Sanggar Ikhtiar, Desa Kasugengan Kidul, Kabupaten Cirebon, menjadi ruang pertemuan antara seni, tanah, ingatan, dan kebudayaan melalui pembukaan pameran seni “(mem)Bangun dari Tanah” pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Pameran yang berlangsung hingga 20 September 2026 ini menghadirkan sejumlah karya yang berangkat dari narasi serta praktik olah tanah Sitiwinangun. Pembukaan pameran diisi dengan sejumlah agenda yang mempertemukan seni rupa, pertunjukan, diskusi, dan musik dalam satu rangkaian.
Acara dibuka melalui sambutan dari Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cirebon, R. Moh. Albana, S.Pd.I., M.Pd.I., serta Izhar Fathurrohim Wijaya selaku kurator pameran.
Setelah sesi pembukaan, pengunjung diajak masuk ke dalam pengalaman artistik melalui pertunjukan “Luru(h) Lema(h)” yang dibawakan oleh Kressafanya Oktavianada, dengan musik oleh Dimas Abdul Rahman. Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari pembacaan awal terhadap hubungan manusia, tanah, dan proses membangun kembali ingatan melalui tubuh serta praktik kesenian.
Rangkaian pembukaan kemudian berlanjut dengan Diskusi Budaya Tanah bersama Ismal Muntaha dari Jatiwangi Art Factory. Diskusi ini membuka ruang percakapan mengenai tanah sebagai material, ruang hidup, sekaligus bagian dari lanskap kebudayaan masyarakat.
Topik tersebut menjadi relevan ketika ditempatkan dalam konteks Sitiwinangun, salah satu sentra tradisi gerabah di Kabupaten Cirebon. Dalam dokumentasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia, tradisi pembuatan gerabah Sitiwinangun tercatat dalam domain keterampilan dan kemahiran kerajinan tradisional. Nama Sitiwinangun sendiri memiliki makna yang berkaitan dengan tanah dan proses membentuk atau membangun. Tradisi gerabah di wilayah ini juga dikenal dengan teknik pembentukan tradisional seperti tatap-pelandas serta penggunaan teknik pembakaran terbuka.
Konteks tersebut membuat tanah dalam pameran “(mem)Bangun dari Tanah” tidak berhenti sebagai material untuk menghasilkan objek seni. Tanah menjadi pintu masuk untuk membicarakan ingatan, keterampilan, perubahan, dan keberlanjutan sebuah kebudayaan.
Menelusuri Karya dan Ingatan tentang Tanah
Setelah diskusi, pengunjung mengikuti tur pameran bersama seniman, yakni Iftikhar A. Rajwie dan M. Hasbi Ariobimo. Tur menjadi kesempatan untuk melihat karya secara lebih dekat sekaligus memahami gagasan yang berada di balik praktik masing-masing seniman.






Pameran ini menghadirkan karya dari sejumlah seniman dan sumber arsip, yaitu Adi Riyanto, Arsip Keluarga Bonzan Eddy R.A, Iftikhar A. Rajwie, M. Hasbi Ariobimo, Radi Arwinda & Ramdan Kurnia, serta SPPG Sitiwinangun (Satoean Pemoeda Pemboeat Gerabah).
Keberagaman nama dan pendekatan tersebut membuat pameran memiliki perspektif yang tidak tunggal. Narasi mengenai tanah dapat dibaca melalui praktik seni, arsip keluarga, pengalaman komunitas, hingga keberlanjutan tradisi gerabah yang hidup di tengah perubahan zaman.
Dalam konteks ekosistem seni Cirebon, kehadiran Sanggar Ikhtiar juga bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ruang ini sebelumnya terlibat dalam berbagai kegiatan seni dan pengembangan ekosistem kesenian lokal, termasuk Cirebon Art & Zine Fest 2024 yang mempertemukan pameran, diskusi, lokakarya, pertunjukan, dan berbagai praktik kreatif.
Pembukaan pameran kemudian ditutup dengan suasana yang lebih santai melalui live tunes dari Dwiki Ilham, yang menemani pengunjung menikmati ruang pamer dan karya-karya yang ditampilkan.
Tanah sebagai Ruang Ingatan
Jika gerabah selama ini lebih mudah dipahami sebagai produk kerajinan, “(mem)Bangun dari Tanah” menawarkan kemungkinan pembacaan yang lebih luas. Tanah dapat dilihat sebagai material sekaligus arsip hidup yang menyimpan hubungan antara manusia, lingkungan, keterampilan, dan sejarah lokal.
Hal ini penting terutama karena tradisi gerabah Sitiwinangun menghadapi tantangan keberlanjutan. Dokumentasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia mencatat bahwa jumlah perajin gerabah di Sitiwinangun mengalami penurunan signifikan dibandingkan masa sebelumnya dan tradisinya berada dalam kondisi yang perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak.
Karena itu, pameran ini menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai agenda seni rupa, melainkan sebagai salah satu ruang untuk mengalami kembali hubungan dengan tanah dan kebudayaan Sitiwinangun melalui perspektif seni kontemporer.
Bagi masyarakat Cirebon dan sekitarnya, pameran ini masih dapat dikunjungi hingga 20 September 2026. Pengunjung dapat datang langsung dan mengalami karya, arsip, pertunjukan, serta narasi tentang olah tanah Sitiwinangun yang dihadirkan di dalam ruang Sanggar Ikhtiar.
“(mem)Bangun dari Tanah”
Periode Pameran: 15 Agustus – 20 September 2026
Lokasi: Sanggar Ikhtiar
Alamat: Jl. Aryasalingsingan No. 6, Desa Kasugengan Kidul, Kec. Depok, Kab. Cirebon
Seniman:
Adi Riyanto | Arsip Keluarga Bonzan Eddy R.A | Iftikhar A. Rajwie | M. Hasbi Ariobimo | Radi Arwinda & Ramdan Kurnia | SPPG Sitiwinangun (Satoean Pemoeda Pemboeat Gerabah)










Leave a Reply