Search Button — Aduide Media
,

Muzzkipper Resmi Debut Lewat Single “23.30”, Hadirkan Napas Rock 70-an untuk Pendengar Masa Kini

MUZZKIPPER

NewRelease – Skena musik rock Indonesia kembali kedatangan nama baru. Unit rock asal Pontianak, Muzzkipper, resmi memperkenalkan diri melalui debut single “23.30”, yang telah tersedia di berbagai platform streaming digital sejak 31 Juli 2026.

Single ini menjadi titik awal perjalanan Muzzkipper sekaligus memperlihatkan identitas musikal mereka yang banyak dipengaruhi oleh semangat rock era 70-an. Alih-alih sekadar bernostalgia, trio ini mencoba menerjemahkan karakter musik tersebut ke dalam pendekatan yang terasa lebih segar dan relevan bagi pendengar saat ini.

Didirikan pada 2024, Muzzkipper diperkuat oleh Fauzan pada vokal dan bass, Benk di gitar sekaligus backing vokal, serta Edo pada drum. Band ini lahir dari kumpulan ide yang selama ini belum menemukan ruang untuk diwujudkan hingga akhirnya dipertemukan oleh Hafidh, yang kini berperan sebagai manajer mereka.

“Semua berawal dari kepala yang sedikit ribut oleh ide-ide yang belum bisa tersalurkan pada tempatnya. Lalu kami dipersatukan oleh Hafidh yang ingin mempunyai sebuah band, meskipun tidak memainkan instrumen musik. Dari situ kami bertemu dan menyadari punya visi yang sama, yaitu membentuk band rock,” ujar Benk.

Terinspirasi Motörhead hingga Black Sabbath

Dalam membangun karakter musiknya, Muzzkipper banyak menyerap pengaruh dari sejumlah nama besar seperti Motörhead, Deep Purple, dan Black Sabbath. Referensi tersebut terdengar melalui riff gitar yang tebal, groove yang mengalir, serta pendekatan rock klasik yang menjadi fondasi utama lagu-lagu mereka.

Meski berangkat dari akar musik lawas, Muzzkipper berusaha mengemasnya dalam produksi yang tetap relevan untuk lanskap musik independen saat ini.

“23.30” Lahir dari Sesi Jamming Spontan

Di balik debut mereka, tersimpan cerita yang cukup sederhana. Materi “23.30” berawal dari sesi jamming di kediaman Benk pada 2024. Saat para personel memainkan riff-riff awal yang telah dipersiapkan, Hafidh secara spontan menuliskan lirik lagu tersebut.

Menariknya, judul “23.30” bukanlah metafora yang direncanakan sejak awal. Angka itu diambil dari waktu yang benar-benar terpampang ketika proses kreatif lagu sedang berlangsung.

Secara tematik, lagu ini mengangkat cerita tentang masa muda yang penuh kontradiksi. Tentang keberanian mencoba hal baru, melakukan kesalahan, menyesalinya, lalu tanpa sadar kembali mengulanginya.

“23.30 bercerita tentang masa muda, ketika kita sering melakukan hal-hal bodoh, mencoba banyak hal baru, menyesal, tapi kadang mengulanginya lagi di hari yang berbeda. Lagu ini menggambarkan proses belajar dari kegagalan, kesalahan, dan pengalaman yang akhirnya membentuk diri kita,” jelas Hafidh.

Direkam Live Take Demi Menjaga Energi Rock Klasik

Untuk menangkap karakter musik yang mereka inginkan, Muzzkipper memilih proses rekaman live take di F Studio, Pontianak. Keputusan tersebut diambil setelah berdiskusi dengan Ferdy dari F Studio, dengan tujuan mempertahankan energi mentah yang identik dengan rekaman band-band rock era 70-an.

Sesi rekaman berlangsung pada akhir 2024, sementara proses mixing dan mastering baru diselesaikan pada 2026 oleh Aris Salim.

Pilihan metode rekaman ini menjadi bagian dari upaya Muzzkipper menjaga dinamika permainan setiap personel agar tetap terasa organik dan hidup, sesuatu yang menjadi ciri khas banyak rilisan rock klasik.

Melalui “23.30”, Muzzkipper bukan hanya memperkenalkan identitas musikal mereka, tetapi juga membuka langkah pertama menuju rilisan-rilisan berikutnya yang saat ini tengah dipersiapkan. Bagi penikmat musik rock yang merindukan riff bertenaga, permainan yang lugas, dan nuansa klasik yang tetap terasa segar, debut Muzzkipper menjadi nama baru yang layak masuk radar.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


NewRelease

FeaturedPiece

Kenalin