.adu-related__list{list-style:none!important;margin:0!important;padding:0!important}
.adu-related__list > li{
  display:flex;flex-direction:column;margin:0;padding:0 0 2px;
  transition:padding-left .3s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover{padding-left:8px}

/* tanggal di kanan atas, sekaligus jadi garis pemisah */
.adu-related__date{
  order:1;width:100%;text-align:right;
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;
  font-size:11px;font-weight:700;letter-spacing:.14em;text-transform:uppercase;
  color:var(--muted);margin:0;padding:12px 0 9px;
  border-bottom:1px solid var(--line);
  transition:border-color .3s ease,color .3s ease;
}
.adu-related__list > li:first-child .adu-related__date{padding-top:4px}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__date{border-bottom-color:var(--maroon);color:var(--maroon)}

/* judul */
.adu-related__post-title{
  order:2;
  font-family:'Unbounded',system-ui,sans-serif;
  font-size:clamp(15px,1.6vw,17.5px)!important;font-weight:400;letter-spacing:0em;line-height:1.35;
  margin:13px 0 0;
}
.adu-related__post-title a{
  color:var(--ink);text-decoration:none;transition:color .25s ease;
  display:inline-flex;align-items:baseline;gap:8px;
}
.adu-related__post-title a::after{
  content:"\2197";font-family:system-ui,sans-serif;font-size:.8em;font-weight:400;
  color:var(--berry);opacity:0;transform:translate(-4px,3px);
  transition:opacity .28s ease,transform .28s cubic-bezier(.2,.7,.2,1);
}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a{color:var(--maroon)}
.adu-related__list > li:hover .adu-related__post-title a::after{opacity:1;transform:translate(0,0)}

.adu-related__empty{
  font-family:'Rethink Sans',system-ui,sans-serif;color:var(--muted);font-size:15px;margin:14px 0 0;
}

@media(max-width:520px){
  .adu-related__post-title{font-size:15px!important}
  .adu-related__list > li:hover{padding-left:0}
}
@media(prefers-reduced-motion:reduce){
  .adu-related *{transition-duration:.001ms!important}
}
</style>
</div>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--10">Ketika Keaslian Menjadi Konten</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dulu, media sosial sering dikritik karena membuat orang terlalu banyak memamerkan kehidupan sempurna. Sekarang, ketidaksempurnaan pun dapat menjadi estetika. Konten <em>“real life”</em> memang dapat membantu mengurangi tekanan untuk selalu terlihat sempurna. Melihat orang lain gagal, lelah, atau memiliki kehidupan yang tidak selalu menyenangkan dapat membuat pengalaman manusia terasa lebih normal. Akan tetapi, ketidaksempurnaan tersebut menjadi masalah ketika dijadikan standar baru yang harus diikuti agar dianggap autentik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semakin kita mengejar keaslian di media sosial, semakin identitas kita dapat bergantung pada pengakuan orang lain. Bukan berarti setiap orang yang menggunakan media sosial adalah palsu. Seseorang dapat benar-benar jujur ketika mengunggah sesuatu. Ia dapat benar-benar merasa nyaman menjadi dirinya sendiri. Namun, keaslian tersebut tidak pernah sepenuhnya terlepas dari relasi sosial. Begitu sesuatu dipublikasikan, hal tersebut memasuki ruang yang dihuni oleh penilaian orang lain. Kita tidak lagi memiliki kendali penuh atas maknanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Unggahan yang dimaksudkan sebagai bentuk kerentanan dapat dianggap mencari perhatian. Seperti yang dimaksud Derrida, makna tidak sepenuhnya berada di tangan pembuat tanda, tetapi terus mengalami pergeseran melalui konteks dan hubungan dengan tanda-tanda lain. Identitas digital pun mengalami hal yang sama. Kita dapat mengontrol apa yang kita unggah, tetapi tidak sepenuhnya mengontrol bagaimana diri kita dimaknai.</p>



<h2 class="wp-block-heading is-style-text-subtitle-2 is-style-text-subtitle-2--11">Mungkin Kita Tidak Perlu Terlalu Terobsesi Menjadi “Diri Sendiri”</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika demikian, apakah kita harus berhenti menggunakan media sosial dan kembali menjalani kehidupan tanpa kamera? Itu akan menjadi solusi yang terlalu sederhana untuk masalah yang jauh lebih kompleks. Manusia sudah lama membentuk identitas melalui pandangan orang lain, bahkan jauh sebelum internet diciptakan. Bukan penggunaan media sosial yang perlu dipertanyakan, melainkan obsesi kita terhadap gagasan bahwa ada satu versi diri yang benar-benar autentik dan harus berhasil kita tampilkan kepada dunia. Mungkin diri manusia memang tidak pernah sepenuhnya selesai. Kita berubah ketika berada dalam lingkungan yang berbeda, bertemu orang yang berbeda, dan mengalami sesuatu yang berbeda. Identitas bukan benda yang tersimpan di dalam diri dan menunggu ditemukan, tetapi proses yang terus berlangsung. Karena itu, menjadi autentik mungkin tidak berarti menemukan “aku yang sebenarnya” lalu mempertahankannya selamanya. Keaslian justru dapat dipahami sebagai kemampuan untuk mengakui bahwa diri kita selalu berada dalam proses menjadi.</p>



<div class="wp-block-group has-global-padding is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>



<div class="wp-block-columns is-layout-flex wp-container-core-columns-is-layout-f56f613f wp-block-columns-is-layout-flex">
<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:33.33%">
<figure class="wp-block-image size-full is-style-rounded"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="740" height="740" src="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2530.avif" alt="" class="wp-image-1355" srcset="https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2530.avif 740w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2530-300x300.avif 300w, https://aduide.id/wp-content/uploads/2026/07/vector-flat-illustration-grayscale-avatar-user-profile-person-icon-profile-picture-suitable-social-media-profiles-icons-screensavers-as-template_719432-2530-150x150.avif 150w" sizes="(max-width: 740px) 100vw, 740px" /></figure>
</div>



<div class="wp-block-column is-vertically-aligned-center is-layout-flow wp-block-column-is-layout-flow" style="flex-basis:66.66%">
<p class="wp-block-paragraph">Ditulis oleh:</p>



<p class="is-style-text-label is-style-text-label--12 wp-block-paragraph"><strong>Anzani Yuna Putri</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia yang tertarik pada isu perempuan, psikologi, dan filsafat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Instagram <a href="https://instagram.com/anzanaza_" target="_blank" rel="noreferrer noopener">@anzanaza_</a></p>
</div>
</div>



<hr class="wp-block-separator has-text-color has-secondary-200-color has-alpha-channel-opacity has-secondary-200-background-color has-background is-style-default"/>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://aduide.id/2026/08/14/menelisik-fenomena-terobsesi-menjadi-diri-sendiri-berdasarkan-pemikiran-derrida/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<post-id xmlns="com-wordpress:feed-additions:1">2215</post-id>	</item>
	</channel>
</rss>
